Kuteringat pada film
perjuangan yang berjudul “Mereka Kembali”.Sebuah film yang meceritakan
kebesaran hati para pejuang Pasukan Siliwangi untuk menerima keputusan komandan
yang mengharuskannya
menghentikan pertempuran dan kembali ke kota sebagaimana hasil perjanjian
gencatan sejatan antara pihak pemerintah Indonesia dan pemerintah Kolonial Belanda.Walau
berat bagi mereka karena dianggap menguntungkan pihak Belanda yang masih ingin
menjajah Indonesia,namun demi keselamatan rakyat sipil maka mereka kembali ke
kota dan meninggalkan medan gerilya di hutan-hutan.
Kini “Mereka Kembali”
bukan hanya cerita film sejarah tetapi menjadi cerita dalam dunia nyata setelah
ajang pesta demokrasi pilkada usai.Yang berjalan
di seberang harus ke seberang dan yang sejalan dalam perjuangan akan menikmati
indahnya berjalan bersama.Agus,Cuttan,Duddin,Saruddin,Saenal dan rekan
seperjuangannya bersuka cita,berbesar hati dan berbesar kepala.Mereka kembali
menduduki jabatan kepala sekolah yang selama lima tahun mengunggu dan berjuang
setelah dicopot dari jabatannya. Ulla,Edi,Ulis,Dirga,Ikram dan rekan seperjuangannya harus berkecil hati menelang
pil pahit.Mereka kembali kepada posisinya semula sebagai guru biasa.Sedangkan Akbar,Risman,Dayat,Alwi
dan yang seperjuangan dengan Agus dekat dengan dewi portuna maju sebagai
pendatang baru dalam permainan politik otonomi daerah..........
Hari Senin siang,massa berkerumun
di pekarangan SMP 1 Arungkeke.Mereka
adalah guru,orang tua siawa dan sebagian besar dari mereka berseragam putih biru.Mereka berteriak-teriak
dengan satu kalimat “Kami menolak kepala sekolah yang baru !!!!!”.Kalimat
penolakan inipun diungkapkan melalui spanduk yang terpasang di sepanjang pagar
sekolah ditambah dengan sepotong kayu besar yang dipalang di pintu gerbang
sekolah.”Mutasi yang sangat
sadis”,ungkap Daeng Bella seorang orang tua siswa yang ikut demo.”Kenapa
kibilang sadis,Daeng Bella ?”,tanyaku.”Di mana ada mutasi seperti ini yang
melakukan sapu bersih”,ujarnya.”Daeng Bella, andaikan
kita ikut bertarung dalam pemilihan kepala desa dan berada di pihak yang
menang,maka dalam menjalankan tugas agar visi dan misita terwujud apakah Daeng
Bella akan memilih lawan-lawan politik atau pihak yang tidak mendukungki, sebagai pembantu atau pekerjata ?”,tanyaku.”Tentu saja
aku memilih yang pendukung dan yang telah membantuku saat pemilihan”,jawab
Daeng Bella yang sudah lama akrab denganku. ”Begitumi juga Bupati,Daeng Bella
!”,ujarku.”Bapak Bupati memiliki visi,misi dan program untuk merubah daerah ini
menjadi lebih baik,makanya Bapak Bupati memilih pembantu-pembantunya,yaitu orang-orang yang bisa membantu,bisa bekerja sama dan
yang bisa menjabarkan visi dan misinya.Bapak Bupati yang lebih tahu dan lebih
bertanggung jawab dalam mutasi ini.Tidak mungkin Bapak akan memilih pejabat
yang akan menggagalkan visi,misi dan programnya”,jawabku.”Tapi Pak Bupati
memilih pejabat yang tidak berprestasi”, sanggahnya.”Darimana Daeng Bella tahu
bahwa mereka yang baru diangkat itu tidak berprestasi padahal mereka belum
melaksanakan tugasnya,kalau kepala sekolah yang lama apa pula prestasinya
?”tanyaku.”Selama menjabat kepala sekolah siswa selalu lulus seratus
persen”,jawab Daeng Bella.”Itu bukan prestasi Daeng Bella karena semua sekolah
di daerah ini juga begitu dan janganmaki ikut-ikutan menolak orang yang belum
tentu lebih buruk dari yang akan digantikan”,balasku lalu kututup pembicaraan
dan kutinggalkan aksi demo..................
Sabtu siang di pasar
Tolo.Sekumpulan orang berseragam batik PGRI ngobrol di warung sambil menikmati
gantalak jarang dan ketupak.Kupasang kuping di luar dinding gamacca yang
ternyata mereka ngobrol seputar musim mutasi yang lalu.Ada yang mengomentari
pejabat yang hanya sebulan menduduki kursi jabatannya,ada yang mengomentari rekan
pendukung yang tidak kebagian jabatan dan ada yang iri pada kepala sekolah yang
tidak seperjuangan tetapi “oppo”.”Mereka oppo karena dipertahankan oleh kepala
desanya makanya baik-baik pada kepala desa”,ujar yang lain.
Akupun lalu masuk
bergabung setelah memesan gantalak pada Daeng Nai,pemilik warung itu.”Selama
Pak Agus..... selamat Pak Basri.....!!!”,ucapku pada mereka yang sudah lama
kukenal sebagai team sukses.Sudah
kudengar mereka telah menemukan kembali kursi jabatannya yang hilang lima tahun yang lalu. ”Bagaimana
dengan bisnis elektonta Pak Agus,masih jalanji ?”,tanyaku pada Pak Agus yang
telah kukenal sepuluh bulan yang lalu di sebuah pesta.Awalnya Pak Agus kukira
hanya seorang sopir yang membawa musik elekton karena mereka yang mengemudikan
mobil yang membawa elekton di saat jam kerja bagi guru dan pegawai,tetapi
ternyata dari obrolan kami kuketahui bahwa Pak Agus adalah mantan kepala
sekolah.”Selama saya tidak menjadi kepala
sekolah lagi,saya tidak pernah lagi
melaksanakan tugas”,pengakuannya.”Tapi,tetapji jalan gajita dan tunjangan
sertifikasita ?”, tanyaku”iya harus, gaji
dan tunjangan sertifikasi tetap jalan”,jawabnya bernada bangga.”Syukur maki itu,gaji
jalan,bisnispun lancar”,balasku.
“Iyek,bisnis elekton
tetap jalan,cuma bukan lagi saya manajernya tetapi kemenakan”,
jawabnya.Kemudian datang seorang wanita yang juga berseragam batik PGRI.”Ah,
malasku masuk mengajar !”,serunya.”Kenapaki
isse Bu ?”,tanya Pak Agus pada guru yang bernama Bu Desi.”Jengkelka melihat
kepala sekolah yang baru,karena dari awal namaku disebut-sebut akan menjadi
kepala sekolah,eh ternyata orang lain yang menerima SK.Yang menjengkelkan
lagi,Pak Agus,karena waktu datang dia langsung mengambil alih tugas kepala
sekolah,langsung mengadakan rapat tanpa
memberi kesempatan kepala sekolah lama untuk menyerahkan tugasnya.”Sabarmaki
Bu,perjalanan masih panjang,lagian umurta masih mudah,masih banyak teman
seperjuangan yang lebih senior dari kita”,saran Pak Agus.”Kita itu tidak
seberapa Bu,kepala sekolahku kasihan yang ikut mendukung Bupati terpilih tetapi
dilengserkan juga”,ungkapku.”Mendukung itu macam-macam, Pak Budi, ada yang
mendukung cuma suara dan doa tanpa dana
serta sembunyi-sembunyi.Kita mendukung,bukan saja suara,dan doa,tetapi tenaga
dan dana serta terang-terangan,nah itulah pendukung yang sesungguhnya”,balas
Pak Agus.
“Kalau Pak Budi dapat
apaki sekarang,karena kulihat di facebookta mendukungki Bupati yang
terpilih”,tanya Pak Andi teman facebookku yang juga hadir di warungya Daeng
Nai.”Kalau saya sudah lama menjadi pejabat.Tanpa mendukungpun aku tetap jadi
pejabat.Jabatanku sekarang terserah dariku,kalau saya mau bertahan maka tetap
dan kalau mau mundur maka akan lepas”,jawabku.”Jabatan apami itu ?”,tanya Pak Agus
kembali.”Jabatan Kepala Perpustakaan di SMP 2 Tarowang,jabatan yang kuanggap
paling basah di dunia ini”,jawabku yang membuat Pak Agus dan penikmat gantalak
jarang lainnya tertawa.”Astagfirullah,kepala perpustakaanji,kukira
Kepala Dinas,Pak Budi,apanya yang basah di perpustakaan,lantainya ?”,ujar Pak
Agus yang seakan-akan mengejek jabatanku.”Astagfirullah juga,Pak
Agus,jangan melihat basah tidaknya jabatan itu dari materinya tetapi lihatlah
isinya yaitu melayani.Pepustakaan adalah gudang ilmu yang di dalamnya aku bisa
melayani ilmu untuk ratusan siswa pertahun dan diriku sendiri.Dengan ilmu,aku
bisa merasakan kesejukan dalam hatiku.Bagai pelita yang senantiasa bersinar dan menerangi hatiku hingga hatiku menjadi terang bisa
membedakan yang hak dengan yang batil,yang haram dengan yang
halal,beda sewaktu aku menjadi bendaharawan hatiku menjadi gelap oleh tumpukan dosa kecurangan,kepala selalu pusing
terutama menghadapi atasan yang juga suka mencurangi uang negara atau rakyat.Pusing,oleh
ulah wartawan yang selalu
datang dengan berbagai pertanyaan dan ancamannya.Aku tak bisa lagi membedakan
antara halal dengan haram, yang ada di hati dan pikiranku hanyalah bagaimana
kubisa memperkaya diri sendiri”, ungkapku.
”Begitulah sekarang Pak
Agus”,lanjutku,”Maaf,banyak guru yang berambisi menjadi kepala sekolah dan
mengincar sekolah favorit yang banyak siswanya karena didorong oleh
nafsu.Bukannya untuk meningkatkan prestasi pendidikan di sekolah yang
dipimpinnya melainkan tergiur oleh besaran dana BOS di sekolah itu.Mereka
tergiur oleh besarnya uang yang bisa masuk ke kantongnya tanpa peduli
bahwa dana BOS itu adalah amanah,makanya banyak kepala sekolah yang bersedih
atau merasa dihukum atas kehilangan jabatannya karena mereka memandang jabatan
itu sebagai nikmat,padahal sesungguhnya jabatan itu bukan nikmat,melainkan
amanah,yang bukan saja dipertanggungjawabkan kepada negara dan rakyat tetapi
juga kepada Allah yang kelak akan mengazab orang-orang yang menghianati amanah
dengan mencurangi dana BOS atau memotong-motong dana bantuan siswa,dan sungguh
berat hukumannya bagi yang berani memotong dan memakan dana bantuan siswa yang
kebetulan seorang anak yatim.Mereka yang hadir di warung itu pada menunduk diam
dan satu persatu berdiri membayar lalu meninggalkan warung Daeng Nai.Tinggal
seorang pembeli yang bernama Mansur.Mansur dalam obrolan mengaku keluarga
Bupati yang terpilih tetapi salah coplos.Daeng Nai seorang rakyat kecil yang
setiap tahun wajib membayar pajak hanya bisa tersenyum-senyum padaku.Nampaknya
mereka sadar bahwa guru-guru yang selalu jajang di warung gantalaknya di saat
jam kerja adalah pegawai yang digaji dari uang rakyat.Akhirnya akupun pamit
pada Daeng Nai.”Terima kasih,Daeng Nai”,ucapku lalu meninggalkan warung.
Belum lama bertugas para kepala sekolah baru
dikagetkan oleh beberapa wartawan yang datang mengucampkan selama sambil
menyodorkan kuitansi ucapan “Selamat HUT RI” yang dimuat di medianya sebesar
tiga ratus ribu.Pak Agus dan kepala sekolah lainnya sebagai pasukan ‘perubahan’
mengambil sikap menolak membayar iklan yang bukan orderannya.”Memasang iklan
tanpa permintaan seseorang lalu menyuruh membayarnya adalah bentuk pemerasan
yang harus kita tolak demi sebuah perubahan.Kalau hari hari kita bayar maka
selamanya kita akan diperas,tetapi kalau hari ini kita berani dan kompak tidak
membayar maka selamanya kita tidak akan diperas lagi.Boleh memasang iklan atas
nama kepala sekolah tetapi harus meminta persetujuan yang bersangkutan kalau
iklan itu harus dibayar.Menyatakan ‘selamat HUT RI’ tidak harus dengan iklan
tetapi dengan kerja nyata dan prestasi untuk kemajuan bangsa dan Negara
Indonesia”,ungkap Pak Agus dihadapan para kepala sekolah.”Sekarang saat
perubahan,ayo kita berani membongkar kebiasaan buruk yang lama ”, tutupnya.(Tolotoa,Agustus 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar