Sabtu, 17 Januari 2015

Cerpen MEREKA KEMBALI


Kuteringat pada film perjuangan yang berjudul “Mereka Kembali”.Sebuah film yang meceritakan kebesaran hati para pejuang Pasukan Siliwangi untuk menerima keputusan komandan yang mengharuskannya menghentikan pertempuran dan kembali ke kota sebagaimana hasil perjanjian gencatan sejatan antara pihak pemerintah Indonesia dan pemerintah Kolonial Belanda.Walau berat bagi mereka karena dianggap menguntungkan pihak Belanda yang masih ingin menjajah Indonesia,namun demi keselamatan rakyat sipil maka mereka kembali ke kota dan meninggalkan medan gerilya di hutan-hutan.
Kini “Mereka Kembali” bukan hanya cerita film sejarah tetapi menjadi cerita dalam dunia nyata setelah ajang pesta demokrasi pilkada usai.Yang berjalan di seberang harus ke seberang dan yang sejalan dalam perjuangan akan menikmati indahnya berjalan bersama.Agus,Cuttan,Duddin,Saruddin,Saenal dan rekan seperjuangannya bersuka cita,berbesar hati dan berbesar kepala.Mereka kembali menduduki jabatan kepala sekolah yang selama lima tahun mengunggu dan berjuang setelah dicopot dari jabatannya. Ulla,Edi,Ulis,Dirga,Ikram dan rekan seperjuangannya harus berkecil hati menelang pil pahit.Mereka kembali kepada posisinya semula sebagai guru biasa.Sedangkan Akbar,Risman,Dayat,Alwi dan yang seperjuangan dengan Agus dekat dengan dewi portuna maju sebagai pendatang baru dalam permainan politik otonomi daerah..........
Hari Senin siang,massa berkerumun di pekarangan SMP 1 Arungkeke.Mereka adalah guru,orang tua siawa dan sebagian besar dari mereka berseragam putih biru.Mereka berteriak-teriak dengan satu kalimat “Kami menolak kepala sekolah yang baru !!!!!”.Kalimat penolakan inipun diungkapkan melalui spanduk yang terpasang di sepanjang pagar sekolah ditambah dengan sepotong kayu besar yang dipalang di pintu gerbang sekolah.”Mutasi  yang sangat sadis”,ungkap Daeng Bella seorang orang tua siswa yang ikut demo.”Kenapa kibilang sadis,Daeng Bella ?”,tanyaku.”Di mana ada mutasi seperti ini yang melakukan sapu bersih”,ujarnya.”Daeng Bella, andaikan kita ikut bertarung dalam pemilihan kepala desa dan berada di pihak yang menang,maka dalam menjalankan tugas agar visi dan misita terwujud apakah Daeng Bella akan memilih lawan-lawan politik atau pihak yang tidak mendukungki, sebagai pembantu atau pekerjata ?”,tanyaku.”Tentu saja aku memilih yang pendukung dan yang telah membantuku saat pemilihan”,jawab Daeng Bella yang sudah lama akrab denganku. ”Begitumi juga Bupati,Daeng Bella !”,ujarku.”Bapak Bupati memiliki visi,misi dan program untuk merubah daerah ini menjadi lebih baik,makanya Bapak Bupati memilih pembantu-pembantunya,yaitu orang-orang yang bisa membantu,bisa bekerja sama dan yang bisa menjabarkan visi dan misinya.Bapak Bupati yang lebih tahu dan lebih bertanggung jawab dalam mutasi ini.Tidak mungkin Bapak akan memilih pejabat yang akan menggagalkan visi,misi dan programnya”,jawabku.”Tapi Pak Bupati memilih pejabat yang tidak berprestasi”, sanggahnya.”Darimana Daeng Bella tahu bahwa mereka yang baru diangkat itu tidak berprestasi padahal mereka belum melaksanakan tugasnya,kalau kepala sekolah yang lama apa pula prestasinya ?”tanyaku.”Selama menjabat kepala sekolah siswa selalu lulus seratus persen”,jawab Daeng Bella.”Itu bukan prestasi Daeng Bella karena semua sekolah di daerah ini juga begitu dan janganmaki ikut-ikutan menolak orang yang belum tentu lebih buruk dari yang akan digantikan”,balasku lalu kututup pembicaraan dan kutinggalkan aksi demo..................
Sabtu siang di pasar Tolo.Sekumpulan orang berseragam batik PGRI ngobrol di warung sambil menikmati gantalak jarang dan ketupak.Kupasang kuping di luar dinding gamacca yang ternyata mereka ngobrol seputar musim mutasi yang lalu.Ada yang mengomentari pejabat yang hanya sebulan menduduki kursi jabatannya,ada yang mengomentari rekan pendukung yang tidak kebagian jabatan dan ada yang iri pada kepala sekolah yang tidak seperjuangan tetapi “oppo”.”Mereka oppo karena dipertahankan oleh kepala desanya makanya baik-baik pada kepala desa”,ujar yang lain.
Akupun lalu masuk bergabung setelah memesan gantalak pada Daeng Nai,pemilik warung itu.”Selama Pak Agus..... selamat Pak Basri.....!!!”,ucapku pada mereka yang sudah lama kukenal sebagai team sukses.Sudah kudengar mereka telah menemukan kembali kursi jabatannya yang hilang lima tahun yang lalu. ”Bagaimana dengan bisnis elektonta Pak Agus,masih jalanji ?”,tanyaku pada Pak Agus yang telah kukenal sepuluh bulan yang lalu di sebuah pesta.Awalnya Pak Agus kukira hanya seorang sopir yang membawa musik elekton karena mereka yang mengemudikan mobil yang membawa elekton di saat jam kerja bagi guru dan pegawai,tetapi ternyata dari obrolan kami kuketahui bahwa Pak Agus adalah mantan kepala sekolah.”Selama saya tidak menjadi kepala sekolah lagi,saya tidak pernah lagi melaksanakan tugas”,pengakuannya.”Tapi,tetapji jalan gajita dan tunjangan sertifikasita ?”, tanyaku”iya harus, gaji dan tunjangan sertifikasi tetap jalan”,jawabnya bernada bangga.”Syukur maki itu,gaji jalan,bisnispun lancar”,balasku.
“Iyek,bisnis elekton tetap jalan,cuma bukan lagi saya manajernya tetapi kemenakan”, jawabnya.Kemudian datang seorang wanita yang juga berseragam batik PGRI.”Ah, malasku  masuk mengajar !”,serunya.”Kenapaki isse Bu ?”,tanya Pak Agus pada guru yang bernama Bu Desi.”Jengkelka melihat kepala sekolah yang baru,karena dari awal namaku disebut-sebut akan menjadi kepala sekolah,eh ternyata orang lain yang menerima SK.Yang menjengkelkan lagi,Pak Agus,karena waktu datang dia langsung mengambil alih tugas kepala sekolah,langsung mengadakan rapat tanpa memberi kesempatan kepala sekolah lama untuk menyerahkan tugasnya.”Sabarmaki Bu,perjalanan masih panjang,lagian umurta masih mudah,masih banyak teman seperjuangan yang lebih senior dari kita”,saran Pak Agus.”Kita itu tidak seberapa Bu,kepala sekolahku kasihan yang ikut mendukung Bupati terpilih tetapi dilengserkan juga”,ungkapku.”Mendukung itu macam-macam, Pak Budi, ada yang mendukung cuma suara dan doa  tanpa dana serta sembunyi-sembunyi.Kita mendukung,bukan saja suara,dan doa,tetapi tenaga dan dana serta terang-terangan,nah itulah pendukung yang sesungguhnya”,balas Pak Agus.
“Kalau Pak Budi dapat apaki sekarang,karena kulihat di facebookta mendukungki Bupati yang terpilih”,tanya Pak Andi teman facebookku yang juga hadir di warungya Daeng Nai.”Kalau saya sudah lama menjadi pejabat.Tanpa mendukungpun aku tetap jadi pejabat.Jabatanku sekarang terserah dariku,kalau saya mau bertahan maka tetap dan kalau mau mundur maka akan lepas”,jawabku.”Jabatan apami itu ?”,tanya Pak Agus kembali.”Jabatan Kepala Perpustakaan di SMP 2 Tarowang,jabatan yang kuanggap paling basah di dunia ini”,jawabku yang membuat Pak Agus dan penikmat gantalak jarang lainnya tertawa.”Astagfirullah,kepala perpustakaanji,kukira Kepala Dinas,Pak Budi,apanya yang basah di perpustakaan,lantainya ?”,ujar Pak Agus yang seakan-akan mengejek jabatanku.”Astagfirullah juga,Pak Agus,jangan melihat basah tidaknya jabatan itu dari materinya tetapi lihatlah isinya yaitu melayani.Pepustakaan adalah gudang ilmu yang di dalamnya aku bisa melayani ilmu untuk ratusan siswa pertahun dan diriku sendiri.Dengan ilmu,aku bisa merasakan kesejukan dalam hatiku.Bagai pelita yang senantiasa bersinar dan menerangi hatiku hingga hatiku menjadi terang bisa membedakan yang hak dengan yang batil,yang haram dengan yang halal,beda sewaktu aku menjadi bendaharawan hatiku menjadi gelap oleh tumpukan dosa kecurangan,kepala selalu pusing terutama menghadapi atasan yang juga suka mencurangi uang negara atau rakyat.Pusing,oleh ulah wartawan yang selalu datang dengan berbagai pertanyaan dan ancamannya.Aku tak bisa lagi membedakan antara halal dengan haram, yang ada di hati dan pikiranku hanyalah bagaimana kubisa memperkaya diri sendiri”, ungkapku.
”Begitulah sekarang Pak Agus”,lanjutku,”Maaf,banyak guru yang berambisi menjadi kepala sekolah dan mengincar sekolah favorit yang banyak siswanya karena didorong oleh nafsu.Bukannya untuk meningkatkan prestasi pendidikan di sekolah yang dipimpinnya melainkan tergiur oleh besaran dana BOS di sekolah itu.Mereka tergiur oleh besarnya uang yang bisa masuk ke kantongnya tanpa peduli bahwa dana BOS itu adalah amanah,makanya banyak kepala sekolah yang bersedih atau merasa dihukum atas kehilangan jabatannya karena mereka memandang jabatan itu sebagai nikmat,padahal sesungguhnya jabatan itu bukan nikmat,melainkan amanah,yang bukan saja dipertanggungjawabkan kepada negara dan rakyat tetapi juga kepada Allah yang kelak akan mengazab orang-orang yang menghianati amanah dengan mencurangi dana BOS atau memotong-motong dana bantuan siswa,dan sungguh berat hukumannya bagi yang berani memotong dan memakan dana bantuan siswa yang kebetulan seorang anak yatim.Mereka yang hadir di warung itu pada menunduk diam dan satu persatu berdiri membayar lalu meninggalkan warung Daeng Nai.Tinggal seorang pembeli yang bernama Mansur.Mansur dalam obrolan mengaku keluarga Bupati yang terpilih tetapi salah coplos.Daeng Nai seorang rakyat kecil yang setiap tahun wajib membayar pajak hanya bisa tersenyum-senyum padaku.Nampaknya mereka sadar bahwa guru-guru yang selalu jajang di warung gantalaknya di saat jam kerja adalah pegawai yang digaji dari uang rakyat.Akhirnya akupun pamit pada Daeng Nai.”Terima kasih,Daeng Nai”,ucapku lalu meninggalkan warung.
Belum lama bertugas para kepala sekolah baru dikagetkan oleh beberapa wartawan yang datang mengucampkan selama sambil menyodorkan kuitansi ucapan “Selamat HUT RI” yang dimuat di medianya sebesar tiga ratus ribu.Pak Agus dan kepala sekolah lainnya sebagai pasukan ‘perubahan’ mengambil sikap menolak membayar iklan yang bukan orderannya.”Memasang iklan tanpa permintaan seseorang lalu menyuruh membayarnya adalah bentuk pemerasan yang harus kita tolak demi sebuah perubahan.Kalau hari hari kita bayar maka selamanya kita akan diperas,tetapi kalau hari ini kita berani dan kompak tidak membayar maka selamanya kita tidak akan diperas lagi.Boleh memasang iklan atas nama kepala sekolah tetapi harus meminta persetujuan yang bersangkutan kalau iklan itu harus dibayar.Menyatakan ‘selamat HUT RI’ tidak harus dengan iklan tetapi dengan kerja nyata dan prestasi untuk kemajuan bangsa dan Negara Indonesia”,ungkap Pak Agus dihadapan para kepala sekolah.”Sekarang saat perubahan,ayo kita berani membongkar kebiasaan buruk yang lama ”, tutupnya.(Tolotoa,Agustus 2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar