Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen FINAL PACUAN KUDA



                                                                                                                                     
                Suasana di arena pacuan kuda hari ini jauh lebih ramai dan lebih meriah dari hari- hari pacuan kuda sebelumnya. Beragam warna umbul-umbul dari berbagai sponsor telah menghiasi arena dan sepanjang rute yang akan dilalui kuda-kuda yang akan berpacu.Ikut meramaikan pula gambar-gambar calon wakil rakyat dengan pujian dirinya “jujur,bersih,merakyat,pengasih dan penyayang”.Pedagang kaki limapun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sekali dalam lima tahun ini,dari pejual minuman,makanan,aksensoris ataupun penjual pakaian.Para calegpun memanfaatkannya untuk bagi-bagi kartu nama,pin, rokok dan koret api yang bergambar dirinya.Masyarakat dari berbagai kalangan membanjiri arena, mulai anak kecil sampai kakek-nenek, dari tukang bakso,tukang kayu maupun tukang gosip.Pihak keamanan pun digerakkan dari berbagai unsur.Dari Polisi biasa,polisi Brimob,Polisi lalu lintas,polisi anti huru hara,dan tidak ketinggalan pula Polisi Pamong Praja,bahkan hansip-hansip pun diberdayakan.Mereka bertugas mengamankan acara pacuang kuda supaya berjalan aman dan sukses.
                Kompetisi pacuan kuda hari ini adalah kompetisi final yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang hanya sekali dalam lima tahun.Karena kompetisi ini bukan kompetisi biasa,melainkan luar biasa yang akan memperebutkan hadiah kursi yang bukan kursi biasa,tetapi kursi yang dapat memberi kekuatan bagi siapa saja yang mendudukinya untuk berkuasa pada PT Air Gelang,sebuah Perusahaan yang mengurusi kepentingan masyarakat.Kompetisi final adalah kompetisi puncak setelah peserta kompetisi telah melewati dua tahapan kompetisi,yaitu babak penyisihan yang diikuti oleh berapa kuda untuk memperebutkan hadiah mobil menuju ruang Panitia Final,dan babak kedua pacuan untuk memperebutkan tiket menuju final dan setelah melewati kedua tahap ini maka yang berhak bertarung dalam final ini ada tiga calon.Ketiga calon ini yang harus berjuang sampai titik duit penghabisan demi sepasang kursi.Mereka harus berusaha menaklutkan medan yang harus dilaluinya pada 11 rute yang disaksikan oleh para penonton yang deman duit.
                Mulai pukul 07 pagi arena pacuan kuda telah diramaikan pengunjung yang ingin menonton atau memberi semangat pada peserta pacuan yang didukungnya.Setelah matahari melebihi sebatang tombak,para pesertapun mulai berdatangan.Suara-suara kendaraan semakin meramaikan suasana. Panitia yang dari tadi telah berada di tribun mempersilahkan masing-masing peserta membawa masuk kudanya ke arena lalu mengambil tempat duduk di tribun.Mulai dari kuda nomor satu memasuki arena.Ratusan mobil mengantarnya masuk disambut oleh teriakan para pendukungnya “Hidup nomor 1 !!!,hidup nomor 1 !!!”,”inimi jagoangku ...!!!”.Kuda nomor satu dihiasi akseksoris yang bertema merah putih,cukup meyakinkan karena badannya tinggi,gemuk dan lincah.Pemilik dan para pendukung yang ikut di belakangnya pun memakai pakaian yang bertema merah putih.”merdekaaa !!!” pekik seorang kakek penerima veteran dengan mata berkaca-kaca.
                Setelah pemilik kuda dan pendukung nomor 1 menuju tribun,maka dipersilahkan masuk peserta nomor dua.  Kendaraan pemilik dan pendukungpun memasuki arena namun tidak seramai dari peserta sebelumnya,hanya penunggang kudanya yang sangat bersemangat namun tidak seimbang dengan kondisi kudanya.Begitupun suara pendukung hanya terdengar beberapa orang itupun agak terpaksa,bahkan ada suara penonton yang terdengar “kodooong,sedikit kamma”,tapi yang lain menimpali”Jangan lihat sedikitnya mobil tapi lihatlah nanti kecepatannya”.Kuda nomor 2 ini dihiasi dengan aksensori dengan tema penghijauan.Kudanya kelihatan tenang,sedikit agak ringan dibanding kuda nomor 1,”justru kalau kecil-kecil dan tenang-tenang itu bisa mengejutkan” kata seorang pendukung menjawab keraguan temannya.
                Peserta nomor 3 terakhir memasuki arena.Walau terakhir namun jumlah mobil yang mengantarnya bersaingan dengan nomor 1,bobot kudanyapun bersaing.”Hidup nomor 3...!!!,Hidup Nomor 3...!!!”,”Jekaji leo...!!!”.Pemilik kuda  dan pendukungnya pun berdiri mengacungkan tangan sambil menyebarkan gula-gula kepada penonton,“Siapa yang akan menang...?” tanya pemilik kuda kepada para pendukungnya.”Pasti nomor tiga !!”,serentak pendukungnya menjawab.Suara musik nomor 3 pun menguasai arena.Kuda nomor 3 ini dihiasi aksensoris yang bertemakan orange.Begitupun pemilik dan para pendukungnya berpakaian yang menyesuaikan tema.
                Di atas tribun para pemilik dan pendukung menempati tempat yang telah ditentukan panitia. Pemilik kuda di depan didampingi oleh tim pengurus dan dibelakangnya adalah pendukung yang masing-masing berpakaian menyesuaikan tema,namun di antaranya ada yang sengaja membawa baju cadangan. Untuk apa? Ya persiapan menghadapi situasi yang tidak diinginkan untuk menyelamatkan diri dan berbaur dengan pemenang nantinya”,jawab salah seorang pendukung pada istrinya.”Berarti penghianat dong ?” tanya istrinya lagi.”Ini permainan Bu,maka kitapun harus pintar bermain,kalau tidak kita akan kalah dan celaka”,jawabnya dan istrinya paham.
                Setelah waktu berjalan beberapa menit maka lomba dimulai.Kuda-kuda jagoan telah berada digaris start.Para penunggangnya mulai menarik nafas mengumpulkan energi. Para pendukung berdesak-desakan memberi semangat,sampai indisen kecilpun terjadi karena seorang pendukung salah satu peserta melempari kuda nomor 1. Untung Pihak keamanan sigap bertindak sehingga insiden cepat padam dan lombapun dilanjutkan.Ketua Panitia telah memegang bendera start dan berkata-kata sedikit kepada penunggang dan pendukungnya yang akan ikut belakangnya,”Bertarunglah dengan sportif,jangan nodai kompetisi ini dengan permainan yang licik,ingat kesepakatan siap menang dan siap kalah”.Ketegangan kecil terjadi saat satu peserta yang tidak masuk final berada di luar arena menerobos masuk bersikeras ikut mengikuti final namun Panitiapun bersikeras menolaknya.Pihak keamanan membereskannya ke luar arena,kemudian pemegang bendera start memberi aba-aba,”siaaaap.... yaaaaa...!!!”. Kuda-kuda pacuanpun melaju kencang,bagai sebuah peluru yang lepas dari senapannya.Hirup pikuk semakin meramaikan suasana terus memuji dan memberi semangat pada jagoannya masing-masing.Beberapa penonton memanfaatkan momen ini untuk bertaruh, ada yang bertaruh uang, ada bertaruh kunci motor dan ada pula yang bertaruh kunci mobil,sedangkan rakyat kecil yang tipis dompetnya hanya bertaruh fisik yaitu yang menang jagoannya akan digendong pulang ke rumahnya.Anak kecilpun meniru orang besar mempertaruhkan uang jajan yang diberikan orang tuanya.
                Pertarungan sedang berlangsung,para penunggang berusaha memacu kudanya untuk mendahului lawannya,begitupun pendukung yang ikut di belakangnya terus memberi semangat.Nampak kuda nomor 1 bersaingan dengan kuda nomor 3, mereka bergantian saling mendahului,sedangkan kuda nomor 2 sejak dari start  berada di posisi terakhir,kudanya mulai ngos-ngosan,penunggangnyapun mulai kehabisan energi begitu pula pendukungnya satu persatu melepas baju dan bergabung dengan pendukung lawan.Beberapa rute telah dilalui dari 11 yang harus dilewati,Berbagai carapun telah dilakukan peserta untuk memenangkan kompetisi ini, di antaranya ada yang menyewa mobil box untuk menaikkan kuda,hingga akhirnya tiba di Warung Keramat, sebuah warung yang cukup keramat. Peserta atau pendukung lomba istrahat di warung yang terkenal nikmat ini.Di warung ini pengunjung dimanjakan dengan berbagai menu spesial yang jarang ditemukan pada warung-warung lain.Di warung ini menyediakan ayam panggang yang masak atau mentah, konro yang masak atau yang mentah, susu hangat yang pake gelas atau yang pake kaleng dan ketupak yang pake pembungkus atau yang terbuka. Pengunjung tinggal memilih menurut selera dan isi dompetnya. Namun,peserta lomba pacuan ini tidak sempat menikmati menu warung ini karena terbatas waktu dan ditakutkan mendatangkan sial,cuman minum sedikit air putih,lalu pacuan dilanjutkan ke rute berikutnya.
                Menjelang mendekati finish,peserta istrahat lagi di perkebunan lontar. Beberapa pendukung memanfaatkan waktu istrahat ini dengan menikmati hasil pohon lontar, ada yang makan buahnya, ada yang mencicipi gula merah, ada yang minum airnya yang telah dimasak dan tidak sedikitpula yang minum ballo’nya sampai kepalanya berbintang-bintang.Hanya beberapa orang yang mengambil daunnya untuk mengganti atap rumahnya yang sudah bocor.”Tidak dapatki bantuan bedah rumah ?” tanya Tanya Juma  “Iyek, dicoretki namaku karena ketahuanga lain kudukung padahal bedah rumah itu bantuan pusatji bedek” jawab Sattu kepada Juma.”Mudah-mudahan kalau manang kuda jagoanta,kita akan dapat bantuan rumah baru” kata Juma “memang itumi yang kuharap naku ikut mendukung bersama kamu, dan aku selalu bermimpi kuda jagoanta menang” sambung Sattu penuh harap.
                Ketika terdengar adzan  Dhuhur, terjadi perdebatan kecil antarpendukung, ada yang menginginkan agar shalat dulu kemudian lanjutkan pertarungan dan ada pula yang mengusulkan agar selesaikan dulu lomba lalu melakukan shalat,sedangkan Juma, Sattu dan yang selevel dengannya no commen.Akhirnya ketua rombongan memutuskan agar diserahkan kepada keimanan dan ketakwaan masing-masing,yang mau shalat dulu maka shalatlah dulu dan yang mau pacuan dulu maka pacuanlah dulu,sedang yang no commen memilih ikut pacuan dulu lalu shalat karena takut tidak kebagian nasi dos setelah sampai di finish.
                Sementara itu, suasana di tribun semakin tegang,selain panas karena hawa matahari juga panas karena semburan kata-kata pedas dari lawan, ada yang menghujat dan ada mengancam.Keringat pemilik calon dan orang dekatnya mulai membanjiri tubuh.Jantungpun berdenyut cepat kala panitia mengumumkan bahwa kuda-kuda yang berpacu telah berada di batas kota,merekapun berdiri begitupula para penonton mulai berdesak-desakan ingin melihat siapa pemenangnya.Mereka semakin berdesakan ketika panitia mengumumkan bahwa tinggal satu kilo meter,senggol menyenggolpun tak bisa dihindari dan akhirnya para penonton melihat dari jauh kuda-kuda penentu nasib itu, semakin dekat... dan semakin dekat... sampai jelaslah di matanya kuda yang paling depan. Para pendukung serentak bersorak “Hidup nomor 1 !!! ayo nomor 1 terus majuu !!!” sampai kuda nomor 1 menginjak garis finish,kemudian disusul kuda nomor 2 dan paling belakang kuda nomor 3. Dan panitiapun mengumumkan bahwa “Pemenang lomba pacuan kuda musim ini adalaaaaaaah noomooooor saaatuuu !!!!”,hadirin menyambutkan dengan bersorak-sorai,di antaranya ada yang menyanyikan lagu Sora-sorak Bergembira sambil mengangkat dan mengarak pemilik kuda yang telah dinyatakan berhasil meraih kursi yang diperebutkan.
                Para pendukung kuda yang menang meluapkan kegembiraannya dengan segala macam cara, sementara peserta yang kalah segera pulang bersama pendukungnya, kecuali di antara mereka ada yang berusaha menyelamatkan diri dengan segera ganti  baju lalu bergabung dengan arak-arakan pemenang menuju ke rumah kediaman pemenang. Para pelarian inipun dengan sekuat tenaga bersorak “Hidup nomor 1 !!!” mereka dengan full volume ikut menyanyikan lagu “Nomor 1 siapa yang punya, nomor 1 siapa yang punya, punya kita semua”. Mereka terus berjalan mengikuti rombongan sambil sekali-kali berpandangan dengan temannya sesama pelarian lalu tertawa.            Sesampai di rumah kediaman pemenang para pendukung berlomba-lomba mendekati pemenang untuk menyampaikan selamat dan menumpahkan kegembiraan dan keharuan dengan menangis, ada nangis betulan adapula yang nangis boong yang Cuma cari perhatian yang tangisnya lebih dahsyat dari yang betulan dan pemenangpun menyambutnya dengan mengucapkan terima kasih.
                Semua yang menyalaminya disambutnya dengan ramah dan di antaranya ada yang dipeluknya.Hingga ada satu orang yang berusaha memeluk pemenang namun dihalangi oleh yang lainnya.”Ini musuh Karaeng,dialah yang merusak gambar-gambar Kita, massai dia !!!” ujar seorang tim pengurus. Orang yang berisinial Kammisi inipun gemetaran dan minta ampun pada pemenang.Pemenangpun berdiri menenangkan suasana,”Sudah,sudah, sekarang tidak ada lagi lawan dan tidak ada musuh karena pertadingan telah selesai, mari kita bersatu,bekerja sama memajukan PT Air Gelang demi kemakmuran kita semua”.”Tapi Karaeng,dia sangat kajili-jili mauka nabunuh”,protes anggota tim lainnya.”Itu kan cuma maunya,bukan maunya Tuhan.Hanya kemauan Tuhan yang pasti terbukti” Jawab Pemenang lalu mengajak para pendukungnya untuk makan bersama.Kammisipun dipersilahkan duduk di dekat pemenang untuk makan semeja. Ada rasa bangga di hati Kammisi karena bisa makan semeja dengan pemimpin padahal pendukung lainnya harus melantai makan nasi dos.”Untung bukan pendendam, hampir aku mati”,batin Kammisi sambil menikmati nasi,konro na bayao sesekali memperhatikan masakan lain yang ingin pula dilahapnya, ada pallu basa, pallu gantalak,pallu mara, pallu kacci,pallu kaloa dan pallu butung,ingin semua diraihnya namun tangannya tak sampai.(Palajau,September 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar