Guruku duduk sendirian di sudut
sekolah terseyum-senyum ketika melihat
layar HPnya,rekan di kota mengabarkan bahwa calon Bupati yang didukungnya
menang.”Alhamdulillah semoga ini pilihan Allah untuk memajukan daerah ini”,batin
Pak Rahmat lalu mengenang jalan hidupnya yang terlempar ke gunung gara-gara salah dukung pada pilkada 5 tahun
yang lalu.
Pak Rahmat adalah mantan kepala
sekolah yang sekarang menjadi menjadi guru biasa yang mengajariku PKN, orangnya
sederhana dan selalu mengajarkan nilai-nilai agama dan budi pekerti. Guru PKNku
ini tidak kaku pada tuntutan
kurikulum,aktif
melatih kami Pramuka
dan PMR di sekolah.Dalam mengajar guruku lebih banyak menanamkan nilai agama
dan budi pekerti dari pada materi-materi yang ada di buku paket.”Untuk apa kita
belajar demokrasi yang baik, kalau bapak-bapak atas yang seharusnya kita
contoh mempraktekkan demokrasi yang
buruk”,”Untuk apa kita mendalami materi korupsi kalau para pejabat yang
seharusnya kita contoh mempratekkan korupsi itu”,ujar Pak Rahmat di hadapan
para siswa.
Yang ditanamkan adalah bahwa
Allah bersama kita,melihat dan mengawasi apa yang kita lakukan,mencatat dan
akan membalas perbuatan kita, Sekecil apapun perbuatan dosa yang kita lakukan
Allah akan membalasnya dengan neraka,siksa neraka yang teringan adalah iabarat kita disuruh memakai
sepatu besi yang sudah dipanasi sampai merah yang membuat otak meleleh. Sebelum
memulai pelajaran guru PKN ini selamanya memimpin siswa untuk
berzikir,beristigfar lalu berdoa di dalam hati karena Allah Maha Mengetahui isi hati kita.
Pak Rahmat adalah sosok guru
yang profesional.Mutasinya ke gunung tidak dipandangnya sebagai hukuman karena
tidak mendukung calon bupati yang menang,melainkan dianggap sebagai penambah
pengalaman.Lagian Pak Rahmat sejak dari awal bersedia di temapatkan di manapun
dalam wilayah negara ini.Sehingga di gunung pun Pak Rahmat tetap
bersemangat menjalankan tugasnya.Pak Rahmat menyadari bahwa dirinya diangkat
dan digaji oleh negara maka tidak pantas bermalas-malasan kalau cuma dimutasi ke tempat
yang jauh.Kepada negaralah Pak Rahmat mempertanggungjawabkan tugasnya,bukan
kepada pejabat bupati yang menyingkirannya.
Sejak bertugas di salah satu SMP
di daerah gunung, Pak Rahmat amat disukai oleh masyarakat
lingkungannya.Kompetensi sosialnya bagus.Dia dekat dengan masyarakat, apalagi
dia suka berdakwah, dia selalu diundang untuk ceramah Ramadhan, Khukbat
Jumat/dan Khutbah lebaran dan kadang pula diundang membawakan Taziah,ataupun acara barzanji.Diapun aktif membina remaja
masjid dan membina masyarakat mengenal teknologi pertanian.
Mengetahui bahwa Pak Rahmat
mempunyai pengaruh di daerah pengunungan yang terdiri dari beberapa desa, maka
oleh Bupati, dengan kepentingan politiknya,memanggilnya ke rumah jabatan dengan maksud untuk diangkat menjadi
kepala SMP di tempatnya mengajar.”Terima kasih atas kepercayaan Bapak” namun
Pak Rakmat menolaknya dengan halus,Pak Rahmat tidak mau lagi
menerima jabatan atas dasar balas jasa bukan karena kompetensi,karena balas
jasa itu kelak bisa berubah menjadi balas dendam seperti yang telah dialaminya
selama lima tahun ini.Menolak
tawaran pimpinan maka selanjutnya Pak Rahmat menuai tekanan dan intimidasi.
Masyarakat pegunungan tahu bahwa
Pak Rahmat mendapat ancaman dari salah satu calon bupati, maka masyarakat satu
kecamatan mengancam bupati tak akan mendapat suara untuk calon yang didukungnya
bila Pak Rahmat diganggu.”Kami tidak setuju kalau pilkada ini diwarnai dengan
tekanan dan intimidasi”,demikian salah satu bunyi surat protes masyarakat pegunungan kepada bupati.
Pak
Rahmat adalah guru idolaku di sekolah dan tokoh masyarakat yang disegani di
kampung.Pak Rahmat selalu mendakwakan pemilihan yang bersih, menanamkan pada
masyaraat bahwa penyogok,disogok dan perantaranya akan masuk neraka, kalau
calon menyogok agar menang,maka setelah memangku jabatan dia akan mencari
uangnya maka dilakukanlah korupsi,membuka penerimaan pegawai dengan sogokan dan
cara lain untuk meraup keuntungan diri dan keluarganya.”Pilihlah sesuai hati
nurani,karena Allah akan memimpin kita melalui hati nurani untuk memilih calon
pemimpin yang dikehendaki-Nya.Memilih karena nafsu uang hanya akan mendatangkan
kesengsaraan dan penyesalan”,kata Pak Rahmat di depan jemaah.Oleh karena
itu,rakyat dipengunungan tak ada yang mau disogok atau menjadi perantara para
penyogok. Mereka memilih pemimpin yang bermain bersih sesuai pilihan hati
nuraninya.
Tanggal 25 Nopember adalah hari
ulang tahun guruku yang tercinta.Kami seluruh siswa bermaksud melakukan
perayaan hari Ulang Tahun Pak Rahmat. Rencana ini saya sampaikan kepada Kepala
Sekolah dan juga kepada ayahku yang kebetulan adalah pejabat Kepala Desa di
desaku.Kepala sekolah dan Kepala desa sangat mendukung rencana kami sehingga
kami selaku pengurus OSIS mempersiapkan segala sesuatunya.
Pesta ulang tahun Pak Rahmat
berlangsung dengan meriah.Pesta ini dimerahkan dengan berbagai lomba olah raga
dan seni selama seminggu dan puncak perayaan dihadiri oleh calon bupati
pemenang pilkada yang lalu.”Siapa yang mengundang Pak Ilham di pesta ini”,tanya
beberapa teman panitia.”Ayahku yang mengundangnya,ayahku adalah team suksesnya
di desa ini”,jawabku.Acara puncak diisi dengan penampilan kreasi seni sekolah
kami,antara lain tari,menyanyi,dancing dan puisi.Semua yang ditampilkan adalah
kreasi asli buatan siswa sekolah kami.Semuanya dibuat khusus untuk ulang tahun
Pak Rahmat.
Usai aku menyampaikan laporan
ketua panitia,giliran Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan dilanjutkan
dengan sambutan ayahku selaku kepala desa.Baik kepala sekolah maupun kepala
desa menyampaikan apresiasi atas kinerja Pak rahmat di sekolah maupun dalam
masyarakat.”Selama Pak Rahmat berada di sekolah ini,prestasi-prestasi sekolah
semakin meningkat”,ungkap Pak Karim,kepala sekolah kami.”Saya memandang bahwa
Pak Rahmat adalah sosok guru yang ideal,selain menjadi panutan siswa di
sekolah,beliau juga adalah panutan masyarakat.Selama berada di desa
ini,masyarakat semakin memiliki kesadaran hidup bermasyarakat.Para pemuda yang
sebelumnya nganggur,kini telah giat berusaha”,ungkap ayahku.
Pembicara
terakhir adalah calon bupati terpilih.Walau tidak teragenda dalam acara ultah
ini,namun Kepala Sekolah menambah acara dengan mempersilahkan beliau untuk
melengkapi acara.”Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan
masyarakat desa ini kepada saya untuk memimpin daerah ini lima tahun ke
depan.Saya sangat terharu pada masyarakat desa ini karena 90 % memilih saya”ungkap
Pak Ilham disambut tepukan oleh hadirin.”Saya menyampaikan rasa bangga saya
atas prestasi yang telah diukir oleh Pak Rahmat selama bertugas di daerah
gurung ini.Sosok seperti inilah yang sangat kita harapkan dimiliki oleh seluruh
aparat negara dan abdi masyarakat.Tidak seperti pegawai lainnya yang telah
kelihangan jabatan,mereka kecewa dan melakukan aksi malas kerja,padahal siapa
yang rugi tentunya negara yang memberi gaji,masyarakat yang menbayar pajak dan
dirinya sendiri karena kelak di negeri akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban
atas kebolosannya selama kehilangan jabatan.Padahal seharusnya kita tidak
demikian.”tambah Pak Ilham disambut tepukan hadirin,”Hidup Pak Ilham !!!:
teriak beberapa hadirin.
“Banyak pegawai atau guru yang
khawatir atas kemenangan saya.Mereka khawatir atas budaya cuci gudang,balas
jasa dan balas dendam politik.Pada kesempatan ini saya kembali menegaskan bahwa
dalam kepemimpinan saya tidak ada istilah cuci gudang,balas jasa maupun balas dendam.Saya akan
memilih pembantu-pembantu saya orang-orang yang berkompetensi,kalaupun ada dari
keluarga atau pun team sukses saya yang mendapat jabatan,itu karena
pertimbangan kompetensi atau prestasinya”,lanjut Pak Ihlam disambut tepukan
hadirin”Seperti halnya Pak Baso,kepala desa Moncong ini karena bukan PNS jadi tidak mungkin saya akan beri jabatan sebagai
kepala dinas walau beliau adalah team sukses saya.Tetapi Pak Rahmat,mungkin
sangat cocok kalau saya percayakan sebagai kepala sekolah atau kepalanya kepala
sekolah,setujuuu ?”.”setujuuuuu !!!” serentak hadirin menjawab.”Pak Rahmat
sangat cocok menduduki jabatan di pendidikan karena beliau sarjana pendidikan
dan guru yang berprestasi, yang sarjana ekonomi kita tempatkan di bagian
ekonomi,yang sarjana pemerintahan kita tempatkan di pemerintahan,karena
menempatan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah suatu kebodohan dan
pemborosan”.”Betuuulll !!!”,sambut hadirin.
Usai sambutan dilanjutkan dengan
tiup lilin oleh Pak Rahmat dan pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan oleh
Kepala Sekolah lalu diserahkan kepada Pak Ilham,kemudian aku selaku ketua OSIS
mewakili teman-teman menyampaikan sebuah bingkisan kepada Pak Rahmat,isinya
tentu yang berhubungan dengan kebutuhan Pak Rahmat sebagai guru.Terakhir Pak
llham menyerahkan bingkisan pula kepada Pak Rahmat dan sebuah amplop.Amplop
inilah yang menjadi tanda tanya hadirin,apakah berisi uang atau apa ya ?.
Usai
membuka amplop Pak Rahmat melangkah ke depan lalu berkata: “Kalau jabatan ini
diberikan padaku sebagai balas jasa maka berikan saja kepada yang lain yang lebih
berjasa,karena saya tidak merasa membantu Bapak dalam pilkada, karena esok lusa
Bapak akan mencopotnya lagi bila saya tidak lagi
mendukung Bapak
bila keluar dari kebenaran,
tapi bila jabatan ini karena suatu amanah maka saya akan
menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan saya sampaikan kepada bapak bahwa
Saya tidak mau jabatan ini kelak membuat
kemerdekaan saya dirampas lalu dipermainkan dan
dijadikan alat politik, saya mau menikmati kemerdekaan
diriku bebas mengurusi
anak didikku, saya tidak mau lagi merasa
terjajah oleh kepentingan politik,kujalankan tugas negara sesuai aturan yang berlaku.
Saya tidak mau pada jam kerja berada di lapangan mengikuti kampanye atau mengikuti pertemuan politik lalu pekerjaan di sekolah yang menjadi tanggungjawab saya terlantar.Saya tidak
mau melalaikan tugasku yang nantinya Allah menghukumku demi ambisi politik
orang lain. Saya tidak mau ditekan apalagi diancam-ancam. Saya ini pendidik.Pekerja professional,yang kerjanya
disekolah,bukan berkeliling di masyarakat untuk mencari suara.Saya tidak mau dijajah oleh siapapun”,ungkap Pak
Rahmat,”Betuuull” seru hadirin.Nampak Pak Ilham bertepuk tangan diikuti hadirin
lainnya.”Oke,Pak Rahmat
!!,makanya
guru jangan terlalu menonjolkan diri dalam permainan politik”,Jawab Pak Ilham singkat.(Palajau,Nopember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar