Sungguh suatu pemandangan yang
menakutkan takkala kubuka mataku dan berada di sebuah padang yang luas dengan
pancaran sinar mentari yang amat menyiksa.Panas,lapar dan kelelahan yang
menemani hidupku.Sepertinya tidak ada yang bisa menolong sesamanya karena
masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.”Ya Allah,mau dibawa ke mana aku
?”,teriakku kala serombongan pasukan menghalauku ke tempat yang bercahaya
merah.Dari jauh telah kurasakan hawa panas cahaya merah itu.Tubuhkupun telah
bermandikan keringat.”Panas ya ?”,tanya Bundu,pemuda sekampungku yang selalu
menjadi buah bibirku.Bundu sekeluarga berbeda keyakinan denganku dalam beragama
Islam.Bundu sekeluarga anti bid’ah dalam beragama,sedangkan aku sekeluarga dan
seperguruan sangat menjujung tradisi bid’ah dalam masyarakat Islam.Aku
sekeluarga berpegang teguh pada ajaran guru tarekatku sedangkan Bundu
sekeluarga tidak percaya pada ajaran tarekat.”Islam ini dibangun di atas sunnah
yaitu Al Quran dan Hadis.Oleh karena itu, Islam hendaknya dilaksanakan menurut
petunjuk Al Quran dan Hadis”,kata Bundu padaku dalam suatu pertemuan.”Tidak,ada
Ilmu rahasia yang tidak disampaikan Allah dalam Al Quran, juga oleh Nabi
Muhammad kepada seluruh umatnya
melainkan hanya pada sahabatnya yang tertentu saja,itulah yang dibilang
tarekat”,bantahku dengan mengutip perkataan guruku.”Ajaran Islam yang benar
hanya ada dalam Al Quran dan Hadis.Kalau ada ajaran yang bertentangan dengan
itu maka termasuk ajaran sesat”,tambah Bundu yang membuat telingaku agak panas
mendengarnya.”Jadi kamu bilang terekat itu sesat ?”,tanyaku.”Saya tidak bilang
tarekat itu sesat,saya Cuma bilang bahwa kalau ada ajaran yang bertentangan
atau tidak ada dasarnya dalam Al Quran maupun Hadis maka itu adalah
sesat”,jawab Bundu.”Begini saja,kita tidak perlu perdebatkan siapa yang benar
dan siapa salah,nanti kalau mati baru kita tahu siapa diantara kita yang
beruntung dan siapa yang akan celaka,bagimu amalanmu dan bagiku amalanku”,ungkapku
menganghiri perbincangan.
Seluruh tubuhku bergetar kala
mendekat ke tempat yang bercahaya merah,ternyata adalah danau api dengan api
yang berkobar-kobar.”Di seberang sana ada kehidupan yang abadi dan penuh
kenikmatan.Untuk sampai ke tempat abadi dan nikmat itu kalian semua harus
melewati danau api ini dengan terbang.”Terbang,bagaimana kubisa terbang sedang
aku tidak punya sayap ?”,jawabku.Tiba-tiba kulihat Bundu memakai sepasang sayap
dan tersenyum padaku.”Ayo Buddin kibarkan sayapmu lalu kita terbang
bersama”,ajak Bundu.”Saya tidak punya sayap,darimana kamu mengambil sayap
?”,tanyaku mengharap memiliki juga sayap.”Tumbuh sendiri”,jawab Bundu lalu
kulihat Bundu melebarkan sayapnya lalu terbang tinggi melewati danau api.”Wahai
guruku tolong semberangkan aku ?”,teriakku memanggil guru tarekat yang kuyakini
akan datang menolongku.”Tolong dirimu sendiri karena aku juga tidak punya sayap
!”,kudengar suara guruku dari arah selatan.”Ayo semua menyeberang kalau tidak
akan kuserek kalian”,perintah pasukan berseragam hitam itu.Tiba-tiba dari
belakang ada yang menendangku dengan keras sampai aku terlempar ke arah danau
api.”Toloooong,aku tidak bisa terbaang,toloooooonng
!!!”,teriakku.”Tidaakkk.....panaass...toloooonng !!!”.
Aku tak kuasa menolong diri saat
tubuhku jatuh ke danau api.Amat panas kuasakan.”Alhamdulillah,Abi udah
sadar”,teriak anakku Ulis.Perlahan-lahan kudengar suara dokter,”Alhamdulillah,bapak
sudah sadar cuma jangan dulu diganggu karena badannya panas sekali,beri tindakan
penurun panas,Suster !”,perintah Dokter yang menanganiku.Perlahan-lahan kubuka
mataku dan samar-samar kulihat sosok yang berseragam putih.Kurasakan napasku
sesat dan alat bantu pernafasan masih melekat dihidungku.Kuteringat bahwa aku
masih berada di rumah sakit Labuang Baji,namun aku sudah tidak tahu sudah
berapa hari aku berbaring di kamar pasien.Kuperhatikan sekelilingku,sepertinya
aku dipindahkan ke ruang ICU,karena aku dikelilingi oleh alat-alat yang tidak
kulihat sebelumnya di kamar rawat inap.
“Suster,kembalikan pasien ke
kamarnya”,perintah Dokter.”Baik,Dok !”,jawab Suster yang sudah beberapa hari
kulihat datang merawatku.”Ayo Pak kita kembali ke kamar semula,nampaknya bapak
sudah semakin baik”,kata Suster yang bernama Wati,orangnya cantik lagi ramah
yang membuatku terhibur memandangnya.Wati masih yang cewek pintar menghibur pasien,makanya aku tidak
keberatan kalau Wati selalu memeriksa atau membetulkan keteter yang melekat di
bagian terhormat dari tubuhku.”Maaf ya Pak,keteternya sudah mau dilepas”,kata
Wati sambil mengangkat sarungku.Kututup mata lalu kutahan nafas saat tangan
Wati mulai melepas keteter.”Tahan,iya Pak !”,pinta Wati dan aku cuma diam tanda
setuju.”Iya,sudah Pak insya Allah tidak lama lagi Bapak akan pulang”,sambung
Wati.”Terima kasih sebelumnya Suster”,ungkapku.”Sama-sama Pak”,jawab Wati.
Dokter telah membolehkanku
pulang.”Alhamdulllah,terima kasih Ya Allah atas kesembuhan yang Engkau berikan
kepadaku”,suara hatiku.Bererapa jam dalam perjalanan aku dan istri yang setia
menemaniku sampai di kampung.Kami disambut oleh tetangga dan
kerabat,diantaranya ada yang memelukku.Aku sembuh walau kekuatan fisikku tidak
seperti dulu lagi.
Kini aku telah meninggalkan
Rumah Sakit,tempat aku berobat selama sepuluh hari.Alhamdulillah Allah masih
memberiku kesempatan untuk menikmati hidup di muka bum ini,kesempatan untuk
membesarkan dan mendidik anak-anakku,kesempatan untuk memperbanyak bekal hidup
di negeri akhirat.Tapi,ada satu yang membebani pikiranku,yaitu mimpi yang
kualami saat di rawat di rumah sakit.Aku gagal terbang melewati danau api
karena ku tidak punya sayap.Jangankan sepasang,satu sayap saja aku tidak punya
sayap. Guru tarekatku yang selama ini kuanggap sebagai junjungan,penyelamat dan
yang telah menjaminku masuk surga ternyata tidak punya pula sayap,nasibku sama
yaitu sama-sama jatuh ke danau api.Bundu yang selama ini kuanggap akan celaka
ternyata dia yang selamat,memiliki sayap dan bisa terbang melewati danau api
menuju ke kampung abadi dan penuh kenikmatan.”Benarkah kata Bundu,bahwa hanya
ajaran Al Quran dan Hadislah yang benar ?, lalu bagaimanakah ajaran tarekat
yang selama ini kuamalkan benarkah sesat ?”,batinku sebelum tidur.
Selama menginjak bangku kuliah
aku mulai tertarik menuntut ilmu tarekat.Bagiku ilmu tarekat itu adalah ilmu
khusus buat para kekasih Allah,sebagai jalan pintas menuju surga.”Tarekat itu
adalah ilmu istimewa kepada orang yang diistimewakan Allah.Orang yang tidak
bertarekat,tidak terjamin keselamatannya di akhirat”,kata guruku yang mengaku
sebagai penguasa dunia akhirat,yang sudah tiga kali dikuburkan.Akupun percaya
pada ajaran guru tarekatku.Melalui guruku,kudapatkan ilmu-ilmu batin,antara
lain ibadah batin dan ilmu pelindung diri.Ibadah batin itu antara lain sahadat
batin sebagai penyelamat dalam sakratul maut,shalat batin sebagai penyelamat di
alam kubur,taubat batin sebagai penghancur segala macam dosa.Diantara ilmu itu
ada yang bisa membuat kita hidup kembali setelah dikuburkan.
Guruku hebat telah menguasai
ibadah batin,sehingga dia tidak perlu lagi melaksanakan syariat yang diajarkan
oleh Nabi Muhammad SAW.Guruku tidak melaksanakan shalat lima waktu,tidak shalat
Jumat dan puasanya Cuma 9 hari di bulan Ramadhan,itupun bisa dibantu dengan
minum kopi di pagi hari.Guruku adalah teladanku,makanya akupun malas shalat dan
malas puasa karena kuyakin diriku sudah dijamin masuk surga,gurukulah yang akan
membawaku bersama ratusan pengikutnya masuk surga.
Aku kembali berada di sebuah
padang yang luas,tiba-tiba kulihat sosok orang tua yang berjubah putih
mendekatiku.Wajahnya mengingatkanku pada foto yang terpasang di dinding
rumahku.Foto gurunya guruku,yaitu Syaikh Abdul Qadir al Jelani.”Assalamu
alaikum !”,dan kujawab “Wa alaikum mussalam”.”Apa yang kau cari di padang ini
?”, tanya orang tua itu.”Aku mencari sayap untuk bisa terbang ke kampung
abadi”,jawabku.”Itu sayap kebenaran yang tidak dicari ke mana-mana,melainkan
ada di dalam hatimu sendiri”,sambung orang tua itu.”Bagaimana kubisa masuk ke
dalam hatiku ?”,tanyaku lagi.”Bukalah jalan menuju hatimu”,jawabnya.”Jalan mana
yang dimaksud?”,tanyaku.”Jalan kebenaran yang telah diturunkan Allah dan yang
telah diajarkan atau dilewati oleh Rasul-Nya.Jalan kebenaran itu ada di dalam
al Quran dan Sunnah Rasul.Terbanglah kepada Allah melalui hatimu dengan
sepasang sayap Al Quran dan Sunnah Rasul.Tinggalkan ajaran yang tidak memliki
dasar atau yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah rasul,”jawab orang tua
itu.
“Bagaimana dengan ajaran tarekat
guruku itu yang mengaku sebagai muridnya Syaikh Abdul Qadir Jaelani”,tanyaku
lagi.”Saya Abdul Qadir,saya tidak pernah mengajarkan ilmu sesat seperti yang
diajarkan gurumu itu.Ajaranku bersumber dari Al Quran dan hadis,dan saya tidak
pernah menjamin muridku masuk surga,karena surga itu tergantung pada Rahmat
Allah dan jalan Rahmat itu ada pada diri masing-masing.Tidak seorangpun manusia
bisa menjamin seseorang masuk surga,jadi kalau ada ajaran yang bertentangan
dengan Al Quran dan Hadis itu bukan dariku melainkan dari setan.Kalau ada ahli tarekat yang mengaku menemukan
hakekat dan mencapai ma’rifat tetapi dalam kenyataan meremehkan syariat maka
itu dusta dan tertipu,Nabi saja yang telah menjadi kekasih Allah sangat menjaga
syariat,palagi kalau cuma umatnya”.Jawabnya lalu tiba-tiba
Syaikh lenyap dari pandanganku.Dan akhirnya kudengar istriku membangunkanku
untuk shalat Subuh.
Usai Shalat Subuh kuceritakan
seluruh mimpi-mimpiku kepada istriku dan tekadku untuk meninggalkan
ajaran-ajaran tarekat guruku untuk kembali kepada ajaran yang benar,yaitu Al
Quran dan Sunnah Rasul.Kusisihkan sebagian rezki Allah untuk membeli Tafsir Al
Quran,Kitab-Kitab Hadis Sahih Terjemahan,Kitab-Kitab Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Buku-Buku Islam.Kusibukkan diriku
mempelajari dan memahami kitab-kitab tersebut.Kemudian kuberusaha mengamalkan
ajaran Islam yang benar,kutinggalkan ajaran dan amalan sesat yang kesyirikan
seperti ziarah kuburan keramat,mempersembahkan sesajen kepada roh penghuni
tempat atau kuburan keramat.Kepada guru dan teman seperguruan tarekat
kusampaikan bahwa aku telah keluar dari anggota terakatnya.”Buddin telah
kafir,dia akan menyesal di dalam neraka,siapa lagi yang mau masuk neraka
silahkan keluar dari tarekat ini,dia itu orang lemahnya imannya sehingga mudah
dipengaruhi oleh guru terekat lain”,ujar guruku dihadapan
murid-muridnya.”Katanya Kareng,rela dibakar di neraka asalkan sanggup
mengamalkan Islam yang benar sebagaimana yang diajarkan dalam Al Quran dan
Hadis”,kata Puddin mengutip perkataanku padanya.Aku sudah tetap pada
keyakinanku bahwa ajaran Al Quran dan Hadislah yang benar,yang bisa menjamin keselamatan
di negeri akhirat,yang bisa menerbangkan ke kampung abadi dan nikmat.”Justru
kalianlah yang akan menyesal nanti bila tetap dalam ajaran sesat dan tidak
bertaubat sebelum mati”,uangkapku pada Puddin,teman seperguruanku.Terus
kupelajari Islam sampai kumimpikan diriku bisa terbang melewati danau api lalu
menerobos
sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah taman yang indah.Mimpi ini telah meyakinkanku bahwa Al Quran
adalah petunjuk dan jalan yang lusus yang pengamalannya harus sesuai dengan
yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasul-Nya,bukan yang diajarkan dan
dicontohkan oleh guru-guru tarekat.Terima kasih Tuhan
ternyata melalui penyakitku Engkau datang memberiku petunjuk.Semoga penyakitku menjadi penebus atas
dosa-dosa kesesatanku di masa lalu.Semoga dengan penyakit itu Engkau
membersihkanku dan Engkau berkenang masuk ke dalam hatiku untuk menjadi
pemimpin hidupku dalam kehidupan dunia dan akhirat.
“Berarti kita tidak boleh bertarekat ?”,Tanya
istriku.”Boleh,karena tarekat itu adalah jalan yang bisa mengantar kita untuk
mencapai hakekat ketuhanan dan sampai kepada keridhaan atau kasih Allah,tetapi
dengan tarekat yang benar,yaitu tarekat yang sesuai dengan tuntunan Allah dan
Rasul-Nya melalui al Quran dan Sunnah Rasul,bukan dengan tarekat
sesat”,jawabku.”Yang mana tarekat sesat ?”,sambung istriku.”Yaitu tarekat
buatan setan untuk menyesatkan manusia,yang dilihat dari ajaran dan
gurunya.Ajarannya bertentangan dengan aqidah dan syariat Al Quran dan Hadis,sedangkan
gurunya bukanlah orang yang taat menjalankan agama,seperti tidak shalat,anti
masjid atau dekat kepada kesyirikan,antara lain kuburan keramat,benda-benda
keramat dan suka mempersembahkan sesajian pada roh,tempat atau kuburan
keramat,termasuk pula suka melakukan sihir.”Astagfirullah,berarti perguruan tarekat
kita dulu itu sesat ?”,tanya istriku.”Iya,makanya bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang sebenarnya,lalu memperbaiki diri dengan memperbanyak
melakukan amalan saleh,semoga Allah berkenang mengampuni dosa-dosa
kita”.jawabku “Kurang ajar,kuserahkan uang dan emasku hanya untuk mendapatkan
tiket ke neraka,tolol sekali,kirain tiket ke surga”,sambung istriku yang
kubalas dengan senyum sebagai tanda mengakhiri obrolan untuk mengikuti resep
dokter.(Palajau,Januari 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar