Cuaca hari ini nampaknya kurang bersahabat.Jam di
dinding yang terpajang di ruang tamu rumahku sudah menunjutkan pukul 7 namun
mentari belum juga menampakkan mukanya,padahal biasanya kalau udah waktu
seperti gini mentari sudah bangun menyapa satu persatu makhluk-makhluk melata
dan mengingatkannya untuk meninggalkan saran guna mengais reski.Ayam-ayam di
kolom rumahkupun masih melimuti tubuhnya karena dinginnya udara pagi ini,hanya
suara kokoknya yang bersahutan menandakan bahwa mereka sudah pada
bangun.Mendung,hawa dingin hari ini diperparah dengan hembusan angin yang
hendak merubuhkan tanaman anggur di belakang rumahku.untung mereka masih kuat
menahan sambaran angin sehingga masih berkesempatan untuk memperbanyak
buah-buahnya buat anak-anakku.
Tiba-tiba
di depan rumahku ada suara ribuk.Kupasang kupingku kearah suara dan semakin
nampaklah suara itu.nampaknya ada warga yang bertengkar.”Hei kurang ajar,kalo
tidak mauko puasa hari ini jangan tommoko,tidak ada yang paksako puasa” kata
orang yang satu.Aku belum melihat siapa yang bertengkar itu.”Saya tidak
melarangmu puasa hari ini tedong,saya Cuma bilang bahwa hari ini Muhammadyah
berpuasa,tetapi mengapa kau marah”,sambung orang yang satunya.Kulangkahkan
kakiku mendekati sumber suara.nampaklah dua orang perempuan yang sambil
memainkan telunjuknya yang disaksikan oleh tetangga-tetangganya.”Tapi mengapa
kamu berteriak di depan rumahku berarti kau menuduhku Muhammadyah ?” balas
orang yang satu yang sudah kutahu adalah Santi sedangkan yang satunya adalah
Sinta.Kedua bertetangga ini sejak dulu tidak pernah akur.Santi adalah seorang
yang gila urusan dan cerewek sedangkan Sinta orang yang mudah tersinggung dan
juga suka menyinggung.Sinta suka menyinggung dan menggosip orang-orang yang
tidak mau ammaca-maca atau akbarasanji sebagai Muhammadyah.Aku tidak tahu apa
alasan Sinta sehingga ikut-ikutan mencela Muhammadyah padahal Muhammadyah itu
bukan penjahat dan bukan pula orang yang tersesat,sehngga siapapun yang tidak
mau melakukan tradisi langsung dibilang muhammadyan,termasuk keluargaku disebut
muhammadyan padahal kami hanyalah mengikuti sunnah.Sunnahlah yang menyuruhku
meninggalkan amalan-amalan bid’ah.Pertengkaran mereka usai setelah Bu Kades
datang melerainya.
“Uztad,Sebenarnya dalam agama siapa yang benar,jadwal
Muhammadyah yang puasa hari ini atau jadwal pemerintah yang puasa
besok,bungunkah ini,setiap tahun kita pasti dibingunkan oleh jadwal puasa atau lebaran
yang selalu berbeda”,tanya Sudir yang
sengaja mendekatiku.”Kalau kamu sudah puasa hari ini ?” tanyaku.”Belum,uztad
masih bingunka yang mana yang harus kuikuti” jawab Sudir.Saya yakin di negeri
ini banyak Sudir lain yang bingun masalah jadwal puasa atau lebaran.Dan kalau
kita tdak memiliki pegangan maka untuk selamanya kita akan bingun.”Saya tidak
bisa mengatakan bahwa si A atau si B yang benar,karena aku juga belum melihat
bulan,Cuma hari ini saya belum berpuasa karena saya mempunyai pegangan sendiri
yang tidak akan membuat saya bingun walaupun ada seribu jadwal yang
berbeda”,ungkapku”Apa pegangan uztad ?” Sudir balik bertanya.
“Begini Sudir,sebelum wafat,Rasulullah SAW mewasiatkan
kepada umatnya dua perkara yaitu Al Quran dan sunnahnya.Beliau berkata bahwa
kalau kita berpegang pada kedua sunnah itu kita tidak akan terombang- ambing
menghadapi banyaknya perbedaan yang muncul dari umat.Allahpun dalam al Quran
Surat An Nisaa ayat 59 menyatakan bahwa bila terjadi suatu masalah dalam urusan
agama maka kembalikan masalah itu pada al Quran dan sunnah Rasul”.Aku berhenti
sejenak menarik napas,kulihat sudirpun bersemangat mendengar uraianku.”Allah
dalam ayat yang saya sebutkan tadi memerintahkan kepada kita untuk mentaati
Pemerintah.Begitupun Rasulullah SAW memerintahkan
kepada kita untuk mentaati pemerintah.bahkan Rasulullah menyatakan bahwa bahwa
barangsiapa yang durhaka kepada pemerintah berarti durhaka kepadaku.Jadi kalau
terjadi perbedaan pendapat dan kita sendiri tidak mengetahui kebenarannya
karena tidak melihat langsung bulan maka sebagai pegangan adalah mentaati Allah
yang menyuruh kita mentaati pemerintah”,tambahku.”bagaimana kalau pemerintah
ternyata salah dan Muhammadyah yang benar ?” tanya sudir.”Saya tidak persoalkan
siapa yang benar atau siapa yang salah yang kita ikuti adalah perintah Allah
dan Rasul-nya untuk mentaati pemerintah.Kalau ternyata pemerintah itu salah
maka itu tanggungjawab pemerintahungjawab
terhadap Allah sedangkan tanggung kita ketaatan kita untuk melaksanakan
perintah Allah untuk mentaati pemerintah.Kalau kita mengikuti jadwal
Muhammadyah,bagaiamana kalau ternyata Muhammadyah juga salah adalah pegangan
kita bila kelak kita ditanya oleh Allah mengapa mengikuti jadwal suatu golongan
sedangkan kamu sendiri tidak melihat bulan.Tidak ada ayat maupun hadis yang
bisa kujadikan pegangan bila aku mengikuti jadwal Muhammadyah.Seandainya saya
melihat bulan maka tentu akupun akan
berpuasa bersamaan dengan jadwal Muhaammadyah karena ada pegangan hadis yang
menyatakan bahwa berpuasalah bila melihat bulan.Dan masalah seperti ini
seharusnya tidak perlu dipermasalahkan apalagi dipertengkarkan,kita kembalikan
pada diri masing-masing apakah ikut jadwal pemerintah atau ikut jadwal
Muhammadyah nanti diakhirat baru kita tahu siapa yang benar dan siapa yang
salah,yang jelas di dunia masing-masing pihak menyatakan dirinya benar dan
menyatakan pihak lain salah.Allah yang lebih tahu.Pembicaraan kamipun terputus
karena awan di atas sana selalu mengancam akan menumpahkan airnya di atas
kepala kami sehingga kamipun bubar,lalu kumasuk ke dalam rumah.
“Uliiiss,tidak ke laut hari ini,kira mauki pergi
memancing ?” teriak Ulla tetangga sebelah rumahku.Memang kemarin kami janjian
pergi mancing ikan di laut Palajau,kami sudah menyewa perahu salah seorang
nelayan di Pandang-pandang.Namun,dengan dengan cuaca seperti ini mana kuberani
ke laut.”tunggu-tunggu sebentar siapa tau hujan !” sahutku melalui
jendela.”Jangan maki ke laut kalau cuaca buruk begini,Bi,lagian masih banyak
ikan kemarin saya dapat rezki dan langsung kupakai beli kan !”,Ujar istriku
dari dalam dapur.Kulangkah kakiku menuju suara istriku.Aku paling suka menemani
istriku memasak di dapur karena selain cantik,masakannya juga enak-enak.”Rezki
mana,Ummi ?” tanyaku menelurusi asal usul rezki yang dimaksud istriku.Begitulah
kebiasaanku,segala sesuatu yang akan dimakan oleh keluarga harus jelas
sumbernya,karena semuanya akan menjadi daging karena daging yang berasal dari
yang harap kelak akan dibersihkan di dalam neraka.”Dijamin halal Bi,kemarin
Alwi ke sini bagi-bagi uang”,jawabnya.lalu kubertanya lagi “untuk apa bagi-bagi
uang ?”.”Katanya Pak Rudi Calon Bupati itu yang menyuruhnya dan Alwi bilang
bahwa uang ini uang halal” jawab istriku lugu.”Astagfirullah Mi mengapa
diterima,itu uang haram Mi,itu termasuk uang sogok.Ingat Mi,penyogok,yang
disogok serta perantaranya sama-sama masuk neraka” sanggahku.”Tapi tidak
bilang-bilangji Alwi kalau kita harus memilih Pak Rudi” bantah istriku.”Walau
dia tidak bilang-bilang,namun dalam hati Pak Rudi ada niat mempengaruhi pilihan
orang lain melalui uang itu.Buktinya,sebelum mencalonkan diri pernahkah
membagi-bagi uang pada rakyat ,pernahkah menyumbang mesjid,tidak pernah kan ?”
tambahku.”Tapi bagaimana dengan sumbangan mesjid ?” tanya istriku yang kusapa
Ummi.”Itupun termasuk menyogok jemaah karena dilakukan menjelang
pemilukada,hanya mengenai hukumnya bila dipakai pada masjid hanya Allah yang
tahu,aku tak punya dasar untuk mengatakan halal atau haram “,jawabku.”Jadi
Pak.bagaimana ini ikan kalau dibuang tentu mubazir,bukankah mubazir itu adalah
perbuatan setan ?” tanya ummi.Betul juga,kalau dimakan dosa dan dibuang juga
dosa.”Begini Mi,sebagian berikan pada kucing yang lapar dan sebagian lagi
berikan pada orang yang lebih membutuhkannya !” usulku.”kira kita bilang ini
dosa,kalau diberikan ama orang lain berarti memindahkan dosa pada orang
lain”ungkapnya.”Yang dosa itu adalah perbuatannya yaitu memberi dan
menerima,sedangkan bendanya insya Allah kalau kita berikan pada orang lain yang
membutuhkan karena yang mau di sogok adalah kita dan bukan orang yang akan kita
berikan ikan itu”,jawabku.”Benar Bi,jadi kita berikan saja sebagian pada kucing
dan sebagian pada tetangga yang tidak kebagian sogokan.
Hari ini,waktu terus berjalan cuacapun masih dalam
ketidakpastian akan hujan atau tidak padahal sejak dari tadi awal sudah hamil
berat,tinggal menunggu perintah untuk menumpahkan kandungannya.”wahhhh... habis
gas... nasi belum masak, gimana ini Bi ?” ujar istriku. “Gitu aja kok repot,ya
ganti donk !” jawabku. “Betul Abi tersayang,Cuma masalahlah di kampung ini
tabung gas kosong,para agen terlambat datang katanya susah juga mendapatkannya”
sambung Ummi.Begitulah keadaannya kalau pemerintah telah mengabarkan bahwa
harga LPG akan naik setelah harga BBM naik,para pedang sengaja melakukan
penimbunan nanti setelah harga naik baru di munculkan. “Pindahkan dulu ke rice
cookermu,nanti kita suruh ganti ama tukang ojek di pasar”,usulku.”Ini juga jadi
masalah Bi,rice cooker kita itu sudah tua dan boros memakai listrik,sedangkan
tagihan listrikpun naik sering dengan kenaikan harga BBM,katanya karena biaya
operasional di PLN mengalami kenaikan dan manajemen selalu mengalami kerugian.
“Makanya Bi,menjelang pemilukada ini dekat-dekatki ama
calon Bupati,siapa tau calon dukunganta naik,bisaki juga naik jabatan,biar
kepala bagian saja yang penting dapat mobil dinas”,canda istriku.”Wah,ndak
kepikiran Mi untuk kejar jabatan dengan cara seperti itu.Jabatan itu amanah
yang mesti dpertanggungjawabkan di negeri akhirat.masa amanah mau dikejar
?.Biarlah jabatan datang sendiri dengan cara yang benar”,Jawabku.Ternyata
istriku yang kerjanya hanya mengurus rumah tangga tahu juga keadaan
daerah,bahwa jabatan bukan tergantung dari kompetensi,melainkan tergantung pada
jasa ketika pemilukada atau kedekatan kita pada penentu jabatan.Mungkin dapat
bocoran dari dari tetangga yang dulu diangkat menjadi kepala sekolah karena
jasanya dalam pemilukada padahal masa kerjanya masih muda dibanding dengan guru-guru
senior di sekolahnya.Tapi sekarang Pak Edi tetanggaku itu menjadi bingun
tentang siapa lagi yang harus didukung karena kalau salah dukung bisa-bisa
jabatannya hilang.Kalau mendukung Pak Rudi bagaimana kalau Pak Rudi tidak naik
dan Pak Henro naik ?.kalau mendukung Pak Henro,bagaimana kalau Pak Rudi yang
naik atau Pak Ramli ?.bukankah setelah pemilukada ada cuci gudang untuk balas
jasa atau balas dendam ?.”Makanya,tunjutkan saja sikap netralta supaya
mata-mata para calon tidak bisa tau siapa yang kita dukung” saranku ama Pak Edi
ketika ngobrol di teras masjid dua hari yang lalu sambil menunggu datangnya
waktu shalat Isa.
“Abi,kalau tidak ikutki dalam permainan politik,maka
tidak dapat maki itu jabatan” sambung istriku.”Biar saja yang penting saya bekerja
untuk negara dan Allah telah menjamin rezkiku.buktinya,tanpa jabatanpun
kebutuhan keluarga kita tetap terpenuhi” jawabku lalu meninggalkan istriku yang
masih sibuk di dapur,karena di pintu depan ada seseorang yang mengucapkan
salam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar