Hatiku
bergetar saat kudengar suara tangis yang menggema dan menyayat hati.Suara
tangis yang berada di luar rumah.Kutatap jam dinding kamarku.Waktu telah
menunjutkan pukul setengah empat dinihari.Sebagaimana biasa akupun meninggalkan
mimpi-mimpiku untuk memulai aktivitas hidup sebagai seorang hamba.Hatiku
mendengar bisikan bahwa masjid yang ada di kampungku sedang menangis.”Masjid
menangis ?”,hatiku bertanya keheranan.”Mengapa masjid bisa menangis ?’. Bisikan
itu menjawab “Masjid Kampung Beru menangis karena ditinggalkan oleh jemaahnya”.”Allah
sangat kecewa terhadap orang-orang yang mengaku Islam namun sombong terhadap
Allah”,lanjut bisikan itu.”Bagaimana kami dibilang sombong terhadap Allah
?’,hatiku bertanya.”Bagaimana tidak sombong,setiap hari lima kali Allah menyeru
di masjid memanggil kalian beribadah di rumahnya tapi adakah kalian di kampong
ini yang tersentuh hatinya untuk memenuhi panggilan Allah itu ?,kalian semua
sombong karena tidak ada lagi orang dewasa di kampung ini yang mau
mengumandangkan azan,kalian semua gengsi,yang ada Cuma bocah kecil yang belum
tahu apa-apa. Apa yang kalian sombongkan dihadapan Allah,nikmat Tuhan manakah
yang kalian dustakan,kalian semua sehat,kuat dan diberi rezki yang
melimpah,semua itukah yang membuat kalian tidak mau berkunjung ke rumah-Nya,untuk
bersujud di hadapan-Nya ?.Kalian semua musyrik karena lebih menghargai
panggilan manusia daripada panggilan Allah,buktinya kalau Allah memanggilmu ke
rumah-Nya beribadah dengan balasan pahala yang melimpah kalian semua pada malas
dan banyak alasan, tetapi kalau manusia yang memanggil kalian ke rumahnya untuk
melakukan barzanji atau mengaji untuk orang mati dengan imbalan sepotong kue
dan secangkir kopi,kalian semua berlomba-lomba sampai berdesak-desakan di rumah
orang tersebut.Tidakkah kalian pikir bahwa panggilan Allah untuk beribadah di
rumah-Nya sangatlah mulia,menenuhinya adalah sangat utama.Allah dan Rasul-Nya
telah menjamin balasan yang sempurna bagi tamu-tamu Allah,tetapi undangan
sesamamu untuk barzanji di rumahnya adakah jaminan keutamaannya kecuali akan
mendatangkan penyesalan bagimu kelak”.Lanjutnya.”Tidakkah kalian mau menjadi
tamu Allah,menjadi tamu presiden saja kalian bangga,apalagi bila menjadi tamu
Allah,mana akalmu ?”.
Akupun menjadi malu dan bersedih karena sudah
lama tidak memenuhi panggilan Allah ke rumah-Nya yang sudah jelas sebagai
tempat yang penuh kemenangan.Walau hatiku selalu ada di masjid saat tiba waktu
shalat,namun selalu saja menangis karena kutak bisa lagi menjadi tamu
Allah,kutak bisa lagi shalat bersama dengan malaikat di rumah Allah, kutak bisa
lagi mengumadangkan azan yang disaksikan oleh para malaikat dan seluruh makhluk
yang mendengar azan. Fisik tak sanggup lagi membawaku ke masjid.Walau Allah
menyuruhku beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuanku,namun akupun iri pada
umat lainnya yang diberi kesehatan dan kekuatan serta pandai bersyukur dengan
senantiasa memenuhi panggilan Allah,merekalah orang-orang yang tak mengecewakan
Allah,merekalah orang-orang yang bebas dari kemunafikan.Aku malu kepada Allah
karena kutak sanggup lagi memenuhi panggilan-Nya.Karena maluku kepada-Nya
sehingga aku tak berani memenuhi panggilan pemerintah untuk mengikuti
sertifikasi yang sudah tiga kali memanggilku.Bagaimana bisa kupaksakan diri
ikut sertifikasi sedangkan panggilan Allah ke rumah-Nya tak bisa kupaksakan
diri,padahal kalau saja aku mau memaksakan diriku ikut sertfikasi itu bisa kulakukan
dengan meminta bantuan orang lain,tapi tidak kulakukan karena malu kepada Allah.
Aku tinggal di sebuah desa.Rumahku berada di
pusat pemerintahan desa,dekat dengan kantor desa.Di depan kantor desa ada semua
masjid yang dibangun oleh ratusan orang dewasa yang beragama Islam.Masjid di kampungku ini selalu menjadi perhatian
warga kampung sebelah,karena setiap Subuh,kecuali Minggu terdengar suara anak
kecil seumur 10 tahun mengumandangkan azan Subuh,anak kecil ini mempunyai dua
jemaah yang keduanya mantan kepala desa,yang satunya telah berbau tanah dan
yang satunya masih berbau segar dan telah terpilih menjadi wakil rakyat.Kecuali
Subuh,anak kecil ini minta pada ayahnya agar shalat di rumah saja,alasananya
Minggu adalah hari libur dan ayahnyapun setuju dengan maksud agar anaknya tidak
merasa dipaksa.Anak kecil itu bersemangat mengumandangkan azan,selain karena
tertanam nilai agama dari ayahnya bahwa Allah menyanginya,malaikat bersahabat
dengannya,malaikat selalu mengawalnya dan setan-setan takut padanya,juga karena
seorang jemaahnya rutin memberinya pembeli bakso sepuluh ribu setiap bulan
setiap kalian menerima gaji pensiunnya.
Masyarakat kampungku semuanya ber-KTP Islam dan
dianugerahi Allah nikmat yang cukup. Selain sehat dan kuat,juga kehidupan
ekonomi yang memadai.Tapi yang cukup mengherankan bila kita mecoba shalat di
masjidnya,ya ampun, kemana semua orang-orang Islam.”Iyek,ada semuaji di
rumahnya,mereka adalah jemaah
Ramadhan,nanti Ramadhan baru bermunculan”,jawabku saat seorang tamu bertanya
sepulang shalat Subuh.’Astagfirullah,tidakkah mereka bersyukur atas kesehatan
dan kekuatan yang diberikan Allah padanya,tidakkah mereka tahu bahwa azan itu
adalah undangan Allah,tidakkah mereka tahu bahwa kitapun kalau undangan tidak
dipenuh akan kecewa apalagi Allah ?”,ujar tamuku itu,”Andaikan mereka mencoba
menggunakan akalnya,mereka akan merasakan bahwa segala yang ada padanya itu
dari Allah,mereka menjadi pegawai atau pekerja karena Allah,dalam urusan
pekerjaan Allah memberi kemudahan,kesehatan dan kekuatan untuk pergi mencari
rezki walau dalam jarak yang demikian jauh,tetapi mengapa memenuhi panggilan
Allah untuk beribadah di masjid sangat berat padahal jarak rumahnya dengan
masjid amat dekat,Cuma sekali langkah.Apa salahnya Allah sehingga kalian semua
tidak mau memenuhi undangan-Nya padahal semua ibadahmu adalah untuk kebaikan
dirimu sendiri ?”,tambahnya.”Tdakkah mereka tahu bahwa shalat berjamaah di
masjid keutamaannya 27 derajat dari shalat di rumah ?.Tidakkah mereka tahu
bahwa Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa yang berat bagi orang munafik
adalah shalat Subuh dan Isya.Jadi kalau tidak mendidrikan shalat Subuh dan Isya
berarti termasuk orang munafik dan shalat yang paling utama bagi laki-laki
adalah di masjid.
Masyarakat Islam di kampungku adalah masyarakat
yang sangat menjunjung tinggi adat. Adat jauh lebih dihormati daripada syariat
agama.Terbukti bila ada acara barzanji,orang berbondong-bondong sampai
berdesakan tapi kalau panggilan shalat berjamaah, masjid menjadi kosong.Suatu
pemandangan terburuk yang pernah aku lihat adalah saat seorang imam menggelar
acara barzanji untuk kepindahan ke rumah barunya.Masjid yang di samping rumah
Pak Iman kosong karena semua jemaah menggelar shalat berjamaah di rumah Pak
Imanm,hanya satu orang yang shalat di masjid,itupun dianggap sebagai orang gila,padahal
tidak ada dasar syariat bahwa shalat berjamaah di rumah baru mengandung berkah ketimbang shalat
berjamaah di masjid. “Baguski tawwa kalau rumah baru diisi
dengan shalat berjamaah dan barzanji berjamaah,bisa mendatangkan berkah”,kata
istriku waktu kukatakan bahwa salah kalau shalat berjamaah di masjid kita
tinggalkan demi memenuhi undangan seseorang untuk shalat berjamaah di
rumahnya.Shalat berjamaah di masjid itu adalah seruan Allah dan Sunnah
Rasulullah,apakah kita akan meninggalkan seruan Allah demi memenuhi seruan
manusia ?.”Siapa yang bilang rumah akan membawa berkah bila diadakan shalat
berjamaah ?”, tanyaku namun tak dijawab istriku.
“Mengapa
tidak ikut shalat Magrib berjamaah di rumah Pak Imam,Jufri ?”,tanyaku saat
bertemu dengan Jufri,seorang pemuda yang
aktif mengikuti pengajian.”Saya cuma takut saja,karena
kita hanya disyariatkan mendirikan shalat berjamaah di masjid,bukan di
rumah,kecuali kalau tidak ada masjid”,jawab Jufri yang ternyata sepaham denganku.”Berarti tidak
ikut makan di rumah Pak Imam ?”,tanyaku.”Rezki itu urusan Allah,jadi kalau tidak makan di rumah Pak
Imam
gara-gara tidak ikut shalat berjamaah dan barzanji itu berarti tidak ada
rezkiku di rumah itu,ternyata Allah telah menyiapkan rezkiku di
rumahku”,jawabnya.
Sejak hatiku mendengar masjid menangis,aku
menjadi malu,takut dan resah,maka kuundang tokoh-tokoh masyarakat,tokoh agama
dan pemerintah desa untuk duduk berdiskusi tentang kondisi umat yang
penyakitnya semakin parah.Ya,bukan hanya aku yang sakit di kampong ini tetapi
sebagian besar masyarakat pun sakit dan bahkan penyakitnya lebih parah karena
mereka sakit dari segi keimanan dan ketakwaan.Dari diskusi tersebut dibuat
kesepakatan-kesepakatan dan aturan desa,antara lain: masyarakat penerima beras
miskin,askeskin yang tidak pergi shalat berjamaah di masjid akan dicabut kupon
atau kartunya,masyarakat yang tidak tidak shalat berjamah di masjid tanpa alasan
syarii tidak dilayani urusannya oleh pemerintah desa/dusun,tidak diurusi urusan
perkawinan dan kematiaannya,tidak diadakan barzanji di rumahnya.Kesepakatan
itupun diumumkan di masid.Disepakati pula akan mengadakan majelis taklim yang
mengajiannya setiap minggu.Dalam diskusi tersebut disepakati pula memperbahari
pengurus dan petugas masjid.Ditetapkanlah Mappi sebagai imam,Mangnge sebagai
doja dan Mangngurangi sebagai juru azan.Sebagai motivasi bagi pegawai masjid
ini,maka disepakati bahwa bila ada orang mati di kampung ini maka barang-barang
sedekah berupa temapat tidur,kursi dan lainnya diserahkan kepada mereka secara
bergiliran.Ditetapkan pula dalam diskusi itu Marre sebagai ketua remaja masjid
yang sebelumnya adalah pemimpin jemaah peminum ballo.
Sejak berlaku kesepakatan di atas,masjid
Kampung Beru pun ramai jemaah pada setiap waktu shalat.Mappi yang sebelumnya
hanya datang kalau Ramadhan karena mengincar zakat fitrah kini menjadi jemaah
sejati.Mangnge yang sebelumnya hanya datang kalau Ramadhan karena ada sajian
buka puasapun semakin rajin.Begitupun Marre,dengan aktifnya di masjid,dia menjadi
lupa pada jemaah yang dipimpinnya akhirnya club peminum ballopun bubar.Daeng
Bata,orang tua yang selama ini dikeluhkan warga karena ucapannya yang suka
menyinggung akhirnya menjadi santun dan masyarakat pun menjadi senang berjamaah
dengannya.Tak terdengar lagi suara anak kecil yang mengumadangkan azan karena
warga telah menjadi malu bila anak kecil yang azan.Pemudapun berebutan
mengumandangkan azan karena telah menyadari keutamaan mengumandangkan azan di
masjid.
Sejak itu tak pernah kudengar lagi masjid
Kampung Beru menangis, yang kudengar hanyalah alunan bacaan Al Quran oleh
Risman,seorang santri Pesantren yang kini telah menjadi mubalig muda yang lagi
naik nama,ya selevel dengan uztad Maulana yang selalu melawat di Trans TV
setiap pagi.Kini masjid Kampung Beru telah tersenyum setiap aku lewat di
depannya.Tidak ada lagi kesombongan,pemerintah dan rakyat,PNS dan karyawan
swasta,pedagan atau petani bersujud bersama di hadapan Allah di dalam
masjid.Barisan laki-lakipun semakin bertambah,sedangkan jemaah wanita hanya
beberapa orang dan itu tidak menjadi masalah karena wanita tidak diperintahkan
dan tidak pula dilarang ke masjid,dan sebaik-baik shalat bagi wanita menurut
Rasulullah SAW adalah di rumah,kecuali shalat Id semuanya diperintahkan ke
tempat shalat id. (Palajau,Mei 2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar