Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen DI ATAS PERAHU NEGERIKU



             Cuaca hari ini nampaknya kurang bersahabat.Jam di dinding yang terpajang di ruang tamu rumahku sudah menunjutkan pukul  7  namun mentari belum juga menampakkan mukanya,padahal biasanya kalau udah waktu seperti gini mentari sudah bangun menyapa satu persatu makhluk-makhluk melata dan mengingatkannya untuk meninggalkan saran guna mengais reski.Ayam-ayam di kolom rumahkupun masih melimuti tubuhnya karena dinginnya udara pagi ini,hanya suara kokoknya yang bersahutan menandakan bahwa mereka sudah pada bangun.Mendung,hawa dingin hari ini diperparah dengan hembusan angin yang hendak merubuhkan tanaman anggur di belakang rumahku.untung mereka masih kuat menahan sambaran angin sehingga masih berkesempatan untuk memperbanyak buah-buahnya buat anak-anakku.
            Tiba-tiba di depan rumahku ada suara ribuk.Kupasang kupingku kearah suara dan semakin nampaklah suara itu.nampaknya ada warga yang bertengkar.”Hei kurang ajar,kalo tidak mauko puasa hari ini jangan tommoko,tidak ada yang paksako puasa” kata orang yang satu.Aku belum melihat siapa yang bertengkar itu.”Saya tidak melarangmu puasa hari ini tedong,saya Cuma bilang bahwa hari ini Muhammadyah berpuasa,tetapi mengapa kau marah”,sambung orang yang satunya.Kulangkahkan kakiku mendekati sumber suara.nampaklah dua orang perempuan yang sambil memainkan telunjuknya yang disaksikan oleh tetangga-tetangganya.”Tapi mengapa kamu berteriak di depan rumahku berarti kau menuduhku Muhammadyah ?” balas orang yang satu yang sudah kutahu adalah Santi sedangkan yang satunya adalah Sinta.Kedua bertetangga ini sejak dulu tidak pernah akur.Santi adalah seorang yang gila urusan dan cerewek sedangkan Sinta orang yang mudah tersinggung dan juga suka menyinggung.Sinta suka menyinggung dan menggosip orang-orang yang tidak mau ammaca-maca atau akbarasanji sebagai Muhammadyah.Aku tidak tahu apa alasan Sinta sehingga ikut-ikutan mencela Muhammadyah padahal Muhammadyah itu bukan penjahat dan bukan pula orang yang tersesat,sehngga siapapun yang tidak mau melakukan tradisi langsung dibilang muhammadyan,termasuk keluargaku disebut muhammadyan padahal kami hanyalah mengikuti sunnah.Sunnahlah yang menyuruhku meninggalkan amalan-amalan bid’ah.Pertengkaran mereka usai setelah Bu Kades datang melerainya.
“Uztad,Sebenarnya dalam agama siapa yang benar,jadwal Muhammadyah yang puasa hari ini atau jadwal pemerintah yang puasa besok,bungunkah ini,setiap tahun kita pasti dibingunkan oleh jadwal puasa atau lebaran yang selalu berbeda”,tanya Sudir  yang sengaja mendekatiku.”Kalau kamu sudah puasa hari ini ?” tanyaku.”Belum,uztad masih bingunka yang mana yang harus kuikuti” jawab Sudir.Saya yakin di negeri ini banyak Sudir lain yang bingun masalah jadwal puasa atau lebaran.Dan kalau kita tdak memiliki pegangan maka untuk selamanya kita akan bingun.”Saya tidak bisa mengatakan bahwa si A atau si B yang benar,karena aku juga belum melihat bulan,Cuma hari ini saya belum berpuasa karena saya mempunyai pegangan sendiri yang tidak akan membuat saya bingun walaupun ada seribu jadwal yang berbeda”,ungkapku”Apa pegangan uztad ?” Sudir balik bertanya.
“Begini Sudir,sebelum wafat,Rasulullah SAW mewasiatkan kepada umatnya dua perkara yaitu Al Quran dan sunnahnya.Beliau berkata bahwa kalau kita berpegang pada kedua sunnah itu kita tidak akan terombang- ambing menghadapi banyaknya perbedaan yang muncul dari umat.Allahpun dalam al Quran Surat An Nisaa ayat 59 menyatakan bahwa bila terjadi suatu masalah dalam urusan agama maka kembalikan masalah itu pada al Quran dan sunnah Rasul”.Aku berhenti sejenak menarik napas,kulihat sudirpun bersemangat mendengar uraianku.”Allah dalam ayat yang saya sebutkan tadi memerintahkan kepada kita untuk mentaati Pemerintah.Begitupun Rasulullah SAW  memerintahkan kepada kita untuk mentaati pemerintah.bahkan Rasulullah menyatakan bahwa bahwa barangsiapa yang durhaka kepada pemerintah berarti durhaka kepadaku.Jadi kalau terjadi perbedaan pendapat dan kita sendiri tidak mengetahui kebenarannya karena tidak melihat langsung bulan maka sebagai pegangan adalah mentaati Allah yang menyuruh kita mentaati pemerintah”,tambahku.”bagaimana kalau pemerintah ternyata salah dan Muhammadyah yang benar ?” tanya sudir.”Saya tidak persoalkan siapa yang benar atau siapa yang salah yang kita ikuti adalah perintah Allah dan Rasul-nya untuk mentaati pemerintah.Kalau ternyata pemerintah itu salah maka itu tanggungjawab pemerintahungjawab  terhadap Allah sedangkan tanggung kita ketaatan kita untuk melaksanakan perintah Allah untuk mentaati pemerintah.Kalau kita mengikuti jadwal Muhammadyah,bagaiamana kalau ternyata Muhammadyah juga salah adalah pegangan kita bila kelak kita ditanya oleh Allah mengapa mengikuti jadwal suatu golongan sedangkan kamu sendiri tidak melihat bulan.Tidak ada ayat maupun hadis yang bisa kujadikan pegangan bila aku mengikuti jadwal Muhammadyah.Seandainya saya melihat bulan  maka tentu akupun akan berpuasa bersamaan dengan jadwal Muhaammadyah karena ada pegangan hadis yang menyatakan bahwa berpuasalah bila melihat bulan.Dan masalah seperti ini seharusnya tidak perlu dipermasalahkan apalagi dipertengkarkan,kita kembalikan pada diri masing-masing apakah ikut jadwal pemerintah atau ikut jadwal Muhammadyah nanti diakhirat baru kita tahu siapa yang benar dan siapa yang salah,yang jelas di dunia masing-masing pihak menyatakan dirinya benar dan menyatakan pihak lain salah.Allah yang lebih tahu.Pembicaraan kamipun terputus karena awan di atas sana selalu mengancam akan menumpahkan airnya di atas kepala kami sehingga kamipun bubar,lalu kumasuk ke dalam rumah.
“Uliiiss,tidak ke laut hari ini,kira mauki pergi memancing ?” teriak Ulla tetangga sebelah rumahku.Memang kemarin kami janjian pergi mancing ikan di laut Palajau,kami sudah menyewa perahu salah seorang nelayan di Pandang-pandang.Namun,dengan dengan cuaca seperti ini mana kuberani ke laut.”tunggu-tunggu sebentar siapa tau hujan !” sahutku melalui jendela.”Jangan maki ke laut kalau cuaca buruk begini,Bi,lagian masih banyak ikan kemarin saya dapat rezki dan langsung kupakai beli kan !”,Ujar istriku dari dalam dapur.Kulangkah kakiku menuju suara istriku.Aku paling suka menemani istriku memasak di dapur karena selain cantik,masakannya juga enak-enak.”Rezki mana,Ummi ?” tanyaku menelurusi asal usul rezki yang dimaksud istriku.Begitulah kebiasaanku,segala sesuatu yang akan dimakan oleh keluarga harus jelas sumbernya,karena semuanya akan menjadi daging karena daging yang berasal dari yang harap kelak akan dibersihkan di dalam neraka.”Dijamin halal Bi,kemarin Alwi ke sini bagi-bagi uang”,jawabnya.lalu kubertanya lagi “untuk apa bagi-bagi uang ?”.”Katanya Pak Rudi Calon Bupati itu yang menyuruhnya dan Alwi bilang bahwa uang ini uang halal” jawab istriku lugu.”Astagfirullah Mi mengapa diterima,itu uang haram Mi,itu termasuk uang sogok.Ingat Mi,penyogok,yang disogok serta perantaranya sama-sama masuk neraka” sanggahku.”Tapi tidak bilang-bilangji Alwi kalau kita harus memilih Pak Rudi” bantah istriku.”Walau dia tidak bilang-bilang,namun dalam hati Pak Rudi ada niat mempengaruhi pilihan orang lain melalui uang itu.Buktinya,sebelum mencalonkan diri pernahkah membagi-bagi uang pada rakyat ,pernahkah menyumbang mesjid,tidak pernah kan ?” tambahku.”Tapi bagaimana dengan sumbangan mesjid ?” tanya istriku yang kusapa Ummi.”Itupun termasuk menyogok jemaah karena dilakukan menjelang pemilukada,hanya mengenai hukumnya bila dipakai pada masjid hanya Allah yang tahu,aku tak punya dasar untuk mengatakan halal atau haram “,jawabku.”Jadi Pak.bagaimana ini ikan kalau dibuang tentu mubazir,bukankah mubazir itu adalah perbuatan setan ?” tanya ummi.Betul juga,kalau dimakan dosa dan dibuang juga dosa.”Begini Mi,sebagian berikan pada kucing yang lapar dan sebagian lagi berikan pada orang yang lebih membutuhkannya !” usulku.”kira kita bilang ini dosa,kalau diberikan ama orang lain berarti memindahkan dosa pada orang lain”ungkapnya.”Yang dosa itu adalah perbuatannya yaitu memberi dan menerima,sedangkan bendanya insya Allah kalau kita berikan pada orang lain yang membutuhkan karena yang mau di sogok adalah kita dan bukan orang yang akan kita berikan ikan itu”,jawabku.”Benar Bi,jadi kita berikan saja sebagian pada kucing dan sebagian pada tetangga yang tidak kebagian sogokan.
Hari ini,waktu terus berjalan cuacapun masih dalam ketidakpastian akan hujan atau tidak padahal sejak dari tadi awal sudah hamil berat,tinggal menunggu perintah untuk menumpahkan kandungannya.”wahhhh... habis gas... nasi belum masak, gimana ini Bi ?” ujar istriku. “Gitu aja kok repot,ya ganti donk !” jawabku. “Betul Abi tersayang,Cuma masalahlah di kampung ini tabung gas kosong,para agen terlambat datang katanya susah juga mendapatkannya” sambung Ummi.Begitulah keadaannya kalau pemerintah telah mengabarkan bahwa harga LPG akan naik setelah harga BBM naik,para pedang sengaja melakukan penimbunan nanti setelah harga naik baru di munculkan. “Pindahkan dulu ke rice cookermu,nanti kita suruh ganti ama tukang ojek di pasar”,usulku.”Ini juga jadi masalah Bi,rice cooker kita itu sudah tua dan boros memakai listrik,sedangkan tagihan listrikpun naik sering dengan kenaikan harga BBM,katanya karena biaya operasional di PLN mengalami kenaikan dan manajemen selalu mengalami kerugian.
“Makanya Bi,menjelang pemilukada ini dekat-dekatki ama calon Bupati,siapa tau calon dukunganta naik,bisaki juga naik jabatan,biar kepala bagian saja yang penting dapat mobil dinas”,canda istriku.”Wah,ndak kepikiran Mi untuk kejar jabatan dengan cara seperti itu.Jabatan itu amanah yang mesti dpertanggungjawabkan di negeri akhirat.masa amanah mau dikejar ?.Biarlah jabatan datang sendiri dengan cara yang benar”,Jawabku.Ternyata istriku yang kerjanya hanya mengurus rumah tangga tahu juga keadaan daerah,bahwa jabatan bukan tergantung dari kompetensi,melainkan tergantung pada jasa ketika pemilukada atau kedekatan kita pada penentu jabatan.Mungkin dapat bocoran dari dari tetangga yang dulu diangkat menjadi kepala sekolah karena jasanya dalam pemilukada padahal masa kerjanya masih muda dibanding dengan guru-guru senior di sekolahnya.Tapi sekarang Pak Edi tetanggaku itu menjadi bingun tentang siapa lagi yang harus didukung karena kalau salah dukung bisa-bisa jabatannya hilang.Kalau mendukung Pak Rudi bagaimana kalau Pak Rudi tidak naik dan Pak Henro naik ?.kalau mendukung Pak Henro,bagaimana kalau Pak Rudi yang naik atau Pak Ramli ?.bukankah setelah pemilukada ada cuci gudang untuk balas jasa atau balas dendam ?.”Makanya,tunjutkan saja sikap netralta supaya mata-mata para calon tidak bisa tau siapa yang kita dukung” saranku ama Pak Edi ketika ngobrol di teras masjid dua hari yang lalu sambil menunggu datangnya waktu shalat Isa.
“Abi,kalau tidak ikutki dalam permainan politik,maka tidak dapat maki itu jabatan” sambung istriku.”Biar saja yang penting saya bekerja untuk negara dan Allah telah menjamin rezkiku.buktinya,tanpa jabatanpun kebutuhan keluarga kita tetap terpenuhi” jawabku lalu meninggalkan istriku yang masih sibuk di dapur,karena di pintu depan ada seseorang yang mengucapkan salam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar