Aku bangga dilahirkan di daerah
Kabupaten Tanah Kering,karena di tanah ini aku tumbuh menjadi manusia yang
dapat berbakti bagi masyarakat,bangsa dan negaraku. Walau negeri ini disebut
tanah kering namun masih banyak hal yang membuatku bangga,antara lain kesadaran
beragamanya,karena setiap tahunnya warga masyarakat antrian untuk menunaikan
ibadah haji,dan bisa bersaing dengan daerah lain dalam kompetisi otonomi Daerah.Walau
selalu berada dalam urutan terakhir namun kubangga pada semangat masyarakat
untuk terus meraih kemajuan,sekalipun kemajuan itu masih dalam angan-angan.
Tanah kering bukanlah nama
daerahku yang sebenarnya,itu hanyalah julukan yang diberikan oleh penduduk
daerah lain yang kebetuluan lewat disepanjang jalan daerahku.Mereka mengukur
kemampuan daerahku dari banyaknya sawah-sawah kering yang terbentang
disepanjang jalan,banyaknya tukang becak yang mengais reski di daerah
lain,serta banyaknya pencuri yang ber-KTP daerah ini,sehingga mereka berani
berkesimpulan bahwa daerahku ini kering.Memang daerahku mau seperti daerah
lainnya yang sudah menikmati kemajuan,sangat mengharapkan turunnya hujan dari
langit untuk menyelamatkan kelangsungan hidup yang terancam punah. Para petani
hendak menanam padi tapi hanya bisa bersabar karena sawah kering, atau padi
gagal panen karena kekeringan air. Mau dibantu dengan mesin pompa air tapi air
yang mau dipompa tidak ada, masyarakat menjadi kekurangan makanan, sehingga ada
yang merantau ke negeri orang untuk mengais rezki, ada pula yang ganti profesi
dari petani menjadi pencuri, yang PNS berbisnis korupsi, atau bisnis nepotisme CPNS.”Memangnya
di daerahmu tidak pernah turun hujan ?”,tanya Puang Baso padaku.”Sering,Puang
bahkan kadang dilanda banjir”,jawabku.”Tapi mengapa sawah-sawah di sepanjang
jalan itu tidak dimafaatkan ?”,tanya Puang Baso.”Kita semua mau memanfaatkannya
Puang,Cuma airnya tidak teratur karena irigasinya tidak mendukung,di daerahku
Puang banyak tikus yang merusak irigasi sehingga air tidak bisa sampai ke
sawah-sawah kami”,tambahku pada Puang Baso.Puang Baso adalah tetanggaku di
Makassar.Dia perantau Bugis yang sukses,sedangkan aku kurang beruntung karena
profesiku hanya sebagai pedagang sayur.Namun demikian,aku masih bangga dengan
profesiku yang dikuanggap halal.Walau Cuma penjual sayur,aku bisa mencetak tiga
sarjana dalam keluargaku.Yang kini sudah tersebar diinstansi pemerintahan
sebagai tenaga honorer.Ada yang sudah sepuluh tahun masa kerjanya namun harus
bersabar menanti datangnya takdir.
Masyarakat sekampungku kadang
heran menghadapi cuaca yang tidak menentu.Bukannya hujan air yang turun malah hujan duit yang turun di
tanah kering.Tapi bukan duit yang kami inginkan sebagai para petani tanah
kering, melainkan air untuk tanaman pertanian dan air bersih untuk kebutuhan
rumah tangga.Bukan hujan duit yang kami harapkan tapi kedamaian dan kemerdekaan
dari penjajahan para pencurian dan penjarahan gerombolan tikus.Bagamana
masyarakat bisa makmur kalau yang datang hanya hujan duit yang membasahi tanah
yang kering dan gersang, yang tumbuh subur hanyalah baliho-baliho di jalanan,
yang memamerkan kegagahan diri dan kata-kata yang memuji diri.Adalah suatu
pemborosan di daerahku kalau uang hanya untuk menanam baliho-baliho di pinggir
jalan,”Mau diapakan itu baliho,bisa dimakan ?”,kata Daeng Bella.Daeng Bella
adalah seorang petani yang baru saja gagal panen karena sawahnya
kekeringan.”Andaikata uang-uang baliho itu disumbangkan untuk pembangunan
irigasi,tentu lebih bermanfaat bagi masyarakat daerah ini”,kata Daeng Bella
pada sepupunya Daeng Tata.”Betul sekali Daeng Bella,saya kira yang demikianlah
pejuang kepentingan rakyat”,tambah Daeng Tata.
“Bagaimana menurut Daeng
Bella,calon pemimpin yang mengeluarkan biaya yang besar itu apakah tidak bakal korupsi
?”, tanya Daeng Tata.”Mana kutahu Daeng Tata,tidak bisaki berprasangka
buruk”,jawab Daeng Bella.”Saya tidak berprasangka buruk,Cuma mengira-ngira
bahwa semakin banyak biaya yang dikeluarkan seorang calon maka semakin besar
pula peluangnya untuk melakukan kerupsi,karena sedikit banyaknya mereka akan
berpikir untuk mengembalikan modalnya”,kata Daeng Tata.”Betul juga perkiraanmu
Daeng Tata,makanya hati-hatilah memilih calon pemimpin,pilihlah calon pemimpin yang telah kita
kenal orangnya,yang bersih,yang kita anggap bisa memperjuangkan kepentingan
rakyat,dan yang lebih bagus lagi kalau kita memilih yang telah kita rasakan
prestasi atau perhatiannya”,tambah Daeng Bella.
“Menjelang pemilihan calon pemmpin
nanti,hujan duit akan semakin deras,dermawan-dermawan politik akan
bertebaran,menyumbang masjid atau bagi-bagi uang dan sembako,bagaimana menurut
Daeng Bella ?”,tanya Daeng Tata.Daeng Bellapun tersenyum lalu menarik napas dan
berkata,”Dermawan politik yang Daeng Tata maksudkan itu menurut saya termasuk
praktek curang,meraka ingin membeli hati nurani manusia,padahal hati nurani itu
tidak bisa diperjualbelikan.Lagi pula Daeng Tata,praktek jual beli suara atau
yang orang bilang money politik termasuk suap menyuap yang dilarang dalam agama
kita.Ustaz Herman pernah mengatakan bahwa penyuap,orang yang disuap dan
perantaranya sama-sama masuk neraka”.”Jadi tidak bisaki menerima pemberian
seorang calon walau mereka ikhlas memberi ?”,tanya Daeng Tata memotong
pembicaraan Daeng Bella.”Mana ada calon yang ikhlas menyumbang sekarang Daeng
Bella ?,memang mulutnya mengatakan ikhlas tapi hatinya mengharap agar
dipilih,itu kan menyuap yang berkedok sedekah.Kalau mereka mengaku ikhlas maka
terima saja asalkan tidak mempengaruhi pilihan kita,itu tidak menjadi masalah
Daeng Tata.”Tidak dosajaki kalau kita tidak memilih orang yang bagi-bagi uang
?”,tanya Daeng Tata.”Dosa atau tidak itu Allah yang lebih tahu,tapi sepertinya
ada dosanya karena kita ikut berpartisifasi menyuburkan money politik di negeri
ini”,jawab Daeng Bella.”Kalau begitu,saya akan memilih sesuai dengan hati
nurani”,ujar Daeng Tata.”Memang begitu seharusnya sikap seorang muslim yang
takut kepada hari pembalasan,maukah gara-gara uang lima puluh ribu kita masuk
neraka ? rugijaki Daeng Tata”.Tambah Daeng Bella sambil pamitan karena azan
shalat Isya telah berkumandang.
Usai makan malam,Daeng Tata
sekeluarga nonton bareng di ruang keluarga.Tiba-tiba mata Daeng Tata tertuju
pada sebuah berita di Indosiar,”Seorang pengemis mati kelaparan saat berteduh
di sudut kota di bawah sebuah baliho raksasa”.”Astagfirullah”,batin Daeng Tata.
Di sudut kota Maju Mundur banyak terpasang baliho raksasa dari calon wakil
rakyat yang mempromosikan dirinya. Sayang baliho raksasa itu tidak peduli pada nasib
rakyat miskin, padahal di atas baliho tertulis pejuang kemakmuran, bersih,
peduli dan merakyat. Saat orang kelaparan itu berteduh datang angin besar, baliho raksasa pun tumbang dan mengenainya...
mati,”Mengapa saya yang disoroti,pengemis itu yang salah,mengapa tidak ke rumah
saya meminta makanan ?”,ujar calon pemilik baliho saat di demo oleh warga.
Pemilik baliho menyampaikan bela
sungkawa dan menyampaikan pada keluarganya “Mengapa tidak bilang-bilang kalau
ada keluarganya yang kekurangan, seandainya dia masuk ke rumah berteduh dia
tidak akan mengalami nasib seperti itu,kami pasti menjamin hidupnya”.
Dipersilahkannya wartawan itu mengabadikan perstiwa saat memberikan uang
santunan pada keluarga korban beserta kartu nama sebagai caleg lalu dimintanya
wartawan itu untuk dimediakan supaya semua masyarakat tahu kepeduliannya.
Banyak
warga menilai bahwa pemilik baliho adalah orang yang tidak mengenal dan dikenal oleh
masyarakat,melakukan banyak kegiatan yang menyentuh kepantingan
masyarakat.”Mengapa kegiatan seperti ini baru dilakukan menjelang pemilihan
?”tanya Daeng Baji,istri Dang Tata saat menghadiri acara yang bertajut
hujan duit yang diselenggarakan oleh pemilik baliho raksasa itu di lapangan
sepak bola.Acara ini menghadirkan artis ibu kota yang menyanyikan lalu khusus
memuji-muja pemilik baliho raksasa itu.”Siapa yang peduli pada rakyaaaat
???,tanya Rahmat seorang pemuda yang menjadi team sukses.”Pak Komaaaaar
!!!!”,jawab seluruh hadirin kecuali Daeng Tata dan istrinya yang dari awal
sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan ini.”Siapa yang bersiiiiiihhh ????”,”Pak
kooooooomaaaarrr !!!”.Pak Komarpun tersenyum-senyum lalu menyebarkan lembaran
sepuluhribuan kepada hadirin.”Sombong sekali ini orang,yakinkah bahwa uang yang
kau hamburkan itu bukan uang haram ?”.Dua anak kecil
jatuh mperebutkan uang di depan Daeng Tata.”Untung anak-anakku tidak hadir
diacara yang memalukan ini”,batin Daeng Tata.
Usai acara yang bertajut “Hujan Duit”,ketua
panitia mengumumkan acara berikutnya adalah pembagian sembako,satu persatu
hadirin menerima paket sembako dan diabadikan oleh para wartawan.Beberapa warga
yang menerima sembako memeluk Pak Komar,di antaranya ada yang mencium
tangannya.”Kalau saya terpilih ,maka kalian akan menerima
yang lebih banyak lagi”,janji Pak Komar.”Insya Allah”,sambut beberapa warga.
Sejak adanya fenomena hujan duit
di daerahku beberapa warga masyarakat menjadi malas kerja,bahkan di antara warga
ada yang beralih profesi dari petani menjadi team sukses calon pemimpin.”Apa untungnya
menjadi team sukses calon ?”,Tanya Daeng Tata pada Rahmat beberapa hari sejak
pertemuan di kantor desa.Rahmat adalah seorang warga yang malas kerja dan pada musim pemilihan tahun ini dia menjadi team suksessalah satu calon pemmpin yang berduit,”Banyak untungnya
Daeng Tata,calon yang kita urusi adalah calon yang berduit tetapi tidak
berkualitas.Mereka tidak memahami politik makanya bisa dijadikan korban
politik”,jawab Rahmat.”Bagaimana bisa ?”,Daeng Tata balik bertanya.”Ya bisalah
asal cakap bermain”,jawab Rahmat.
Usai
pemilihan Rahmat tidak kelihatan lagi batang hidungnya di kampungnya.Dia
bersama keluarganya sengaja menyingkir ke tempat yang aman,menghindari gangguan calon yang gagal menjadi pemimpin.Mereka selalu mendatangi rumah
Rahmat mempertanyakan kegagalannya,padahal telah banyak uang yang diberikan
kepada Rahmat.Beberapa tetangga Rahmat mengaku tidak pernah diberi uang oleh
Rahmat,bahkan mereka mengatakan bahwa Rahmat baru saja membeli mobil avanza dan
rumah di Makassar,namun tak seorangpun yang tahu di mana letak rumah yang
dibeli Rahmat.Akhirnya calon yang gagal itu kabarnya sedang dirawat di
rumah sakit karena terserang strok memikirkan uangnya dan sawahnya yang semuanya
ludes di tangan Rahmat.”Kurang ajar itu Rahmat,licik sekali habisi dia Daeng
Temba”,ujar Pak Karim,salah seorang keluarga calon yang menjadi korban
kelicikan Rahmat kepada salah seorang dukun yang dimintai bantuan untuk
melenyapkan Rahmat di muka bumi ini.Rahmat bukanlah pemain biasa,jauh sebelum
menjadi team sukses Rahmat telah mendatangi dukun pula untuk mendapatkan
perlindungan.Oleh dukun yang didatangi Rahmat diberinya jimat
perlindungan.Sehingga sampai saat ini Ramhat masih hidup,masih menjalankan
aksinya menipu calon yang bermain kotor.Rahmat maupun korban lainnya
sama-sama liciknya,Cuma Rahmat lebih memahami politik daripada calon yang mau
menjadi pemimpin.Dan pada akhirnya,mata daeng Tata terbelalak saat melihat Pak
Komar dilayar kaca digelandang oleh pasukan KPK.Sebelum menaiki mobil tahanan
KPK,Pak Komar melambaikan tangannya kepada seluruh rakyat yang telah dikorup
dana kesejahteraannya.Mobilpun melaju menuju KPK.”Kurang ajar !”,ujar Daeng
Tata lalu mematikan TV .(Palajau,Desember 2013).Telah dimuat di Majalah Suara Guru,edisi Maret 2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar