Sabtu, 28 Maret 2015

UMAR BAKRI PULANG HAJI



                                            Oleh:Elsah, Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang
                Semenjak kepergian Pak Umar ke tanah suci,rumahnya menjadi sepi.Terasa ada sesuatu yang hilang yang kini dirindukan oleh Bu Rina.Bu Rina tidak mendengar lagi ayat-ayat al Quran yang rutin dibaca suaminya sepulang shalat Magrib dan Subuh.Bu Rina tak melihat lagi suaminya bangun shalat tahajjud dilarut malam.Betapa Bu Rina merasakan arti seorang suami.Bu Rina udah merindukan suaminya yang sudah seminggu meninggalkannya.
                “Mengaji dulu Nak Akbar!”pinta Bu Rina ama anak sulungnya seusai shalat Magrib,namun Akbar tak berguming di tempatnya yang lagi asyik di depan play station.”Kau Nak Rika mengaji dulu ! “namun Rika pun tak beranjak dari tempatnya.Dia lagi asyik dengan Facebooknya sampai shalat Magribpun belum juga dilakukan.Bu Rina kecewa pada kedua anaknya yang tak seorangpun mau memenuhi perintahnya padahal Bu Rina kini sedang merindukan suara bacaan ayat-ayat al Quran.Rindulah yang mendorong Bu Rina melangkahkan kakinya ke meja suaminya mengambil kitab al Quran.Terasa ada getaran di hatinya ketika membaca ayat-ayat al Quran.Setelah itu, baris perbaris dibaca terjemahannya sebagaimana yang dilakukan suaminya.Terasa ada yang mendorongnya untuk terus membaca dan membaca.”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri”,demikian salah satu kalimat Allah yang membuat Bu Rina berhenti sejenak dan mengulaginya sampai tiga kali.”Allah membenci orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri,Allah benci padaku ?”,batin Bu Rina.Bu Rina merasa disinggung oleh Allah.Sebagai seorang guru Agama SD Bu Rina tahu yang namanya sombong dan membanggakan diri. Bu Rina merasa dirinya memiliki sifat itu,meninggi-ninggikan dirinya dan merendahkan orang lain bahkan terhadap suaminya sendiri.Dan sepertinya sifat sombong itupun diwariskan kepada anak-anaknya.
                Siapa yang tidak kenal Bu Rina di desaku,yang selalu bikin masalah kalau ada pesta di kampung.Dia selalu mau diperlakukan istemewa oleh tuan rumah,sehingga kalau pelayanan tidak sesuai harapannya maka terjadilah keributan.Sekampungpun tahu bahwa di rumah,Bu Rina tidak lebih dari seorang ratu yang memimpin rumah tangga.Tak seorangpun yang sanggup menurunkan derajat kesombongan Bu Rina.Tapi,tidak dengan kalimat Allah ini.Kalimat Allah ini telah mengetuk hati Bu Rina.”Suamiku orang yang disegani dan dihormati dikampung ini dan di sekolahnya,tapi mengapa di rumah ini tak seorangpun menghormatinya,baik aku maupun anak-anakku”,batin Bu Rina.”Suamiku orang yang taat beragama dan selalu mengajarkan agama kepada kami,tapi mengapa kami tidak mempedulikannya ?” lanjut suara hatinya.
                Selama selalu membaca al Quran,hati Bu Rinapun mulai terbuka,kadang-kadang Bu Rina berdialog dengan hatinya sendiri.Hatinyalah yang sanggup mengungkap semua keburukan dan kesesatan Bu Rina sampai kepada hatinyapun berjanji untuk memperbaiki diri.Di tengah malam Bu Rina bangun tahajjud.Dengan bercururan air mata,Bu Rina memohon ampunan Allah dan berjanji akan memperbaiki diri dan mendoakan keselamatan suaminya.
                Musim haji telah usai,kloter demi kloter jemaah haji telah pulang ke tanah air.Bu Rina telah mencari sopir mobil untuk menjemput suaminya di bandara.Begitupun keluarga jemaah lainnya di dusunku.Mereka telah mempersiapkan perbekalan dan persiapan penjemputan karena sudah menjadi tradisi di dusunku kalau ada haji baru yang datang, rumahnya akan diserbu warga untuk mencari berkah,berupa jabat tangannya, air zam-zam,kurma,tasbih,jam tangan,sajadah,karpet dan lain-lain.Keberhasilan perjalanan seseorang dinilai dari banyaknya ole-ole yang dibawa sampai mereka di tanah suci tidak khusuk dalam ibadahnya karena hati atau pikirannya sibuk memikirkan satu persatu pesanan keluarganya atau nama-nama penyumbang terutama mereka yang banyak sumbangannya tentu tinggi pula nilai ole-olenya.
                Seiring perjalanan waktu,rombongan penjemputpun tiba di bandara.Satu persatu barang bawaanpun dimasukkan ke bagasi mobil.Keluarga-keluarga jemaah bangga dengan banyaknya barang bawaan jemaah yang dijemputnya.Kecuali Bu Rina sekeluarga.Mereka hanya bisa terheran-heran melihat jemaah yang dijemputnya.Pak Umar pulang hanya membawa sebuah tas yang kelihatan kempes.”Mungkin suamiku kecopetan di sana” batin Bu Rina yang sudah tidak berani mengintrogasi suaminya.Hanya kata Alhamdulillah yang diucapkannya atas kepulangan suaminya.Bu Rina bertemu kembali dengan suaminya dengan Rina yang baru,Rina yang sudah terdidik oleh hati nuraninya sendiri.Anak-anaknya pun ta ada yang bersuara,mungkin malu karena ayahnya pulang tanpa ole-ole.
                Seiring perputaran waktu,ban mobilpun terus berputar.Dalam hitungan beberapa jam rombongan udah sampai di rumah,nampak warga telah bergerombol di depan rumah masing-masing jemaah.Satu persatu jemaah turun dan langsung menuju masjid untuk shalat dua rakaat.Lima jemaah haji dari dusunku semuanya memakai pakaian kebesaran haji jubah tebal dan penutup kepala ala Arab,kecuali Pak Umar hanya berjubah putih dan pakai peci putih seperti yang biasa dipakai sebelum pergi haji.
                Usai shalat masing-masing jemaah ke rumahnya bersama dengan rombongannya.Di depan rumah Pak Umar udah menunggu berapa laki-laki yang siap mengangkat barang yang berat.Mereka berpikir akan mengangkat berepa jirgen air zam-zam,beberapa dos kurma,beberapa tas pakaian,dan lain-lain.Tapi apa yang terjadi,mereka hanya saling memandang keheranan.Mereka hanya mendapati satu buah tas jemaah yang kempes.”Pasti dia kecopetan di atas”,bisik mereka.”Mungkin tidak cukup uangnya”,kata yang lain.Bebarapa jamaah hanya bersalaman dengan Haji Umar setelah itu pergi ke jemaah lainnya.
                “Maaf ya Ma,Maaf ya Nak saya tidak membawakan apa-apa.Saya tak punya waktu untuk pergi belanja seperti yang lainnya.seluruh waktu dan kesempatanku disana kupakai untuk beribadah.Pakaianku saja hanya sepasang yang kubawa pulang,yang lainnya kusedekahkan pada para pengemis atau orang miskin yang kulewati sedangkan uangku sudah habis kusedekahkan.Bu Rina bangga,terharu dan langsung memeluk suaminya.”Ya Allah,betapa mulianya hati hamba-Mu ini”,batin Bu Rina.”Pak,maafkan saya bila selama ini selalu mengecewakanmu,saya tidak kecewa bila pulang tanpa membawa apa- apa yang penting Kita pulang dengan membawa hati ini untukku”,ungkap Bu Rina sambil bersandar di dada suaminya.Haji Umar agak heran melihat istrinya bersikap manja seperti ini.Sudah lama Haji Umar tidak melihat pemandangan seperti itu,kecuali cuek atau bentakan.
                “Bu,ada uang yang saya simpan di laci mejaku pergi belanja untuk acara syukuran besok malam,undang orang-orang miskin dan anak panti asuhan,dan sebagian isi amplop lalu berikan pada mereka”,kata Haji Umar.”Subhanallah...”batin Bu Rina”Untuk Akbar,bulan depan saya akan belikan motor supaya tidak mengojek lagi ke sekolah”janji Haji Umar pada anak sulungnya yang dari tadi marah-marah tidak dibawakan ole-ole.Akbarpun langsung melompat girang dan mendekat memeluk ayahnya.”Kalau saya Pak ?”Tanya Rika yang juga marah-marah.”Untuk Rika saya belikan note book”,jawabnya.”Horeee,Papa orang baik...!!”,ujar Rika lalu memeluk ayahnya.
                Pemandangan di rumah Haji Umar jauh beda dengan pemandangan di haji baru lainnya.Di rumah Haji Kahar yang pergi bersama istrinya jauh lebih meriah.Acara pertama bagi-bagi kurma dan air zam-zam.Semua hadirin mendapat sedos kecil kurma dan segelas air zam-zam.Hadirinpun menikmatinya sambil mendengarkan pengalaman Haji Kahar menunaikan ibadah haji.Istrinya,Hajjah Ratnapun tersenyum-senyum bangga di sampingnya.Setelah itu pembagian ole-ole yang disesuaikan dengan besarnya sumbangan ketika acara menasik.Yang besar sumbangannya besar pula bingkisannya,yang kecil cuma dapat satu buah tasbih,sedangkan yang tidak menyumbang apa-apa tidak dapat pula apa-apa kecuali kurma dan air tadi.
                Pergeseran waktu membawa keluarga Haji Umar ke acara syukuran yang telah direncanakan.Berbagai komentar dan pertanyaan yang muncul dari tetangga-tetangga yang hadir.Ada yang mempertanyakan masalah kecopetan,masalah tasnya yang kempes dan ada pula yang mempertanyakaan ibadahnya di tanah suci,ada pula suara yang menyebut ole-ole.Haji Umar hanya menjawabnya dengan senyum lalu mempersilakan tamu-tamunya makan.
                Usai acara Haji Umar masuk ke kamarnya istrahat dan diikuti oleh istrinya.”Bu,haji itu adalah ibadah untuk Allah,bukan untuk sesama manusia.Maka jangan terlalu berharap disebut atau dipanggil dengan sebutan haji dan jangan lagi marah bila orang-orang tidak menyebut kita haji,karena semua itu akan mengurangi pahala haji kita”pesan Haji Umar pada istrinya sebelum tidur.”Haji itu adalah kesempurnaan keislaman seseorang.Oleh karena itu seorang haji harus menampakkan sikap dan prilaku islami.Dalam berpakaian harus menutup aurat,tidak seperti caramu yang memakai penutup kepala tetapi kelihatan aurat di lehermu,itu dosa Bu,Allah memerintahkan kepada kaum muslimah agar memakai jilbab yang menutupi dadanya,bukan penutup kepala saja tapi kelihatan leher.Leher itu aurat,jadi kalau sempat dilihat oleh orang lain maka terjadi lagi dosa,berapa anya dosa yang kamu lakukan dalam sehari,sebulan atau setahun”,sambung Haji Umar.”Iya Pak,Insyah Allah saya akan mengkuti segala perintah Allah dan perintah suamiku yang tercinta” Jawab Bu Rina sambil memeluk suaminya.
                 Seperti biasa di saat warga larut dalam mimpi-mimpinya Haji Umar bangun mendirikan tahajjud.Kepada Allah Haji Umar berdoa,”Ya Allah,Aku telah menunaikan ibadah haji,bisakah predikat haji ini kujalankan atau cuma sebuah gelar yang melengkapi namaku.Aku adalah seorang kepala sekolah yang berkerja dalam lingkungan yang penuh dengan godaan,tolonglah aku untuk bisa membuktikan kehajianku,atau kalau Engkau menganggapku tidak akan bisa maka berhentikanlah aku dari jabatan ini,amiin”. Amiin !. (Palajau,September 2013).

Rabu, 21 Januari 2015

Cerpen HUJAN DUIT DI TANAH KERING

                Aku bangga dilahirkan di daerah Kabupaten Tanah Kering,karena di tanah ini aku tumbuh menjadi manusia yang dapat berbakti bagi masyarakat,bangsa dan negaraku. Walau negeri ini disebut tanah kering namun masih banyak hal yang membuatku bangga,antara lain kesadaran beragamanya,karena setiap tahunnya warga masyarakat antrian untuk menunaikan ibadah haji,dan bisa bersaing dengan daerah lain dalam kompetisi otonomi Daerah.Walau selalu berada dalam urutan terakhir namun kubangga pada semangat masyarakat untuk terus meraih kemajuan,sekalipun kemajuan itu masih dalam angan-angan.
                Tanah kering bukanlah nama daerahku yang sebenarnya,itu hanyalah julukan yang diberikan oleh penduduk daerah lain yang kebetuluan lewat disepanjang jalan daerahku.Mereka mengukur kemampuan daerahku dari banyaknya sawah-sawah kering yang terbentang disepanjang jalan,banyaknya tukang becak yang mengais reski di daerah lain,serta banyaknya pencuri yang ber-KTP daerah ini,sehingga mereka berani berkesimpulan bahwa daerahku ini kering.Memang daerahku mau seperti daerah lainnya yang sudah menikmati kemajuan,sangat mengharapkan turunnya hujan dari langit untuk menyelamatkan kelangsungan hidup yang terancam punah. Para petani hendak menanam padi tapi hanya bisa bersabar karena sawah kering, atau padi gagal panen karena kekeringan air. Mau dibantu dengan mesin pompa air tapi air yang mau dipompa tidak ada, masyarakat menjadi kekurangan makanan, sehingga ada yang merantau ke negeri orang untuk mengais rezki, ada pula yang ganti profesi dari petani menjadi pencuri, yang PNS berbisnis korupsi, atau bisnis nepotisme CPNS.”Memangnya di daerahmu tidak pernah turun hujan ?”,tanya Puang Baso padaku.”Sering,Puang bahkan kadang dilanda banjir”,jawabku.”Tapi mengapa sawah-sawah di sepanjang jalan itu tidak dimafaatkan ?”,tanya Puang Baso.”Kita semua mau memanfaatkannya Puang,Cuma airnya tidak teratur karena irigasinya tidak mendukung,di daerahku Puang banyak tikus yang merusak irigasi sehingga air tidak bisa sampai ke sawah-sawah kami”,tambahku pada Puang Baso.Puang Baso adalah tetanggaku di Makassar.Dia perantau Bugis yang sukses,sedangkan aku kurang beruntung karena profesiku hanya sebagai pedagang sayur.Namun demikian,aku masih bangga dengan profesiku yang dikuanggap halal.Walau Cuma penjual sayur,aku bisa mencetak tiga sarjana dalam keluargaku.Yang kini sudah tersebar diinstansi pemerintahan sebagai tenaga honorer.Ada yang sudah sepuluh tahun masa kerjanya namun harus bersabar menanti datangnya takdir.
                Masyarakat sekampungku kadang heran menghadapi cuaca yang tidak menentu.Bukannya hujan air  yang turun malah hujan duit yang turun di tanah kering.Tapi bukan duit yang kami inginkan sebagai para petani tanah kering, melainkan air untuk tanaman pertanian dan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.Bukan hujan duit yang kami harapkan tapi kedamaian dan kemerdekaan dari penjajahan para pencurian dan penjarahan gerombolan tikus.Bagamana masyarakat bisa makmur kalau yang datang hanya hujan duit yang membasahi tanah yang kering dan gersang, yang tumbuh subur hanyalah baliho-baliho di jalanan, yang memamerkan kegagahan diri dan kata-kata yang memuji diri.Adalah suatu pemborosan di daerahku kalau uang hanya untuk menanam baliho-baliho di pinggir jalan,”Mau diapakan itu baliho,bisa dimakan ?”,kata Daeng Bella.Daeng Bella adalah seorang petani yang baru saja gagal panen karena sawahnya kekeringan.”Andaikata uang-uang baliho itu disumbangkan untuk pembangunan irigasi,tentu lebih bermanfaat bagi masyarakat daerah ini”,kata Daeng Bella pada sepupunya Daeng Tata.”Betul sekali Daeng Bella,saya kira yang demikianlah pejuang kepentingan rakyat”,tambah Daeng Tata.
                “Bagaimana menurut Daeng Bella,calon pemimpin yang mengeluarkan biaya yang besar itu apakah tidak bakal korupsi ?”, tanya Daeng Tata.”Mana kutahu Daeng Tata,tidak bisaki berprasangka buruk”,jawab Daeng Bella.”Saya tidak berprasangka buruk,Cuma mengira-ngira bahwa semakin banyak biaya yang dikeluarkan seorang calon maka semakin besar pula peluangnya untuk melakukan kerupsi,karena sedikit banyaknya mereka akan berpikir untuk mengembalikan modalnya”,kata Daeng Tata.”Betul juga perkiraanmu Daeng Tata,makanya hati-hatilah memilih calon pemimpin,pilihlah calon pemimpin yang telah kita kenal orangnya,yang bersih,yang kita anggap bisa memperjuangkan kepentingan rakyat,dan yang lebih bagus lagi kalau kita memilih yang telah kita rasakan prestasi atau perhatiannya”,tambah Daeng Bella.
                “Menjelang pemilihan calon pemmpin nanti,hujan duit akan semakin deras,dermawan-dermawan politik akan bertebaran,menyumbang masjid atau bagi-bagi uang dan sembako,bagaimana menurut Daeng Bella ?”,tanya Daeng Tata.Daeng Bellapun tersenyum lalu menarik napas dan berkata,”Dermawan politik yang Daeng Tata maksudkan itu menurut saya termasuk praktek curang,meraka ingin membeli hati nurani manusia,padahal hati nurani itu tidak bisa diperjualbelikan.Lagi pula Daeng Tata,praktek jual beli suara atau yang orang bilang money politik termasuk suap menyuap yang dilarang dalam agama kita.Ustaz Herman pernah mengatakan bahwa penyuap,orang yang disuap dan perantaranya sama-sama masuk neraka”.”Jadi tidak bisaki menerima pemberian seorang calon walau mereka ikhlas memberi ?”,tanya Daeng Tata memotong pembicaraan Daeng Bella.”Mana ada calon yang ikhlas menyumbang sekarang Daeng Bella ?,memang mulutnya mengatakan ikhlas tapi hatinya mengharap agar dipilih,itu kan menyuap yang berkedok sedekah.Kalau mereka mengaku ikhlas maka terima saja asalkan tidak mempengaruhi pilihan kita,itu tidak menjadi masalah Daeng Tata.”Tidak dosajaki kalau kita tidak memilih orang yang bagi-bagi uang ?”,tanya Daeng Tata.”Dosa atau tidak itu Allah yang lebih tahu,tapi sepertinya ada dosanya karena kita ikut berpartisifasi menyuburkan money politik di negeri ini”,jawab Daeng Bella.”Kalau begitu,saya akan memilih sesuai dengan hati nurani”,ujar Daeng Tata.”Memang begitu seharusnya sikap seorang muslim yang takut kepada hari pembalasan,maukah gara-gara uang lima puluh ribu kita masuk neraka ? rugijaki Daeng Tata”.Tambah Daeng Bella sambil pamitan karena azan shalat Isya telah berkumandang.
                Usai makan malam,Daeng Tata sekeluarga nonton bareng di ruang keluarga.Tiba-tiba mata Daeng Tata tertuju pada sebuah berita di Indosiar,”Seorang pengemis mati kelaparan saat berteduh di sudut kota di bawah sebuah baliho raksasa”.”Astagfirullah”,batin Daeng Tata. Di sudut kota Maju Mundur banyak terpasang baliho raksasa dari calon wakil rakyat yang mempromosikan dirinya. Sayang baliho raksasa itu tidak peduli pada nasib rakyat miskin, padahal di atas baliho tertulis pejuang kemakmuran, bersih, peduli dan merakyat. Saat orang kelaparan itu berteduh datang angin besar, baliho  raksasa pun tumbang dan mengenainya... mati,”Mengapa saya yang disoroti,pengemis itu yang salah,mengapa tidak ke rumah saya meminta makanan ?”,ujar calon pemilik baliho saat di demo oleh warga.
                Pemilik baliho menyampaikan bela sungkawa dan menyampaikan pada keluarganya “Mengapa tidak bilang-bilang kalau ada keluarganya yang kekurangan, seandainya dia masuk ke rumah berteduh dia tidak akan mengalami nasib seperti itu,kami pasti menjamin hidupnya”. Dipersilahkannya wartawan itu mengabadikan perstiwa saat memberikan uang santunan pada keluarga korban beserta kartu nama sebagai caleg lalu dimintanya wartawan itu untuk dimediakan supaya semua masyarakat tahu kepeduliannya.
 Banyak warga menilai bahwa pemilik baliho adalah orang yang tidak mengenal dan dikenal oleh masyarakat,melakukan banyak kegiatan yang menyentuh kepantingan masyarakat.”Mengapa kegiatan seperti ini baru dilakukan menjelang pemilihan ?”tanya Daeng Baji,istri Dang Tata saat menghadiri acara yang bertajut hujan duit yang diselenggarakan oleh pemilik baliho raksasa itu di lapangan sepak bola.Acara ini menghadirkan artis ibu kota yang menyanyikan lalu khusus memuji-muja pemilik baliho raksasa itu.”Siapa yang peduli pada rakyaaaat ???,tanya Rahmat seorang pemuda yang menjadi team sukses.”Pak Komaaaaar !!!!”,jawab seluruh hadirin kecuali Daeng Tata dan istrinya yang dari awal sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan ini.”Siapa yang bersiiiiiihhh ????”,”Pak kooooooomaaaarrr !!!”.Pak Komarpun tersenyum-senyum lalu menyebarkan lembaran sepuluhribuan kepada hadirin.”Sombong sekali ini orang,yakinkah bahwa uang yang kau hamburkan itu bukan uang haram ?”.Dua anak kecil jatuh mperebutkan uang di depan Daeng Tata.”Untung anak-anakku tidak hadir diacara yang memalukan ini”,batin Daeng Tata.
                Usai acara yang bertajut “Hujan Duit”,ketua panitia mengumumkan acara berikutnya adalah pembagian sembako,satu persatu hadirin menerima paket sembako dan diabadikan oleh para wartawan.Beberapa warga yang menerima sembako memeluk Pak Komar,di antaranya ada yang mencium tangannya.”Kalau saya terpilih ,maka kalian akan menerima yang lebih banyak lagi”,janji Pak Komar.”Insya Allah”,sambut beberapa warga.
                Sejak adanya fenomena hujan duit di daerahku beberapa warga masyarakat menjadi malas kerja,bahkan di antara warga ada yang beralih profesi dari petani menjadi team sukses calon pemimpin.”Apa untungnya menjadi team sukses calon ?”,Tanya Daeng Tata pada Rahmat beberapa hari sejak pertemuan di kantor desa.Rahmat adalah seorang warga yang malas kerja dan pada musim pemilihan tahun ini dia menjadi team suksessalah satu calon pemmpin yang berduit,”Banyak untungnya Daeng Tata,calon yang kita urusi adalah calon yang berduit tetapi tidak berkualitas.Mereka tidak memahami politik makanya bisa dijadikan korban politik”,jawab Rahmat.”Bagaimana bisa ?”,Daeng Tata balik bertanya.”Ya bisalah asal cakap bermain”,jawab Rahmat.
                                                                                                                                                                        Usai pemilihan Rahmat tidak kelihatan lagi batang hidungnya di kampungnya.Dia bersama keluarganya sengaja menyingkir ke tempat yang aman,menghindari gangguan calon yang gagal menjadi pemimpin.Mereka selalu mendatangi rumah Rahmat mempertanyakan kegagalannya,padahal telah banyak uang yang diberikan kepada Rahmat.Beberapa tetangga Rahmat mengaku tidak pernah diberi uang oleh Rahmat,bahkan mereka mengatakan bahwa Rahmat baru saja membeli mobil avanza dan rumah di Makassar,namun tak seorangpun yang tahu di mana letak rumah yang dibeli Rahmat.Akhirnya calon yang gagal itu kabarnya sedang dirawat di rumah sakit karena terserang strok memikirkan uangnya dan sawahnya yang semuanya ludes di tangan Rahmat.”Kurang ajar itu Rahmat,licik sekali habisi dia Daeng Temba”,ujar Pak Karim,salah seorang keluarga calon yang menjadi korban kelicikan Rahmat kepada salah seorang dukun yang dimintai bantuan untuk melenyapkan Rahmat di muka bumi ini.Rahmat bukanlah pemain biasa,jauh sebelum menjadi team sukses  Rahmat telah mendatangi dukun pula untuk mendapatkan perlindungan.Oleh dukun yang didatangi Rahmat diberinya jimat perlindungan.Sehingga sampai saat ini Ramhat masih hidup,masih menjalankan aksinya menipu calon yang bermain kotor.Rahmat maupun  korban lainnya sama-sama liciknya,Cuma Rahmat lebih memahami politik daripada calon yang mau menjadi pemimpin.Dan pada akhirnya,mata daeng Tata terbelalak saat melihat Pak Komar dilayar kaca digelandang oleh pasukan KPK.Sebelum menaiki mobil tahanan KPK,Pak Komar melambaikan tangannya kepada seluruh rakyat yang telah dikorup dana kesejahteraannya.Mobilpun melaju menuju KPK.”Kurang ajar !”,ujar Daeng Tata lalu mematikan TV .(Palajau,Desember 2013).Telah dimuat di Majalah Suara Guru,edisi Maret 2014)

Minggu, 18 Januari 2015

Cerpen KESURUPAN HANTU SEKOLAH



Seperti biasa,sebelum memulai pelajaran,kupimpin siswa berzikir,beristigfar dan membaca doa selama beberapa menit lalu kumulai proses belajar.Setelah kuberi tugas,maka siswapun dengan tenang mengerjakan soal-soal yang diberikan pada kelompoknya,akupun mengamati dan menilai aktvitas siswa.Saat kuberjalan dari kelompok ke kelompok,tiba-tiba perhatianku tertuju pada seorang siswa dari salah satu kelompok.”Apa yang kamu kerja,Selfi ?”,tanyaku pada siswa tersebut.Selfi bukannya mengerjakan tugas kelompoknya,melainkan asyik menggambar sosok perempuan ,yang teman sekolmpoknya ketakutan melihat gambar itu.Selfi tidak menjawab pertanyaanku dan menyembunyikan gambarnya.Kurebut gambar yang ada ditangannya.Selfi marah,merah mukanya dan berusaha merebut gambar yang sudah ada ditanganku. ”Sepertinya ini anak lagi kesetanan”,batinku.Kuperintahkan teman kelompoknya untuk memegang selfi dan mendudukkannya di kursi.”Kembalikan gambarku !”,pinta Selfi membentakku.”Ini bukan Selfi,ini pasti setan,saya tidak akan mengembalikan gambarmu kalau kau mengganggu siswaku”,ujarku.”Kembalikan gambarku atau kubunuh dia ?”,ujarnya mengancamku.Akupun lalu menenangkan diri karena kuyakin bahwa Selfi kerasukan setan.
 
Selfi merontak berusaha melepaskan diri dari tangan teman-temannya dan ingin menyerangku saat kuserang dengan ayat-ayat Allah,”Tinggalkan Selfi atau kubakar terus”,ujarku.”Tidak,saya akan membunuhnya”,jawabnya.”Kamu tidak punya hak membunuhnya,lagi pula apa salahnya Selfi padamu”,balasku.”Aku menyayangi Selfi,mau kujadikan temanku”,jawabnya.”Siapa kau dan dimana tempat tinggalmu”,Tanya seorang siswa.”Aku tinggal di salah satu WC di sekolah ini”,jawabnya.Karena dia setan maka kuserang terus dengan ayat-ayat Allah,lalu kubacakan ayat kursi,dan tiga surat pendek di akhir Al Quran lalu kupaksa meminumnya dan akhirnya Selfipun diam lalu sadarkan diri.Selfi adalah siswa yang cantik dan agak pendiam dibanding siswa lainnya,mungkin karena hatinya atau pikirannya selalu kosong sehingga setan bisa leluasa mengganggunya.
Selama Selfi kesurupan di sekolah,banyak siswaku yang ketakutan,terutama takut buang air di WC sekolah dan takut berkunjung ke perpustakaan.Bukan hanya yang perempuan takut,tetapi yang laki-lakipun ikut-ikutan takut.Hal ini disebabkan karena Selfi kemasukan roh yang mengaku roh seorang cewek yang mati tertembak 60 tahun yang lalu dan roh itu mengaku tinggal di salah satu WC siswa. Aku sudah lama tahu tentang adanya roh jahat yang tinggal di WC sekolah,dan aku tidak mempersoalkannya karena sebelumnya yang diganggu hanya mahasiswa-mahasiswa yang numpang kuliah di sekolah.Namun,setelah roh itu mencoba mengganggu siswa barulah aku mempersoalkannya karena siswa-siswa berada dalam perlindunganku sebagi orang tua siswa di sekolah.
Ini suatu cobaan bagiku yang selama ini membiasakan siswa berzikir,beristigfar dan berdoa sebelum belajar,dan mengingatkan agar selalu waspada terhadap tipu daya setan karena setan senantiasa berusaha dan dengan berbagai cara untuk menyesatkan manusia.”Kalian harus percaya bahwa yang mengganggu Selfi adalah setan dari bangsa jin yang mengaku-ngaku sebagai roh Saleha,gadis yang tertembak itu”,ungkapku dihadapan siswa,”Islam tidak mengajarkan adanya roh manusia yang gentayangan.Semua manusia yang telah mati rohnya telah memiliki tempat yang tetap,kalau rohnya baik maka tempatnya yang tinggi yaitu di langit dan kalau rohnya buruk maka terpenjara ditempat yang rendah,yaitu di bawah tanah”tambahku.”Ada beberapa bukti bahwa roh yang masuk ke tubuh Selfi itu adalah setan dari bangsa jin,antara lain waktu diserang dengan ayat-ayat Allah dia menjerit kepanasan dan meninggalkan tubuh Selfi, permintaannya agar didoakan dan dibacakan Surat Yasin di WC adalah perbuatan yang dilarang karena agama melarang kita membaca Al Quran di tempat yang kotor,dan buktinya setelah dibacakan Surat Yasin di WC setan itu masih tetap mengganggu Selfi”,sambungku.”Setan itu hanya mau menakut-nakuti kita yang ujung-ujungnya adalah ingin menyesatkan kita”,lanjutku.
”Pak,apakah roh manusia tidak bisa masuk ke tubuh manusia lainnya ?”,Tanya Isma menanggapi pernyataanku.”Tidak ada keterangan dalam Al Quran maupun hadis yang mengatakan bahwa roh manusia bisa masuk ke tubuh manusia lain,kecuali yang terangkan Nabi SAW bahwa jin bisa masuk ke tubuh manusia dan berjalan dalam aliran darah”,jawabku.”Tapi Pak,kemarin ada tetanggaku yang kemasukan parakang,dan mengaku tetangganya sendiri”,sanggah Isma.”Iya,Pak saya juga pernah melihat ada yang diganggu parakang,bagaimana itu,Pak ?”,tambah Bagas.”Begini,orang yang kemasukan parakang dan mengaku-ngaku si A atau Si B itu hanya tipu daya setan,yang masuk itu bukan rohnya si A atau si B,melainkan setan yang masuk mengaku-ngaku dengan tujuan menciptakan fitnah dan permusuhan”,jawabku.”Pak,saya juga punya tetangga yang pernah kesurupan dan mengaku sebagai patanna kampong,bagaimana itu Pak ?”,Tanya Irma.”Roh yang mengaku patanna kampong itu hanyanya setan dari bangsa jin,yang menginginkan agar korban atau keluarga korban mendatangi suatu tempat atau mempersembahkan sesajian di suatu tempat yang dianggap angker”,jawabku
Kuterus berusaha menolong Selfi yang sudah dua minggu kesurupan roh yang mengaku Saleha,seorang gadis yang tertembak 60 tahun yang lalu.Penembaknyapun mengakuinya saat diundang ke sekolah.Dari pengakuan pelaku itulah yang membuat banyak siswa bahkan guru yang semakin percaya bahwa Selfi diganggu oleh roh gentayangan.Bahkan kepala sekolah telah memutuskan akan memindahkan Selfi ke sekolah lain.”Bila Selfi dipindahkan gara-gara kesurupan,tentu siswa lainnya semakin takut,dan karena takutnya itu sehingga setan itu menganggu siswa lainnya”batinku.”Tidak,aku akan berusaha agar Selfi tidak dipindahkan”,tekadku.Letak permasalahannya adalah karena perbedaan pendapat tentang Roh yang mengganggu itu,banyak yang percaya sebagai roh gentayangan,jadi harus kuyakinkan siswa bahwa itu hanyalah tipu daya setan untuk menakut-nakuti dan menyesatkan kita,”Setan jangan dipercaya kata-katanya,jangan ditakuti ancamannya dan jangan pula di penuhi permintaannya”,ujarku pada siswa-siswa yang semakin hari semakin takut,apalagi setelah Selfi yang kesurupan menyusun batu yang berbentuk kuburan di pekarangan depan kelasnya lalu menulis “19-3-2014” lalu menyuruh teman-temannya menabur bunga di atasnya. Banyak yang percaya pada ancamannya akan membunuh Selfi,sehingga ada yang beranggapan bahwa Selfi akan mati pada tanggal 19-3-2014.”Tidak,tanggal 19-3 itu mungkin tanggal tertembaknya gadis yang bernama Saleha itu,dan tahun 2014 adalah untuk menakut-nakuti kita semua”,sanggahku pada siswa.Setan itu memang sangat bandel,sudah beberapa kali kuisir dengan ruqyah di perpustakaan namun masih saja mengganggu Selfi sampai tanggal 19-3-2014 tinggal beberapa hari.Sudah beberapa permintaannya dipenuhi oleh pihak sekolah maupun keluarganya dipenuhi namun masih juga mengganggu.telah beberapa dukun yang didatangi orangtua Selfi namun masih juga menganggu,sampai tanggal 19-3-2014 tinggal 3 hari.
“Ya Allah,Tolonglah aku untuk membebaskan siswaku dari gangguan setan,jangan permalukan aku pada masyarakat dan siswaku bila tidak berhasil membebaskan siswaku dari gangguan setan yang mengaku-ngaku roh gentayang itu”,doaku usai shalat Tahajjud.Sambil menunggu Subuh kubaca kembali buku-buku tentang alam jin dan buku tentang roh.Melalui buku itulah kumendapat petunjuk bahwa bila setan diusir dengan ruqyah dan masih saja datang mengganggu maka bisa dihadapi dengan cara yang lebih keras lagi,dipukul,dipatah kakinya atau bahkan dibunuh.”Tapi,ini tidak mudah karena Selfi adalah perempuan,nanti keluarganya salah paham”,suara hatiku.
Kuberfikir dan terus berfikir,akhirnya kuambil cara yang terakhir yaitu mematahkan kaki atau membunuh bila bertemu lagi dengan setan itu.kukuatkan iman dengan doa,kubulatkan tekad lalu kulangkahkan kakiku ke sekolah.Sehari sebelum tanggal 19-3-2014,mungkin adalah usaha yang terakhir bagiku untuk membebaskan Selfi dari gangguan setan bandel itu.Kegiatan mengajar sengaja kupakai untuk mengurusi Selfi.Melalui temannya,kupanggil dia bergabung dengan kakak kelasnya yang akan belajar di kelas PKN.Aku sangat berharap Selfi kesurupan hari ini,bahkan dengan keyakinan setan itu bisa mendengar panggilanku maka kupanggil dia agar masuk ke tubuh Selfi.Kutunggu-kutunggu namun tak muncul-muncul dan kuyakin setan itu tahu rencanaku hari ini.Kuyakinkan kembali siswa termasuk Selfi agar tidak menakuti setan dan tidak mempercayai apapun ucapannya.Kuyakinkan Selfi bahwa yang mengganggunya adalah setan yang mencelakakan dirinya,”Kau harus melawan setan itu agar tidak mengganggu bahkan sampai membunuhmu”,kataku.Kusuruh Selfi memimpin zikir,membaca beberapa surat pendek dalam Al Quran.
“Terima kasih ya Allah,Engkau telah menolongku untuk membebaskan Siswaku dari gangguan setan”,ucapku setelah tanggal 19-3-2014 terlewati dan tidak terjadi lagi apa-apa terhadap Selfi.”Betul kan bahwa tanggal 19-2-2014 itu hanyalah ancaman setan itu untuk menakut-nakuti kita,ternyata setan itu pendusta yang hanya menipu daya kita,dan ternyata setan juga takut bila diancam akan dipatah kakinya atau dibunuh”,uangkapku pada siswa beberapa hari kemudian dan sejak tanggal 19-3-204 lewat tanpa kejadian apa-apa,akhirnya kepercayaan siswa akan roh gentayangan itu pudar,rasa takutnya pun hilang,dan siswa semakin percaya bahwa kata-kata setan itu dusta dan setan tidak berdaya menghadapi ayat-ayat Allah.

Cerpen KADO ULTAH GURUKU



                Guruku duduk sendirian di sudut sekolah terseyum-senyum ketika  melihat layar HPnya,rekan di kota mengabarkan bahwa calon Bupati yang didukungnya menang.”Alhamdulillah semoga ini pilihan Allah untuk memajukan daerah ini”,batin Pak Rahmat lalu mengenang jalan hidupnya yang terlempar ke gunung  gara-gara salah dukung pada pilkada 5 tahun yang lalu.
                Pak Rahmat adalah mantan kepala sekolah yang sekarang menjadi menjadi guru biasa yang mengajariku PKN, orangnya sederhana dan selalu mengajarkan nilai-nilai agama dan budi pekerti. Guru PKNku ini tidak kaku pada tuntutan kurikulum,aktif melatih kami Pramuka dan PMR di sekolah.Dalam mengajar guruku lebih banyak menanamkan nilai agama dan budi pekerti dari pada materi-materi yang ada di buku paket.”Untuk apa kita belajar demokrasi yang baik, kalau bapak-bapak atas yang seharusnya kita contoh  mempraktekkan demokrasi yang buruk”,”Untuk apa kita mendalami materi korupsi kalau para pejabat yang seharusnya kita contoh mempratekkan korupsi itu”,ujar Pak Rahmat di hadapan para siswa.
                Yang ditanamkan adalah bahwa Allah bersama kita,melihat dan mengawasi apa yang kita lakukan,mencatat dan akan membalas perbuatan kita, Sekecil apapun perbuatan dosa yang kita lakukan Allah akan membalasnya dengan neraka,siksa neraka yang teringan adalah iabarat kita disuruh memakai sepatu besi yang sudah dipanasi sampai merah yang membuat otak meleleh. Sebelum memulai pelajaran guru PKN ini selamanya memimpin siswa untuk berzikir,beristigfar lalu berdoa di dalam hati karena Allah Maha Mengetahui isi hati kita.
                Pak Rahmat adalah sosok guru yang profesional.Mutasinya ke gunung tidak dipandangnya sebagai hukuman karena tidak mendukung calon bupati yang menang,melainkan dianggap sebagai penambah pengalaman.Lagian Pak Rahmat sejak dari awal bersedia di temapatkan di manapun dalam wilayah negara ini.Sehingga di gunung pun Pak Rahmat tetap bersemangat menjalankan tugasnya.Pak Rahmat menyadari bahwa dirinya diangkat dan digaji oleh negara maka tidak pantas bermalas-malasan kalau cuma dimutasi ke tempat yang jauh.Kepada negaralah Pak Rahmat mempertanggungjawabkan tugasnya,bukan kepada pejabat bupati yang menyingkirannya.
                Sejak bertugas di salah satu SMP di daerah gunung, Pak Rahmat amat disukai oleh masyarakat lingkungannya.Kompetensi sosialnya bagus.Dia dekat dengan masyarakat, apalagi dia suka berdakwah, dia selalu diundang untuk ceramah Ramadhan, Khukbat Jumat/dan Khutbah lebaran dan kadang pula diundang membawakan Taziah,ataupun acara barzanji.Diapun aktif membina remaja masjid dan membina masyarakat mengenal teknologi pertanian.
                Mengetahui bahwa Pak Rahmat mempunyai pengaruh di daerah pengunungan yang terdiri dari beberapa desa, maka oleh Bupati, dengan kepentingan politiknya,memanggilnya ke rumah jabatan dengan maksud untuk diangkat menjadi kepala SMP di tempatnya mengajar.”Terima kasih atas kepercayaan Bapak” namun Pak Rakmat  menolaknya dengan halus,Pak Rahmat tidak mau lagi menerima jabatan atas dasar balas jasa bukan karena kompetensi,karena balas jasa itu kelak bisa berubah menjadi balas dendam seperti yang telah dialaminya selama lima tahun ini.Menolak tawaran pimpinan maka selanjutnya Pak Rahmat menuai tekanan dan intimidasi.
                Masyarakat pegunungan tahu bahwa Pak Rahmat mendapat ancaman dari salah satu calon bupati, maka masyarakat satu kecamatan mengancam bupati tak akan mendapat suara untuk calon yang didukungnya bila Pak Rahmat diganggu.”Kami tidak setuju kalau pilkada ini diwarnai dengan tekanan dan intimidasi”,demikian salah satu bunyi surat protes masyarakat pegunungan kepada bupati.
                Pak Rahmat adalah guru idolaku di sekolah dan tokoh masyarakat yang disegani di kampung.Pak Rahmat selalu mendakwakan pemilihan yang bersih, menanamkan pada masyaraat bahwa penyogok,disogok dan perantaranya akan masuk neraka, kalau calon menyogok agar menang,maka setelah memangku jabatan dia akan mencari uangnya maka dilakukanlah korupsi,membuka penerimaan pegawai dengan sogokan dan cara lain untuk meraup keuntungan diri dan keluarganya.”Pilihlah sesuai hati nurani,karena Allah akan memimpin kita melalui hati nurani untuk memilih calon pemimpin yang dikehendaki-Nya.Memilih karena nafsu uang hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penyesalan”,kata Pak Rahmat di depan jemaah.Oleh karena itu,rakyat dipengunungan tak ada yang mau disogok atau menjadi perantara para penyogok. Mereka memilih pemimpin yang bermain bersih sesuai pilihan hati nuraninya.
                Tanggal 25 Nopember adalah hari ulang tahun guruku yang tercinta.Kami seluruh siswa bermaksud melakukan perayaan hari Ulang Tahun Pak Rahmat. Rencana ini saya sampaikan kepada Kepala Sekolah dan juga kepada ayahku yang kebetulan adalah pejabat Kepala Desa di desaku.Kepala sekolah dan Kepala desa sangat mendukung rencana kami sehingga kami selaku pengurus OSIS mempersiapkan segala sesuatunya.
                Pesta ulang tahun Pak Rahmat berlangsung dengan meriah.Pesta ini dimerahkan dengan berbagai lomba olah raga dan seni selama seminggu dan puncak perayaan dihadiri oleh calon bupati pemenang pilkada yang lalu.”Siapa yang mengundang Pak Ilham di pesta ini”,tanya beberapa teman panitia.”Ayahku yang mengundangnya,ayahku adalah team suksesnya di desa ini”,jawabku.Acara puncak diisi dengan penampilan kreasi seni sekolah kami,antara lain tari,menyanyi,dancing dan puisi.Semua yang ditampilkan adalah kreasi asli buatan siswa sekolah kami.Semuanya dibuat khusus untuk ulang tahun Pak Rahmat.
                Usai aku menyampaikan laporan ketua panitia,giliran Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan dilanjutkan dengan sambutan ayahku selaku kepala desa.Baik kepala sekolah maupun kepala desa menyampaikan apresiasi atas kinerja Pak rahmat di sekolah maupun dalam masyarakat.”Selama Pak Rahmat berada di sekolah ini,prestasi-prestasi sekolah semakin meningkat”,ungkap Pak Karim,kepala sekolah kami.”Saya memandang bahwa Pak Rahmat adalah sosok guru yang ideal,selain menjadi panutan siswa di sekolah,beliau juga adalah panutan masyarakat.Selama berada di desa ini,masyarakat semakin memiliki kesadaran hidup bermasyarakat.Para pemuda yang sebelumnya nganggur,kini telah giat berusaha”,ungkap ayahku.
                Pembicara terakhir adalah calon bupati terpilih.Walau tidak teragenda dalam acara ultah ini,namun Kepala Sekolah menambah acara dengan mempersilahkan beliau untuk melengkapi acara.”Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat desa ini kepada saya untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan.Saya sangat terharu pada masyarakat desa ini karena 90 % memilih saya”ungkap Pak Ilham disambut tepukan oleh hadirin.”Saya menyampaikan rasa bangga saya atas prestasi yang telah diukir oleh Pak Rahmat selama bertugas di daerah gurung ini.Sosok seperti inilah yang sangat kita harapkan dimiliki oleh seluruh aparat negara dan abdi masyarakat.Tidak seperti pegawai lainnya yang telah kelihangan jabatan,mereka kecewa dan melakukan aksi malas kerja,padahal siapa yang rugi tentunya negara yang memberi gaji,masyarakat yang menbayar pajak dan dirinya sendiri karena kelak di negeri akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kebolosannya selama kehilangan jabatan.Padahal seharusnya kita tidak demikian.”tambah Pak Ilham disambut tepukan hadirin,”Hidup Pak Ilham !!!: teriak beberapa hadirin.
                “Banyak pegawai atau guru yang khawatir atas kemenangan saya.Mereka khawatir atas budaya cuci gudang,balas jasa dan balas dendam politik.Pada kesempatan ini saya kembali menegaskan bahwa dalam kepemimpinan saya tidak ada istilah cuci gudang,balas jasa maupun balas dendam.Saya akan memilih pembantu-pembantu saya orang-orang yang berkompetensi,kalaupun ada dari keluarga atau pun team sukses saya yang mendapat jabatan,itu karena pertimbangan kompetensi atau prestasinya”,lanjut Pak Ihlam disambut tepukan hadirin”Seperti halnya Pak Baso,kepala desa Moncong ini karena bukan PNS jadi tidak mungkin saya akan beri jabatan sebagai kepala dinas walau beliau adalah team sukses saya.Tetapi Pak Rahmat,mungkin sangat cocok kalau saya percayakan sebagai kepala sekolah atau kepalanya kepala sekolah,setujuuu ?”.”setujuuuuu !!!” serentak hadirin menjawab.”Pak Rahmat sangat cocok menduduki jabatan di pendidikan karena beliau sarjana pendidikan dan guru yang berprestasi, yang sarjana ekonomi kita tempatkan di bagian ekonomi,yang sarjana pemerintahan kita tempatkan di pemerintahan,karena menempatan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah suatu kebodohan dan pemborosan”.”Betuuulll !!!”,sambut hadirin.
                Usai sambutan dilanjutkan dengan tiup lilin oleh Pak Rahmat dan pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan oleh Kepala Sekolah lalu diserahkan kepada Pak Ilham,kemudian aku selaku ketua OSIS mewakili teman-teman menyampaikan sebuah bingkisan kepada Pak Rahmat,isinya tentu yang berhubungan dengan kebutuhan Pak Rahmat sebagai guru.Terakhir Pak llham menyerahkan bingkisan pula kepada Pak Rahmat dan sebuah amplop.Amplop inilah yang menjadi tanda tanya hadirin,apakah berisi uang atau apa ya ?.
                Usai membuka amplop Pak Rahmat melangkah ke depan lalu berkata: “Kalau jabatan ini diberikan padaku sebagai balas jasa maka berikan saja kepada yang lain yang lebih berjasa,karena saya tidak merasa membantu Bapak dalam pilkada, karena esok lusa Bapak akan mencopotnya lagi bila saya tidak lagi mendukung Bapak  bila  keluar dari kebenaran, tapi  bila  jabatan ini karena suatu amanah maka saya akan menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan saya sampaikan kepada bapak bahwa Saya tidak mau jabatan ini kelak  membuat kemerdekaan saya dirampas lalu dipermainkan dan dijadikan alat politik, saya mau menikmati kemerdekaan diriku bebas mengurusi anak didikku, saya tidak mau lagi merasa  terjajah oleh kepentingan politik,kujalankan tugas negara sesuai aturan yang berlaku. Saya tidak mau pada jam kerja berada di lapangan mengikuti kampanye atau  mengikuti pertemuan politik lalu pekerjaan di sekolah yang menjadi tanggungjawab saya terlantar.Saya tidak mau melalaikan tugasku yang nantinya Allah menghukumku demi ambisi politik orang lain. Saya tidak mau ditekan apalagi diancam-ancam. Saya ini pendidik.Pekerja professional,yang kerjanya disekolah,bukan berkeliling di masyarakat untuk mencari suara.Saya tidak mau dijajah oleh siapapun”,ungkap Pak Rahmat,”Betuuull” seru hadirin.Nampak Pak Ilham bertepuk tangan diikuti hadirin lainnya.”Oke,Pak Rahmat !!,makanya guru jangan terlalu menonjolkan diri dalam permainan politik,Jawab Pak Ilham singkat.(Palajau,Nopember 2014