Semenjak kepergiaan ayahku menghadap Sang
Pencipta,perhatianku kepada ibu dan adikku semakin besar.Mereka kuanggap
sebagai peninggalan ayah yang harus kujaga dan kuperhatikan.Aku harus membuat
ibu kembali tertawa,memberi semangat ibu agar tidak larut dalam kesedihan
karena kepergian suami yang tidak akan kembali lagi.Adikku yang masih cewekpun
amat bersedih atas kepergian ayah.Ayahlah yang selama ini
menjaganya,melindunginya dan yang sangat menyanyangi serta selalu memperhatikan
kebutuhannya.Mereka masih sangat membutuhkan seorang laki-laki seperti ayah di
rumah itu.
“Bu,kalau sudah ada yang melamar
adikku,Tina,maka kawinkah saja,supaya di rumah ini ada laki-laki”usulku.Aku
sangat memahami pentingnya seorang lelaki dalam sebuah rumah.Laki-laki bisa
menjaga,merawat dan melindungi rumah serta penghuninya,apalagi kudengar ada
seorang lelaki yang suka pada Tina dan beritikad baik untuk melamarnya.Toni,nama
lelaki itu sedang mencari jalan.”Terserah dari kalian semua anak-anakku”.jawab
ibuku.”yang penting lihat juga orangnya” sambung ibuku.”Apanya yang dilihat,Bu
?”,tanyaku pura-pura tidak mengerti maksud ibu.Sebelum ibu menjawab aku sudah
tahu bahwa pandangan ibu dalam menilai seseorang adalah keturunannya.Sederajat
atau tidak,demikianlah aturan adat.Kutahu almarhun ayahku sangat memegang teguh
aturan adat.Selalu mempersoalkan asal-usul seseorang.dan nampaknya ibukupun
demikian.Aku paham,ibuku sangat mencintai dan sangat setia kepada
ayahku,tentunya mereka-atas nama cinta dan kesetiaan-akan memegang teguh pesan
ayahku.”Tentunya kami akan menerima orang yang baik,yang terbaik buat ibu dan
buat keluarga kita” kataku pada ibu.
Pengertian orang yang baik menurut kita
dan menurut orang lain kadang berbeda karena sudut pandang yang
berbeda.Bagiku,Toni itu adalah orang baik “the best” dibanding lelaki
lainnya,orangnya sopan,berpendidikan,seorang pendidik dan taat beribadah,itulah
yang kukenal dari Toni melalui adikku.Sedangkan ibu dan ketiga kakakku
memandangnya dari sudut aturan
adat.Aturan adat menghendaki yang sepadam dalam keturunan.Mereka tidak peduli
latar belakang pendidikan,agama dan akhlaknya yang penting namanya sepadam
dengan nama keluarga.”Ayah punya pesan agar kita menjaga martabat
keluarga,jangan merusak nama keluarga,jadi sebaiknya kita tolak saja lamaran
dia”,demikian pendapat seorang kakakku dalam sebuah rapat kecil.”Apa kata orang
nanti,apakah karena sudah matinya ayah,sehingga siapa saja bisa melamar anggota
keluarga kita dan apapula kata ayah bila kita langgar larangannya” tambah
kakakku yang lain.”Saya sangat tidak setuju,saya punya anak perempuan,saya
tidak mau itu terjadi pada anak saya”sambung kakakku yang satunya.
Kalau aku tidak demikian,”Saya menyetujui
lamaran Toni” jawabku,”kenapa ???” serentak mereka bertanya.”Agama menyuruhku
mengawinkan orang yang sendirian bila sudah ada yang melamarnya.Agama
melarangku menyombongkan keluarga karena keturunan lalu merendahkan orang lain
karena keturunan,aku hanya mengikuti aturan agama,bukan aturan adat,dari segi
agama Toni itu adalah orang yang baik”jawabku lalu kutambah dengan mengemukakan
ayat-ayat al Quran dan hadis-hadis dengan harapan hatinya bisa terbuka dan bisa
berubah pendiriannya.”Memang dalam agama begitu,tetapi dalam adat tidak
demikian,kita harus mengikuti adat karena apalah kata keluarga kita dan
masyarakat lainnya” sanggah kakakku yang berprofesi sebagai guru Pendidikan
Agama Islam.”Demi tegaknya adat dan karena takut dicemoh orang banyak sehingga
kita berani menyingkirkan aturan agama ?”batinku.Bukankah Allah dalam Al Quran
Surat al Jaatsiyah menyuruh kita hanya mengikuti syariatnya dan tidak mengikuti
syariat yang dibuat-buat oleh manusia yang berdasarkan nafsunya.Bukankah Allah
dalam Surat al Maaidah memelarang kita takut kepada sesama manusia dan
memerintahkan hanya takut kepada-Nya.Bukankah Allah dalam Surat al Baqarah,al
Maaidah dan Luqman menyuruh kita mentaati al Quran dan Sunnah Rasul dan menyruh
kita meninggalkan tradisi-tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan al
Quran dan Sunnah Rasul.Bukankah Allah telah mengancam dengan neraka yang
menyalah bagi manusia pembangkang,durhaka dan yang mendustakan ayat-ayat
Allah.Bukankah guru-guru agama Islam lebih tahu syariat Islam.Aku hanya seorang
guru PKN tetapi aku amat takut melanggar ayat-ayat Allah.Bagiku,hinaan sejuta orang
bila melanggar aturan adat tidak ada artinya dibanding hinaan satu Allah bila
kita melanggar aturan agama.
Beberapa argumen telah kusampaikan,tapi
tidak mampu menggoyahkan pendirian ibu dan saudara-saudaraku,mereka amat takut
dikutuk oleh roh ayahku,mereka amat takut dicemoh oleh masyarakat,maka
keputusan rapat adalah menghargai pendirian masing-masing,dan kuncinya ada pada
ibu,karena ibulah yang melahirkan dan membesarkan kami,ibulah yang amat
kuhormati,aku amat takut kepada Allah bila dianggap durhaka karena masalah
ini.”Kalau memang kalian lebih memilih adat daripada agama,silahkan menolak
lamaran Toni.Tetapi,aku tetapi memilih agamaku daripada adat,aku lepas dari
tanggung jawab ini.Dan Allah pasti ada di tengah kita,mendengar dan mencatat perkataan
kita”,akhir pembicaraanku.
“Perjuangan kita belum
selesai,dek”,kataku ama adikku Tina,”Aku akan terus membantumu memperjuangkan
cintamu,bersabarlah dan kembalilah kepada Allah.Kalau memang kalian sejodoh
maka seberat apapun rintangan yang kalian hadapi maka pasti kalian akan
melewati” janji dan saranku.Aku berjuang membantu adikku karena punya
kepentingan,yaitu bila adikku kawin dengan orang yang benar agamanya maka saya
bisa bersama-sama membimbing keluarga terutama ibuku kepada agama Allah yang
benar,karena kuliah mereka sudah terlalu jauh tersesat oleh kepercayaan dan
amalan-amalan sesat yang bersumber dari tradisi nenek moyang antara lain
pemujaan kepada tempat dan kuburan-kuburan keramat yang diajarkan oleh seorang
kakak iparku.
Hari berganti minggu,dan minggu berganti
bulan.Aku terus berusaha mendekati ibu demi meraih sebuah restu untuk
adikku.Begitupun saudara-saudaraku,aku amasih tetap memberiku pemahaman bahwa
dihadapan Allah kita semua adalah sama.Azab Allah amat berat bagi orang-orang
yang menyombongkan diri dengan meninggi-ninggikan keturunan lalu merendahkan
orang lain.Tetapi nampaknya adat sudah terlalu jauh menyeret mereka dari aturan
agama.Ayat dan hadis apapun yang kusampaikan tidak mampu membuka hatinya,bahkan
ibu selalu menangis di hadapanku,yang aku tidak tahu,apakah menangis karena
kecewe,sakit hati atau marah padaku
?.Inlah yang yang sangat kutakuti,air mata ibu.Aku jadi gemetar ketika ibuku
hesteris menangis,kupeluk ibu,kusapu air matnya,kuminta ampun lalu berjanji tidak
akan mengungkit-ungkit masalah adikku.
Aku dan adikku bagaikan berlayar di laut
yang dangkal dengan bahtera yang asing di negeriku,lalu bahtera yang ditumpangi
kandas di karang yang keras,kuberusaha melajukan bahtera tetapi kutak sanggup
karena akan menimbulkan kerusakan pada karang,pada bahtera dan pada diri
kami.Ibuku mengancam akan meninggalkan rumah bila cinta ini dipaksakan
lanjut.Aku sayang ibu,aku tdak mau durhaka pada ibu.Maka kubiarkan bahtera itu
di atas karang lalu kuserahkan kepada Allah,biarlah Allah yang menggerahkan
bahtera itu ke arah mana yang dikehenda-Nya.”Karena segala sesuatu di tangan
Allahlah ketentuannya.Bagaimanapun kita berusaha untuk meraih sesuatu yang kita
kehendaki namun Allahlah yang menentukan berhasil tidaknya usaha kita”
nasehatku pada adikku,begitupun kepada Toni,aku berharap bisa berfikir lebih
dewasa,kita jangan membuang-buang waktu untuk memperjuangkan sesuatu yang belum
tentu akan menjadi milik kita.carilah apa yang mudah bagimu.Mungkin dia bukan
jodohmu..., ya mungkin jodohmu ada di tempat lain ... Restu ibu amat
mahal,tidak bisa dibeli dengan materi. (Palajau,April 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar