Pukul dua belas siang rumah Ayu bagai keluarga yang baru
kematian salah seorang anggotanya,jeritan tangis memenuhi ruangan sampai
terdengar ke telinga tetangga.Rumah Ayu dipenuhi siswa yang berseragam SMP
beramai-ramai melampiaskan kesedihannya gara-gara dinyatakan tidak lulus dalam
ujian nasional.Siapa sangka,Ayu yang sehari-hari di sekolahnya dikenal sebagai
siswa berprestasi baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler ternyata tidak
lulus dalam ujian nasional.Ayu dikalahkan oleh Wahyu,seorang siswa yang selalu
merepotkan guru dan orang tuanya karena kebodohan,kebolosan dan
kenakalannya.Nilai hariannya hanya pada batas standar,itupun distandarkan agar
bisa naik kelas.Sebab kalau tinggal kelas,maka bisa pindah sekolah
lain,akibatnya jatah dana BOS berkurang.
Seorang sepupu Ayu marah dan
bermaksud menyerang guru yang mendatangi rumah Ayu,untung ada seorang warga
yang cepat mencegahnya.”Apa salahnya Ayu sehingga tidak lulus padahal rangking
satu ???”,teriak Daeng Nyau’.”Guru bodoh,mengapa Wahyu yang diluluskan
sedangkan Ayu tidak ???”,tambahnya.Masyarakat sekitar SMP Ujung yang tidak
mengerti sistem ujian nasional banyak yang menyalahkan guru,bahkan diantaranya
ada yang mengatakan bahwa guru SMP Ujung sudah gila karena siswa yang
terbelakang seperti Wahyu diluluskan sedangkan Ayu yang sudah dikenal
masyarakat sebagai siswa berprestasi tidak diluluskan.Masyarakat selalu
membandingkan Ayu dengan Wahyu karena kedua bertetangga dengan prestasi yang
berjauhan beda.
“Maaf,Pak bukan guru yang
menentukan kelulusan,tetapi ...”,”tetapi siapaaa ???”,teriak Daeng Nyau
memotong pembicaraan Pak Nasir.”Mana mungkin orang lain yang menentukan
kelulusan,sedangkan yang mengajar guru SMP Ujung”,sambung Daeng Nyau.”Memang
betul Pak,kami yang mengajar Ayu selama tiga tahun,tapi aturan Ujian Nasional
yang menetukan kelulusan.Seandainya kami yang menetukan kelulusan,tidak mungkin
Wahyu akan lulus sedangkan Ayu tidak.Kita juga Pak,menganggap aturan itu tidak
adil,masa kita yang disuruh mengajar,mendidik atau melatih,baru pihak luar yang
tidak mengenal sehari-harnya siswa yang menetukan kelulusan”,ungkap Pak
Nasir.”Tapi mengapa Wahyu bisa lulus ?’, Daeng Nyau balik bertanya disamping
orang tua Ayu yang hanya bisa menangis dan memeluk putri kesayangannya.”Itu
juga yang kami tidak mengerti,dan itulah salahnya aturan karena menentukan
kelulusan pada siswa-siswa yang tidak dikenal kesehariannya di sekolah”,jawab
Pak Nasir.”Sebenarnya kamipun tidak setuju dengan aturan Ujian Nasional yang
menetukan kelulusan,karena merasa kewenangan kami dilanggar,tapi apa mau
dikata,ini kemauan Menteri Pendidikan,kami hanya bisa mengikuti aturan yang
ada”,sambung Pak Nasir.”Di Indonesia ini,bukan hanya Ayu yang bernasib seperti
ini,tetapi ribuan siswa lainnya yang menjadi korban kebijakan ujian nasional.
“Ujian nasional adalah kebijakan
Menteri Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini,sebagai
bagian dari Peraturan Standar Nasional Pendidikan.Dengan ujian
Nasional,pemerintah dapat mengukur kualitas pendidikan di setiap daerah dan di
setiap lembaga pendidikan”,demikian arahan Bapak Kepala SMP Ujung dihadapan
dewan guru dalam rapat pembentukan Panitia Ujian Naional.”Kebijakan Ujian
Nasional sebagai penentu kelulusan siswa,sepertinya kurang tepat dan kurang
adil”,Ujar Pak Anwar,guru Matematika saat diberi kesempatan berbicara.”Apanya
yang kurang tepat dan tidak adil Pak ?”,tanya Kepala Sekolah.”Kurang
tepatnya,karena dalam kurikulum,pendidikan ditekankan pada tiga aspek,yaitu
pengetahuan,sikap dan keterampilan.Guru diberi tugas dan kewenangan menilai siswa
pada tiga aspek tersebut.Sehingga yang bisa dinyatakan lulus apabila siswa
telah menemuhi standar penilaian pada ketiga aspek tersebut,tapi kenyataannya
dalam ujian nasional hanya satu aspek yang dinilai,yaitu pengetahuan,yang
lainnya tentu tidak dinilai.Sedangkan tidak adilnya,adalah pemerintah dalam hal
ini Menteri Pendidikan Nasional memberlakukan standar nasional pendidikan pada
semua sekolah yang menjadi dasar pelaksanaan ujian nasional,namun perhatian
pemerintah pada sekolah-sekolah pelaksana ujian nasional tidak sama,hanya
berapa sekolah dalam satu daerah yang diperhatikan sebagai Sekolah Standar Nasional
dengan dukungan dana yang lebih dari sekolah lainnya yang berstandar kabupaten
bahkan standar kecamatan.Sedangkan soal-soal ujian nasionalnya diberlakukan
seragam.Maunya bedakan soalnya antara sekolah standar dengan non
standar,sekolah kota dengan sekolah desa.Kalau sekolah standar nasional
dipertandingkan dengan sekolah non standar,sekolah kota dipertandingkan dengan
sekolah desa sudah pasti sekolah desa yang tertinggal,tapi gilanya,justru
sekolah desa yang menang dalam ujian nasional,siswanya bisa lulus 100
persen,padahal kalau dilihat dari fasilitas dan tenaga pendidiknya jauh
tertinggal”,Ungkap Pak Anwar.
“Gilanya lagi Pak”,tambah Pak
Anwar,”justru siswa yang kesehariannya tertinggal meraih nilai tertinggi dalam
ujian nasional”.”Kita sekarang tidak perlu melihat kenyataan di
lapangan,melainkan melihat apakah pelaksanaan ujian nasional sebagai sebuah
proyek nasional bisa terlaksana dengan sukses,termasuk di sekolah kita ini,kita
diberi tanggung jawab untuk mensukseskan pelaksanaan ujian nasional dan yang
terpenting adalah bagaimana supaya siswa kita lulus 100 persen,karena bila
banyak siswa kita yang tidak lulus maka yang dianggap gagal adalah kepala
sekolah,dan juga masyarakat akan ragu menyekolahkan anaknya di sekolah
kita,jadi bagaimanapun caranya,siswa kita harus lulus 100 persen”.
“Seperti biasa Pak kita adakan
les sore bagi siswa kelas IX untuk mata pelajaran yang diujian nasionalkan dan
tentunya disediakan Buku Bimbingan Menghadapi Ujian Nasional seperti tahun
lalu”,usul Pak Kasim,guru Bahasa Indonesia.”Tidak perlu les Pak,karena siswa
banyak yang bolos bahkan ada siswa yang tidak pernah ikut les lulus juga.Hal
ini tentu berpengaruh pada siswa sekarang,karena mereka sudah tahu bahwa siswa
yang bolos,nakal atau tidak ikut les bisa lulus”.Ungkap Pak Asis,guru Bahasa
Inggeris.Pak Amir,guru IPA diam saja.Dia tinggal menunggu keputusan rapat.Jadi atau
tidak jadi ujian nasional tidak menjadi masalah bagi Pak Amir yang penting dia
sudah memperoleh tunjangan sertifikasi guru.Begitupun guru lainnya no
comment,karena mereka tidak memiliki beban terhadap mata pelajaran yang
diajarkannya.Pak Budi,guru PKN juga no commen walau dalam hatinya tidak setuju
dengan sistem ujian nasional yang menentukan kelulusan siswa,karena sejak ujian
nasional digelar dengan hanya empat mata pelajaran yang diujikan,maka perhatian
siswa terhadapan mata pelajaran non UN berkurang,sikap sikap semakin sulit
dikendalikan,bahkan siswa yang berpacaran sudah berani berciuman di lingkungan
sekolah,karena menganggap guru PKN atau guru Pendidikan Agama tidak bisa lagi
berbuat apa-apa,beda dengan dulu keduanya bisa ikut menentukan ketidaklulusan
bilamana moral siswa tidak mencapai standar.
Menjelang pelaksanaan ujian
nasional,pihak sekolah mengadakan sosialisasi dengan orang tua siswa.Kepada
mereka disampaikan aturan ujian nasional dan diharapkan agar mendorong anaknya
untuk belajar baik-baik terutama mata pelajaran IPA,Matematika,Bahasa Inggeris
dan Bahasa Indonesia.”Pak,dari hati saya sangat mempercayakan guru-guru
disekolah ini untuk membimbing anak saya agar bisa lulus ujian nasional,bagaimana
saya bisa mendorong anak saya belajar kalau anak saya jarang tinggal di
rumah,lagi pula susah diatur”,ungkap salah seorang orang tua siswa.”Kita yang
ngatur saja Pak,saya tidak berjanji tapi kalau anak saya lulus,saya akan
memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih saya kepada guru-guru di sekolah
ini”,tambah yang lainnya.”Pengalaman yang lalu,sekolah ini mampu meluluskan
seluruh siswanya,maka insya Allah ujian tahun ini seluruh siswa sekolah ini
akan lulus”,sambung yang lainnya,yang disambut “amiiin” oleh hadirin
lainnya.”Tahun lalu beda sekarang,kalau tahun lalu hanya 4 paket,sedangkan
sekarang 20 paket”,balas Kepala Sekolah.”Tapi guru itu pemikir,pasti memiliki
banyak cara untuk meluluskan siswanya,kalau banyak siswa yang tidak lulus di
sekolah,tentu yang malu adalah gurunya juga”,balas hadirin yang duduk paling
depan.
Kepala sekolah dan wakil yang
mendampinginya menggeleng-geleng kepala mendengar ungkapan-ungkapan orang tua
siswa yang seakan-seakan tidak tahu aturan ujian nasional,yang ditahunya bahwa
anak-anaknya harus lulus seperti tahun-tahun sebelumnya.”Kalau bisa saya
usulkan,kita adakan di sekolah ini zikir dan barzanji bersama agar anak-kita
bisa lulus”,usul seorang hadirin yang memakai peci putih,”Betul sekali Pak
Imam,kita adakan zikir dan barzanji”,ujar seorang lainnya.”Apa hubungannya Pak
menggelar acara barzanji dengan ujian nasional,bukankah barzanji itu adalah
pembacaan sejarah Nabi sedangkan ujian nasional adalah menguji hasil belajar
siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan disekolah”,tanya guru PKN yang tidak
setuju bila ujian nasional dihadapi dengan menggelar barzanji.”Barzanji itu
mendatangkan berkah maka sangat cocok dilakukan agar seluruh siswa kita
mendapat berkah dan lulus dalam ujian nanti”,jawab Pak Imam.Kepala sekolahpun
lalu mempertimbangkan usulan hadirin yang dipanggil Pak Iman.”Betul sekali
usulan Bapak,oleh karena itu kita putuskan untuk mengadakan zikir dan barzanji
bersama antara orang tua,guru,staf TU dan siswa calon peserta ujian
nasional,masing-masing orang tua membawa ala kadarnya,seperti onde-onde,pisang
atau kue lainnya”,kata Kepala Sekolah.”Bisa mengundang dukun,Pak Kepala ?”,usul
seorang hadirin yang duduk paling belakang.”Barangkali tidak perlu meminta
bantuan dukun,kita percayakan saja pada Allah yang menentukan
segala-galanya,lagipula kalau mengundang dukun pasti mengeluarkan biaya,mana
ada dukun yang gratis.”jawab Kepala Sekolah.”Lagi pula dukun itu tidak bisa
merubah ketetapan Allah,hanya main untung-untungan”,tambah Pak Budi.
Ujian nasional berlangsung
dengan lancar dan sukses.Seluruh siswa merasa puas karena bisa menjawab seluruh
soal ujian yang diajukan pemerintah.Basri yang tidak pernah ikut lespun tidak
mengalami kendala dalam ujian.Kepuasan dan kegembiraan memuncak ketika siswa
membuka amplop pengumuman yang dibagikan kepala sekolah. ”Alhamdulillah,tahun
ini sekolah kita erhasil lulus 100 persen,dan kita patut berbangga karena
sekolah kita berhasil masuk tiga besar peroleh nilai ujian nasional tingkat
provinsi”,ungkap Kepsek saat mengucapkan kata perpisahan kepada
siswanya.Setelah itu seluruh siswa berhamburan ke jalan raya mewarnai baju dan
rambut lalu mengadakan pawai di jalan raya.Para pengguna jalan lainnya hanya
bisa menggeleng-geleng kepala menyaksikan generasi muda yang belum mengenal
bahaya ngebut.Mereka bangga karena berhasil lulus dalam ujian nasional dengan
standar nasional.(Palajau,Pebruari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar