Sabtu, 28 Maret 2015

UMAR BAKRI PULANG HAJI



                                            Oleh:Elsah, Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang
                Semenjak kepergian Pak Umar ke tanah suci,rumahnya menjadi sepi.Terasa ada sesuatu yang hilang yang kini dirindukan oleh Bu Rina.Bu Rina tidak mendengar lagi ayat-ayat al Quran yang rutin dibaca suaminya sepulang shalat Magrib dan Subuh.Bu Rina tak melihat lagi suaminya bangun shalat tahajjud dilarut malam.Betapa Bu Rina merasakan arti seorang suami.Bu Rina udah merindukan suaminya yang sudah seminggu meninggalkannya.
                “Mengaji dulu Nak Akbar!”pinta Bu Rina ama anak sulungnya seusai shalat Magrib,namun Akbar tak berguming di tempatnya yang lagi asyik di depan play station.”Kau Nak Rika mengaji dulu ! “namun Rika pun tak beranjak dari tempatnya.Dia lagi asyik dengan Facebooknya sampai shalat Magribpun belum juga dilakukan.Bu Rina kecewa pada kedua anaknya yang tak seorangpun mau memenuhi perintahnya padahal Bu Rina kini sedang merindukan suara bacaan ayat-ayat al Quran.Rindulah yang mendorong Bu Rina melangkahkan kakinya ke meja suaminya mengambil kitab al Quran.Terasa ada getaran di hatinya ketika membaca ayat-ayat al Quran.Setelah itu, baris perbaris dibaca terjemahannya sebagaimana yang dilakukan suaminya.Terasa ada yang mendorongnya untuk terus membaca dan membaca.”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri”,demikian salah satu kalimat Allah yang membuat Bu Rina berhenti sejenak dan mengulaginya sampai tiga kali.”Allah membenci orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri,Allah benci padaku ?”,batin Bu Rina.Bu Rina merasa disinggung oleh Allah.Sebagai seorang guru Agama SD Bu Rina tahu yang namanya sombong dan membanggakan diri. Bu Rina merasa dirinya memiliki sifat itu,meninggi-ninggikan dirinya dan merendahkan orang lain bahkan terhadap suaminya sendiri.Dan sepertinya sifat sombong itupun diwariskan kepada anak-anaknya.
                Siapa yang tidak kenal Bu Rina di desaku,yang selalu bikin masalah kalau ada pesta di kampung.Dia selalu mau diperlakukan istemewa oleh tuan rumah,sehingga kalau pelayanan tidak sesuai harapannya maka terjadilah keributan.Sekampungpun tahu bahwa di rumah,Bu Rina tidak lebih dari seorang ratu yang memimpin rumah tangga.Tak seorangpun yang sanggup menurunkan derajat kesombongan Bu Rina.Tapi,tidak dengan kalimat Allah ini.Kalimat Allah ini telah mengetuk hati Bu Rina.”Suamiku orang yang disegani dan dihormati dikampung ini dan di sekolahnya,tapi mengapa di rumah ini tak seorangpun menghormatinya,baik aku maupun anak-anakku”,batin Bu Rina.”Suamiku orang yang taat beragama dan selalu mengajarkan agama kepada kami,tapi mengapa kami tidak mempedulikannya ?” lanjut suara hatinya.
                Selama selalu membaca al Quran,hati Bu Rinapun mulai terbuka,kadang-kadang Bu Rina berdialog dengan hatinya sendiri.Hatinyalah yang sanggup mengungkap semua keburukan dan kesesatan Bu Rina sampai kepada hatinyapun berjanji untuk memperbaiki diri.Di tengah malam Bu Rina bangun tahajjud.Dengan bercururan air mata,Bu Rina memohon ampunan Allah dan berjanji akan memperbaiki diri dan mendoakan keselamatan suaminya.
                Musim haji telah usai,kloter demi kloter jemaah haji telah pulang ke tanah air.Bu Rina telah mencari sopir mobil untuk menjemput suaminya di bandara.Begitupun keluarga jemaah lainnya di dusunku.Mereka telah mempersiapkan perbekalan dan persiapan penjemputan karena sudah menjadi tradisi di dusunku kalau ada haji baru yang datang, rumahnya akan diserbu warga untuk mencari berkah,berupa jabat tangannya, air zam-zam,kurma,tasbih,jam tangan,sajadah,karpet dan lain-lain.Keberhasilan perjalanan seseorang dinilai dari banyaknya ole-ole yang dibawa sampai mereka di tanah suci tidak khusuk dalam ibadahnya karena hati atau pikirannya sibuk memikirkan satu persatu pesanan keluarganya atau nama-nama penyumbang terutama mereka yang banyak sumbangannya tentu tinggi pula nilai ole-olenya.
                Seiring perjalanan waktu,rombongan penjemputpun tiba di bandara.Satu persatu barang bawaanpun dimasukkan ke bagasi mobil.Keluarga-keluarga jemaah bangga dengan banyaknya barang bawaan jemaah yang dijemputnya.Kecuali Bu Rina sekeluarga.Mereka hanya bisa terheran-heran melihat jemaah yang dijemputnya.Pak Umar pulang hanya membawa sebuah tas yang kelihatan kempes.”Mungkin suamiku kecopetan di sana” batin Bu Rina yang sudah tidak berani mengintrogasi suaminya.Hanya kata Alhamdulillah yang diucapkannya atas kepulangan suaminya.Bu Rina bertemu kembali dengan suaminya dengan Rina yang baru,Rina yang sudah terdidik oleh hati nuraninya sendiri.Anak-anaknya pun ta ada yang bersuara,mungkin malu karena ayahnya pulang tanpa ole-ole.
                Seiring perputaran waktu,ban mobilpun terus berputar.Dalam hitungan beberapa jam rombongan udah sampai di rumah,nampak warga telah bergerombol di depan rumah masing-masing jemaah.Satu persatu jemaah turun dan langsung menuju masjid untuk shalat dua rakaat.Lima jemaah haji dari dusunku semuanya memakai pakaian kebesaran haji jubah tebal dan penutup kepala ala Arab,kecuali Pak Umar hanya berjubah putih dan pakai peci putih seperti yang biasa dipakai sebelum pergi haji.
                Usai shalat masing-masing jemaah ke rumahnya bersama dengan rombongannya.Di depan rumah Pak Umar udah menunggu berapa laki-laki yang siap mengangkat barang yang berat.Mereka berpikir akan mengangkat berepa jirgen air zam-zam,beberapa dos kurma,beberapa tas pakaian,dan lain-lain.Tapi apa yang terjadi,mereka hanya saling memandang keheranan.Mereka hanya mendapati satu buah tas jemaah yang kempes.”Pasti dia kecopetan di atas”,bisik mereka.”Mungkin tidak cukup uangnya”,kata yang lain.Bebarapa jamaah hanya bersalaman dengan Haji Umar setelah itu pergi ke jemaah lainnya.
                “Maaf ya Ma,Maaf ya Nak saya tidak membawakan apa-apa.Saya tak punya waktu untuk pergi belanja seperti yang lainnya.seluruh waktu dan kesempatanku disana kupakai untuk beribadah.Pakaianku saja hanya sepasang yang kubawa pulang,yang lainnya kusedekahkan pada para pengemis atau orang miskin yang kulewati sedangkan uangku sudah habis kusedekahkan.Bu Rina bangga,terharu dan langsung memeluk suaminya.”Ya Allah,betapa mulianya hati hamba-Mu ini”,batin Bu Rina.”Pak,maafkan saya bila selama ini selalu mengecewakanmu,saya tidak kecewa bila pulang tanpa membawa apa- apa yang penting Kita pulang dengan membawa hati ini untukku”,ungkap Bu Rina sambil bersandar di dada suaminya.Haji Umar agak heran melihat istrinya bersikap manja seperti ini.Sudah lama Haji Umar tidak melihat pemandangan seperti itu,kecuali cuek atau bentakan.
                “Bu,ada uang yang saya simpan di laci mejaku pergi belanja untuk acara syukuran besok malam,undang orang-orang miskin dan anak panti asuhan,dan sebagian isi amplop lalu berikan pada mereka”,kata Haji Umar.”Subhanallah...”batin Bu Rina”Untuk Akbar,bulan depan saya akan belikan motor supaya tidak mengojek lagi ke sekolah”janji Haji Umar pada anak sulungnya yang dari tadi marah-marah tidak dibawakan ole-ole.Akbarpun langsung melompat girang dan mendekat memeluk ayahnya.”Kalau saya Pak ?”Tanya Rika yang juga marah-marah.”Untuk Rika saya belikan note book”,jawabnya.”Horeee,Papa orang baik...!!”,ujar Rika lalu memeluk ayahnya.
                Pemandangan di rumah Haji Umar jauh beda dengan pemandangan di haji baru lainnya.Di rumah Haji Kahar yang pergi bersama istrinya jauh lebih meriah.Acara pertama bagi-bagi kurma dan air zam-zam.Semua hadirin mendapat sedos kecil kurma dan segelas air zam-zam.Hadirinpun menikmatinya sambil mendengarkan pengalaman Haji Kahar menunaikan ibadah haji.Istrinya,Hajjah Ratnapun tersenyum-senyum bangga di sampingnya.Setelah itu pembagian ole-ole yang disesuaikan dengan besarnya sumbangan ketika acara menasik.Yang besar sumbangannya besar pula bingkisannya,yang kecil cuma dapat satu buah tasbih,sedangkan yang tidak menyumbang apa-apa tidak dapat pula apa-apa kecuali kurma dan air tadi.
                Pergeseran waktu membawa keluarga Haji Umar ke acara syukuran yang telah direncanakan.Berbagai komentar dan pertanyaan yang muncul dari tetangga-tetangga yang hadir.Ada yang mempertanyakan masalah kecopetan,masalah tasnya yang kempes dan ada pula yang mempertanyakaan ibadahnya di tanah suci,ada pula suara yang menyebut ole-ole.Haji Umar hanya menjawabnya dengan senyum lalu mempersilakan tamu-tamunya makan.
                Usai acara Haji Umar masuk ke kamarnya istrahat dan diikuti oleh istrinya.”Bu,haji itu adalah ibadah untuk Allah,bukan untuk sesama manusia.Maka jangan terlalu berharap disebut atau dipanggil dengan sebutan haji dan jangan lagi marah bila orang-orang tidak menyebut kita haji,karena semua itu akan mengurangi pahala haji kita”pesan Haji Umar pada istrinya sebelum tidur.”Haji itu adalah kesempurnaan keislaman seseorang.Oleh karena itu seorang haji harus menampakkan sikap dan prilaku islami.Dalam berpakaian harus menutup aurat,tidak seperti caramu yang memakai penutup kepala tetapi kelihatan aurat di lehermu,itu dosa Bu,Allah memerintahkan kepada kaum muslimah agar memakai jilbab yang menutupi dadanya,bukan penutup kepala saja tapi kelihatan leher.Leher itu aurat,jadi kalau sempat dilihat oleh orang lain maka terjadi lagi dosa,berapa anya dosa yang kamu lakukan dalam sehari,sebulan atau setahun”,sambung Haji Umar.”Iya Pak,Insyah Allah saya akan mengkuti segala perintah Allah dan perintah suamiku yang tercinta” Jawab Bu Rina sambil memeluk suaminya.
                 Seperti biasa di saat warga larut dalam mimpi-mimpinya Haji Umar bangun mendirikan tahajjud.Kepada Allah Haji Umar berdoa,”Ya Allah,Aku telah menunaikan ibadah haji,bisakah predikat haji ini kujalankan atau cuma sebuah gelar yang melengkapi namaku.Aku adalah seorang kepala sekolah yang berkerja dalam lingkungan yang penuh dengan godaan,tolonglah aku untuk bisa membuktikan kehajianku,atau kalau Engkau menganggapku tidak akan bisa maka berhentikanlah aku dari jabatan ini,amiin”. Amiin !. (Palajau,September 2013).