Sebelum aku
mengenal hikmah penyakit,aku merasa tersiksa dan memandang penyakit itu sebagai
musuh yang datang merusak kebahagiaanku,yang merampas kemerdekaanku atau yang
menghalangi karierku. Namun,kini kurasakan tidaklah demikian, setelah kutemukan
hikmah bahwa sesungguhnya penyakit yang sudah lebih sepuluh tahun setia
menemani hidupku itu adalah tamu yang agung.Seorang sahabat yang datang membawa
anugerah Allah yang demikian besar.Yang akan membebaskan kita dari penjara alam
kubur dan kobaran api neraka.Memang dalam pandangan dunia bahwa orang yang diberi
penyakit adalah orang yang dibenci atau disiksa Allah,akan tetapi dalam
pandangan akhirat,kita akan mengatakan bahwa begitulah cara Allah menyayangi
hamba-Nya,namun hamba tidak menyadarinya.Kadang penyakit membuat hidup kita
menjadi terpuruk dan kalau kita tidak waspada bisa membuat kita putus
asa,seperti yang dialami tetanggaku yang baru sebulan sakit sudah mencoba
mengakhiri penyakitnya dengan meneguk racun,untung masih bisa ditolong.
Penyakit telah
membuka mata hatiku,sehingga kubisa melihat kegelapan jalan hidupku,bisa kubaca
noda-noda dosa yang telah kulakukan,bisa kusadari betapa aku telah menjadi
hamba setan yang setia pada amalan-amalan sesat yang kupandang baik.Penyakit
telah membawaku ke sebuah azab kecil.Walau kecil,namun cukup memberi pelajaran
bagiku dan membuat hatiku selalu bergetar setiap kali mengingatnya.”Azab kecil
saja di muka bumi ini kutaksanggup menahannya apalagi azab Allah yang demikian
dahsyat di alam kubur atau di neraka.Sepuluh hari saja terbaring di rumah sakit
kutak sanggup menahannya,apalagi bila sakit sehari di akhirat yang kadarnya
seribu tahun di dunia,ya ampun lebih lagi kalau dipanggang di atas kobaran api
neraka,auzubillahi minannar”,batinku.
Penyakit telah
membuka hatiku,sehingga nampak dengan jelas bahwa betapa setan telah menipuku
dengan amalan-amalan sesat.Ya sesat,karena amalan yang kuanggap benar itu
ternyata berada di atas jalan yang buntu.Bukannya akan menyelamatkanku di atas
titiap siratal musqakim,tetapi justru menjerumuskanku ke dalam jahannam.Masa
laluku kuhabiskan dengan kesyirikan karena mengikuti ajaran orang yang kukira
kekaksih Allah yang diberinya rahmat dan petunjuk,namun ternyata utusan Iblis
untuk menyesatkan manusia.Kebodohan membuat aku larut mempercayai dan
memuja-muja berbagai macam berhala yang diwariskan nenek
moyangku.Kupersembahkan penghormatan sesajian buat roh-roh yang aku sendiri
tidak mengenal keberadaannya,kecuali kukenal namanya,”Patanna Butta,Patanna
jeknek,patanna pangngadakkan,patanna anrong pare, dan nama-nama lainnya”,dengan
harapan mendapat berkah atau agar aman dari gangguannya.Kuamalkan ajaran-ajaran
tarekat yang bertentangan dengan syariat Islam,kupakai jimak atau jampi-jampi
perlindungan atau kekebalan dan lainnya yang bersekutu dengan setan-setan dari
bangsa jin.Diperparah lagi dengan keluar- masuk rumah dukun mencari kesembuhan
yang membuat semakin sempurnalah penyakitku,karena bukan saja fisikku yang
sakit tetapi juga imanku yang jauh lebih parah.
Jalan hidupku
penuh liku dan bebatuan yang menguji kesabaran untuk sampai ketujuan
Dukun yang
membuatku semakin dekat pada kesyirikan.Dukun yang mengajariku melakukan
pendekatan dengan roh-roh kuburan atau tempat keramat demi meraih kesembuhan.Dukun telah
menjauhkanku dari jalan Allah,padahal aku selalu berharap agar senantiasa
berada di jalan Allah.Tapi mustahil kubisa melihat jalan Allah karena hatiku
telah gelap karena tertutup oleh kesyirikan.Hatiku telah dikuasai oleh Iblis
dan pasukannya.
“Ya Allah,
biarlah aku tersiksa di dunia,asal Engkau membebaskanku dari siksaan
akhirat”,doakan kala berbaring di rumah sakit dan para dokter berkeputusan
untuk menghentikan pengobatan atas diriku.”Maaf Pak,penyakit Bapak secara medis
tidak bisa didetensi,belum ada alat di Indonesia yang bisa
mendeteksinya,begitpun obatnya.Jadi kita serahkan saja pada Allah,dekatkanlah
diri kepada Allah karena Allah yang menentukan segala-galanya.Allahlah yang
menurunkan penyakit,Allah pulalah yang berkuasa menyembuhkannya”,kata Dr Ida,spesialis
syaraf yang menanganiku di rumah sakit.
Tahun 2007
adalah tahun yang amat bersejarah dalam hidupku.Ya sangat bersejarah di antara
hari bersejarah lainnya.Bukan karena aku dilantik menjadi pejabat eselon II dan
bukan pula karena mendadak sembuh.Suatu hari di tahun 2007 secara tak sengaja
bertemu dengan seorang uztad yang sedang memegang majalah “Al
Furqan”,iseng-iseng kuminta dan kubaca lembaran demi lembaran.”Ya Allah”
mengapa hatiku bergetar saat kubaca sebuah artikel yang mengupas dosa-dosa
laluku.”Benarkah setan telah menjadi raja dalam hatiku ?”,batinku.Kucoba
mempraktekkan beberapa petunjuk dalam majalah itu.”Ya Allah,apa yang terjadi
pada diriku,mengapa tubuhku jadi bergetar dan terguncang saat kuberzikir
dikeheningan malam,benarkah Engkau berada di dekatku ?”.Zikir kurasa telah
membuat raja yang selama ini berkuasa dalam hatiku terguncang dan akhirnya tak
kuasa lagi mempertahankan kekuasaannya.Hatiku mulai terbuka,mulai bisa melihat
kebenaran,melihat jalan yang dibentangkan Allah untuk hamba-Nya.
Hatiku semakin
terang dengan zikir dan bacaan Al Quran.Kubaca,kupahami dan kuberusaha
mengamalkan ajaran-ajaran Allah dalam kitab-Nya.Kusibukkan diri membeli dan
membaca hadis-hadis,buku-buku agama Islam,terutama karangan orang-orang saleh
Arab.Sampai akhirnya semakin jelaslah antara yang putih dengan yang hitam,yang
lurus dengan bengkok,yang sunnah dengan yang bid’ah.Semakin kuatlah keyakinanku
untuk meninggalkan kepercayaan dan amalan tradisi nenek moyang yang dijamin
oleh Allah kesesatannya dalam Quran Surat Al Baqarah ayat 140,Al Maaidah 104
dan Luqman:21.Kubuang jauh-jauh kepercayaan dan amalan yang dulu telah
membuatku takut,ternyata Allah telah menyatakan bahwa apa yang dikatakan orang
sebagai patanna butta,patanna pangngadakkan dan sebagainya hanyalah nama yang
orang-orang tua dulu menamainya,Allah tidak pernah menurunkan keterangan
tentang semua itu,dan Allah akan membalas segala bentuk persekutuan
terhadap-Nya.
Kedekatanku pada
Allah dan rasul-Nya melalui Al Quran dan Sunnah Rasul,membuatku menjadi berani
menentang ajaran-ajaran setan,kuberani membuang benda-benda yang dulu aku
agung-agungkan.Allahlah yang mengajariku berani.Dia telah menyatakan akan
selalu bersamaku dalam kebenaran dan ketakwaan.Allah dan Rasul-Nya yang
membuatku bisa tersenyum kala penyakit datang lagi menyerangku,karena pada saat
itu Allah datang menghiburku dengan menyuruhku bersabar.”Berilah kabar gembira
bagi orang-orang yang sabar”.
“Untung Allah
tidak mencabut nyawaku dikala dekat dengan kesyirikan,kalau itu terjadi maka
neraka pastilah menjadi tempatku”,ungkapku pada istri yang setia menemanku,yang
setia menghiburku.Istriku adalah orang pertama mendukungku untuk mengikuti
jalan Allah yang lurus namun begitu berat untuk melewatinya.”Kamulah
pemimpinku,maka ke manapun kamu membawaku akupun mengikutinya”,ungkapnya.
Sejak hatiku
bisa melihat kebenaran dan kuyakin bahwa kebenaran yang terkandung dalam Al
Quran dan Sunnah Rasul adalah kebenaran sejati sebagai jalan yang lurus menuju
kepada negeriku yang abadi maka kuambil keputusan untuk menjadikannya sebagai
jalan hidupku di muka bumi ini.Kuterasa menemukan kembali jalan hidupku dan
kumulai belajar merubah pola hidup sesuai dengan petunjuk Allah dan
Rasul-Nya.Tiada lagi yang kuibadahi selain Allah,dan ibadah yang kulakukan itu
adalah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Kubelajar meninggalkan
kepercayaan dan amalan-amalan yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Amalan
yang kulakukan berarti itu yang disyariatkan dan amalan yang kutingglkan atau
yang tidak kulakukan berarti itu yang tidak disyariatkan sekalipun sebagian
besar umat Islam melakukannya.Prinsipku sekarang adalah kulakukan yang benar
dan kutinggalkan yang batil serta tidak akan mencampuradukkannya.
Dalam
ketiadadayaan kujalani sisa-sisa hidup yang dijatahkan Allah di muka bumi
ini,ku belajar terbang di atas jalan-Nya dengan dua sayap,yaitu Al Quran dan
Hadis sekalipun orang-orang sekampung atau keluargaku menganggapku asing atau
aneh,kuberjalan dengan segenap syariat-Nya sesuai dengan kemampuanku.Allah Maha
Penyayang.Allah tidak membebani seorang hamba kecuali yang disyariatkan
kepadanya dan tidak membebaninya syariat kecuali sesuai dengan kesanggupannya.
Yang sanggup menjalankan syariat maka jalankan sebagaimana mestinya dan bagi
yang tidak sanggup maka pakailah kemudahan yang diberikan Allah.
Wahai saudaraku
yang seujian dengan penyakit atau yang lemah,janganlah bersedih.Kesabaran
adalah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba-Nya.Bersabarlah dan tetaplah
mengikuti aturan Allah. Islam itu muda,maka janganlah diberatkan.Allah saja
tidak meropotkan dirimu maka janganlah merepotkan diri sendiri.Marilah kita
bersama berjalan di atas jalan Allah bersama dengan Allah dan Rasul-Nya.Ingat,
Allah selalu bersama dengan orang-orang yang benar,dengan orang yang bertakwa,dengan
orang-orang yang bersabar dan selalu dekat dengan orang-orang yang berbuat
kebajikan.(Palajau,2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar