Musin
haji telah berakhir.Seluruh jemaah haji telah pulang ke tanah air bertemu
kembali dengan keluarganya kecuali yang bertemu ajalnya di perjalanan haji.Mereka
pulang dengan memakai pakaian kehajiannya dan disambut dengan suka cita oleh
keluarga dan tetangganya,selain karena meridukannya juga karena menunggu
ole-olenya,dari air zam-zam,kurma,sajadah,jam tangan sampai pada karpet.Mereka
memperoleh bagian sesuai dengan besarnya sumbangan saat hendak berangkat ke
tanah suci.”tidak bawaki Al Quran ?”,tanyaku pada Haji Mansur.”Tidak Nak,karena
tas sudah penuh”,jawabnya.Haji Mansur adalah salah satu jemaah haji yang sudah
sepuluh tahun dalam daftar tunggu.Sambil mempersilahkan tamu mencicipi kurma
bawaannya,juga mensuguhi tamu dengan kisah perjalannya saat menjalankan ibadah
haji termasuk ketika mengamuk saat terlambat mendapat pembagian makanan.
Semua
jemaah haji telah kutemui di kampungku,berbagai warna,rasa,buah tangan dan
kisah yang kuperoleh dari mereka.Namun,diantaranya ada jemaah yang membuatku
dan masyarakat lainnya agak heran dan bertanya-tanya.Mereka tampil beda dari
jemaah lainnya tahun ini,”Mengapa berubah,adakah masalah yang menimpanya ? atau
mungkin mereka sakit”,batinku.Sepulang dari tanah suci Haji Bella dan Haji Baji
agak beda dibanding jemaah lainnya,mulai dari penampilannya yang sederhana juga
agak dermawan.Daeng Baji hanya memakai jilbab besar tidak seperti pakaian ibu
haji lainnya yang berupa kain penutup kepala tetapi kelihatan rambut dan lehernya.Sisa
dana hajinya selain disumbangkan ke masjid,juga disedehkahkan kepada
orang-orang miskin.
“Daeng
Nga’ji,bagaimana keadaanta di atas baik-baikjaki ?”tanyaku usai shalat Magrib
di Masjid.”Alhamdulillah berkat pertolongan Allah”,jawabnya. ”Kata Haji Mansur
jarangki bede ketemu di Makkah dan katanya pernahki bede kesasar ?”,tanyaku
lagi yang sambut tawa oleh Haji Bella.”Saya ke sana untuk menunaikan ibadah
haji dan waktunya sangat terbatas dan Alhamdulillah waktu yang terbatas saya
manfaatkan dengan kegiatan yang bernilai ibadah, mungkin karena terlalu banyak
waktu di masjid sehingga rombongan mencari kami dan menganggap kami kesasar
sehingga meminta bantuan polisi untuk mencariku”,jawab Haji Bella.”Bagaimana
Kita Daeng Ngaji dalam menilai pelaksanaan hajita apakah termasuk haji mabrur”,tanyaku.Haji Bella kembali
tertawa.”Haji mabrur itu adalah tujuan kita dan dinilai oleh Allah.Kita tidak
bisa menilai mabrur tidaknya seseorang karena itu adalah rahasia Allah,yang
penting kita laksanakan dengan ikhlas dan dijaga dengan ikhlas”,jawab Haji
Bella.”Daeng Ngaji melaksanakan dengan ikhlas dan menjaga dengan ikhlas itu
bagaimana Daeng Ngaji’ ?”.tanyaku lagi.
“Baso…,Baso…,sejak
dari tadi kamu menyebutku Daeng Ngaji,kuharap jangan kau ulangi lagi,cukup
dengan nama harian kami !”,ungkap Haji Bella.”Memangnya kenapa,Daeng Bella
padahal orang lain jusru marah kalau tidak dipanggil Daeng Ngaji karena memang
sudah haji”,jawab Haji Bella.”Haji dilaksanakan dengan ikhlas,artinya
dilaksanakan semata-mata mengharap ridha atau rahmat Allah,bukan mengharap
tambahan nama,pujian,pengakuan dan penghormatan dari masyarakat.Bila kita
mengarap tambahan nama,pujian,pengakuan dan penghormatan dari manusia maka
pahala puasa akan berkurang atau hilang sama sekali karena haji didasari dengan
riya’”,sambungnya”Jadi tidak bolehki memakai gelar haji,Daeng Bella’”,tanyaku
lagi.”Tidak ada yang melarang umat Islam memakai gelar haji asalkan bisa
menjaga keikhlasannya,artinya jangan ada di hati muncul keinginan untuk dikenal
sebagai haji,jangan marah bila orang lain tidak menyebut kita haji dan jangan
merasa bangga bila orang lain memanggil kita haji,karena semua itu akan
mengurangi keikhlasan,padahal ibadah haji sama dengan ibadah lainnya yang cukup
kita dan Allah yang mengetahuinya.Lagi pula Nabi SAW dan para sahabatnya yang
lebih duluan berhaji tidak pernah memakai gelar haji.”,jawab Haji Bella yang
membuatku sedikit tersinggung karena akulah yang selama itu selalu
memperkenalkan diriku sebagai haji,yang marah bila di undangan namaku tidak
tertulis haji.Namun demikian aku berusaha menyembunyikan perasaanku karena
kupikir apa yang dikatakan oleh Haji Bella adalah benar.
“Bagaimana
dengan menjaga haji dengan ikhlas yang Kita katakan tadi Daeng Bella’?”,tanyaku
lagi.”Menjaga haji dengan ikhlas yaitu membuktikan pada Allah atas kesempurnaan
agama kita karena telah menunaikan rukun Islam yang kelima.Haji itu bukan hanya
prosesnya di Mekah dan Madina,melainkan juga pada hasilnya sepulang ke tanah
air.Predikat haji adalah tanggung jawab yang besar,baik terhadap Allah,terhadap
diri dan terhadap masyarakat.Haji itu bukan untuk dipamerkan pada masyakatat
dengan gelar atau atribut di kepala melainkan hati kita harus dihajikan.Dengan
menghajikan haji maka kapan dan di manapun,dan kondisi apapun kita akan menjadi
haji.Haji adalah umat Islam yang telah sempurna yang harus dibuktikan di
hadapan Allah dalam kehidupan sehari-hari.Setelah kita berhaji maka hati kita
akan cenderung ke rumah Allah yaitu masjid,hati kita akan memimpin diri sendiri
untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan
setan.Setelah kita haji maka kita akan melaksanakan tugas dengan jujur dan
ikhlas melayani masyarakat.kebiasaan buruk di masa lalu seperti bolos kerja dan
rajin terima gaji, meperpermainkan kuaitansi atau LPJ,memotong dana bantuan dan
pungutan liar kita tinggalkan”,jawab Haji Bella yang membuat telinga dan
pantakku kepanasan seakan-akan mendesakku untuk meninggalkan Haji Bella,karena
akulah yang dimaksud haji Bella,sepulang berhaji,bukannya lebih baik tetapi
lebih buruk.Aku malas berjamaah di masjid terutama Shalat Subuh,aku masih suka
melakukan pungutan liar kala melayani kepentingan masyarakat,prinsipku ‘ada
uang ada layanan’,aku suka me-mark up harga dan memanpulasi LPJ.
Haji
Bella,mungkin satu dari ratusan umat Islam yang telah berhaji,yang telah
mengerti hakekat haji.Sepulang berhaji,Haji Bella semakin rajin ke
masjid,setiap hari rutin membaca Al Quran,rajin berpuasa sunnah,rajin ikut
pengajian,rajin membaca buku-buku Islam dan rajin bersedekah.Istrinya pun
demikian yang sebelumnya cerewet,suka menggunjing,mengolok, menfitnah,tinggi
adat dan mengadung domba orang lain berubah menjadi pendiam dan rendah diri.Dari
berpakaiannya yang sebelumnya tidak memakai jilbab,suka berkeliaran dengan memakai
celana atau rok pendek dan baju lengan pendek kini telah berpakaian muslimah.Di
pestapun demikian,kalau sebelumnya selalu mempersoalkan pelayanan tuan rumah
yang tidak memakai “dulang”,yang marah bila suaminya tidak dilayani dengan
‘cangkir kembar’,kini menerima apa adanya bahkan istrinyalah yang memprakarsai
pelayanan tanpa dulang demi tidak merepotkan tuan rumah.Haji Baji telah
menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertahankan adat yang merepotkan orang
lain dan untuk mempertahankan kesombongan para bangsawan.Haji Baji juga
menghendaki agar pelayanan kepada para “karaeng” dengan dua cangkir ditiadakan
karena merepotkan rakyat dan mendorong masyarakat berlomba-lomba memakai gelar
karaeng padahal secara adat tidak pantas memakai gelar itu.
“Siapa
bilang Haji Bella dan Haji Baji itu mabrur,salahki Daeng ?”,ujar Mina pada
Haba, suaminya”Haji Bella dan Haji Baji itu bukan haji Mabrur,buktinya Haji
Bella tidak mau memakai gelar haji dan malas memakai songkok haji,sedangkan
Haji Baji pun demikian liatmi dia cuma pakai jilbab bukan pakaian haji seperti
haji-haji lainnya”,sambung Mina.”Mina…, Mina…, janganko menilai kemabruran
seseorang dari gelar dan penutup kepalanya,tetapi lihatlah dari pengamalan
agamanya dalam kehidupan sehari-hari.Banyak haji yang rajin memakai songkok
putih tetapi perbuatannya tidak benar,minum minuman keras,berjudi,ikut saweran
bahkan keluar masuk di rumah border.Banyak ibu haji yang sepintas pakaiannya
meyakinkan tetapi kalau dilihat secara agama bukan berpakaian seorang
haji.Allah dalam Quran Surat An Nur ayat 31,seperti nabilanga Ustadz
Jamil,memerintahkan kepada wanita muslim untuk menjaga auratnya yaitu dengan
memakai jilbab yang menutupi sampai ke dadanya,artinya seluruhnya rambut maupun
kulit leher tidak boleh dilihat oleh lelaki lain yang bukan mukhrinnya”,jawab
Haba’.”Kalau kelihatan rambut dan leher kenapa ?”,Tanya Mina.”Berarti menentang
perintah Allah yang balasannya adalah dosa,kalau setiap hari memperlihatkan
auratnya itu berarti setiap hari mengumpulkan dosa.Semakain banyak yang
melihatnya semakin banyak pula dosa yang diperolehnya dan juga dosa bagi
suaminya karena tidak menjaga aurat istrinya”,jawab Haba’.”Itukan pakain
haji,jilbab itu bukan pakaian haji ?”,sanggah Mina.
”Dalam
Islam tidak ada istilah pakaian haji,yang ada adalah pakaian muslim yaitu
pakaian yang menutupi seluruh aurat.Jadi pakaian yang menampakkan sebagian
aurat itu bukan pakaian muslim tetapi pakaian jahilyah”.Balas Haba’ mengutip
perkataan Ustdz Jamil.”Apakah rambut dan leher juga termasuk aurat ?”,lanjut
Mina bertanya.”Seluruh tubuh wanita dewasa adalah aurat kecuali muka dan
telapak tangan,berarti rambut dan leher adalah aurat yang berdosa bila
dinampakkan atau berdosa bagi orang yang melihatnya dengan sengaja”,jawab
Haba’.”Pakaian muslim itu yang bagaimana,Daeng Haba’?”,Tanya Mina. ”Pakaian
muslim itu adalah pakaian yang menutupi seluruh aurat,yang tidak menampakkan
lekut-lekut tubuh dan yang tidak trasparan sampai melihat sebagian aurat,wanita
yang berpakaian tetapi menampakkan sebagai aurat atau lekut-lekut tubuhnya
itulah yang dikatakan Nabi SAW sebagai wanita yang berpakaian tetapi
telanjang,yang kelak tidak akan merasakan bau surga”,jawab Haba lalu
memperhatikan pakaian istrinya yang ternyata tidak pakai jilbab.”Ini kan di
dalam rumah dan tidak ada lelaki lain selain suamiku yang tercinta”,ujar Mina
saat merasa diperhatikan oleh suaminya.Habapun tersenyum pada
istrinya.(Palajau,2014).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar