Suasana di arena pacuan kuda
hari ini jauh lebih ramai dan lebih meriah dari hari- hari pacuan kuda
sebelumnya. Beragam warna umbul-umbul dari berbagai sponsor telah menghiasi
arena dan sepanjang rute yang akan dilalui kuda-kuda yang akan berpacu.Ikut
meramaikan pula gambar-gambar calon wakil rakyat dengan pujian dirinya
“jujur,bersih,merakyat,pengasih dan penyayang”.Pedagang kaki limapun tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan yang hanya sekali dalam lima tahun ini,dari pejual
minuman,makanan,aksensoris ataupun penjual pakaian.Para calegpun memanfaatkannya
untuk bagi-bagi kartu nama,pin, rokok dan koret api yang bergambar dirinya.Masyarakat
dari berbagai kalangan membanjiri arena, mulai anak kecil sampai kakek-nenek,
dari tukang bakso,tukang kayu maupun tukang gosip.Pihak keamanan pun digerakkan
dari berbagai unsur.Dari Polisi biasa,polisi Brimob,Polisi lalu lintas,polisi
anti huru hara,dan tidak ketinggalan pula Polisi Pamong Praja,bahkan
hansip-hansip pun diberdayakan.Mereka bertugas mengamankan acara pacuang kuda
supaya berjalan aman dan sukses.
Kompetisi pacuan kuda hari ini
adalah kompetisi final yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang hanya
sekali dalam lima tahun.Karena kompetisi ini bukan kompetisi biasa,melainkan
luar biasa yang akan memperebutkan hadiah kursi yang bukan kursi biasa,tetapi
kursi yang dapat memberi kekuatan bagi siapa saja yang mendudukinya untuk
berkuasa pada PT Air Gelang,sebuah Perusahaan yang mengurusi kepentingan
masyarakat.Kompetisi final adalah kompetisi puncak setelah peserta kompetisi
telah melewati dua tahapan kompetisi,yaitu babak penyisihan yang diikuti oleh
berapa kuda untuk memperebutkan hadiah mobil menuju ruang Panitia Final,dan
babak kedua pacuan untuk memperebutkan tiket menuju final dan setelah melewati
kedua tahap ini maka yang berhak bertarung dalam final ini ada tiga
calon.Ketiga calon ini yang harus berjuang sampai titik duit penghabisan demi
sepasang kursi.Mereka harus berusaha menaklutkan medan yang harus dilaluinya
pada 11 rute yang disaksikan oleh para penonton yang deman duit.
Mulai pukul 07 pagi arena pacuan
kuda telah diramaikan pengunjung yang ingin menonton atau memberi semangat pada
peserta pacuan yang didukungnya.Setelah matahari melebihi sebatang tombak,para
pesertapun mulai berdatangan.Suara-suara kendaraan semakin meramaikan suasana.
Panitia yang dari tadi telah berada di tribun mempersilahkan masing-masing peserta
membawa masuk kudanya ke arena lalu mengambil tempat duduk di tribun.Mulai dari
kuda nomor satu memasuki arena.Ratusan mobil mengantarnya masuk disambut oleh
teriakan para pendukungnya “Hidup nomor 1 !!!,hidup nomor 1 !!!”,”inimi
jagoangku ...!!!”.Kuda nomor satu dihiasi akseksoris yang bertema merah
putih,cukup meyakinkan karena badannya tinggi,gemuk dan lincah.Pemilik dan para
pendukung yang ikut di belakangnya pun memakai pakaian yang bertema merah
putih.”merdekaaa !!!” pekik seorang kakek penerima veteran dengan mata
berkaca-kaca.
Setelah pemilik kuda dan
pendukung nomor 1 menuju tribun,maka dipersilahkan masuk peserta nomor
dua. Kendaraan pemilik dan pendukungpun memasuki
arena namun tidak seramai dari peserta sebelumnya,hanya penunggang kudanya yang
sangat bersemangat namun tidak seimbang dengan kondisi kudanya.Begitupun suara
pendukung hanya terdengar beberapa orang itupun agak terpaksa,bahkan ada suara
penonton yang terdengar “kodooong,sedikit kamma”,tapi yang lain
menimpali”Jangan lihat sedikitnya mobil tapi lihatlah nanti kecepatannya”.Kuda
nomor 2 ini dihiasi dengan aksensori dengan tema penghijauan.Kudanya kelihatan
tenang,sedikit agak ringan dibanding kuda nomor 1,”justru kalau kecil-kecil dan
tenang-tenang itu bisa mengejutkan” kata seorang pendukung menjawab keraguan
temannya.
Peserta nomor 3 terakhir
memasuki arena.Walau terakhir namun jumlah mobil yang mengantarnya bersaingan
dengan nomor 1,bobot kudanyapun bersaing.”Hidup nomor 3...!!!,Hidup Nomor
3...!!!”,”Jekaji leo...!!!”.Pemilik kuda dan pendukungnya pun berdiri mengacungkan
tangan sambil menyebarkan gula-gula kepada penonton,“Siapa yang akan
menang...?” tanya pemilik kuda kepada para pendukungnya.”Pasti nomor tiga !!”,serentak
pendukungnya menjawab.Suara musik nomor 3 pun menguasai arena.Kuda nomor 3 ini
dihiasi aksensoris yang bertemakan orange.Begitupun pemilik dan para
pendukungnya berpakaian yang menyesuaikan tema.
Di atas tribun para pemilik dan
pendukung menempati tempat yang telah ditentukan panitia. Pemilik kuda di depan
didampingi oleh tim pengurus dan dibelakangnya adalah pendukung yang
masing-masing berpakaian menyesuaikan tema,namun di antaranya ada yang sengaja
membawa baju cadangan. Untuk apa? Ya persiapan menghadapi situasi yang tidak
diinginkan untuk menyelamatkan diri dan berbaur dengan pemenang nantinya”,jawab
salah seorang pendukung pada istrinya.”Berarti penghianat dong ?” tanya
istrinya lagi.”Ini permainan Bu,maka kitapun harus pintar bermain,kalau tidak
kita akan kalah dan celaka”,jawabnya dan istrinya paham.
Setelah waktu berjalan beberapa
menit maka lomba dimulai.Kuda-kuda jagoan telah berada digaris start.Para
penunggangnya mulai menarik nafas mengumpulkan energi. Para pendukung
berdesak-desakan memberi semangat,sampai indisen kecilpun terjadi karena
seorang pendukung salah satu peserta melempari kuda nomor 1. Untung Pihak
keamanan sigap bertindak sehingga insiden cepat padam dan lombapun
dilanjutkan.Ketua Panitia telah memegang bendera start dan berkata-kata sedikit
kepada penunggang dan pendukungnya yang akan ikut belakangnya,”Bertarunglah
dengan sportif,jangan nodai kompetisi ini dengan permainan yang licik,ingat
kesepakatan siap menang dan siap kalah”.Ketegangan kecil terjadi saat satu
peserta yang tidak masuk final berada di luar arena menerobos masuk bersikeras
ikut mengikuti final namun Panitiapun bersikeras menolaknya.Pihak keamanan
membereskannya ke luar arena,kemudian pemegang bendera start memberi
aba-aba,”siaaaap.... yaaaaa...!!!”. Kuda-kuda pacuanpun melaju kencang,bagai
sebuah peluru yang lepas dari senapannya.Hirup pikuk semakin meramaikan suasana
terus memuji dan memberi semangat pada jagoannya masing-masing.Beberapa
penonton memanfaatkan momen ini untuk bertaruh, ada yang bertaruh uang, ada
bertaruh kunci motor dan ada pula yang bertaruh kunci mobil,sedangkan rakyat
kecil yang tipis dompetnya hanya bertaruh fisik yaitu yang menang jagoannya
akan digendong pulang ke rumahnya.Anak kecilpun meniru orang besar
mempertaruhkan uang jajan yang diberikan orang tuanya.
Pertarungan sedang
berlangsung,para penunggang berusaha memacu kudanya untuk mendahului
lawannya,begitupun pendukung yang ikut di belakangnya terus memberi
semangat.Nampak kuda nomor 1 bersaingan dengan kuda nomor 3, mereka bergantian
saling mendahului,sedangkan kuda nomor 2 sejak dari start berada di posisi terakhir,kudanya mulai
ngos-ngosan,penunggangnyapun mulai kehabisan energi begitu pula pendukungnya
satu persatu melepas baju dan bergabung dengan pendukung lawan.Beberapa rute
telah dilalui dari 11 yang harus dilewati,Berbagai carapun telah dilakukan peserta
untuk memenangkan kompetisi ini, di antaranya ada yang menyewa mobil box untuk
menaikkan kuda,hingga akhirnya tiba di Warung Keramat, sebuah warung yang cukup
keramat. Peserta atau pendukung lomba istrahat di warung yang terkenal nikmat
ini.Di warung ini pengunjung dimanjakan dengan berbagai menu spesial yang
jarang ditemukan pada warung-warung lain.Di warung ini menyediakan ayam
panggang yang masak atau mentah, konro yang masak atau yang mentah, susu hangat
yang pake gelas atau yang pake kaleng dan ketupak yang pake pembungkus atau
yang terbuka. Pengunjung tinggal memilih menurut selera dan isi dompetnya.
Namun,peserta lomba pacuan ini tidak sempat menikmati menu warung ini karena
terbatas waktu dan ditakutkan mendatangkan sial,cuman minum sedikit air
putih,lalu pacuan dilanjutkan ke rute berikutnya.
Menjelang mendekati finish,peserta
istrahat lagi di perkebunan lontar. Beberapa pendukung memanfaatkan waktu
istrahat ini dengan menikmati hasil pohon lontar, ada yang makan buahnya, ada
yang mencicipi gula merah, ada yang minum airnya yang telah dimasak dan tidak
sedikitpula yang minum ballo’nya sampai kepalanya berbintang-bintang.Hanya
beberapa orang yang mengambil daunnya untuk mengganti atap rumahnya yang sudah
bocor.”Tidak dapatki bantuan bedah rumah ?” tanya Tanya Juma “Iyek, dicoretki namaku karena ketahuanga lain
kudukung padahal bedah rumah itu bantuan pusatji bedek” jawab Sattu kepada Juma.”Mudah-mudahan
kalau manang kuda jagoanta,kita akan dapat bantuan rumah baru” kata Juma
“memang itumi yang kuharap naku ikut mendukung bersama kamu, dan aku selalu
bermimpi kuda jagoanta menang” sambung Sattu penuh harap.
Ketika terdengar adzan Dhuhur, terjadi perdebatan kecil
antarpendukung, ada yang menginginkan agar shalat dulu kemudian lanjutkan
pertarungan dan ada pula yang mengusulkan agar selesaikan dulu lomba lalu
melakukan shalat,sedangkan Juma, Sattu dan yang selevel dengannya no
commen.Akhirnya ketua rombongan memutuskan agar diserahkan kepada keimanan dan
ketakwaan masing-masing,yang mau shalat dulu maka shalatlah dulu dan yang mau
pacuan dulu maka pacuanlah dulu,sedang yang no commen memilih ikut pacuan dulu
lalu shalat karena takut tidak kebagian nasi dos setelah sampai di finish.
Sementara itu, suasana di tribun
semakin tegang,selain panas karena hawa matahari juga panas karena semburan
kata-kata pedas dari lawan, ada yang menghujat dan ada mengancam.Keringat
pemilik calon dan orang dekatnya mulai membanjiri tubuh.Jantungpun berdenyut
cepat kala panitia mengumumkan bahwa kuda-kuda yang berpacu telah berada di batas
kota,merekapun berdiri begitupula para penonton mulai berdesak-desakan ingin
melihat siapa pemenangnya.Mereka semakin berdesakan ketika panitia mengumumkan
bahwa tinggal satu kilo meter,senggol menyenggolpun tak bisa dihindari dan akhirnya
para penonton melihat dari jauh kuda-kuda penentu nasib itu, semakin dekat...
dan semakin dekat... sampai jelaslah di matanya kuda yang paling depan. Para
pendukung serentak bersorak “Hidup nomor 1 !!! ayo nomor 1 terus majuu !!!”
sampai kuda nomor 1 menginjak garis finish,kemudian disusul kuda nomor 2 dan
paling belakang kuda nomor 3. Dan panitiapun mengumumkan bahwa “Pemenang lomba
pacuan kuda musim ini adalaaaaaaah noomooooor saaatuuu !!!!”,hadirin menyambutkan
dengan bersorak-sorai,di antaranya ada yang menyanyikan lagu Sora-sorak Bergembira
sambil mengangkat dan mengarak pemilik kuda yang telah dinyatakan berhasil
meraih kursi yang diperebutkan.
Para pendukung kuda yang menang
meluapkan kegembiraannya dengan segala macam cara, sementara peserta yang kalah
segera pulang bersama pendukungnya, kecuali di antara mereka ada yang berusaha
menyelamatkan diri dengan segera ganti baju lalu bergabung dengan arak-arakan
pemenang menuju ke rumah kediaman pemenang. Para pelarian inipun dengan sekuat
tenaga bersorak “Hidup nomor 1 !!!” mereka dengan full volume ikut menyanyikan
lagu “Nomor 1 siapa yang punya, nomor 1 siapa yang punya, punya kita semua”.
Mereka terus berjalan mengikuti rombongan sambil sekali-kali berpandangan
dengan temannya sesama pelarian lalu tertawa. Sesampai
di rumah kediaman pemenang para pendukung berlomba-lomba mendekati pemenang
untuk menyampaikan selamat dan menumpahkan kegembiraan dan keharuan dengan
menangis, ada nangis betulan adapula yang nangis boong yang Cuma cari perhatian
yang tangisnya lebih dahsyat dari yang betulan dan pemenangpun menyambutnya
dengan mengucapkan terima kasih.
Semua yang menyalaminya
disambutnya dengan ramah dan di antaranya ada yang dipeluknya.Hingga ada satu
orang yang berusaha memeluk pemenang namun dihalangi oleh yang lainnya.”Ini
musuh Karaeng,dialah yang merusak gambar-gambar Kita, massai dia !!!” ujar
seorang tim pengurus. Orang yang berisinial Kammisi inipun gemetaran dan minta
ampun pada pemenang.Pemenangpun berdiri menenangkan suasana,”Sudah,sudah,
sekarang tidak ada lagi lawan dan tidak ada musuh karena pertadingan telah
selesai, mari kita bersatu,bekerja sama memajukan PT Air Gelang demi kemakmuran
kita semua”.”Tapi Karaeng,dia sangat kajili-jili mauka nabunuh”,protes anggota
tim lainnya.”Itu kan cuma maunya,bukan maunya Tuhan.Hanya kemauan Tuhan yang
pasti terbukti” Jawab Pemenang lalu mengajak para pendukungnya untuk makan
bersama.Kammisipun dipersilahkan duduk di dekat pemenang untuk makan semeja. Ada
rasa bangga di hati Kammisi karena bisa makan semeja dengan pemimpin padahal
pendukung lainnya harus melantai makan nasi dos.”Untung bukan pendendam, hampir
aku mati”,batin Kammisi sambil menikmati nasi,konro na bayao sesekali
memperhatikan masakan lain yang ingin pula dilahapnya, ada pallu basa, pallu
gantalak,pallu mara, pallu kacci,pallu kaloa dan pallu butung,ingin semua
diraihnya namun tangannya tak sampai.(Palajau,September 2013).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar