Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen Mahalnya Sebuah Restu



      Semenjak kepergiaan ayahku menghadap Sang Pencipta,perhatianku kepada ibu dan adikku semakin besar.Mereka kuanggap sebagai peninggalan ayah yang harus kujaga dan kuperhatikan.Aku harus membuat ibu kembali tertawa,memberi semangat ibu agar tidak larut dalam kesedihan karena kepergian suami yang tidak akan kembali lagi.Adikku yang masih cewekpun amat bersedih atas kepergian ayah.Ayahlah yang selama ini menjaganya,melindunginya dan yang sangat menyanyangi serta selalu memperhatikan kebutuhannya.Mereka masih sangat membutuhkan seorang laki-laki seperti ayah di rumah itu.
      “Bu,kalau sudah ada yang melamar adikku,Tina,maka kawinkah saja,supaya di rumah ini ada laki-laki”usulku.Aku sangat memahami pentingnya seorang lelaki dalam sebuah rumah.Laki-laki bisa menjaga,merawat dan melindungi rumah serta penghuninya,apalagi kudengar ada seorang lelaki yang suka pada Tina dan beritikad baik untuk melamarnya.Toni,nama lelaki itu sedang mencari jalan.”Terserah dari kalian semua anak-anakku”.jawab ibuku.”yang penting lihat juga orangnya” sambung ibuku.”Apanya yang dilihat,Bu ?”,tanyaku pura-pura tidak mengerti maksud ibu.Sebelum ibu menjawab aku sudah tahu bahwa pandangan ibu dalam menilai seseorang adalah keturunannya.Sederajat atau tidak,demikianlah aturan adat.Kutahu almarhun ayahku sangat memegang teguh aturan adat.Selalu mempersoalkan asal-usul seseorang.dan nampaknya ibukupun demikian.Aku paham,ibuku sangat mencintai dan sangat setia kepada ayahku,tentunya mereka-atas nama cinta dan kesetiaan-akan memegang teguh pesan ayahku.”Tentunya kami akan menerima orang yang baik,yang terbaik buat ibu dan buat keluarga kita” kataku pada ibu.
      Pengertian orang yang baik menurut kita dan menurut orang lain kadang berbeda karena sudut pandang yang berbeda.Bagiku,Toni itu adalah orang baik “the best” dibanding lelaki lainnya,orangnya sopan,berpendidikan,seorang pendidik dan taat beribadah,itulah yang kukenal dari Toni melalui adikku.Sedangkan ibu dan ketiga kakakku memandangnya dari sudut  aturan adat.Aturan adat menghendaki yang sepadam dalam keturunan.Mereka tidak peduli latar belakang pendidikan,agama dan akhlaknya yang penting namanya sepadam dengan nama keluarga.”Ayah punya pesan agar kita menjaga martabat keluarga,jangan merusak nama keluarga,jadi sebaiknya kita tolak saja lamaran dia”,demikian pendapat seorang kakakku dalam sebuah rapat kecil.”Apa kata orang nanti,apakah karena sudah matinya ayah,sehingga siapa saja bisa melamar anggota keluarga kita dan apapula kata ayah bila kita langgar larangannya” tambah kakakku yang lain.”Saya sangat tidak setuju,saya punya anak perempuan,saya tidak mau itu terjadi pada anak saya”sambung kakakku yang satunya.
      Kalau aku tidak demikian,”Saya menyetujui lamaran Toni” jawabku,”kenapa ???” serentak mereka bertanya.”Agama menyuruhku mengawinkan orang yang sendirian bila sudah ada yang melamarnya.Agama melarangku menyombongkan keluarga karena keturunan lalu merendahkan orang lain karena keturunan,aku hanya mengikuti aturan agama,bukan aturan adat,dari segi agama Toni itu adalah orang yang baik”jawabku lalu kutambah dengan mengemukakan ayat-ayat al Quran dan hadis-hadis dengan harapan hatinya bisa terbuka dan bisa berubah pendiriannya.”Memang dalam agama begitu,tetapi dalam adat tidak demikian,kita harus mengikuti adat karena apalah kata keluarga kita dan masyarakat lainnya” sanggah kakakku yang berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam.”Demi tegaknya adat dan karena takut dicemoh orang banyak sehingga kita berani menyingkirkan aturan agama ?”batinku.Bukankah Allah dalam Al Quran Surat al Jaatsiyah menyuruh kita hanya mengikuti syariatnya dan tidak mengikuti syariat yang dibuat-buat oleh manusia yang berdasarkan nafsunya.Bukankah Allah dalam Surat al Maaidah memelarang kita takut kepada sesama manusia dan memerintahkan hanya takut kepada-Nya.Bukankah Allah dalam Surat al Baqarah,al Maaidah dan Luqman menyuruh kita mentaati al Quran dan Sunnah Rasul dan menyruh kita meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan al Quran dan Sunnah Rasul.Bukankah Allah telah mengancam dengan neraka yang menyalah bagi manusia pembangkang,durhaka dan yang mendustakan ayat-ayat Allah.Bukankah guru-guru agama Islam lebih tahu syariat Islam.Aku hanya seorang guru PKN tetapi aku amat takut melanggar ayat-ayat Allah.Bagiku,hinaan sejuta orang bila melanggar aturan adat tidak ada artinya dibanding hinaan satu Allah bila kita melanggar aturan agama.
      Beberapa argumen telah kusampaikan,tapi tidak mampu menggoyahkan pendirian ibu dan saudara-saudaraku,mereka amat takut dikutuk oleh roh ayahku,mereka amat takut dicemoh oleh masyarakat,maka keputusan rapat adalah menghargai pendirian masing-masing,dan kuncinya ada pada ibu,karena ibulah yang melahirkan dan membesarkan kami,ibulah yang amat kuhormati,aku amat takut kepada Allah bila dianggap durhaka karena masalah ini.”Kalau memang kalian lebih memilih adat daripada agama,silahkan menolak lamaran Toni.Tetapi,aku tetapi memilih agamaku daripada adat,aku lepas dari tanggung jawab ini.Dan Allah pasti ada di tengah kita,mendengar dan mencatat perkataan kita”,akhir pembicaraanku.
       “Perjuangan kita belum selesai,dek”,kataku ama adikku Tina,”Aku akan terus membantumu memperjuangkan cintamu,bersabarlah dan kembalilah kepada Allah.Kalau memang kalian sejodoh maka seberat apapun rintangan yang kalian hadapi maka pasti kalian akan melewati” janji dan saranku.Aku berjuang membantu adikku karena punya kepentingan,yaitu bila adikku kawin dengan orang yang benar agamanya maka saya bisa bersama-sama membimbing keluarga terutama ibuku kepada agama Allah yang benar,karena kuliah mereka sudah terlalu jauh tersesat oleh kepercayaan dan amalan-amalan sesat yang bersumber dari tradisi nenek moyang antara lain pemujaan kepada tempat dan kuburan-kuburan keramat yang diajarkan oleh seorang kakak iparku.
      Hari berganti minggu,dan minggu berganti bulan.Aku terus berusaha mendekati ibu demi meraih sebuah restu untuk adikku.Begitupun saudara-saudaraku,aku amasih tetap memberiku pemahaman bahwa dihadapan Allah kita semua adalah sama.Azab Allah amat berat bagi orang-orang yang menyombongkan diri dengan meninggi-ninggikan keturunan lalu merendahkan orang lain.Tetapi nampaknya adat sudah terlalu jauh menyeret mereka dari aturan agama.Ayat dan hadis apapun yang kusampaikan tidak mampu membuka hatinya,bahkan ibu selalu menangis di hadapanku,yang aku tidak tahu,apakah menangis karena kecewe,sakit hati  atau marah padaku ?.Inlah yang yang sangat kutakuti,air mata ibu.Aku jadi gemetar ketika ibuku hesteris menangis,kupeluk ibu,kusapu air matnya,kuminta ampun lalu berjanji tidak akan mengungkit-ungkit masalah adikku.
      Aku dan adikku bagaikan berlayar di laut yang dangkal dengan bahtera yang asing di negeriku,lalu bahtera yang ditumpangi kandas di karang yang keras,kuberusaha melajukan bahtera tetapi kutak sanggup karena akan menimbulkan kerusakan pada karang,pada bahtera dan pada diri kami.Ibuku mengancam akan meninggalkan rumah bila cinta ini dipaksakan lanjut.Aku sayang ibu,aku tdak mau durhaka pada ibu.Maka kubiarkan bahtera itu di atas karang lalu kuserahkan kepada Allah,biarlah Allah yang menggerahkan bahtera itu ke arah mana yang dikehenda-Nya.”Karena segala sesuatu di tangan Allahlah ketentuannya.Bagaimanapun kita berusaha untuk meraih sesuatu yang kita kehendaki namun Allahlah yang menentukan berhasil tidaknya usaha kita” nasehatku pada adikku,begitupun kepada Toni,aku berharap bisa berfikir lebih dewasa,kita jangan membuang-buang waktu untuk memperjuangkan sesuatu yang belum tentu akan menjadi milik kita.carilah apa yang mudah bagimu.Mungkin dia bukan jodohmu..., ya mungkin jodohmu ada di tempat lain ... Restu ibu amat mahal,tidak bisa dibeli dengan materi. (Palajau,April 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar