Penjara benar-benar menjadi guru
yang sangat berharga bagi hidupku,guru yang tidak banyak memberikan materi
namun pembelarannya mampu membuka mata hatiku yang selama ini buta pada
kebenaran, mampu meluluhkan hatiku yang selama ini keras lagi angkuh terhadap
mereka yang selalu menyuarakan kebenaran yang kuanggapnya sebagai manusia
kurang kerjaan,sok suci dan pemburuh rupiah dengan menjual ayat-ayat
Allah.Ternyata merekalah yang benar dan akulah yang salah.Kini barulah kusadari
bahwa jabatan itu adalah amanah dan amanah itu berat.Amanah tanpa didasari iman
dan ketaatan beragama akan membuat kita salah dalam mengartikan amanah,sehingga
kadang kita mengartikan amanah itu sebagai peluang untuk meraih keuntungan.
Sepuluh tahun yang lalu,ketika
reformasi itu masih hangatnya diperbincangkan,ketika korupsi menjadi topik
pembicaraan elit-elit negara dan program andalan pemerintahnya untuk memberantasnya,para
politisi dan politikus,para pengamat dan komentator,aku dengan penuh bangga
letakkan amanah dipundakku sebagai sebagai seorang pejabat walau hanya pada
level kepala sekolah.Walau rendah namun sangat membuat kepalaku terasa membesar
dan jalankan seperti di atas angin.Lagi pula jabatan itu memang keperoleh
dengan susah payah.
Sepuluh tahun yang lalu itu,aku
masih menganggap bahwa jabatan sebagai amanah harus dengan perjuangan untuk
meraihnya,dan siapa yang bersungguh-sungguh berjuang meraih ambisi maka dia
akan memperolehnya.Betul...,walau masa kerja dan golonganku belum selevel
dengan atasanku namun aku bisa mengungguli rekan-rekan guru yang sebaya
denganku.
“Siapa yang mau dibelikan jubah
dan tasbih,Pak ?” tanya istriku penasaran.Wanita yang lama mengenalku ini heran
ketika mendengar aku mau membeli jubah.”He..he..he..,tidak salah dengar,Pak
?”,balasnya ketika kukatakan bahwa saya mau pakai jubah.Isriku pasti
menganggapku bercanda,karena bagaimana kubisa kuberpenampilan ustadz kalau
shalatku saja masih bolong-bolong,masih kukotori dengan minuman keras.Ya,terpaksa
kupenuhi saran temanku untuk selalu shalat berjamaah dengan bupati.”Supaya
menarik perhatian Pak Bupati maka pakelah jubah dan perbanyak zikir di
masjdnya”,saran temanku yang sudah lama menikmati jabatannya.”Terima kasih atas
bantuan !” ungapku pada Pak Karno,teman yang membantuku meraih jabatan, seusai pelantikan
para pejabat daerah di teras ruang pola kantor bupati.”Gimana masih dipakai
jubahnya ?” tanya temanku yang kuyakin cuman bencanda.Aku cuman tertawa
padanya.Tujuanku pakai jubah dan shalat berjamaah dengan Pak Bupati telah
tercapai.Jubah yang masih bagus kuberikan pada kemenakanku yang memang dari
dulu suka memakai jubah.
Beberapa tahun lamanya sebelum
aku berurusan dengan para penegak hukum yang akhirnya menjebloskanku ke balik
terali besi,kunikmati jabatanku sebagaimana yang ingin kunikmati.Bagiku,jabatan
tidak harus diartikan sebagai amanah,tetapi peluang untuk meraih
keuntungan.Kesempatan jangan disia-siakan,karena bila disia-siakan dan waktunya
habis maka kita bisa menyesal.Maka kulakukan apa yang seharusnya aku
lakukan.Kutinggalkan apa yang seharusnya aku tinggalkan.Aku tahu apa yang harus
kulakukan dan bagaimana kubisa aman dari apa yang telah kulakukan.Pemberantasan
koruspsi bisa dihadapi dengan melakukan korupsi.Media yang menjual berita
dengan slogan antikorupsi pun bisa diam, yang penting jangan makan
sendiri.Kalau ada gula-gula di kantong ya bagi-bagi dong.Tidak mintapun perlu
pakai perasaan apalagi kalo minta dana pengamanan atau transport silaturrahmi.
Baru tiga tahun menduduki kursi
jabatan,namakupun mulai mewarnai media-media yang wartawannya keluar masuk
ruanganku.Serba-serbi beritanya dengan tema yang sama yaitu membesarkan
namaku,sebagai kepala sekolah yang berperstasi,pengelola dana BOS terjujur,dan
sangat membanggakan karena sekolahku meraih prestasi peringkat I Ujian Nasional
tingkat kabupaten dan peringkat II tingkat Provinsi.Hampir setiap tahun aku
dipanggil mengikuti study banding dengan biaya yang ditanggung sendiri.Orang
tua siswa yang juara itupun sangat bangga karena anaknya yang kemampuannya
selama ini biasa-biasa saja mengapa tiba-tiba menjadi luar biasa.”Luar biasa
sekali guru-gurunya di sini,anakku yang selalu kutakutkan tidak akan
lulus,jusru prestasnya melonjat melampaui teman-temannya”,ungkap Pak
Karim,orang tua Supri,siswa pringkat I itu.Dengan banggapun kutersenyum pada
Pak Supri.
Jabatan benar-benar telah
membesarkan nama dan kepalaku,bahkan ukuran rumah,kendaraan dan rekening
tabunganku pun ikut membesar.Sekolah yang kupimpin menjadi perhatian para
pemburu berita,sehingga hampir setiap hari ruanganku kedatangan tamu yang
umumnya mengaku wartawan atau LSM.Guru-guru di sekolah sudah bisa membedakan
tamu antara wartawan/LSM dengan yang bukan.Darimana ditau ?”Kalau wartawan atau
LSM besar suara salamnya dan langsung mencari kepala sekolah atau bendaharawan
dana BOS sedang yang lainnya suaranya aga lembut”,kata seorang guru.Wartawan
adalah mitra bagi jabatanku,kami saling membutuhkan dan saling merindukan,sampai
persahabatan kami harus berpisah karena ulah seorang wartawan nasional yang
tidak mau diajak kompromi,mengobok-obok jabatanku sampai aku berurusan dengan
penegak hukum,dan diperparah lagi karena kesalahan tekhik dalam kompetisi
pemilukada.Walau aku tidak terang-terangan mendukung calon,namun aku menjadi
perhatian mata-mata calon lainnya sampai terjadilah malapetaka dalam jabatanku.
Aku yang selama ini merasa
berjalan di atas angin,tiba-tiba berubah bagai berjalan di dalam lumpur,semua
mata memandangku dengan penuh kebencitan.Tetangga-tetanggakupun mentertawaiku
saat dijemput paksa oleh polisi.Mereka tahu bahwa aku dituduh telah merampok
uang negara ratusan juta rupiah selama menjadi pejabat.Mungkin mereka sudah
lama muak melihat kesombongan keluarga.Apa boleh,yang akan terjadi pasti
terjadi.Kunikmati hidupku dibalik terali besi,sekamar dengan pada pencuri
dengan obyek dan nama yang berbeda,ada pencopek,ada perampok,ada pencuri
ayam,sedangkan aku yang paling terhormat yaitu koruptur dengan hukuman yang
paling ringan,beda enam bulan dengan hukuman pencuri ayam.
Penjara telah memisahkan aku
dengan sahabat-sahabatku sewaktu menjadi pejabat.Tidak ada lagi wartawan yang
menyapaku apalagi menjengutku,yang setia hanyalah seorang bawahanku yang dulu kubenci
karena kuanggap sok jujur dan sok suci,dia selalu mengomentari pengelolaan dana
BOS di sekolah.Setiap minggu selalu datang menjengutku di rumah napi.Akupun
bosan selalu dijengut olehnya.Aku bosan karena pembicaraannya itu-itu
terus,apalagi kalau bukan masalah agama,bahkan sudah bebrapa kali kepala
penjara mempercayainya membawakan khutbah Jumat sehingga diapun semakin sering
ke rumah napi dan napi pun banyak yang menyukai siramannya.
“Pak,Kita itu sebenarnya orang
yang disayangi Allah,Keberadaan kita di tempat ini adalah bukti bahwa Allah
menaruh perhatian pada kita,Cuma kita tidak menyadarinya karena ada yang
menghalangi kita untuk menyadarinya”,Katanya dihadapan beberapa napi yang
berkumpul di ruanganku.Aku pura-pura tidur tak mendengarnya.”Banyak cara Allah
bila menghendaki kebaikan pada hamba yang disayanginya,antara lain dengan
memberinya penyakit,musibah dan termasuk apa yang kita rasakan di tempat ini.Dengan
cara seperti inilah Allah membimbing hamba-Nya ke jalan yang benar apabila dia
mau kembali ke jalan yang benar.Allah menghendaki kita menyadari dosa-dosa kita
lalu bertaubat dan memperbaiki diri sebelum mati.Daripada nanti mati baru
menyadari dosa-dosanya,maka betapa menyesalnya kita karena tidak ada lagi
taubat,yang ada hanyalah kesengsaraan karena dosa yang pernah kita lakukan”
tambahnya.
Pendengaranku semakin
jelas,kubuka mataku ternyata aku bukan diruang penjara lagi,yang bicarapun buan
ustadz lagi,dimanakah aku,dimanakah teman-temanku ?.”Kau kini berada dalam
penjara bawah tanah,ini adalah kubur yang sebentar lagi ruangan ini akan
dinyalakan dengan api untuk menghangatkan orang yang curang dan lalai “seru
orang yang tinggi besar itu,aku menjadi gemetar.Kemudian ruangan itupun
benar-benar dinyalakan “Auuuuu,ammpuun,ammpuuuuu !!!”,jeritanku tank sanggup
menahan panas,”Ini baru satu dari enam puluh panasnya api di alam ini,sebentar
kau akan rasakan”tambahnya”aahhhhh,tidaaaaaakkkkk!”.
“Oe... kenapaki,Pak”,ujar napi
sekamarku membangunkan aku.Akupun sadar bahwa aku telah bermimpi dan kulihat
jemaah Ustadz Herman di kamarku telah bubar.Mimpi itu benar-benar telah membuka
hatiku.Walau Cuma mimpi,namum panasnya penjara kubur masih terasa di dalam
hatimu.Benar kata ustadz.Untung ini baru penjara dunia,bagaimana kalau penjara
kubur itu benar-benar menjadi sarangku.Hawa panas dalam penjara dunia tidak
seberapa dibanding hawa panas dalam penjara kubur.”Ya,Allah aku mengakui
dosa-dosaku terhadapmu selama ini,ampunilah aku ya Allah,membimbinglah aku
kepada jalanmu,jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang taat pada agamamu dan
lindungilah aku dari azab yang akan Engkau timpakan sebagai balasan
dosa-dosaku”,doakan usai shalat tahajjud.
Sejak mimpi yang singkat
itulah,aku menjadi dengan ustadz Herman.Mungkin melalui Ustadz Hermanlah Allah
akan membimbingku pada agama yang benar.Kuisi hari-hariku dalam penjara dengan
berzikir dan membaca buku-buku agama Islam yang dianjurkan Ustadz.Kusuruh
istriku membelinya,antara lain al Quran terjemahan,Kitab-Kitab
Hadis,Kitab-Kitab Ulama Salaf.Kujadikan kamarku sebagai taman baca.Kujadikan
penjara sebagai taman pendidikan,sampai hatikupun berkata “Ternyata penjara ini
sangat berharga bagi hidupku,telah membuka hatiku untuk melihat
kebenaran”.Dengan banyak membaca dan siraman ustadz semakin jelaslah jalan
Allah,sudah bisa kubedakan mana usaha yang benar dan usaha yang salah.Sudah
bisa kubedakan mana amalan sunnah dan mana amalan sunnah.Barulah kusadari bahwa
ustadz Herman benar dalam menjalankan agama Islam ini,dia benar-benar berpegang
teguh pada sunnah al Quran dan Sunnah Rasul.Dulu aku membencinya,karena
kuanggap anti adat.Masyarakat menganggapnya orang asing dan tersesat karena
meninggalkan tradisi masyarakat seperti assuro ammaca,barzanji dan lainnya.
Ternyata ustadz Herman
benar.Allah menyuruh kita menjalankan agama Islam ini dengan benar,yaitu
melaksanakan syariat Allah dan rasul-Nya saja,dan dengan meninggalkan syariat
yang bersumber dari hawa nafsu atau tradisi nenek moyang.Islam tidak boleh
dicampuradukkan dengan ajaran-ajaran adat.Kalau agama harus murni agama dan kalau
adat harus murni adat.Agama jangan dicampur dengan adat dan adat jangan pula
diisi dengan kepercayaan dan amalan yang menyamai agama.Kalau agama
dicampuradukkan dengan adat,maka adat akan kuat dan subur sedangkan akan lemah
dan hancur.Begitupun jabatan yang selalu disebut-sebut amanah,kalau tidak
diperkuat iman dan agama yang benar maka
amanah akan menjadi sumber dosa yang akan menjerumuskan pemangkunya ke dalam
neraka.Iman dan Ilmu agama yang kuperoleh dalam penjara membuat senang bila
Allah mencabut amanah sebagai kepala sekolah.Kini di masa pensiunku kuisi
sisa-sisa hidupku dengan menjalankan amanah dari Allah yaitu menyembah
kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama. (Palajau ,Juli
2013).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar