Sabtu, 17 Januari 2015

Cerpen HAJI MABRUR

                                                       
Musin haji telah berakhir.Seluruh jemaah haji telah pulang ke tanah air bertemu kembali dengan keluarganya kecuali yang bertemu ajalnya di perjalanan haji.Mereka pulang dengan memakai pakaian kehajiannya dan disambut dengan suka cita oleh keluarga dan tetangganya,selain karena meridukannya juga karena menunggu ole-olenya,dari air zam-zam,kurma,sajadah,jam tangan sampai pada karpet.Mereka memperoleh bagian sesuai dengan besarnya sumbangan saat hendak berangkat ke tanah suci.”tidak bawaki Al Quran ?”,tanyaku pada Haji Mansur.”Tidak Nak,karena tas sudah penuh”,jawabnya.Haji Mansur adalah salah satu jemaah haji yang sudah sepuluh tahun dalam daftar tunggu.Sambil mempersilahkan tamu mencicipi kurma bawaannya,juga mensuguhi tamu dengan kisah perjalannya saat menjalankan ibadah haji termasuk ketika mengamuk saat terlambat mendapat pembagian makanan.
Semua jemaah haji telah kutemui di kampungku,berbagai warna,rasa,buah tangan dan kisah yang kuperoleh dari mereka.Namun,diantaranya ada jemaah yang membuatku dan masyarakat lainnya agak heran dan bertanya-tanya.Mereka tampil beda dari jemaah lainnya tahun ini,”Mengapa berubah,adakah masalah yang menimpanya ? atau mungkin mereka sakit”,batinku.Sepulang dari tanah suci Haji Bella dan Haji Baji agak beda dibanding jemaah lainnya,mulai dari penampilannya yang sederhana juga agak dermawan.Daeng Baji hanya memakai jilbab besar tidak seperti pakaian ibu haji lainnya yang berupa kain penutup kepala tetapi kelihatan rambut dan lehernya.Sisa dana hajinya selain disumbangkan ke masjid,juga disedehkahkan kepada orang-orang miskin.
“Daeng Nga’ji,bagaimana keadaanta di atas baik-baikjaki ?”tanyaku usai shalat Magrib di Masjid.”Alhamdulillah berkat pertolongan Allah”,jawabnya. ”Kata Haji Mansur jarangki bede ketemu di Makkah dan katanya pernahki bede kesasar ?”,tanyaku lagi yang sambut tawa oleh Haji Bella.”Saya ke sana untuk menunaikan ibadah haji dan waktunya sangat terbatas dan Alhamdulillah waktu yang terbatas saya manfaatkan dengan kegiatan yang bernilai ibadah, mungkin karena terlalu banyak waktu di masjid sehingga rombongan mencari kami dan menganggap kami kesasar sehingga meminta bantuan polisi untuk mencariku”,jawab Haji Bella.”Bagaimana Kita Daeng Ngaji dalam menilai pelaksanaan hajita apakah termasuk haji  mabrur”,tanyaku.Haji Bella kembali tertawa.”Haji mabrur itu adalah tujuan kita dan dinilai oleh Allah.Kita tidak bisa menilai mabrur tidaknya seseorang karena itu adalah rahasia Allah,yang penting kita laksanakan dengan ikhlas dan dijaga dengan ikhlas”,jawab Haji Bella.”Daeng Ngaji melaksanakan dengan ikhlas dan menjaga dengan ikhlas itu bagaimana Daeng Ngaji’ ?”.tanyaku lagi.
“Baso…,Baso…,sejak dari tadi kamu menyebutku Daeng Ngaji,kuharap jangan kau ulangi lagi,cukup dengan nama harian kami !”,ungkap Haji Bella.”Memangnya kenapa,Daeng Bella padahal orang lain jusru marah kalau tidak dipanggil Daeng Ngaji karena memang sudah haji”,jawab Haji Bella.”Haji dilaksanakan dengan ikhlas,artinya dilaksanakan semata-mata mengharap ridha atau rahmat Allah,bukan mengharap tambahan nama,pujian,pengakuan dan penghormatan dari masyarakat.Bila kita mengarap tambahan nama,pujian,pengakuan dan penghormatan dari manusia maka pahala puasa akan berkurang atau hilang sama sekali karena haji didasari dengan riya’”,sambungnya”Jadi tidak bolehki memakai gelar haji,Daeng Bella’”,tanyaku lagi.”Tidak ada yang melarang umat Islam memakai gelar haji asalkan bisa menjaga keikhlasannya,artinya jangan ada di hati muncul keinginan untuk dikenal sebagai haji,jangan marah bila orang lain tidak menyebut kita haji dan jangan merasa bangga bila orang lain memanggil kita haji,karena semua itu akan mengurangi keikhlasan,padahal ibadah haji sama dengan ibadah lainnya yang cukup kita dan Allah yang mengetahuinya.Lagi pula Nabi SAW dan para sahabatnya yang lebih duluan berhaji tidak pernah memakai gelar haji.”,jawab Haji Bella yang membuatku sedikit tersinggung karena akulah yang selama itu selalu memperkenalkan diriku sebagai haji,yang marah bila di undangan namaku tidak tertulis haji.Namun demikian aku berusaha menyembunyikan perasaanku karena kupikir apa yang dikatakan oleh Haji Bella adalah benar.
“Bagaimana dengan menjaga haji dengan ikhlas yang Kita katakan tadi Daeng Bella’?”,tanyaku lagi.”Menjaga haji dengan ikhlas yaitu membuktikan pada Allah atas kesempurnaan agama kita karena telah menunaikan rukun Islam yang kelima.Haji itu bukan hanya prosesnya di Mekah dan Madina,melainkan juga pada hasilnya sepulang ke tanah air.Predikat haji adalah tanggung jawab yang besar,baik terhadap Allah,terhadap diri dan terhadap masyarakat.Haji itu bukan untuk dipamerkan pada masyakatat dengan gelar atau atribut di kepala melainkan hati kita harus dihajikan.Dengan menghajikan haji maka kapan dan di manapun,dan kondisi apapun kita akan menjadi haji.Haji adalah umat Islam yang telah sempurna yang harus dibuktikan di hadapan Allah dalam kehidupan sehari-hari.Setelah kita berhaji maka hati kita akan cenderung ke rumah Allah yaitu masjid,hati kita akan memimpin diri sendiri untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan setan.Setelah kita haji maka kita akan melaksanakan tugas dengan jujur dan ikhlas melayani masyarakat.kebiasaan buruk di masa lalu seperti bolos kerja dan rajin terima gaji, meperpermainkan kuaitansi atau LPJ,memotong dana bantuan dan pungutan liar kita tinggalkan”,jawab Haji Bella yang membuat telinga dan pantakku kepanasan seakan-akan mendesakku untuk meninggalkan Haji Bella,karena akulah yang dimaksud haji Bella,sepulang berhaji,bukannya lebih baik tetapi lebih buruk.Aku malas berjamaah di masjid terutama Shalat Subuh,aku masih suka melakukan pungutan liar kala melayani kepentingan masyarakat,prinsipku ‘ada uang ada layanan’,aku suka me-mark up harga dan memanpulasi LPJ.
Haji Bella,mungkin satu dari ratusan umat Islam yang telah berhaji,yang telah mengerti hakekat haji.Sepulang berhaji,Haji Bella semakin rajin ke masjid,setiap hari rutin membaca Al Quran,rajin berpuasa sunnah,rajin ikut pengajian,rajin membaca buku-buku Islam dan rajin bersedekah.Istrinya pun demikian yang sebelumnya cerewet,suka menggunjing,mengolok, menfitnah,tinggi adat dan mengadung domba orang lain berubah menjadi pendiam dan rendah diri.Dari berpakaiannya yang sebelumnya tidak memakai jilbab,suka berkeliaran dengan memakai celana atau rok pendek dan baju lengan pendek kini telah berpakaian muslimah.Di pestapun demikian,kalau sebelumnya selalu mempersoalkan pelayanan tuan rumah yang tidak memakai “dulang”,yang marah bila suaminya tidak dilayani dengan ‘cangkir kembar’,kini menerima apa adanya bahkan istrinyalah yang memprakarsai pelayanan tanpa dulang demi tidak merepotkan tuan rumah.Haji Baji telah menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertahankan adat yang merepotkan orang lain dan untuk mempertahankan kesombongan para bangsawan.Haji Baji juga menghendaki agar pelayanan kepada para “karaeng” dengan dua cangkir ditiadakan karena merepotkan rakyat dan mendorong masyarakat berlomba-lomba memakai gelar karaeng padahal secara adat tidak pantas memakai gelar itu.
“Siapa bilang Haji Bella dan Haji Baji itu mabrur,salahki Daeng ?”,ujar Mina pada Haba, suaminya”Haji Bella dan Haji Baji itu bukan haji Mabrur,buktinya Haji Bella tidak mau memakai gelar haji dan malas memakai songkok haji,sedangkan Haji Baji pun demikian liatmi dia cuma pakai jilbab bukan pakaian haji seperti haji-haji lainnya”,sambung Mina.”Mina…, Mina…, janganko menilai kemabruran seseorang dari gelar dan penutup kepalanya,tetapi lihatlah dari pengamalan agamanya dalam kehidupan sehari-hari.Banyak haji yang rajin memakai songkok putih tetapi perbuatannya tidak benar,minum minuman keras,berjudi,ikut saweran bahkan keluar masuk di rumah border.Banyak ibu haji yang sepintas pakaiannya meyakinkan tetapi kalau dilihat secara agama bukan berpakaian seorang haji.Allah dalam Quran Surat An Nur ayat 31,seperti nabilanga Ustadz Jamil,memerintahkan kepada wanita muslim untuk menjaga auratnya yaitu dengan memakai jilbab yang menutupi sampai ke dadanya,artinya seluruhnya rambut maupun kulit leher tidak boleh dilihat oleh lelaki lain yang bukan mukhrinnya”,jawab Haba’.”Kalau kelihatan rambut dan leher kenapa ?”,Tanya Mina.”Berarti menentang perintah Allah yang balasannya adalah dosa,kalau setiap hari memperlihatkan auratnya itu berarti setiap hari mengumpulkan dosa.Semakain banyak yang melihatnya semakin banyak pula dosa yang diperolehnya dan juga dosa bagi suaminya karena tidak menjaga aurat istrinya”,jawab Haba’.”Itukan pakain haji,jilbab itu bukan pakaian haji ?”,sanggah Mina.
”Dalam Islam tidak ada istilah pakaian haji,yang ada adalah pakaian muslim yaitu pakaian yang menutupi seluruh aurat.Jadi pakaian yang menampakkan sebagian aurat itu bukan pakaian muslim tetapi pakaian jahilyah”.Balas Haba’ mengutip perkataan Ustdz Jamil.”Apakah rambut dan leher juga termasuk aurat ?”,lanjut Mina bertanya.”Seluruh tubuh wanita dewasa adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan,berarti rambut dan leher adalah aurat yang berdosa bila dinampakkan atau berdosa bagi orang yang melihatnya dengan sengaja”,jawab Haba’.”Pakaian muslim itu yang bagaimana,Daeng Haba’?”,Tanya Mina. ”Pakaian muslim itu adalah pakaian yang menutupi seluruh aurat,yang tidak menampakkan lekut-lekut tubuh dan yang tidak trasparan sampai melihat sebagian aurat,wanita yang berpakaian tetapi menampakkan sebagai aurat atau lekut-lekut tubuhnya itulah yang dikatakan Nabi SAW sebagai wanita yang berpakaian tetapi telanjang,yang kelak tidak akan merasakan bau surga”,jawab Haba lalu memperhatikan pakaian istrinya yang ternyata tidak pakai jilbab.”Ini kan di dalam rumah dan tidak ada lelaki lain selain suamiku yang tercinta”,ujar Mina saat merasa diperhatikan oleh suaminya.Habapun tersenyum pada istrinya.(Palajau,2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar