Hari pahlawan di bulan Nopember mengingatkanku pada kuburan yang berderet di Taman Makam Pahlawan Tolo,yang di dalamnya terkubur tulang belulang para pejuang sejati yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di atas bukit Karampuang.Bukit Karampuang yang terletak antara Desa Samataring dan Desa Allu Tarowang dijadikan sebagai pertahanan para pemuda Tolo dalam menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah bangsa Indonesia.Merekalah saksi utama siapa rakyat Indonesia sekarang,termasuk yang hidup di bumi Turatea ini yang pantas menerima gaji veteran dan siapa yang cuma mengandalkan kebohongan menipu Negara dengan menjadi veteran siluman,yang menerima gaji veteran padahal tidak ikut dalam perjuangan karena masih bayi atau karena belum lahir saat perang kemerdekaan terjadi.
Malam itu,enam
puluh tujuh tahun yang lalu di sebuah rumah di Tolotoa,hiduplah sebuah
keluarga. Langke sebagai kepala keluarga memiliki istri yang bernama Manriana
dan tiga orang anak,yaitu Tangke’,Saniga dan Hamang.”Teamako angngarruki,appiso’na
mamako mange Ri Karaeng Allah Taala,Ka Iyaji antaggalaki tallasaka siagan
matea”,ungkap Langke pada istri dan anak-anaknya. Sebenarnya,Manriana merelakan
kepergian suaminya ke Bukit Karampuang malam itu demi kemerdekaan anak dan
cucu-cucunya kelak,cuma Manriana yang sangat mencintai suaminya khawatir jangan
sampai malam itu adalah malam yang terakhir dalam kehidupan rumah tangganya. Namun,Manriana
tidak mau mengungkapkan kekhawatirannya pada suaminya karena takut semangat
juang suaminya akan surut dan menjadi pengecuk yang nantinya akan ikut-ikutan
mengaku-ngaku sebagai pejuang demi mendapatkan gaji veteran.
Sebagaimana hasil keputusan bahwa Pasukan
pemuda dan rakyat yang dipimpin oleh Lumang Panawang harus berangkat malam itu
menuju Bukit Karampuang.Segala persiapan telah dilakukan,masing-masing pasukan
membawa senjata,ada yang membawa keris,badik, pedang, tombak, bambu runcing dan
hanya beberapa orang yang membawa senjata api sejenis senapan.Dan yang menarik
dari pasukan yang berangkat malam itu adalah sebatang merian yang terbuat dari
bambu petung dengan bahan peledaknya minyak tanah diusung oleh Kadera.
Sebelum menuju ke
Bukit Karampuang,pasukan terlebih dahulu berkumpul di Sapaloe untuk dilakukan
koordinasi dan pemantapan.”Anne siri’ lani paenteng,punna nibetaki ma’nassa
naallei ammoterek siritta Balandayya, erok ngasek kijako naparenta Balandayya
?”,ujar Lumang dengan semangat berapi-api.Pasukanpun serentak menjawab “tidak
…!!!!.”Ikatte ngaseng minne burakne tojeng-tojengna Turatea,Macanna Tolo,barambang
bête-betea,tonasa batang jambua, tama lari ri pakbundukan, tama malla’ manna
mate ridallekanna, maradekaaa !!!”, sambung Lumang,”Maradekaaaa!!!”,balas
pasukan serentak.”Teako niakki coba-coba lari ripakbundukan, kusamballeko kalengkengko
sipammanakang”,ancam Lumang menjaga pasukannya.
Setelah
dilakukan koordinasi maka pasukanpun bergerak dari Sapaloe menuju Samataring
dengan berjalan kaki menyeberangi sungai.Pasukan berangkat secara rahasia,menjaga
diri dari kemungkinan ada mata-mata musuh.Setelah di Samataring maka
perjalananpun dilanjutkan ke Bukit Karampung.Para pasukan berjalan selama
kurang lebih tiga jam untuk sampai ke Bukit Karangpuang.Di samping bukit
Kerampung terdapat jalan setapak yang menghubungkan Samataring dengan Allu
Tarowang.Jalan inilah yang akan dilewati nanti oleh Pasukan Belanda menuju
perkampungan pemuda dan rakyat Tolo.
Setelah istrahat
sejenak di Bukit Karampuang,raja siangpun bangun dari peraduannya lalu menyapa
satu persatu pasukan yang siap menyerahkan jiwa dan raganya demi keharuman ibu
pertiwi.Raja siang dengan senyum khasnya memberi semangat kepada para pasukan
dan seakan-akan mengatakan kepada di antara mereka bahwa sekarang adalah hari
terakhirmu.Setelah matahari setinggi tombak,maka pasukan yang bertugas di
bagian komsumsi melaksanakan tugasnya,ada yang memasak nasi dan yang lainnya
memasak lauk dari kuda yang disembeli di atas bukit.Setelah komsumsi siap,maka
seluruh pasukan dipersilahkan memompa tenaga dengan menikmati makanan yang ada
dengan piring dari batok kelapa dan gelas adr bambu.
Mentaripun terus
naik, dan terus naik sampai para pasukan telah merasakan hawa panasnya. ”Lapor,
Karaenng, Sorodaduna Balandayya niakmi akjappa mae !”,ujar Baso yang ditugasi sebagai
pengintai pasukan musuh. ”Punna kammajo saniasa ngasengmako !!!”,perintah
Lumang.Para pasukanpun bergegas mempersiapkan senjatanya menuju ke arah Timur
bukit, ke arah datangnya pasukan Belanda,berbagai perasaan berkecamuk di dada
pemuda Tolo.”Palappoki Bumbunga !!!”,teriak Lumang memerintahkan pasukan untuk
melepaskan merian bambu.”Buuuunggg !!!”,bunyi letusan dan kilatan apipun keluar
dari lubang bambu petung.”Duluki batuuuuu!!!”,teriak Lumang memerintahkan
pasukan untuk menyerang musuh yang sudah berusaha mendekati bukit dengan batu
besar.”Palappo kijai !!!”,pasukanpun menyalakan koret di mulut bambu yang telah
di isi minyak tanah.Melihat kedua serangan ini nampak pasukan Belanda bersama
mata-matanya mundur.
“Teaki
mallakki,Tuan,teai marian anjo,buloji Tuan !”,ujar Kammisi,seorang pimpinan
mata-mata Belanda.”Apa ?,itu cuma bambo ?,goodvordommes (kurang ajar) !”,ujar
Kapten Vendor,pimpinan pasukan Belanda. ”Betul Tuan,lewat sana Tuan !”,ujar Kammisi
sambil menunjutkan jalan buat pasukan Belanda. Kammisi adalah seorang bangsa Indonesia yang
menghianati bangsanya sendiri.Mata-mata itupun lalu menunjutkan jalan yang muda
dan aman.Pasukan Belandapun bergerak ke arah yang ditunjukkan Kammisi.Dan tidak
lama kemudian dari arah utara bukti terdengar tembakan ke arah pasukan Tolo di
Bukit Karampuang.Nampaknya Pasukan Belanda telah menemukan jalan dan telah
berada di atas bukit bergerak mendekati pasukan pemuda.”Majuko punna baraniko,
inne Lumang Panawang, Macanna Tolo, Barambang bete-betea,tonasa batangjambua,tama
lari ripakbundukan,tama munduruk manna mate ridallekanna”,teriak Lumang yang
menantang pasukan Belanda yang sudah ada di depan mata.”Brunnng !!!,trete..te..tek…tetetek..”,terdengar
bunyi tembakan dan kilatan api dari arah musuh.Lumang terlempar namun bangun
kembali menantang.Beberapa pasukanpun telah terkapar terkena peluru merian dan
senjata lainnya yang dimuntahkan musuh musuh.Bukan merian bambu tetapi merian
betulan.Pasukan pemuda yang bersenjata badik,keris,tombak atau bambu runcing
hanya bisa berusaha menghindari hantaman peluru dari jarak jauh sedangkan
sejatanya membutuhkan jarak yang dekat.
Pasukan Belanda
terus menghujankan peluru ke arah pemuda.Satu peluru berhasil menembus dada
Sang Panglima perang,tubuhnya pun terkapar bersimbah darah memeluk ibu
pertiwi.Melihat kekuatan senjata pasukan musuh dan panglima perang telah
terkapar,pasukan pemudapun menjadi panik.”Allei tallasaknu”,teriak Basunu
mengambil alih pimpinan perang.Pasukanpun kecar-kacir menyelamatkan diri,mundur
untuk berusaha menyusun strategi melawan musuh yang bersenjata modern.Dalam
situasi demikian,musuhpun membabi buta meluapkan nafsunya untuk menghabiskan
pemuda.Namun takdirlah yang berbicara,yang ditakdirkan gugur maka gugurlah dan
yang ditakdirkan selamat maka selamatlah.Allah telah menakdirkan bahwa hari itu
Bukit Karapuang bermandikan darah.Takdirlah yang menentukan bahwa hari itu
adalah hari terakhir bagi Langke dan pasukan lainnya yang gugur.Mentari yang
terbit hari itu adalah mentari terakhir bagi Langke dan kawan-kawannya.Hari
itu,Allah menakdirkan Manriana sebagai seorang janda,sedangkan Tangke,Saniga
dan Hamang menjadi anak yatim.Tangispun meledak di rumah Manriana kala pasukan
pemuda pulang dan Manriana tidak melihat suaminya pulang.”Tettaku
mate,amma”,ucap Tangke’ sambil memeluk ibunya.Merekapun berpelukan lalu
menumpahkan kesedihannya.
Tiga hari kemudian
diadakan pencarian dan evakuasi.Langke ditemukan tersangkut di sebuah ranting
pohon,pejuang lainnya kebanyakan ditemukan di dataran bukit,darahnya telah
kering dan tubuhnya telah membengkak.”Amarah pemuda memuncak, saat melihat
jazad saudara-saudara mereka yang sudah membengkak dalam kondisi mengenaskan. Mereka
bukan hanya marah kepada pasukan Belanda,tetapi juga kepada mata-mata Belanda
itu.”Gara-gara Kammisi naniyak kammayya”,ujar Basunu.”Bunoi Kammisi !!!”,ujar
rombongan.”Dendam membara di dada pemuda yang selamat dari penghianatan
Kammisi.Rencana balas dendampun disusun.Malam setelah penguburan pasukan yang
gugur,pasukan pamudapun bergerak menuju bagian Timur Bumi Turatea,ke kampong
Kammisi.Kammisipun dieksekusi dengan vonis mati.Sebuah peluru menembus dadanya
dari pasukan yang sudah terbakar emosi.Kammisi tewas sebagai penghianat
bangsa,suatu sifat yang tidak patut kita teladani.
Tidak lama
kemudian setelah peristiwa Bukit Karampuang,pemuda dan rakyat Tolopun
bergembira karena telah mendengar kabar bahwa Ratu Belanda,Yuliana, telah
menandatangani Piagam Pengakuan Kedaulatan kepada Bangsa Indonesia pada tanggal
27 Desember 1949.Walau sudah kelihangan suami,namun Manrianapun gembira atas
kemerdekaan penuh bangsa Indonesia berkat kegigihan para pemuda termasuk
suaminya yang menyumbangkan tenaga,jiwa,darah dan raganya.”Assikolako,Nak barek
nupakrupaji erokna tettanu”,ucap Manriana pada anaknya.”Apa erokna tettaku,Amma
?”,Tanya Tangke di samping adik-adiknya.”Sollanna carakdekko,nanu akmatu-matu
mange tau takbalaka siagan ribangsayya,natenamo nanaparentai bangsa
maraenganga”,jawab Manriana sambil mengurai rambut Saniga.
Tangke dan
kawan-kawan kini telah berbaring di Taman Makam Pahlawan Tolo.Cita-citanya
tetap abadi yaitu Bumi Turatea yang merdeka,aman dan sejahtera.Setelah
Indonesia merdeka,apakah Bumi Turatea juga merdeka,atau tetap dijajah oleh para
penghianat yang giat melakukan korupsi dan pungutan liar di instansi-instansi
pemerintahan yang kini semakin marak,atau kita tetap dijajah oleh para pencuri
di malam hari,atau apakah pengorbanan para pahlawan itu akan dimanfaatkan oleh
anak dan cucu-cucunya yang berlomba-lomba mengurus gaji veteran padahal mereka
tidak tahu menahu tentang perjuangan kecuali dengan keterangan dan kesaksian
palsu.Kasihan rakyat yang harus membayar pajak untuk menggaji veteran-veteran
siluman di negeri ini,Negara pun stress memikirkan nasib para penghianat bangsa
yang tertawa-tawa di atas penderitaan bangsa.Doaku untuk para pahlawan.(Sebagaimana
yang dituturkan ayahku,Hamang Dg Nyengka-alm. Tolotoa,2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar