Sabtu, 17 Januari 2015

Cerpen MENGGAPAI HIDAYAH


               Penjara benar-benar menjadi guru yang sangat berharga bagi hidupku,guru yang tidak banyak memberikan materi namun pembelarannya mampu membuka mata hatiku yang selama ini buta pada kebenaran, mampu meluluhkan hatiku yang selama ini keras lagi angkuh terhadap mereka yang selalu menyuarakan kebenaran yang kuanggapnya sebagai manusia kurang kerjaan,sok suci dan pemburuh rupiah dengan menjual ayat-ayat Allah.Ternyata merekalah yang benar dan akulah yang salah.Kini barulah kusadari bahwa jabatan itu adalah amanah dan amanah itu berat.Amanah tanpa didasari iman dan ketaatan beragama akan membuat kita salah dalam mengartikan amanah,sehingga kadang kita mengartikan amanah itu sebagai peluang untuk meraih keuntungan.
                Sepuluh tahun yang lalu,ketika reformasi itu masih hangatnya diperbincangkan,ketika korupsi menjadi topik pembicaraan elit-elit negara dan program andalan pemerintahnya untuk memberantasnya,para politisi dan politikus,para pengamat dan komentator,aku dengan penuh bangga letakkan amanah dipundakku sebagai sebagai seorang pejabat walau hanya pada level kepala sekolah.Walau rendah namun sangat membuat kepalaku terasa membesar dan jalankan seperti di atas angin.Lagi pula jabatan itu memang keperoleh dengan susah payah.
                Sepuluh tahun yang lalu itu,aku masih menganggap bahwa jabatan sebagai amanah harus dengan perjuangan untuk meraihnya,dan siapa yang bersungguh-sungguh berjuang meraih ambisi maka dia akan memperolehnya.Betul...,walau masa kerja dan golonganku belum selevel dengan atasanku namun aku bisa mengungguli rekan-rekan guru yang sebaya denganku.
                “Siapa yang mau dibelikan jubah dan tasbih,Pak ?” tanya istriku penasaran.Wanita yang lama mengenalku ini heran ketika mendengar aku mau membeli jubah.”He..he..he..,tidak salah dengar,Pak ?”,balasnya ketika kukatakan bahwa saya mau pakai jubah.Isriku pasti menganggapku bercanda,karena bagaimana kubisa kuberpenampilan ustadz kalau shalatku saja masih bolong-bolong,masih kukotori dengan minuman keras.Ya,terpaksa kupenuhi saran temanku untuk selalu shalat berjamaah dengan bupati.”Supaya menarik perhatian Pak Bupati maka pakelah jubah dan perbanyak zikir di masjdnya”,saran temanku yang sudah lama menikmati jabatannya.”Terima kasih atas bantuan !” ungapku pada Pak Karno,teman yang membantuku meraih jabatan, seusai pelantikan para pejabat daerah di teras ruang pola kantor bupati.”Gimana masih dipakai jubahnya ?” tanya temanku yang kuyakin cuman bencanda.Aku cuman tertawa padanya.Tujuanku pakai jubah dan shalat berjamaah dengan Pak Bupati telah tercapai.Jubah yang masih bagus kuberikan pada kemenakanku yang memang dari dulu suka memakai jubah.
                Beberapa tahun lamanya sebelum aku berurusan dengan para penegak hukum yang akhirnya menjebloskanku ke balik terali besi,kunikmati jabatanku sebagaimana yang ingin kunikmati.Bagiku,jabatan tidak harus diartikan sebagai amanah,tetapi peluang untuk meraih keuntungan.Kesempatan jangan disia-siakan,karena bila disia-siakan dan waktunya habis maka kita bisa menyesal.Maka kulakukan apa yang seharusnya aku lakukan.Kutinggalkan apa yang seharusnya aku tinggalkan.Aku tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana kubisa aman dari apa yang telah kulakukan.Pemberantasan koruspsi bisa dihadapi dengan melakukan korupsi.Media yang menjual berita dengan slogan antikorupsi pun bisa diam, yang penting jangan makan sendiri.Kalau ada gula-gula di kantong ya bagi-bagi dong.Tidak mintapun perlu pakai perasaan apalagi kalo minta dana pengamanan atau transport silaturrahmi.
                Baru tiga tahun menduduki kursi jabatan,namakupun mulai mewarnai media-media yang wartawannya keluar masuk ruanganku.Serba-serbi beritanya dengan tema yang sama yaitu membesarkan namaku,sebagai kepala sekolah yang berperstasi,pengelola dana BOS terjujur,dan sangat membanggakan karena sekolahku meraih prestasi peringkat I Ujian Nasional tingkat kabupaten dan peringkat II tingkat Provinsi.Hampir setiap tahun aku dipanggil mengikuti study banding dengan biaya yang ditanggung sendiri.Orang tua siswa yang juara itupun sangat bangga karena anaknya yang kemampuannya selama ini biasa-biasa saja mengapa tiba-tiba menjadi luar biasa.”Luar biasa sekali guru-gurunya di sini,anakku yang selalu kutakutkan tidak akan lulus,jusru prestasnya melonjat melampaui teman-temannya”,ungkap Pak Karim,orang tua Supri,siswa pringkat I itu.Dengan banggapun kutersenyum pada Pak Supri.
                Jabatan benar-benar telah membesarkan nama dan kepalaku,bahkan ukuran rumah,kendaraan dan rekening tabunganku pun ikut membesar.Sekolah yang kupimpin menjadi perhatian para pemburu berita,sehingga hampir setiap hari ruanganku kedatangan tamu yang umumnya mengaku wartawan atau LSM.Guru-guru di sekolah sudah bisa membedakan tamu antara wartawan/LSM dengan yang bukan.Darimana ditau ?”Kalau wartawan atau LSM besar suara salamnya dan langsung mencari kepala sekolah atau bendaharawan dana BOS sedang yang lainnya suaranya aga lembut”,kata seorang guru.Wartawan adalah mitra bagi jabatanku,kami saling membutuhkan dan saling merindukan,sampai persahabatan kami harus berpisah karena ulah seorang wartawan nasional yang tidak mau diajak kompromi,mengobok-obok jabatanku sampai aku berurusan dengan penegak hukum,dan diperparah lagi karena kesalahan tekhik dalam kompetisi pemilukada.Walau aku tidak terang-terangan mendukung calon,namun aku menjadi perhatian mata-mata calon lainnya sampai terjadilah malapetaka dalam jabatanku.
                Aku yang selama ini merasa berjalan di atas angin,tiba-tiba berubah bagai berjalan di dalam lumpur,semua mata memandangku dengan penuh kebencitan.Tetangga-tetanggakupun mentertawaiku saat dijemput paksa oleh polisi.Mereka tahu bahwa aku dituduh telah merampok uang negara ratusan juta rupiah selama menjadi pejabat.Mungkin mereka sudah lama muak melihat kesombongan keluarga.Apa boleh,yang akan terjadi pasti terjadi.Kunikmati hidupku dibalik terali besi,sekamar dengan pada pencuri dengan obyek dan nama yang berbeda,ada pencopek,ada perampok,ada pencuri ayam,sedangkan aku yang paling terhormat yaitu koruptur dengan hukuman yang paling ringan,beda enam bulan dengan hukuman pencuri ayam.
                Penjara telah memisahkan aku dengan sahabat-sahabatku sewaktu menjadi pejabat.Tidak ada lagi wartawan yang menyapaku apalagi menjengutku,yang setia hanyalah seorang bawahanku yang dulu kubenci karena kuanggap sok jujur dan sok suci,dia selalu mengomentari pengelolaan dana BOS di sekolah.Setiap minggu selalu datang menjengutku di rumah napi.Akupun bosan selalu dijengut olehnya.Aku bosan karena pembicaraannya itu-itu terus,apalagi kalau bukan masalah agama,bahkan sudah bebrapa kali kepala penjara mempercayainya membawakan khutbah Jumat sehingga diapun semakin sering ke rumah napi dan napi pun banyak yang menyukai siramannya.
                “Pak,Kita itu sebenarnya orang yang disayangi Allah,Keberadaan kita di tempat ini adalah bukti bahwa Allah menaruh perhatian pada kita,Cuma kita tidak menyadarinya karena ada yang menghalangi kita untuk menyadarinya”,Katanya dihadapan beberapa napi yang berkumpul di ruanganku.Aku pura-pura tidur tak mendengarnya.”Banyak cara Allah bila menghendaki kebaikan pada hamba yang disayanginya,antara lain dengan memberinya penyakit,musibah dan termasuk apa yang kita rasakan di tempat ini.Dengan cara seperti inilah Allah membimbing hamba-Nya ke jalan yang benar apabila dia mau kembali ke jalan yang benar.Allah menghendaki kita menyadari dosa-dosa kita lalu bertaubat dan memperbaiki diri sebelum mati.Daripada nanti mati baru menyadari dosa-dosanya,maka betapa menyesalnya kita karena tidak ada lagi taubat,yang ada hanyalah kesengsaraan karena dosa yang pernah kita lakukan” tambahnya.
                Pendengaranku semakin jelas,kubuka mataku ternyata aku bukan diruang penjara lagi,yang bicarapun buan ustadz lagi,dimanakah aku,dimanakah teman-temanku ?.”Kau kini berada dalam penjara bawah tanah,ini adalah kubur yang sebentar lagi ruangan ini akan dinyalakan dengan api untuk menghangatkan orang yang curang dan lalai “seru orang yang tinggi besar itu,aku menjadi gemetar.Kemudian ruangan itupun benar-benar dinyalakan “Auuuuu,ammpuun,ammpuuuuu !!!”,jeritanku tank sanggup menahan panas,”Ini baru satu dari enam puluh panasnya api di alam ini,sebentar kau akan rasakan”tambahnya”aahhhhh,tidaaaaaakkkkk!”.
                “Oe... kenapaki,Pak”,ujar napi sekamarku membangunkan aku.Akupun sadar bahwa aku telah bermimpi dan kulihat jemaah Ustadz Herman di kamarku telah bubar.Mimpi itu benar-benar telah membuka hatiku.Walau Cuma mimpi,namum panasnya penjara kubur masih terasa di dalam hatimu.Benar kata ustadz.Untung ini baru penjara dunia,bagaimana kalau penjara kubur itu benar-benar menjadi sarangku.Hawa panas dalam penjara dunia tidak seberapa dibanding hawa panas dalam penjara kubur.”Ya,Allah aku mengakui dosa-dosaku terhadapmu selama ini,ampunilah aku ya Allah,membimbinglah aku kepada jalanmu,jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang taat pada agamamu dan lindungilah aku dari azab yang akan Engkau timpakan sebagai balasan dosa-dosaku”,doakan usai shalat tahajjud.
                Sejak mimpi yang singkat itulah,aku menjadi dengan ustadz Herman.Mungkin melalui Ustadz Hermanlah Allah akan membimbingku pada agama yang benar.Kuisi hari-hariku dalam penjara dengan berzikir dan membaca buku-buku agama Islam yang dianjurkan Ustadz.Kusuruh istriku membelinya,antara lain al Quran terjemahan,Kitab-Kitab Hadis,Kitab-Kitab Ulama Salaf.Kujadikan kamarku sebagai taman baca.Kujadikan penjara sebagai taman pendidikan,sampai hatikupun berkata “Ternyata penjara ini sangat berharga bagi hidupku,telah membuka hatiku untuk melihat kebenaran”.Dengan banyak membaca dan siraman ustadz semakin jelaslah jalan Allah,sudah bisa kubedakan mana usaha yang benar dan usaha yang salah.Sudah bisa kubedakan mana amalan sunnah dan mana amalan sunnah.Barulah kusadari bahwa ustadz Herman benar dalam menjalankan agama Islam ini,dia benar-benar berpegang teguh pada sunnah al Quran dan Sunnah Rasul.Dulu aku membencinya,karena kuanggap anti adat.Masyarakat menganggapnya orang asing dan tersesat karena meninggalkan tradisi masyarakat seperti assuro ammaca,barzanji dan lainnya.
                Ternyata ustadz Herman benar.Allah menyuruh kita menjalankan agama Islam ini dengan benar,yaitu melaksanakan syariat Allah dan rasul-Nya saja,dan dengan meninggalkan syariat yang bersumber dari hawa nafsu atau tradisi nenek moyang.Islam tidak boleh dicampuradukkan dengan ajaran-ajaran adat.Kalau agama harus murni agama dan kalau adat harus murni adat.Agama jangan dicampur dengan adat dan adat jangan pula diisi dengan kepercayaan dan amalan yang menyamai agama.Kalau agama dicampuradukkan dengan adat,maka adat akan kuat dan subur sedangkan akan lemah dan hancur.Begitupun jabatan yang selalu disebut-sebut amanah,kalau tidak diperkuat iman dan  agama yang benar maka amanah akan menjadi sumber dosa yang akan menjerumuskan pemangkunya ke dalam neraka.Iman dan Ilmu agama yang kuperoleh dalam penjara membuat senang bila Allah mencabut amanah sebagai kepala sekolah.Kini di masa pensiunku kuisi sisa-sisa hidupku dengan menjalankan amanah dari Allah yaitu menyembah kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama. (Palajau ,Juli 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar