Rabu, 21 Januari 2015

Cerpen HUJAN DUIT DI TANAH KERING

                Aku bangga dilahirkan di daerah Kabupaten Tanah Kering,karena di tanah ini aku tumbuh menjadi manusia yang dapat berbakti bagi masyarakat,bangsa dan negaraku. Walau negeri ini disebut tanah kering namun masih banyak hal yang membuatku bangga,antara lain kesadaran beragamanya,karena setiap tahunnya warga masyarakat antrian untuk menunaikan ibadah haji,dan bisa bersaing dengan daerah lain dalam kompetisi otonomi Daerah.Walau selalu berada dalam urutan terakhir namun kubangga pada semangat masyarakat untuk terus meraih kemajuan,sekalipun kemajuan itu masih dalam angan-angan.
                Tanah kering bukanlah nama daerahku yang sebenarnya,itu hanyalah julukan yang diberikan oleh penduduk daerah lain yang kebetuluan lewat disepanjang jalan daerahku.Mereka mengukur kemampuan daerahku dari banyaknya sawah-sawah kering yang terbentang disepanjang jalan,banyaknya tukang becak yang mengais reski di daerah lain,serta banyaknya pencuri yang ber-KTP daerah ini,sehingga mereka berani berkesimpulan bahwa daerahku ini kering.Memang daerahku mau seperti daerah lainnya yang sudah menikmati kemajuan,sangat mengharapkan turunnya hujan dari langit untuk menyelamatkan kelangsungan hidup yang terancam punah. Para petani hendak menanam padi tapi hanya bisa bersabar karena sawah kering, atau padi gagal panen karena kekeringan air. Mau dibantu dengan mesin pompa air tapi air yang mau dipompa tidak ada, masyarakat menjadi kekurangan makanan, sehingga ada yang merantau ke negeri orang untuk mengais rezki, ada pula yang ganti profesi dari petani menjadi pencuri, yang PNS berbisnis korupsi, atau bisnis nepotisme CPNS.”Memangnya di daerahmu tidak pernah turun hujan ?”,tanya Puang Baso padaku.”Sering,Puang bahkan kadang dilanda banjir”,jawabku.”Tapi mengapa sawah-sawah di sepanjang jalan itu tidak dimafaatkan ?”,tanya Puang Baso.”Kita semua mau memanfaatkannya Puang,Cuma airnya tidak teratur karena irigasinya tidak mendukung,di daerahku Puang banyak tikus yang merusak irigasi sehingga air tidak bisa sampai ke sawah-sawah kami”,tambahku pada Puang Baso.Puang Baso adalah tetanggaku di Makassar.Dia perantau Bugis yang sukses,sedangkan aku kurang beruntung karena profesiku hanya sebagai pedagang sayur.Namun demikian,aku masih bangga dengan profesiku yang dikuanggap halal.Walau Cuma penjual sayur,aku bisa mencetak tiga sarjana dalam keluargaku.Yang kini sudah tersebar diinstansi pemerintahan sebagai tenaga honorer.Ada yang sudah sepuluh tahun masa kerjanya namun harus bersabar menanti datangnya takdir.
                Masyarakat sekampungku kadang heran menghadapi cuaca yang tidak menentu.Bukannya hujan air  yang turun malah hujan duit yang turun di tanah kering.Tapi bukan duit yang kami inginkan sebagai para petani tanah kering, melainkan air untuk tanaman pertanian dan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.Bukan hujan duit yang kami harapkan tapi kedamaian dan kemerdekaan dari penjajahan para pencurian dan penjarahan gerombolan tikus.Bagamana masyarakat bisa makmur kalau yang datang hanya hujan duit yang membasahi tanah yang kering dan gersang, yang tumbuh subur hanyalah baliho-baliho di jalanan, yang memamerkan kegagahan diri dan kata-kata yang memuji diri.Adalah suatu pemborosan di daerahku kalau uang hanya untuk menanam baliho-baliho di pinggir jalan,”Mau diapakan itu baliho,bisa dimakan ?”,kata Daeng Bella.Daeng Bella adalah seorang petani yang baru saja gagal panen karena sawahnya kekeringan.”Andaikata uang-uang baliho itu disumbangkan untuk pembangunan irigasi,tentu lebih bermanfaat bagi masyarakat daerah ini”,kata Daeng Bella pada sepupunya Daeng Tata.”Betul sekali Daeng Bella,saya kira yang demikianlah pejuang kepentingan rakyat”,tambah Daeng Tata.
                “Bagaimana menurut Daeng Bella,calon pemimpin yang mengeluarkan biaya yang besar itu apakah tidak bakal korupsi ?”, tanya Daeng Tata.”Mana kutahu Daeng Tata,tidak bisaki berprasangka buruk”,jawab Daeng Bella.”Saya tidak berprasangka buruk,Cuma mengira-ngira bahwa semakin banyak biaya yang dikeluarkan seorang calon maka semakin besar pula peluangnya untuk melakukan kerupsi,karena sedikit banyaknya mereka akan berpikir untuk mengembalikan modalnya”,kata Daeng Tata.”Betul juga perkiraanmu Daeng Tata,makanya hati-hatilah memilih calon pemimpin,pilihlah calon pemimpin yang telah kita kenal orangnya,yang bersih,yang kita anggap bisa memperjuangkan kepentingan rakyat,dan yang lebih bagus lagi kalau kita memilih yang telah kita rasakan prestasi atau perhatiannya”,tambah Daeng Bella.
                “Menjelang pemilihan calon pemmpin nanti,hujan duit akan semakin deras,dermawan-dermawan politik akan bertebaran,menyumbang masjid atau bagi-bagi uang dan sembako,bagaimana menurut Daeng Bella ?”,tanya Daeng Tata.Daeng Bellapun tersenyum lalu menarik napas dan berkata,”Dermawan politik yang Daeng Tata maksudkan itu menurut saya termasuk praktek curang,meraka ingin membeli hati nurani manusia,padahal hati nurani itu tidak bisa diperjualbelikan.Lagi pula Daeng Tata,praktek jual beli suara atau yang orang bilang money politik termasuk suap menyuap yang dilarang dalam agama kita.Ustaz Herman pernah mengatakan bahwa penyuap,orang yang disuap dan perantaranya sama-sama masuk neraka”.”Jadi tidak bisaki menerima pemberian seorang calon walau mereka ikhlas memberi ?”,tanya Daeng Tata memotong pembicaraan Daeng Bella.”Mana ada calon yang ikhlas menyumbang sekarang Daeng Bella ?,memang mulutnya mengatakan ikhlas tapi hatinya mengharap agar dipilih,itu kan menyuap yang berkedok sedekah.Kalau mereka mengaku ikhlas maka terima saja asalkan tidak mempengaruhi pilihan kita,itu tidak menjadi masalah Daeng Tata.”Tidak dosajaki kalau kita tidak memilih orang yang bagi-bagi uang ?”,tanya Daeng Tata.”Dosa atau tidak itu Allah yang lebih tahu,tapi sepertinya ada dosanya karena kita ikut berpartisifasi menyuburkan money politik di negeri ini”,jawab Daeng Bella.”Kalau begitu,saya akan memilih sesuai dengan hati nurani”,ujar Daeng Tata.”Memang begitu seharusnya sikap seorang muslim yang takut kepada hari pembalasan,maukah gara-gara uang lima puluh ribu kita masuk neraka ? rugijaki Daeng Tata”.Tambah Daeng Bella sambil pamitan karena azan shalat Isya telah berkumandang.
                Usai makan malam,Daeng Tata sekeluarga nonton bareng di ruang keluarga.Tiba-tiba mata Daeng Tata tertuju pada sebuah berita di Indosiar,”Seorang pengemis mati kelaparan saat berteduh di sudut kota di bawah sebuah baliho raksasa”.”Astagfirullah”,batin Daeng Tata. Di sudut kota Maju Mundur banyak terpasang baliho raksasa dari calon wakil rakyat yang mempromosikan dirinya. Sayang baliho raksasa itu tidak peduli pada nasib rakyat miskin, padahal di atas baliho tertulis pejuang kemakmuran, bersih, peduli dan merakyat. Saat orang kelaparan itu berteduh datang angin besar, baliho  raksasa pun tumbang dan mengenainya... mati,”Mengapa saya yang disoroti,pengemis itu yang salah,mengapa tidak ke rumah saya meminta makanan ?”,ujar calon pemilik baliho saat di demo oleh warga.
                Pemilik baliho menyampaikan bela sungkawa dan menyampaikan pada keluarganya “Mengapa tidak bilang-bilang kalau ada keluarganya yang kekurangan, seandainya dia masuk ke rumah berteduh dia tidak akan mengalami nasib seperti itu,kami pasti menjamin hidupnya”. Dipersilahkannya wartawan itu mengabadikan perstiwa saat memberikan uang santunan pada keluarga korban beserta kartu nama sebagai caleg lalu dimintanya wartawan itu untuk dimediakan supaya semua masyarakat tahu kepeduliannya.
 Banyak warga menilai bahwa pemilik baliho adalah orang yang tidak mengenal dan dikenal oleh masyarakat,melakukan banyak kegiatan yang menyentuh kepantingan masyarakat.”Mengapa kegiatan seperti ini baru dilakukan menjelang pemilihan ?”tanya Daeng Baji,istri Dang Tata saat menghadiri acara yang bertajut hujan duit yang diselenggarakan oleh pemilik baliho raksasa itu di lapangan sepak bola.Acara ini menghadirkan artis ibu kota yang menyanyikan lalu khusus memuji-muja pemilik baliho raksasa itu.”Siapa yang peduli pada rakyaaaat ???,tanya Rahmat seorang pemuda yang menjadi team sukses.”Pak Komaaaaar !!!!”,jawab seluruh hadirin kecuali Daeng Tata dan istrinya yang dari awal sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan ini.”Siapa yang bersiiiiiihhh ????”,”Pak kooooooomaaaarrr !!!”.Pak Komarpun tersenyum-senyum lalu menyebarkan lembaran sepuluhribuan kepada hadirin.”Sombong sekali ini orang,yakinkah bahwa uang yang kau hamburkan itu bukan uang haram ?”.Dua anak kecil jatuh mperebutkan uang di depan Daeng Tata.”Untung anak-anakku tidak hadir diacara yang memalukan ini”,batin Daeng Tata.
                Usai acara yang bertajut “Hujan Duit”,ketua panitia mengumumkan acara berikutnya adalah pembagian sembako,satu persatu hadirin menerima paket sembako dan diabadikan oleh para wartawan.Beberapa warga yang menerima sembako memeluk Pak Komar,di antaranya ada yang mencium tangannya.”Kalau saya terpilih ,maka kalian akan menerima yang lebih banyak lagi”,janji Pak Komar.”Insya Allah”,sambut beberapa warga.
                Sejak adanya fenomena hujan duit di daerahku beberapa warga masyarakat menjadi malas kerja,bahkan di antara warga ada yang beralih profesi dari petani menjadi team sukses calon pemimpin.”Apa untungnya menjadi team sukses calon ?”,Tanya Daeng Tata pada Rahmat beberapa hari sejak pertemuan di kantor desa.Rahmat adalah seorang warga yang malas kerja dan pada musim pemilihan tahun ini dia menjadi team suksessalah satu calon pemmpin yang berduit,”Banyak untungnya Daeng Tata,calon yang kita urusi adalah calon yang berduit tetapi tidak berkualitas.Mereka tidak memahami politik makanya bisa dijadikan korban politik”,jawab Rahmat.”Bagaimana bisa ?”,Daeng Tata balik bertanya.”Ya bisalah asal cakap bermain”,jawab Rahmat.
                                                                                                                                                                        Usai pemilihan Rahmat tidak kelihatan lagi batang hidungnya di kampungnya.Dia bersama keluarganya sengaja menyingkir ke tempat yang aman,menghindari gangguan calon yang gagal menjadi pemimpin.Mereka selalu mendatangi rumah Rahmat mempertanyakan kegagalannya,padahal telah banyak uang yang diberikan kepada Rahmat.Beberapa tetangga Rahmat mengaku tidak pernah diberi uang oleh Rahmat,bahkan mereka mengatakan bahwa Rahmat baru saja membeli mobil avanza dan rumah di Makassar,namun tak seorangpun yang tahu di mana letak rumah yang dibeli Rahmat.Akhirnya calon yang gagal itu kabarnya sedang dirawat di rumah sakit karena terserang strok memikirkan uangnya dan sawahnya yang semuanya ludes di tangan Rahmat.”Kurang ajar itu Rahmat,licik sekali habisi dia Daeng Temba”,ujar Pak Karim,salah seorang keluarga calon yang menjadi korban kelicikan Rahmat kepada salah seorang dukun yang dimintai bantuan untuk melenyapkan Rahmat di muka bumi ini.Rahmat bukanlah pemain biasa,jauh sebelum menjadi team sukses  Rahmat telah mendatangi dukun pula untuk mendapatkan perlindungan.Oleh dukun yang didatangi Rahmat diberinya jimat perlindungan.Sehingga sampai saat ini Ramhat masih hidup,masih menjalankan aksinya menipu calon yang bermain kotor.Rahmat maupun  korban lainnya sama-sama liciknya,Cuma Rahmat lebih memahami politik daripada calon yang mau menjadi pemimpin.Dan pada akhirnya,mata daeng Tata terbelalak saat melihat Pak Komar dilayar kaca digelandang oleh pasukan KPK.Sebelum menaiki mobil tahanan KPK,Pak Komar melambaikan tangannya kepada seluruh rakyat yang telah dikorup dana kesejahteraannya.Mobilpun melaju menuju KPK.”Kurang ajar !”,ujar Daeng Tata lalu mematikan TV .(Palajau,Desember 2013).Telah dimuat di Majalah Suara Guru,edisi Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar