Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen Sertifikasi Di Negeri Impian



Hari ini matahari nampak lebih ramah dari biasanya.Pancaran senyumnya memberi semangat bagi melata-melata untuk mengais rezki yang telah Pencipta hamparkan di atas bumi ini.Kulangkahkan kakiku menuju taman depan  rumahku,kusapa satu persatu kembang-kembang yang berjejer rapi dan indah dengan aneka warna dan bau.Merekapun tersenyum kepadaku,di antaranya ada yang melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat datang padaku.Burung-burung nampak gembira menyambut datangnya hari ini  yang menggantikan hari kemarin.Mereka menari-nari sambil berkejaran dari ranting ke ranting dalam naungan pancaran senyuman raja siang. Merekapun bernyanyi-nyanyi,saling menyapa satu sama lain termasuk menyapaku yang dari tadi memperhatikan tingkahnya.Mereka semua seakan-akan tahu bahwa hari ini adalah hari yang penuh dengan harapan,yang lebih baik daripada hari yang telah berlalu.

Hari ini,impianku dan juga impian keluargaku telah terwujud.Kuterima sertifikasi tanpa harus bersusah payah mondar-mandir  mengurusnya.Hari ini,uang banyak yang dulu dalam  impianku kini telah memenuhi kas keluargaku, Sekali-kali kulirik istriku,dia nampak senyum-senyum seribu arti,nampak bintang-bintang berkerlap kerlip di matanya mengandung seribu makna.Dia lalu mengegeserkan dirinya mendekatiku.Bi,enak ya kalau sudah sertifikasi,gaji melimpah rua”,puji istriku.”Enak sih enak,tapi dibalik itu aku terbebani tanggung jawab yang melimpah rua pula”sambungku.”Mengapa mesti terbebani ?”, tanyanya.”Mi,gaji yang dulu saja adalah amanah yang belum tentu sudah bisa kupetanggung jawabkan,apalagi gaji yang sekarang”, jawabku.”Santai saja,Bi !”katanya.”Bagaimana kubisa santai kalau hari pertanggung jawaban sudah menungguku di negeri akhirat.Tanggung jawab terhadap pemerintah mungkin tidak ada masalah,tetapi terhadap Allah ?,kalau satu persatu gaji pertanyakan,kala bolos kita dipertanyakan ?, sudah sebandingkah pengabdianku dengan gaji yang  begitu besar ?,sudah kulaksanakankah semua tugasku sebagai guru ?,mulai dari membuat RPP, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi,memberi remedial dan pengayaan,membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler,melaksankan tugas tertentu yang diberikan kepala sekolah,melakukan kegiatan pengembangan profesi.Kalau di antara itu yang aku tidak lakukan maka seimbangkah gajiku ?” uraiku.”Kan nanti di sana baru ditau Bi !”seru istriku.”Makanya di dunia ini kita harus mempertanggugjawabkan memang gaji itu sebelum Allah meminta kita mempertanggungjawabkannya”.sanggahku.
Hari ini,waktu terus berjalan,matahari pun terus meranjak meninggalkan kaki langit. ”Bi, setibanya kita di Makassar,kita ke trans dulu,lalu pergi ke mall,kemudian ke show mobil” usul istriku yang udah berusaha mengalihkan pembiracaan.”Iya deh,kamu saja yang ngatur,kamu kan menteri keuangan di rumah ini !”jawabku.”Jangan lupa Ummi belikan saya Mio”,Pinta Dirga,putera
bungsuku  yang berseru di dalam kamarnya.Dirga sudah lama mengimpikan Mio,gengsi katanya kalo cuma pake sepeda ke sekolah,ndak ada cewek yang ngelirik katanya.”Kalo saya,mau beli komputer saja,supaya bisa kupake belajar”,pinta Ulis,anak sulungku.Dirga memang sedikit berbeda dengan Ulis.Dirga sedikit lebih gaul dan lebih matre dari pada Ulis.Dirga yang masih kelah IV SD memiliki pemikiran yang lebih luas dan lebih dewasa daripada Ulis.Tetapi Ulis sedikit lebih memahami agama Islam daripada Dirga.Ulis sudah mengerti mana amalan sunnah yang bisa dilakukan dan mana amalan bid’ah yang harus ditinggalkan.Ulis lebih cepat bangun daripada dirga.Sebelum pukul lima subuh,Ulis sudah berteriak-teriak di majid memanggil warga untuk shalat subuh berjamaah.Ulis sudah mengerti ajaran uztadnya bahwa shalat subuh tepat pada waktunya sangat disukai Allah dan disaksikan oleh malaikat.Ulis selalu ingat gurunya bahwa shalat berjamah jauh lebih mulia daripada shalat sendirian di rumah.Namun,kadang kadang Ulis mengeluh sepulang shalat subuh,karena jamaah subuhnya tidak pernah bertambah,Cuma kepala desa dan seorang kakek.”Capek-capekki bang,tapi duaji yang datang”keluhnya.”Sabarki nak,kalo Allah sudah membuka hati mereka,maka nanti jemaahmu akan semakin banyak.”Semua permintaan anak-anakku hari akan dikabulkan” ucapku.”Horeee...!!!” seru mereka.
Hari ini,waktu terus berjalan,detik berganti menit dan menit berganti jam.Waktu terus berputar seiring putaran roda avansa yang kutumpangi.Mobil rental ini berlaju kencang membawaku bersama keluarga menuju Makassar,ke tempat menghabiskan uang sertifikasi.Bagaimana sih rasanya uang sertifikasi itu ?,batinku.”Beliki mobil keluaran terbaru,iya      Bi ?” pinta istriku yang berada di belakangku. ”segalanya kuserahkan pada Ummi yang tersayang “ jawabku singkat karena udah bosan mendengar permintaan-permintaannya.
Tak terasa mobil telah terparkir di kawasan Tanjung Bunga.Tanpa komando,istri dan anak-
anakku turun,tak mau letinggalan juga anak bungsuku yang sedang dikandung oleh istriku.Kami langusng memasuki area game,lalu ke area kehidupan,karena perut-perut udah dari tadi mendesak pinta diisi.Setelah puas kami menuju show mobil.Tanpa proses yang berliku,kami  membawa keluar sebuah mobil sesuai selera istriku,yaitu yang dikendalikan oleh remote control,kami tinggal menekan tombol kecepatan,  alamat rumah yang kami tujuh,setelah itu kami boleh tiduran di atas mobil,belok kiri dan kanannya sudah diserahkan kepada remote.Mobil telah  berlalu menuju Jeneponto.satu persatu mobil kulewati dan satu persatu kampung kelewati akhirnya kami memasuki batas kota.
Hari ini waktu terus berjalan,mobilpun terus berlaju,teruuus berlaju,kian detik kian kencang,teruuuus... Bruuuukkk !!!.Terasa tubuhku tertindi benda yang berat.Kupandang istriku,diapun kulihat tertindi benda yang besar,tak ada orang yang melihat kami, yang bisa melepaskanku dari benda yang menindi kami.”Ummi...!,Ummi...!”kucoba kupanggil istriku,namun sehurufpun tak bisa terucap darinya.nampaknya istriku tidak sadarkan diri atau jangan jangan...,ah aku tidak boleh berpikiran buruk,istriku pasti tidak apa-apa.”Toloong, Tolooooonng, Tolooooonnng !”. ”Bi,Abi,kenaki Abi?”.Kudengar suara istriku sedang membangunkanku.Barulah kusadar bahwa aku sedang bermimpi.”Alhamdulllah,aku cuma bermimpi” ujarku.”Mimpi apaki,naki berteriak-teriak minta tolong” tanyanya.”Bermimpika bersamaki dari Makassar beli mobil,terus dalam perjalanan mobil menabrak pohon besar,dan pohon besarnya jatuh menimpa kita berdua,tidak ada orang yang melihat kita,padahal kamu sudah ....”.”Sudah apa Bi ?” tanya istriku yang penasaran karena ceritaku terputus.”Tidak apa-apa,tapi seandainya mimpi itu menjadi kenyataan ?”.”Apa Bi,memimpikan saya telah mati,dan itu yang Abi harapkan ?”ujar istriku sedikit panas.”Maksudku seandainya sertifikasi itu sudah menjadi kenyataan,kita bisa membeli rumah baru...,mobil baru...,atau gelar baru...,pokoknya semua serba
baru”jawabku.”Mau istri baru juga ?”tanya istriku melampaui pikranku.”Kalo itu sih tidak,itu kan urusan Allah.Allahlah yang telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia,baik ajal,rezki,amal perbuatan,maupun nasib termasuk pula jodoh,biar kita menghendaki sesuatu tetapi Allah tidak menghendakinya,itu tidak bakal terjadi,sebaliknya kita tidak menghendaki sesuatu tetapi Allah menghendakinya maka sesuatu itu pasti terjadi” ungkapku.
“Abi,kita bermimpi seperti itu karena sudah dua kali dipanggil untuk mengikuti proses sertifikasi,namun kondisi fisik Abi yang tidak mengizinkan,jadi bersabar saja,Bi.Allah lebih tahu apa yang terbaik buat Abi,buat keluarga kita,mau diapai pale kalau Abi tidak mau memaksakan diri mengikuti diklat”,ungkap istriku yang berusaha menasehatiku”Bukankah Abi selalu bilang padaku untuk selalu bersabar menerima ketetapan Allah ?.Bukankah Allah bersama dengan orang-orang yang sabar ?. Bukankah Allah telah berjanji akan memberi  keselamatan,rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang bersabar ?” tambahnya.Betul juga kata istriku,aku harus bersabar dan mengambil hikmah dibalik pemberian Allah.Allah telah menjamin rezki manusia,rezkiku,rezki istriku dan rezki anak-anakku.Rezki mereka bukan berada di tanganku tetapi di tangan Allah.ya,bersabar itulah yang terbaik bagiku.Bersabar menjalani yang sedang terjadi dan bersabar menunggu apa ketetapan Allah selanjutnya.Manusia tidak menghindari dari apa yang telah ditetapkan Allah baginya dan tidak bisa pula mendatangkan sesuatu yang tidak ditetapkan Allah.
Aku juga orang normal seperti guru-guru lainnya mengimpikan sertifikasi,kadang terlintas rasa iri bila teman-teman ayik ria ngobrol masalah uang sertifikasi,atau sibuk mengumpulkan berkas-berkas sertifikasi,tapi aku cepat ingat pesan Allah bahwa kita tidak boleh iri atas kenikmatan yang diperoleh orang lain yang melebihi dari kita.Aku juga masih normal yang mengimpikan sehat kembali seperti guru-guru lain,makanya aku juga selalu berusaha
namun tak seorangpun manusia dan makhluk Allah lainnya yang sanggup mendatangkan kesembuahan selain yang telah ditetapkan Allah,tidak juga dengan dukun.Dulu,aku mondar-mandir keluar masuk rumah dukun,seperti burung yang terbang dari pohon ke pohon.Namun,aku berhenti mendatangi dukun karena takut pada ancaman Nabiku SAW.Beliau mengancam umatnya bahwa barangsiapa yang mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari (HR.Muslim)dan ancaman lainnya.Allahlah yang mengetahui perkara gaib yang ada di langit dan di bumi.
Waktu terus berjalan,pancaran senyum mentari telah memasuki kamarku melalui jendela yang telah kubuka selimutnya.Jam dinding pun telah menunjutkan pukul enam lewat,ya waktunya aku harus meninggalkan rumah menuju ke ladang rezki,area pengabdian.Aku harus sadar bahwa kini aku berada di negeri nyata bukan di negeri impian.Hidup di alam nyata jauh lebih idah dan lebih bahagian daripada hidup di negeri impian. Salam buat guru-guru PKN SMP Kabupaten Jeneponto,selamat bertugas. (Palajau,Juni 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar