Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen UMAR BAKRI NAIK HAJI



 Setelah enam tahun dalam daftar tunggu,tahun ini giliran Pak Umar menunaikan ibadah haji.Sebenarnya Pak Umar bersamaan istrinya mendaftar namun istri,Bu Rina lebih duluan berangkat lima tahun yang lalu karena ketika mendapat informasi bahwa mereka masuk daftar tunggu enam tahun kedepan maka Bu Rina berpindah jalur ke haji plus yang ONH-nya dua kali lipat dari kemampuan Pak Umar.
                Keluarga Pak Umar tinggal di sebuah dusun dalam yang cukup terpandang dalam ukuran masyarakat dusun.Beliau dari Bakri Liwang seorang pensiunan guru yang sangat dihormati dikampungnya yang sampai saat ini masyarakat memanggilnya ‘Tuan guru’,orangnya taat beragama,sederhana dan dikenal pinter sehingga padanyalah masyarakat biasa meminta saran atau pertimbangan atas suatu permasalahan yang dihadapinya.Sosok Pak Bakri inilah yang sepertinya diwariskan kepada anaknya,Pak Umar.Pak Umar tiga bersaudara,yaitu kakaknya bernama Abu Risal Bakri, dan adiknya bernama Sinar Bakri. Keduanya telah bekerja pada instansi pemerintah yang mengurusi sertifikasi.Abu Risal Bakri adalah pejabat urusan sertifikasi tanah,sedangkan Sinar Bakri adalah staf urusan sertifikasi guru.
                Pak Umar adalah tetangga sebelah rumahku.Kami sama-sama jamaah di Masjid Baitul al Rahman.Nama masjid itu diambil dari nama mertua Pak Umar yang bernama H Rahman,atas usulan keluarganya karena kabarnya H. Rahmanlah yang menghibah tanahnya dan paling banyak uangnya masuk dalam pembangunan masjid itu.Merekalah orang terpandang di dusun kami.Di masjid inilah kami selalu bertemu dengan Pak Umar.Pak Umar adalah aktif mengikuti pengajian dan rajin membaca al Quran dan Kitab hadis terjemahan serta buku-buku salaf. Walau bukan guru agama,namun Pak Umar selalu menyampaikan khutbah Jumat di masjid.Dia konsistem dalam menjalankan ajaran agama Islam.Bagi Pak Umar bahwa sebagai umat Islam kita diperintahkan  memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama yang benar.Agama yang benar menurutnya adalah agama yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya yang sumbernya adalah Al Quran dan Sunnah Rasul.Makanya Pak Umar tidak mau mencampuradukkan agama Islam dengan ajaran-ajaran lain,baik yang bersumber dari tradisi nenek moyang maupun bersumber dari manusia-manusia lainnya seperti dukun atau guru-guru tarekat. Oleh karena itulah di dusunku,Pak Umar kadang dipandang sebagai orang asing,ada yang bilang muhammadyan bahkan ada yang bilang penganut ajaran sesat.Apapun kata orang Pak Umar tidak peduli dia hanya peduli pada apa kata Allah dan Rasul-Nya. Prinsipnya adalah menegakkan sunnah dan meninggalkan bid’ah itulah kebenaran.Ibadah hendaknya didasari ilmu agar memberi manfaat bagi diri kita di dunia dan di ahirat.
                Sebenarnya Pak Umarpun bisa berangkat haji bersamaan dengan istrinya,andaikan Pak Umar mau  pinjam uang di bank atau koperasi.Namun,Pak Umar tidak mau menjalankan ibadah dengan uang pinjaman,karena ibadah haji itu diperuntukkan bagi orang yang mampu dan sesuai kemampuan.Beda dengan istrinya,Bu Rina.Bu Rina adalah sosok istri yang susah diatur.Orangnya sombong,cerewek,gila urusan dan suka pamer.Kesombongannyalah yang mengharuskannya naik  haji secepatnya walau dengan uang kredit.Kalau disuruh oleh suami memakai jilbab sebagaimana yang disyariatkan Allah,dia lebih memilih penutup kepala yang kelihatan aurat lehernya itu,katanya itulah pakaian haji yang kebanyakan dipakai ibu-ibu haji.
                “Bu,Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tidak sah perjalanan bagi seorang wanita yang tidak ditemani mukhrinnya,bersabarlah nanti kita bersama-sama” Kata Pak Umar enam tahun yang lalu.”Tidak ,tahun depan saya harus berhaji,apa kata orang kalau aku tidak  berangkat tahun depan, adaji sepupuku yang bisa temanika”,jawabnya.”Sepupu laki-laki itu bukan mukhrinmu,tidak sah perjalananmu kalau hanya ditemani sepupu.Yang bisa menemanimu adalah saya,ayahmu,kakak atau adikmu yang laki-laki,saudara tettamu yang laki-laki,anakmu atau anak dari saudaramu”,tambah Pak Umar.”Haa,jangan menghalangiku. Di kampung ini sudah  banyak wanita yang pergi haji yang ditemani sepupunya bahkan orang lain pun asal dianggap saudara,nyatanya berhasil juga menjadi haji”timpal Bu Rina yang membuat Pak Umar terserah saja yang penting sudah diingatkan.
                Perjalanan haji Pak Umar termasuk langkah di dusunku.Biasanya sebelum berangkat,calon jemaah haji melakukan acara menasik,yaitu menggelar pesta dengan mengundang keluar dan kenalan kumpul-kumpul di rumah dan biasanya mengundang ustadz memberikan menasik haji.”Tidak perlu Bu kita umumkan pada masyarakat luas bahwa kita akan menunaikan ibadah haji. Bu,yang dibutuhkan adalah keikhlasan dan ketepatan melakukan syariat haji,bukan uang atau beras yang dibawa oleh orang-orang yang diundang.Untuk apa diumumkan kalau ibadah kita itu belum tentu diterima oleh Allah ?.Lagi pula Bu,saya kan sudah mengikuti menasik haji di kantor KUA,sudah diberi buku petunjuk haji dan ditambah lagi pembimbing haji,tidak cukupkah semua itu ?”Ungkap Pak Umar.”Untuk perjalanan haji saya ini jangan diganggu-ganggu dengan amalan apapun yang tidak tidak diajarkan agama,jangan menggelar acara annyangko bala,barzanji atau melibatkan dukun !”,sambung Pak Umar.
                “Hey Pak,jangan sok alim,ini demi kebaikanmu,demi keselamatan dan kelancaran ibadahmu,bukankah kamu mau menjadi haji yang mabrur ?” sanggah Bu Rina .“Apa kau bilang,demi kebaikan,demi keselamatan,demi haji mabrur,bukan haji mabrur tetapi haji bangkrut !”,seru Pak Umar.”Apanya yang bangrut,lihat haji-haji di kampung kita perjalanan mereka lancar,tidak ada yang sakit,tidak ada yang tersesat dan pulangnya membawa banyak ole-ole,itu semua gara-gara berkahnya menasik,barzanji dan dukun itu” sambung Bu Rina.
                “Bu,mengharap sesuatu kepada selain Allah termasuk dukun adalah termasuk mempersetukan Allah, itu dosa. Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa yang mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari,apakah itu tidak bangkrut ? Perjalanan haji itu adalah perjalanan yang mulia,perjalanan menuju rumah Allah,maka cukuplah keselamatan kita percayakan pada Allah dan apapun yang akan terjadi pada diri kita dalam perjalanan itu adalah takdir,yang telah ditetapkan pasti terjadi dan yang tidak ditetapkan pasti tidak akan terjadi”.
                Masyarakat di dusunku terheran-heran melihat kepergian Pak Umar,karena biasanya orang yang pergi haji dituntun oleh dukun atau seorang ustadz keluar dari rumahnya dibacakan doa atau mantra sampai naik ke mobilnya agar selamat dalam perjalanan,tapi tidak dengan Pak Umar.Pak Umar percaya diri berjalan sendiri keluar dari rumahnya,berhenti sejenak menutup matanya menghubungkan hatinya dengan Tuhannya sambil menunggu printah hatinya “Pergilah Umar, Allah bersama denganmu” suara hatinya yang selama ini memimpin dirinya. Kemudian membaca doa bepergian sebagaimana yang diajarkan nabi,begitupun ketika naik kendaraan Pak Umar membaca doa.
                Untuk kali ini Bu Rina sepertinya tidak berdaya lagi untuk memaksakan kehendaknya pada Pak Umar untuk menggelar acara menasik,barzanji atau mengundang dukun.Bu Rina sepertinya takut pada ancaman suaminya bila terus memaksakan kehendaknya akan diceraikannya sepulang suaminya berhaji.Pak Umar sepertinya sudah menampakkan taringnya sebagai pemimpin sah rumah tangga yang harus tegas,tidak seperti selama ini yang harus  terus mengalah mengikuti kehendak istrinya.Pak Umar tidak mau ibadah hajinya dikotori oleh kebodohan istrinya dalam urusan agama atau tradisi yang tak berdasar.Pak Umar mau menjadi haji yang mabrur,bukan haji yang bangkrut.Makanya Bu Rina tidak perlu repot-repot bikin onde-onde dan menyiapkan perdupaan lalu memanggil laki-laki lain ke rumahnya untuk mendoaan suaminya.
*********
                “Selamat jalan Pak semoga menjadi haji yang mabrur,sesampai di sana jangan lupa mendoakan kami sekeluarga,agar Allah pun memudahkan jalan bagi kami untuk melakukan perjalanan haji”,ucapanku pada saat Pak Umar  pamitan hendak masuk asrama haji.Kami berkesempatan mengantar Pak Umar sampai ke asrama haji bersama dengan rombongan pengantar lainnya sebanyak sepuluh mobil.Begitulah masyarakat di dusunku kalau ada warga yang hendak menunaikan ibadah haji,tidak tanggung-tanggung merental mobil untuk mengantar dan mengontrak rumah di sekitar asrama.Petugas keamanan kadang kewalahan mengatur rombongan kami yang tidak kenal antrian.Petugas kebersihanpun kerepotan memungut sampah dan membersihkan kotoran yang mencemari udara.”Insyah Allah saya doakan dan salam buat jamaah di kampung dan insya Allah setiba di sana saya akan menelpon ke kampung dan Bu,untuk keselamatan saya kita serahkan pada Allah jadi tidak perlu assuro ammbaca setiap malam Jumat atau malam Senin berdoa saja setiap selesai shalat”, pesan Pak Umar sambil melangkah masuk ke gerbang asrama haji.
                Di kala orang-orang sekeloternya sibuk ngobrol masalah bisnis dan jumlah rokok yang dibawanya,Pak Umar cuma diam berzikir.Pak Umar tidak membawa rokok walau sebatangpun.Bagi Pak Umar,perjalannnya ke Tanah Suci adalah perjalanan ibadah makanya Pak Umar tidak mau mencampuradukkannya dengan bisnis apapun yang bakal mengganggu ibadahnya.Apalagi rokok yang diyakininya barang makruh bila dikomsumsi dan haram bagi yang terganggu kesehatannya bila merokok.Begitupun dikala kapal goyang saat melewati tumpukan awan, masing-masing jemaah memegang penyelamatnya, ada yang mencium jimaknya, ada yang pegang botol minyak dari dukunnya, ada yang minum air dari dukun dan ada pula yang mencium celana dalam istrinya sebagaimana petunjuk dukun. Sedangkan Pak Umar hanya diam sambil hatinya berzikir dan berdoa kepada Allah. Pak Umar yakin Allah bersama dengannya di atas pesawat,Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung orang-orang yang beriman.
                Begitu pun di tanah suci,Pak Umar berusaha agar seluruh waktunya diisi dengan ibadah.Tak ada waktu yang disia-siakannya. Di saat jemaah sibuk belanja ole-ole di pasar, Pak Umar hanya sibuk berjalan-jalan sambil berzikir, dan mendatangi para pengemis untuk bersedekah.Malamnya diisi dengan membaca al Quran dan shalat Tahajjud dikala jamaah terbuai dalam mimpinya.
**********
                Sebelum masa perjalanan haji telah usai para jemaah telah pulang ke tanah air.Keluarga-keluarga sangat gembira menunggu kedatangannya,membayangkan ole-ole yang dibawanya. Satu persatu jemaah turun dari mobil dengan barang bawaannya masing-masing. Rumah jemaah dipadati pengunjung selain mengucapkan selamat juga menunggu ole-ole.Ucapan selamatnya cuma sunnat yang wajib adalah ole-olenya. Keberhasilan seorang haji dinilai dari banyaknya ole-ole yang dibawa pulang.Tapi tidak di rumah Haji Umar,sepi karena Haji Umar pulang tanpa membawa apa-apa.Tasnya saja kosong karena pakaiannya telah disedekahkan pada orang-orang miskin.Haji Umar telah menjadi bahan gosip di kampung sebagai haji yang bangkrut lagi pelit.
                Berbagai kesibukan jemaah haji yang baru pulang ke tanah air,diantaranya ada yang berkeliling di pasar-pasar dengan memakai pakaian kebesarannya, ada yang berkeliling ke rumah keluarga-keluarga.Ada pula yang ke rumah dukunnya untuk menyampaikan terima kasih dan ole-ole spesialisnya buat sang penyelamat. Sedangkan Haji Umar menggelar syukuran dengan mengundang tetangga,keluarga,orang-orang miskin dan anak-anak Panti asuhan untuk makan bersama di rumahnya lalu meminta hadirin untuk mendoakannya agar predikat hajinya bisa dijaga dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari,baik di rumah, dalam masyarakat maupun di tempat kerjanya yang penuh dengan setan yang siap menggoda dan merusak kehajiannya.Selama datang Haji Umar jadilah haji mabrur untuk selamanya. (Palajau,Oktober 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar