Minggu, 18 Januari 2015

Cerpen MENTARI TERAKHIR DI KARAMPUANG



                            Hari pahlawan di bulan Nopember mengingatkanku  pada kuburan yang berderet di Taman Makam Pahlawan Tolo,yang di dalamnya terkubur tulang belulang para pejuang sejati yang gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di atas bukit Karampuang.Bukit Karampuang yang terletak antara Desa Samataring dan Desa Allu Tarowang dijadikan sebagai pertahanan para pemuda Tolo dalam menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah bangsa Indonesia.Merekalah saksi utama siapa rakyat Indonesia sekarang,termasuk yang hidup di bumi Turatea ini yang pantas menerima gaji veteran dan siapa yang cuma mengandalkan kebohongan menipu Negara dengan menjadi veteran siluman,yang menerima gaji veteran padahal tidak ikut dalam perjuangan karena masih bayi atau karena belum lahir saat perang kemerdekaan terjadi.
Malam itu,enam puluh tujuh tahun yang lalu di sebuah rumah di Tolotoa,hiduplah sebuah keluarga. Langke sebagai kepala keluarga memiliki istri yang bernama Manriana dan tiga orang anak,yaitu Tangke’,Saniga dan Hamang.”Teamako angngarruki,appiso’na mamako mange Ri Karaeng Allah Taala,Ka Iyaji antaggalaki tallasaka siagan matea”,ungkap Langke pada istri dan anak-anaknya. Sebenarnya,Manriana merelakan kepergian suaminya ke Bukit Karampuang malam itu demi kemerdekaan anak dan cucu-cucunya kelak,cuma Manriana yang sangat mencintai suaminya khawatir jangan sampai malam itu adalah malam yang terakhir dalam kehidupan rumah tangganya. Namun,Manriana tidak mau mengungkapkan kekhawatirannya pada suaminya karena takut semangat juang suaminya akan surut dan menjadi pengecuk yang nantinya akan ikut-ikutan mengaku-ngaku sebagai pejuang demi mendapatkan gaji veteran.
 Sebagaimana hasil keputusan bahwa Pasukan pemuda dan rakyat yang dipimpin oleh Lumang Panawang harus berangkat malam itu menuju Bukit Karampuang.Segala persiapan telah dilakukan,masing-masing pasukan membawa senjata,ada yang membawa keris,badik, pedang, tombak, bambu runcing dan hanya beberapa orang yang membawa senjata api sejenis senapan.Dan yang menarik dari pasukan yang berangkat malam itu adalah sebatang merian yang terbuat dari bambu petung dengan bahan peledaknya minyak tanah diusung oleh Kadera.
Sebelum menuju ke Bukit Karampuang,pasukan terlebih dahulu berkumpul di Sapaloe untuk dilakukan koordinasi dan pemantapan.”Anne siri’ lani paenteng,punna nibetaki ma’nassa naallei ammoterek siritta Balandayya, erok ngasek kijako naparenta Balandayya ?”,ujar Lumang dengan semangat berapi-api.Pasukanpun serentak menjawab “tidak …!!!!.”Ikatte ngaseng minne burakne tojeng-tojengna Turatea,Macanna Tolo,barambang bête-betea,tonasa batang jambua, tama lari ri pakbundukan, tama malla’ manna mate ridallekanna, maradekaaa !!!”, sambung Lumang,”Maradekaaaa!!!”,balas pasukan serentak.”Teako niakki coba-coba lari ripakbundukan, kusamballeko kalengkengko sipammanakang”,ancam Lumang menjaga pasukannya.
Setelah dilakukan koordinasi maka pasukanpun bergerak dari Sapaloe menuju Samataring dengan berjalan kaki menyeberangi sungai.Pasukan berangkat secara rahasia,menjaga diri dari kemungkinan ada mata-mata musuh.Setelah di Samataring maka perjalananpun dilanjutkan ke Bukit Karampung.Para pasukan berjalan selama kurang lebih tiga jam untuk sampai ke Bukit Karangpuang.Di samping bukit Kerampung terdapat jalan setapak yang menghubungkan Samataring dengan Allu Tarowang.Jalan inilah yang akan dilewati nanti oleh Pasukan Belanda menuju perkampungan pemuda dan rakyat Tolo.
Setelah istrahat sejenak di Bukit Karampuang,raja siangpun bangun dari peraduannya lalu menyapa satu persatu pasukan yang siap menyerahkan jiwa dan raganya demi keharuman ibu pertiwi.Raja siang dengan senyum khasnya memberi semangat kepada para pasukan dan seakan-akan mengatakan kepada di antara mereka bahwa sekarang adalah hari terakhirmu.Setelah matahari setinggi tombak,maka pasukan yang bertugas di bagian komsumsi melaksanakan tugasnya,ada yang memasak nasi dan yang lainnya memasak lauk dari kuda yang disembeli di atas bukit.Setelah komsumsi siap,maka seluruh pasukan dipersilahkan memompa tenaga dengan menikmati makanan yang ada dengan piring dari batok kelapa dan gelas adr bambu.
Mentaripun terus naik, dan terus naik sampai para pasukan telah merasakan hawa panasnya. ”Lapor, Karaenng, Sorodaduna Balandayya niakmi akjappa mae !”,ujar Baso yang ditugasi sebagai pengintai pasukan musuh. ”Punna kammajo saniasa ngasengmako !!!”,perintah Lumang.Para pasukanpun bergegas mempersiapkan senjatanya menuju ke arah Timur bukit, ke arah datangnya pasukan Belanda,berbagai perasaan berkecamuk di dada pemuda Tolo.”Palappoki Bumbunga !!!”,teriak Lumang memerintahkan pasukan untuk melepaskan merian bambu.”Buuuunggg !!!”,bunyi letusan dan kilatan apipun keluar dari lubang bambu petung.”Duluki batuuuuu!!!”,teriak Lumang memerintahkan pasukan untuk menyerang musuh yang sudah berusaha mendekati bukit dengan batu besar.”Palappo kijai !!!”,pasukanpun menyalakan koret di mulut bambu yang telah di isi minyak tanah.Melihat kedua serangan ini nampak pasukan Belanda bersama mata-matanya mundur.
“Teaki mallakki,Tuan,teai marian anjo,buloji Tuan !”,ujar Kammisi,seorang pimpinan mata-mata Belanda.”Apa ?,itu cuma bambo ?,goodvordommes (kurang ajar) !”,ujar Kapten Vendor,pimpinan pasukan Belanda. ”Betul Tuan,lewat sana Tuan !”,ujar Kammisi sambil menunjutkan jalan buat pasukan Belanda. Kammisi  adalah seorang bangsa Indonesia yang menghianati bangsanya sendiri.Mata-mata itupun lalu menunjutkan jalan yang muda dan aman.Pasukan Belandapun bergerak ke arah yang ditunjukkan Kammisi.Dan tidak lama kemudian dari arah utara bukti terdengar tembakan ke arah pasukan Tolo di Bukit Karampuang.Nampaknya Pasukan Belanda telah menemukan jalan dan telah berada di atas bukit bergerak mendekati pasukan pemuda.”Majuko punna baraniko, inne Lumang Panawang, Macanna Tolo, Barambang bete-betea,tonasa batangjambua,tama lari ripakbundukan,tama munduruk manna mate ridallekanna”,teriak Lumang yang menantang pasukan Belanda yang sudah ada di depan mata.”Brunnng !!!,trete..te..tek…tetetek..”,terdengar bunyi tembakan dan kilatan api dari arah musuh.Lumang terlempar namun bangun kembali menantang.Beberapa pasukanpun telah terkapar terkena peluru merian dan senjata lainnya yang dimuntahkan musuh musuh.Bukan merian bambu tetapi merian betulan.Pasukan pemuda yang bersenjata badik,keris,tombak atau bambu runcing hanya bisa berusaha menghindari hantaman peluru dari jarak jauh sedangkan sejatanya membutuhkan jarak yang dekat.
Pasukan Belanda terus menghujankan peluru ke arah pemuda.Satu peluru berhasil menembus dada Sang Panglima perang,tubuhnya pun terkapar bersimbah darah memeluk ibu pertiwi.Melihat kekuatan senjata pasukan musuh dan panglima perang telah terkapar,pasukan pemudapun menjadi panik.”Allei tallasaknu”,teriak Basunu mengambil alih pimpinan perang.Pasukanpun kecar-kacir menyelamatkan diri,mundur untuk berusaha menyusun strategi melawan musuh yang bersenjata modern.Dalam situasi demikian,musuhpun membabi buta meluapkan nafsunya untuk menghabiskan pemuda.Namun takdirlah yang berbicara,yang ditakdirkan gugur maka gugurlah dan yang ditakdirkan selamat maka selamatlah.Allah telah menakdirkan bahwa hari itu Bukit Karapuang bermandikan darah.Takdirlah yang menentukan bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi Langke dan pasukan lainnya yang gugur.Mentari yang terbit hari itu adalah mentari terakhir bagi Langke dan kawan-kawannya.Hari itu,Allah menakdirkan Manriana sebagai seorang janda,sedangkan Tangke,Saniga dan Hamang menjadi anak yatim.Tangispun meledak di rumah Manriana kala pasukan pemuda pulang dan Manriana tidak melihat suaminya pulang.”Tettaku mate,amma”,ucap Tangke’ sambil memeluk ibunya.Merekapun berpelukan lalu menumpahkan kesedihannya.
Tiga hari kemudian diadakan pencarian dan evakuasi.Langke ditemukan tersangkut di sebuah ranting pohon,pejuang lainnya kebanyakan ditemukan di dataran bukit,darahnya telah kering dan tubuhnya telah membengkak.”Amarah pemuda memuncak, saat melihat jazad saudara-saudara mereka yang sudah membengkak dalam kondisi mengenaskan. Mereka bukan hanya marah kepada pasukan Belanda,tetapi juga kepada mata-mata Belanda itu.”Gara-gara Kammisi naniyak kammayya”,ujar Basunu.”Bunoi Kammisi !!!”,ujar rombongan.”Dendam membara di dada pemuda yang selamat dari penghianatan Kammisi.Rencana balas dendampun disusun.Malam setelah penguburan pasukan yang gugur,pasukan pamudapun bergerak menuju bagian Timur Bumi Turatea,ke kampong Kammisi.Kammisipun dieksekusi dengan vonis mati.Sebuah peluru menembus dadanya dari pasukan yang sudah terbakar emosi.Kammisi tewas sebagai penghianat bangsa,suatu sifat yang tidak patut kita teladani.
Tidak lama kemudian setelah peristiwa Bukit Karampuang,pemuda dan rakyat Tolopun bergembira karena telah mendengar kabar bahwa Ratu Belanda,Yuliana, telah menandatangani Piagam Pengakuan Kedaulatan kepada Bangsa Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.Walau sudah kelihangan suami,namun Manrianapun gembira atas kemerdekaan penuh bangsa Indonesia berkat kegigihan para pemuda termasuk suaminya yang menyumbangkan tenaga,jiwa,darah dan raganya.”Assikolako,Nak barek nupakrupaji erokna tettanu”,ucap Manriana pada anaknya.”Apa erokna tettaku,Amma ?”,Tanya Tangke di samping adik-adiknya.”Sollanna carakdekko,nanu akmatu-matu mange tau takbalaka siagan ribangsayya,natenamo nanaparentai bangsa maraenganga”,jawab Manriana sambil mengurai rambut Saniga.
Tangke dan kawan-kawan kini telah berbaring di Taman Makam Pahlawan Tolo.Cita-citanya tetap abadi yaitu Bumi Turatea yang merdeka,aman dan sejahtera.Setelah Indonesia merdeka,apakah Bumi Turatea juga merdeka,atau tetap dijajah oleh para penghianat yang giat melakukan korupsi dan pungutan liar di instansi-instansi pemerintahan yang kini semakin marak,atau kita tetap dijajah oleh para pencuri di malam hari,atau apakah pengorbanan para pahlawan itu akan dimanfaatkan oleh anak dan cucu-cucunya yang berlomba-lomba mengurus gaji veteran padahal mereka tidak tahu menahu tentang perjuangan kecuali dengan keterangan dan kesaksian palsu.Kasihan rakyat yang harus membayar pajak untuk menggaji veteran-veteran siluman di negeri ini,Negara pun stress memikirkan nasib para penghianat bangsa yang tertawa-tawa di atas penderitaan bangsa.Doaku untuk para pahlawan.(Sebagaimana yang dituturkan ayahku,Hamang Dg Nyengka-alm. Tolotoa,2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar