Setelah enam tahun dalam daftar tunggu,tahun
ini giliran Pak Umar menunaikan ibadah haji.Sebenarnya Pak Umar bersamaan
istrinya mendaftar namun istri,Bu Rina lebih duluan berangkat lima tahun yang
lalu karena ketika mendapat informasi bahwa mereka masuk daftar tunggu enam
tahun kedepan maka Bu Rina berpindah jalur ke haji plus yang ONH-nya dua kali
lipat dari kemampuan Pak Umar.
Keluarga Pak Umar tinggal di
sebuah dusun dalam yang cukup terpandang dalam ukuran masyarakat dusun.Beliau
dari Bakri Liwang seorang pensiunan guru yang sangat dihormati dikampungnya
yang sampai saat ini masyarakat memanggilnya ‘Tuan guru’,orangnya taat
beragama,sederhana dan dikenal pinter sehingga padanyalah masyarakat biasa
meminta saran atau pertimbangan atas suatu permasalahan yang dihadapinya.Sosok
Pak Bakri inilah yang sepertinya diwariskan kepada anaknya,Pak Umar.Pak Umar
tiga bersaudara,yaitu kakaknya bernama Abu Risal Bakri, dan adiknya bernama
Sinar Bakri. Keduanya telah bekerja pada instansi pemerintah yang mengurusi sertifikasi.Abu
Risal Bakri adalah pejabat urusan sertifikasi tanah,sedangkan Sinar Bakri
adalah staf urusan sertifikasi guru.
Pak Umar adalah tetangga sebelah
rumahku.Kami sama-sama jamaah di Masjid Baitul al Rahman.Nama masjid itu
diambil dari nama mertua Pak Umar yang bernama H Rahman,atas usulan keluarganya
karena kabarnya H. Rahmanlah yang menghibah tanahnya dan paling banyak uangnya
masuk dalam pembangunan masjid itu.Merekalah orang terpandang di dusun kami.Di
masjid inilah kami selalu bertemu dengan Pak Umar.Pak Umar adalah aktif
mengikuti pengajian dan rajin membaca al Quran dan Kitab hadis terjemahan serta
buku-buku salaf. Walau bukan guru agama,namun Pak Umar selalu menyampaikan
khutbah Jumat di masjid.Dia konsistem dalam menjalankan ajaran agama Islam.Bagi
Pak Umar bahwa sebagai umat Islam kita diperintahkan memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama
yang benar.Agama yang benar menurutnya adalah agama yang diajarkan oleh Allah
dan rasul-Nya yang sumbernya adalah Al Quran dan Sunnah Rasul.Makanya Pak Umar
tidak mau mencampuradukkan agama Islam dengan ajaran-ajaran lain,baik yang
bersumber dari tradisi nenek moyang maupun bersumber dari manusia-manusia
lainnya seperti dukun atau guru-guru tarekat. Oleh karena itulah di dusunku,Pak
Umar kadang dipandang sebagai orang asing,ada yang bilang muhammadyan bahkan
ada yang bilang penganut ajaran sesat.Apapun kata orang Pak Umar tidak peduli
dia hanya peduli pada apa kata Allah dan Rasul-Nya. Prinsipnya adalah
menegakkan sunnah dan meninggalkan bid’ah itulah kebenaran.Ibadah hendaknya
didasari ilmu agar memberi manfaat bagi diri kita di dunia dan di ahirat.
Sebenarnya Pak Umarpun bisa
berangkat haji bersamaan dengan istrinya,andaikan Pak Umar mau pinjam uang di bank atau koperasi.Namun,Pak
Umar tidak mau menjalankan ibadah dengan uang pinjaman,karena ibadah haji itu diperuntukkan
bagi orang yang mampu dan sesuai kemampuan.Beda dengan istrinya,Bu Rina.Bu Rina
adalah sosok istri yang susah diatur.Orangnya sombong,cerewek,gila urusan dan
suka pamer.Kesombongannyalah yang mengharuskannya naik haji secepatnya walau dengan uang kredit.Kalau
disuruh oleh suami memakai jilbab sebagaimana yang disyariatkan Allah,dia lebih
memilih penutup kepala yang kelihatan aurat lehernya itu,katanya itulah pakaian
haji yang kebanyakan dipakai ibu-ibu haji.
“Bu,Rasulullah SAW pernah
bersabda bahwa tidak sah perjalanan bagi seorang wanita yang tidak ditemani mukhrinnya,bersabarlah
nanti kita bersama-sama” Kata Pak Umar enam tahun yang lalu.”Tidak ,tahun depan
saya harus berhaji,apa kata orang kalau aku tidak berangkat tahun depan, adaji sepupuku yang bisa
temanika”,jawabnya.”Sepupu laki-laki itu bukan mukhrinmu,tidak sah perjalananmu
kalau hanya ditemani sepupu.Yang bisa menemanimu adalah saya,ayahmu,kakak atau
adikmu yang laki-laki,saudara tettamu yang laki-laki,anakmu atau anak dari
saudaramu”,tambah Pak Umar.”Haa,jangan menghalangiku. Di kampung ini sudah banyak wanita yang pergi haji yang ditemani
sepupunya bahkan orang lain pun asal dianggap saudara,nyatanya berhasil juga
menjadi haji”timpal Bu Rina yang membuat Pak Umar terserah saja yang penting
sudah diingatkan.
Perjalanan haji Pak Umar
termasuk langkah di dusunku.Biasanya sebelum berangkat,calon jemaah haji
melakukan acara menasik,yaitu menggelar pesta dengan mengundang keluar dan kenalan
kumpul-kumpul di rumah dan biasanya mengundang ustadz memberikan menasik
haji.”Tidak perlu Bu kita umumkan pada masyarakat luas bahwa kita akan
menunaikan ibadah haji. Bu,yang dibutuhkan adalah keikhlasan dan ketepatan
melakukan syariat haji,bukan uang atau beras yang dibawa oleh orang-orang yang
diundang.Untuk apa diumumkan kalau ibadah kita itu belum tentu diterima oleh
Allah ?.Lagi pula Bu,saya kan sudah mengikuti menasik haji di kantor KUA,sudah
diberi buku petunjuk haji dan ditambah lagi pembimbing haji,tidak cukupkah
semua itu ?”Ungkap Pak Umar.”Untuk perjalanan haji saya ini jangan
diganggu-ganggu dengan amalan apapun yang tidak tidak diajarkan agama,jangan
menggelar acara annyangko bala,barzanji atau melibatkan dukun !”,sambung Pak
Umar.
“Hey Pak,jangan sok alim,ini
demi kebaikanmu,demi keselamatan dan kelancaran ibadahmu,bukankah kamu mau
menjadi haji yang mabrur ?” sanggah Bu Rina .“Apa kau bilang,demi kebaikan,demi
keselamatan,demi haji mabrur,bukan haji mabrur tetapi haji bangkrut !”,seru Pak
Umar.”Apanya yang bangrut,lihat haji-haji di kampung kita perjalanan mereka
lancar,tidak ada yang sakit,tidak ada yang tersesat dan pulangnya membawa
banyak ole-ole,itu semua gara-gara berkahnya menasik,barzanji dan dukun itu”
sambung Bu Rina.
“Bu,mengharap sesuatu kepada
selain Allah termasuk dukun adalah termasuk mempersetukan Allah, itu dosa. Rasulullah
SAW bersabda bahwa barangsiapa yang mendatangi dukun maka tidak akan diterima
shalatnya selama 40 hari,apakah itu tidak bangkrut ? Perjalanan haji itu adalah
perjalanan yang mulia,perjalanan menuju rumah Allah,maka cukuplah keselamatan
kita percayakan pada Allah dan apapun yang akan terjadi pada diri kita dalam
perjalanan itu adalah takdir,yang telah ditetapkan pasti terjadi dan yang tidak
ditetapkan pasti tidak akan terjadi”.
Masyarakat di dusunku terheran-heran
melihat kepergian Pak Umar,karena biasanya orang yang pergi haji dituntun oleh
dukun atau seorang ustadz keluar dari rumahnya dibacakan doa atau mantra sampai
naik ke mobilnya agar selamat dalam perjalanan,tapi tidak dengan Pak Umar.Pak
Umar percaya diri berjalan sendiri keluar dari rumahnya,berhenti sejenak menutup
matanya menghubungkan hatinya dengan Tuhannya sambil menunggu printah hatinya
“Pergilah Umar, Allah bersama denganmu” suara hatinya yang selama ini memimpin
dirinya. Kemudian membaca doa bepergian sebagaimana yang diajarkan nabi,begitupun
ketika naik kendaraan Pak Umar membaca doa.
Untuk kali ini Bu Rina
sepertinya tidak berdaya lagi untuk memaksakan kehendaknya pada Pak Umar untuk
menggelar acara menasik,barzanji atau mengundang dukun.Bu Rina sepertinya takut
pada ancaman suaminya bila terus memaksakan kehendaknya akan diceraikannya
sepulang suaminya berhaji.Pak Umar sepertinya sudah menampakkan taringnya
sebagai pemimpin sah rumah tangga yang harus tegas,tidak seperti selama ini
yang harus terus mengalah mengikuti
kehendak istrinya.Pak Umar tidak mau ibadah hajinya dikotori oleh kebodohan
istrinya dalam urusan agama atau tradisi yang tak berdasar.Pak Umar mau menjadi
haji yang mabrur,bukan haji yang bangkrut.Makanya Bu Rina tidak perlu
repot-repot bikin onde-onde dan menyiapkan perdupaan lalu memanggil laki-laki
lain ke rumahnya untuk mendoaan suaminya.
*********
“Selamat jalan Pak semoga
menjadi haji yang mabrur,sesampai di sana jangan lupa mendoakan kami
sekeluarga,agar Allah pun memudahkan jalan bagi kami untuk melakukan perjalanan
haji”,ucapanku pada saat Pak Umar pamitan hendak masuk asrama haji.Kami berkesempatan
mengantar Pak Umar sampai ke asrama haji bersama dengan rombongan pengantar
lainnya sebanyak sepuluh mobil.Begitulah masyarakat di dusunku kalau ada warga
yang hendak menunaikan ibadah haji,tidak tanggung-tanggung merental mobil untuk
mengantar dan mengontrak rumah di sekitar asrama.Petugas keamanan kadang
kewalahan mengatur rombongan kami yang tidak kenal antrian.Petugas
kebersihanpun kerepotan memungut sampah dan membersihkan kotoran yang mencemari
udara.”Insyah Allah saya doakan dan salam buat jamaah di kampung dan insya
Allah setiba di sana saya akan menelpon ke kampung dan Bu,untuk keselamatan
saya kita serahkan pada Allah jadi tidak perlu assuro ammbaca setiap malam
Jumat atau malam Senin berdoa saja setiap selesai shalat”, pesan Pak Umar
sambil melangkah masuk ke gerbang asrama haji.
Di kala orang-orang sekeloternya
sibuk ngobrol masalah bisnis dan jumlah rokok yang dibawanya,Pak Umar cuma diam
berzikir.Pak Umar tidak membawa rokok walau sebatangpun.Bagi Pak
Umar,perjalannnya ke Tanah Suci adalah perjalanan ibadah makanya Pak Umar tidak
mau mencampuradukkannya dengan bisnis apapun yang bakal mengganggu ibadahnya.Apalagi
rokok yang diyakininya barang makruh bila dikomsumsi dan haram bagi yang
terganggu kesehatannya bila merokok.Begitupun dikala kapal goyang saat melewati
tumpukan awan, masing-masing jemaah memegang penyelamatnya, ada yang mencium
jimaknya, ada yang pegang botol minyak dari dukunnya, ada yang minum air dari dukun
dan ada pula yang mencium celana dalam istrinya sebagaimana petunjuk dukun.
Sedangkan Pak Umar hanya diam sambil hatinya berzikir dan berdoa kepada Allah.
Pak Umar yakin Allah bersama dengannya di atas pesawat,Allah adalah sebaik-baik
penolong dan pelindung orang-orang yang beriman.
Begitu pun di tanah suci,Pak
Umar berusaha agar seluruh waktunya diisi dengan ibadah.Tak ada waktu yang
disia-siakannya. Di saat jemaah sibuk belanja ole-ole di pasar, Pak Umar hanya
sibuk berjalan-jalan sambil berzikir, dan mendatangi para pengemis untuk
bersedekah.Malamnya diisi dengan membaca al Quran dan shalat Tahajjud dikala
jamaah terbuai dalam mimpinya.
**********
Sebelum masa perjalanan haji
telah usai para jemaah telah pulang ke tanah air.Keluarga-keluarga sangat
gembira menunggu kedatangannya,membayangkan ole-ole yang dibawanya. Satu persatu
jemaah turun dari mobil dengan barang bawaannya masing-masing. Rumah jemaah
dipadati pengunjung selain mengucapkan selamat juga menunggu ole-ole.Ucapan
selamatnya cuma sunnat yang wajib adalah ole-olenya. Keberhasilan seorang haji
dinilai dari banyaknya ole-ole yang dibawa pulang.Tapi tidak di rumah Haji
Umar,sepi karena Haji Umar pulang tanpa membawa apa-apa.Tasnya saja kosong
karena pakaiannya telah disedekahkan pada orang-orang miskin.Haji Umar telah
menjadi bahan gosip di kampung sebagai haji yang bangkrut lagi pelit.
Berbagai kesibukan jemaah haji
yang baru pulang ke tanah air,diantaranya ada yang berkeliling di pasar-pasar
dengan memakai pakaian kebesarannya, ada yang berkeliling ke rumah
keluarga-keluarga.Ada pula yang ke rumah dukunnya untuk menyampaikan terima kasih
dan ole-ole spesialisnya buat sang penyelamat. Sedangkan Haji Umar menggelar
syukuran dengan mengundang tetangga,keluarga,orang-orang miskin dan anak-anak
Panti asuhan untuk makan bersama di rumahnya lalu meminta hadirin untuk
mendoakannya agar predikat hajinya bisa dijaga dan dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari,baik di rumah, dalam masyarakat maupun di tempat kerjanya yang
penuh dengan setan yang siap menggoda dan merusak kehajiannya.Selama datang
Haji Umar jadilah haji mabrur untuk selamanya. (Palajau,Oktober 2013).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar