Rabu, 21 Januari 2015

Cerpen HUJAN DUIT DI TANAH KERING

                Aku bangga dilahirkan di daerah Kabupaten Tanah Kering,karena di tanah ini aku tumbuh menjadi manusia yang dapat berbakti bagi masyarakat,bangsa dan negaraku. Walau negeri ini disebut tanah kering namun masih banyak hal yang membuatku bangga,antara lain kesadaran beragamanya,karena setiap tahunnya warga masyarakat antrian untuk menunaikan ibadah haji,dan bisa bersaing dengan daerah lain dalam kompetisi otonomi Daerah.Walau selalu berada dalam urutan terakhir namun kubangga pada semangat masyarakat untuk terus meraih kemajuan,sekalipun kemajuan itu masih dalam angan-angan.
                Tanah kering bukanlah nama daerahku yang sebenarnya,itu hanyalah julukan yang diberikan oleh penduduk daerah lain yang kebetuluan lewat disepanjang jalan daerahku.Mereka mengukur kemampuan daerahku dari banyaknya sawah-sawah kering yang terbentang disepanjang jalan,banyaknya tukang becak yang mengais reski di daerah lain,serta banyaknya pencuri yang ber-KTP daerah ini,sehingga mereka berani berkesimpulan bahwa daerahku ini kering.Memang daerahku mau seperti daerah lainnya yang sudah menikmati kemajuan,sangat mengharapkan turunnya hujan dari langit untuk menyelamatkan kelangsungan hidup yang terancam punah. Para petani hendak menanam padi tapi hanya bisa bersabar karena sawah kering, atau padi gagal panen karena kekeringan air. Mau dibantu dengan mesin pompa air tapi air yang mau dipompa tidak ada, masyarakat menjadi kekurangan makanan, sehingga ada yang merantau ke negeri orang untuk mengais rezki, ada pula yang ganti profesi dari petani menjadi pencuri, yang PNS berbisnis korupsi, atau bisnis nepotisme CPNS.”Memangnya di daerahmu tidak pernah turun hujan ?”,tanya Puang Baso padaku.”Sering,Puang bahkan kadang dilanda banjir”,jawabku.”Tapi mengapa sawah-sawah di sepanjang jalan itu tidak dimafaatkan ?”,tanya Puang Baso.”Kita semua mau memanfaatkannya Puang,Cuma airnya tidak teratur karena irigasinya tidak mendukung,di daerahku Puang banyak tikus yang merusak irigasi sehingga air tidak bisa sampai ke sawah-sawah kami”,tambahku pada Puang Baso.Puang Baso adalah tetanggaku di Makassar.Dia perantau Bugis yang sukses,sedangkan aku kurang beruntung karena profesiku hanya sebagai pedagang sayur.Namun demikian,aku masih bangga dengan profesiku yang dikuanggap halal.Walau Cuma penjual sayur,aku bisa mencetak tiga sarjana dalam keluargaku.Yang kini sudah tersebar diinstansi pemerintahan sebagai tenaga honorer.Ada yang sudah sepuluh tahun masa kerjanya namun harus bersabar menanti datangnya takdir.
                Masyarakat sekampungku kadang heran menghadapi cuaca yang tidak menentu.Bukannya hujan air  yang turun malah hujan duit yang turun di tanah kering.Tapi bukan duit yang kami inginkan sebagai para petani tanah kering, melainkan air untuk tanaman pertanian dan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.Bukan hujan duit yang kami harapkan tapi kedamaian dan kemerdekaan dari penjajahan para pencurian dan penjarahan gerombolan tikus.Bagamana masyarakat bisa makmur kalau yang datang hanya hujan duit yang membasahi tanah yang kering dan gersang, yang tumbuh subur hanyalah baliho-baliho di jalanan, yang memamerkan kegagahan diri dan kata-kata yang memuji diri.Adalah suatu pemborosan di daerahku kalau uang hanya untuk menanam baliho-baliho di pinggir jalan,”Mau diapakan itu baliho,bisa dimakan ?”,kata Daeng Bella.Daeng Bella adalah seorang petani yang baru saja gagal panen karena sawahnya kekeringan.”Andaikata uang-uang baliho itu disumbangkan untuk pembangunan irigasi,tentu lebih bermanfaat bagi masyarakat daerah ini”,kata Daeng Bella pada sepupunya Daeng Tata.”Betul sekali Daeng Bella,saya kira yang demikianlah pejuang kepentingan rakyat”,tambah Daeng Tata.
                “Bagaimana menurut Daeng Bella,calon pemimpin yang mengeluarkan biaya yang besar itu apakah tidak bakal korupsi ?”, tanya Daeng Tata.”Mana kutahu Daeng Tata,tidak bisaki berprasangka buruk”,jawab Daeng Bella.”Saya tidak berprasangka buruk,Cuma mengira-ngira bahwa semakin banyak biaya yang dikeluarkan seorang calon maka semakin besar pula peluangnya untuk melakukan kerupsi,karena sedikit banyaknya mereka akan berpikir untuk mengembalikan modalnya”,kata Daeng Tata.”Betul juga perkiraanmu Daeng Tata,makanya hati-hatilah memilih calon pemimpin,pilihlah calon pemimpin yang telah kita kenal orangnya,yang bersih,yang kita anggap bisa memperjuangkan kepentingan rakyat,dan yang lebih bagus lagi kalau kita memilih yang telah kita rasakan prestasi atau perhatiannya”,tambah Daeng Bella.
                “Menjelang pemilihan calon pemmpin nanti,hujan duit akan semakin deras,dermawan-dermawan politik akan bertebaran,menyumbang masjid atau bagi-bagi uang dan sembako,bagaimana menurut Daeng Bella ?”,tanya Daeng Tata.Daeng Bellapun tersenyum lalu menarik napas dan berkata,”Dermawan politik yang Daeng Tata maksudkan itu menurut saya termasuk praktek curang,meraka ingin membeli hati nurani manusia,padahal hati nurani itu tidak bisa diperjualbelikan.Lagi pula Daeng Tata,praktek jual beli suara atau yang orang bilang money politik termasuk suap menyuap yang dilarang dalam agama kita.Ustaz Herman pernah mengatakan bahwa penyuap,orang yang disuap dan perantaranya sama-sama masuk neraka”.”Jadi tidak bisaki menerima pemberian seorang calon walau mereka ikhlas memberi ?”,tanya Daeng Tata memotong pembicaraan Daeng Bella.”Mana ada calon yang ikhlas menyumbang sekarang Daeng Bella ?,memang mulutnya mengatakan ikhlas tapi hatinya mengharap agar dipilih,itu kan menyuap yang berkedok sedekah.Kalau mereka mengaku ikhlas maka terima saja asalkan tidak mempengaruhi pilihan kita,itu tidak menjadi masalah Daeng Tata.”Tidak dosajaki kalau kita tidak memilih orang yang bagi-bagi uang ?”,tanya Daeng Tata.”Dosa atau tidak itu Allah yang lebih tahu,tapi sepertinya ada dosanya karena kita ikut berpartisifasi menyuburkan money politik di negeri ini”,jawab Daeng Bella.”Kalau begitu,saya akan memilih sesuai dengan hati nurani”,ujar Daeng Tata.”Memang begitu seharusnya sikap seorang muslim yang takut kepada hari pembalasan,maukah gara-gara uang lima puluh ribu kita masuk neraka ? rugijaki Daeng Tata”.Tambah Daeng Bella sambil pamitan karena azan shalat Isya telah berkumandang.
                Usai makan malam,Daeng Tata sekeluarga nonton bareng di ruang keluarga.Tiba-tiba mata Daeng Tata tertuju pada sebuah berita di Indosiar,”Seorang pengemis mati kelaparan saat berteduh di sudut kota di bawah sebuah baliho raksasa”.”Astagfirullah”,batin Daeng Tata. Di sudut kota Maju Mundur banyak terpasang baliho raksasa dari calon wakil rakyat yang mempromosikan dirinya. Sayang baliho raksasa itu tidak peduli pada nasib rakyat miskin, padahal di atas baliho tertulis pejuang kemakmuran, bersih, peduli dan merakyat. Saat orang kelaparan itu berteduh datang angin besar, baliho  raksasa pun tumbang dan mengenainya... mati,”Mengapa saya yang disoroti,pengemis itu yang salah,mengapa tidak ke rumah saya meminta makanan ?”,ujar calon pemilik baliho saat di demo oleh warga.
                Pemilik baliho menyampaikan bela sungkawa dan menyampaikan pada keluarganya “Mengapa tidak bilang-bilang kalau ada keluarganya yang kekurangan, seandainya dia masuk ke rumah berteduh dia tidak akan mengalami nasib seperti itu,kami pasti menjamin hidupnya”. Dipersilahkannya wartawan itu mengabadikan perstiwa saat memberikan uang santunan pada keluarga korban beserta kartu nama sebagai caleg lalu dimintanya wartawan itu untuk dimediakan supaya semua masyarakat tahu kepeduliannya.
 Banyak warga menilai bahwa pemilik baliho adalah orang yang tidak mengenal dan dikenal oleh masyarakat,melakukan banyak kegiatan yang menyentuh kepantingan masyarakat.”Mengapa kegiatan seperti ini baru dilakukan menjelang pemilihan ?”tanya Daeng Baji,istri Dang Tata saat menghadiri acara yang bertajut hujan duit yang diselenggarakan oleh pemilik baliho raksasa itu di lapangan sepak bola.Acara ini menghadirkan artis ibu kota yang menyanyikan lalu khusus memuji-muja pemilik baliho raksasa itu.”Siapa yang peduli pada rakyaaaat ???,tanya Rahmat seorang pemuda yang menjadi team sukses.”Pak Komaaaaar !!!!”,jawab seluruh hadirin kecuali Daeng Tata dan istrinya yang dari awal sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan ini.”Siapa yang bersiiiiiihhh ????”,”Pak kooooooomaaaarrr !!!”.Pak Komarpun tersenyum-senyum lalu menyebarkan lembaran sepuluhribuan kepada hadirin.”Sombong sekali ini orang,yakinkah bahwa uang yang kau hamburkan itu bukan uang haram ?”.Dua anak kecil jatuh mperebutkan uang di depan Daeng Tata.”Untung anak-anakku tidak hadir diacara yang memalukan ini”,batin Daeng Tata.
                Usai acara yang bertajut “Hujan Duit”,ketua panitia mengumumkan acara berikutnya adalah pembagian sembako,satu persatu hadirin menerima paket sembako dan diabadikan oleh para wartawan.Beberapa warga yang menerima sembako memeluk Pak Komar,di antaranya ada yang mencium tangannya.”Kalau saya terpilih ,maka kalian akan menerima yang lebih banyak lagi”,janji Pak Komar.”Insya Allah”,sambut beberapa warga.
                Sejak adanya fenomena hujan duit di daerahku beberapa warga masyarakat menjadi malas kerja,bahkan di antara warga ada yang beralih profesi dari petani menjadi team sukses calon pemimpin.”Apa untungnya menjadi team sukses calon ?”,Tanya Daeng Tata pada Rahmat beberapa hari sejak pertemuan di kantor desa.Rahmat adalah seorang warga yang malas kerja dan pada musim pemilihan tahun ini dia menjadi team suksessalah satu calon pemmpin yang berduit,”Banyak untungnya Daeng Tata,calon yang kita urusi adalah calon yang berduit tetapi tidak berkualitas.Mereka tidak memahami politik makanya bisa dijadikan korban politik”,jawab Rahmat.”Bagaimana bisa ?”,Daeng Tata balik bertanya.”Ya bisalah asal cakap bermain”,jawab Rahmat.
                                                                                                                                                                        Usai pemilihan Rahmat tidak kelihatan lagi batang hidungnya di kampungnya.Dia bersama keluarganya sengaja menyingkir ke tempat yang aman,menghindari gangguan calon yang gagal menjadi pemimpin.Mereka selalu mendatangi rumah Rahmat mempertanyakan kegagalannya,padahal telah banyak uang yang diberikan kepada Rahmat.Beberapa tetangga Rahmat mengaku tidak pernah diberi uang oleh Rahmat,bahkan mereka mengatakan bahwa Rahmat baru saja membeli mobil avanza dan rumah di Makassar,namun tak seorangpun yang tahu di mana letak rumah yang dibeli Rahmat.Akhirnya calon yang gagal itu kabarnya sedang dirawat di rumah sakit karena terserang strok memikirkan uangnya dan sawahnya yang semuanya ludes di tangan Rahmat.”Kurang ajar itu Rahmat,licik sekali habisi dia Daeng Temba”,ujar Pak Karim,salah seorang keluarga calon yang menjadi korban kelicikan Rahmat kepada salah seorang dukun yang dimintai bantuan untuk melenyapkan Rahmat di muka bumi ini.Rahmat bukanlah pemain biasa,jauh sebelum menjadi team sukses  Rahmat telah mendatangi dukun pula untuk mendapatkan perlindungan.Oleh dukun yang didatangi Rahmat diberinya jimat perlindungan.Sehingga sampai saat ini Ramhat masih hidup,masih menjalankan aksinya menipu calon yang bermain kotor.Rahmat maupun  korban lainnya sama-sama liciknya,Cuma Rahmat lebih memahami politik daripada calon yang mau menjadi pemimpin.Dan pada akhirnya,mata daeng Tata terbelalak saat melihat Pak Komar dilayar kaca digelandang oleh pasukan KPK.Sebelum menaiki mobil tahanan KPK,Pak Komar melambaikan tangannya kepada seluruh rakyat yang telah dikorup dana kesejahteraannya.Mobilpun melaju menuju KPK.”Kurang ajar !”,ujar Daeng Tata lalu mematikan TV .(Palajau,Desember 2013).Telah dimuat di Majalah Suara Guru,edisi Maret 2014)

Minggu, 18 Januari 2015

Cerpen KESURUPAN HANTU SEKOLAH



Seperti biasa,sebelum memulai pelajaran,kupimpin siswa berzikir,beristigfar dan membaca doa selama beberapa menit lalu kumulai proses belajar.Setelah kuberi tugas,maka siswapun dengan tenang mengerjakan soal-soal yang diberikan pada kelompoknya,akupun mengamati dan menilai aktvitas siswa.Saat kuberjalan dari kelompok ke kelompok,tiba-tiba perhatianku tertuju pada seorang siswa dari salah satu kelompok.”Apa yang kamu kerja,Selfi ?”,tanyaku pada siswa tersebut.Selfi bukannya mengerjakan tugas kelompoknya,melainkan asyik menggambar sosok perempuan ,yang teman sekolmpoknya ketakutan melihat gambar itu.Selfi tidak menjawab pertanyaanku dan menyembunyikan gambarnya.Kurebut gambar yang ada ditangannya.Selfi marah,merah mukanya dan berusaha merebut gambar yang sudah ada ditanganku. ”Sepertinya ini anak lagi kesetanan”,batinku.Kuperintahkan teman kelompoknya untuk memegang selfi dan mendudukkannya di kursi.”Kembalikan gambarku !”,pinta Selfi membentakku.”Ini bukan Selfi,ini pasti setan,saya tidak akan mengembalikan gambarmu kalau kau mengganggu siswaku”,ujarku.”Kembalikan gambarku atau kubunuh dia ?”,ujarnya mengancamku.Akupun lalu menenangkan diri karena kuyakin bahwa Selfi kerasukan setan.
 
Selfi merontak berusaha melepaskan diri dari tangan teman-temannya dan ingin menyerangku saat kuserang dengan ayat-ayat Allah,”Tinggalkan Selfi atau kubakar terus”,ujarku.”Tidak,saya akan membunuhnya”,jawabnya.”Kamu tidak punya hak membunuhnya,lagi pula apa salahnya Selfi padamu”,balasku.”Aku menyayangi Selfi,mau kujadikan temanku”,jawabnya.”Siapa kau dan dimana tempat tinggalmu”,Tanya seorang siswa.”Aku tinggal di salah satu WC di sekolah ini”,jawabnya.Karena dia setan maka kuserang terus dengan ayat-ayat Allah,lalu kubacakan ayat kursi,dan tiga surat pendek di akhir Al Quran lalu kupaksa meminumnya dan akhirnya Selfipun diam lalu sadarkan diri.Selfi adalah siswa yang cantik dan agak pendiam dibanding siswa lainnya,mungkin karena hatinya atau pikirannya selalu kosong sehingga setan bisa leluasa mengganggunya.
Selama Selfi kesurupan di sekolah,banyak siswaku yang ketakutan,terutama takut buang air di WC sekolah dan takut berkunjung ke perpustakaan.Bukan hanya yang perempuan takut,tetapi yang laki-lakipun ikut-ikutan takut.Hal ini disebabkan karena Selfi kemasukan roh yang mengaku roh seorang cewek yang mati tertembak 60 tahun yang lalu dan roh itu mengaku tinggal di salah satu WC siswa. Aku sudah lama tahu tentang adanya roh jahat yang tinggal di WC sekolah,dan aku tidak mempersoalkannya karena sebelumnya yang diganggu hanya mahasiswa-mahasiswa yang numpang kuliah di sekolah.Namun,setelah roh itu mencoba mengganggu siswa barulah aku mempersoalkannya karena siswa-siswa berada dalam perlindunganku sebagi orang tua siswa di sekolah.
Ini suatu cobaan bagiku yang selama ini membiasakan siswa berzikir,beristigfar dan berdoa sebelum belajar,dan mengingatkan agar selalu waspada terhadap tipu daya setan karena setan senantiasa berusaha dan dengan berbagai cara untuk menyesatkan manusia.”Kalian harus percaya bahwa yang mengganggu Selfi adalah setan dari bangsa jin yang mengaku-ngaku sebagai roh Saleha,gadis yang tertembak itu”,ungkapku dihadapan siswa,”Islam tidak mengajarkan adanya roh manusia yang gentayangan.Semua manusia yang telah mati rohnya telah memiliki tempat yang tetap,kalau rohnya baik maka tempatnya yang tinggi yaitu di langit dan kalau rohnya buruk maka terpenjara ditempat yang rendah,yaitu di bawah tanah”tambahku.”Ada beberapa bukti bahwa roh yang masuk ke tubuh Selfi itu adalah setan dari bangsa jin,antara lain waktu diserang dengan ayat-ayat Allah dia menjerit kepanasan dan meninggalkan tubuh Selfi, permintaannya agar didoakan dan dibacakan Surat Yasin di WC adalah perbuatan yang dilarang karena agama melarang kita membaca Al Quran di tempat yang kotor,dan buktinya setelah dibacakan Surat Yasin di WC setan itu masih tetap mengganggu Selfi”,sambungku.”Setan itu hanya mau menakut-nakuti kita yang ujung-ujungnya adalah ingin menyesatkan kita”,lanjutku.
”Pak,apakah roh manusia tidak bisa masuk ke tubuh manusia lainnya ?”,Tanya Isma menanggapi pernyataanku.”Tidak ada keterangan dalam Al Quran maupun hadis yang mengatakan bahwa roh manusia bisa masuk ke tubuh manusia lain,kecuali yang terangkan Nabi SAW bahwa jin bisa masuk ke tubuh manusia dan berjalan dalam aliran darah”,jawabku.”Tapi Pak,kemarin ada tetanggaku yang kemasukan parakang,dan mengaku tetangganya sendiri”,sanggah Isma.”Iya,Pak saya juga pernah melihat ada yang diganggu parakang,bagaimana itu,Pak ?”,tambah Bagas.”Begini,orang yang kemasukan parakang dan mengaku-ngaku si A atau Si B itu hanya tipu daya setan,yang masuk itu bukan rohnya si A atau si B,melainkan setan yang masuk mengaku-ngaku dengan tujuan menciptakan fitnah dan permusuhan”,jawabku.”Pak,saya juga punya tetangga yang pernah kesurupan dan mengaku sebagai patanna kampong,bagaimana itu Pak ?”,Tanya Irma.”Roh yang mengaku patanna kampong itu hanyanya setan dari bangsa jin,yang menginginkan agar korban atau keluarga korban mendatangi suatu tempat atau mempersembahkan sesajian di suatu tempat yang dianggap angker”,jawabku
Kuterus berusaha menolong Selfi yang sudah dua minggu kesurupan roh yang mengaku Saleha,seorang gadis yang tertembak 60 tahun yang lalu.Penembaknyapun mengakuinya saat diundang ke sekolah.Dari pengakuan pelaku itulah yang membuat banyak siswa bahkan guru yang semakin percaya bahwa Selfi diganggu oleh roh gentayangan.Bahkan kepala sekolah telah memutuskan akan memindahkan Selfi ke sekolah lain.”Bila Selfi dipindahkan gara-gara kesurupan,tentu siswa lainnya semakin takut,dan karena takutnya itu sehingga setan itu menganggu siswa lainnya”batinku.”Tidak,aku akan berusaha agar Selfi tidak dipindahkan”,tekadku.Letak permasalahannya adalah karena perbedaan pendapat tentang Roh yang mengganggu itu,banyak yang percaya sebagai roh gentayangan,jadi harus kuyakinkan siswa bahwa itu hanyalah tipu daya setan untuk menakut-nakuti dan menyesatkan kita,”Setan jangan dipercaya kata-katanya,jangan ditakuti ancamannya dan jangan pula di penuhi permintaannya”,ujarku pada siswa-siswa yang semakin hari semakin takut,apalagi setelah Selfi yang kesurupan menyusun batu yang berbentuk kuburan di pekarangan depan kelasnya lalu menulis “19-3-2014” lalu menyuruh teman-temannya menabur bunga di atasnya. Banyak yang percaya pada ancamannya akan membunuh Selfi,sehingga ada yang beranggapan bahwa Selfi akan mati pada tanggal 19-3-2014.”Tidak,tanggal 19-3 itu mungkin tanggal tertembaknya gadis yang bernama Saleha itu,dan tahun 2014 adalah untuk menakut-nakuti kita semua”,sanggahku pada siswa.Setan itu memang sangat bandel,sudah beberapa kali kuisir dengan ruqyah di perpustakaan namun masih saja mengganggu Selfi sampai tanggal 19-3-2014 tinggal beberapa hari.Sudah beberapa permintaannya dipenuhi oleh pihak sekolah maupun keluarganya dipenuhi namun masih juga mengganggu.telah beberapa dukun yang didatangi orangtua Selfi namun masih juga menganggu,sampai tanggal 19-3-2014 tinggal 3 hari.
“Ya Allah,Tolonglah aku untuk membebaskan siswaku dari gangguan setan,jangan permalukan aku pada masyarakat dan siswaku bila tidak berhasil membebaskan siswaku dari gangguan setan yang mengaku-ngaku roh gentayang itu”,doaku usai shalat Tahajjud.Sambil menunggu Subuh kubaca kembali buku-buku tentang alam jin dan buku tentang roh.Melalui buku itulah kumendapat petunjuk bahwa bila setan diusir dengan ruqyah dan masih saja datang mengganggu maka bisa dihadapi dengan cara yang lebih keras lagi,dipukul,dipatah kakinya atau bahkan dibunuh.”Tapi,ini tidak mudah karena Selfi adalah perempuan,nanti keluarganya salah paham”,suara hatiku.
Kuberfikir dan terus berfikir,akhirnya kuambil cara yang terakhir yaitu mematahkan kaki atau membunuh bila bertemu lagi dengan setan itu.kukuatkan iman dengan doa,kubulatkan tekad lalu kulangkahkan kakiku ke sekolah.Sehari sebelum tanggal 19-3-2014,mungkin adalah usaha yang terakhir bagiku untuk membebaskan Selfi dari gangguan setan bandel itu.Kegiatan mengajar sengaja kupakai untuk mengurusi Selfi.Melalui temannya,kupanggil dia bergabung dengan kakak kelasnya yang akan belajar di kelas PKN.Aku sangat berharap Selfi kesurupan hari ini,bahkan dengan keyakinan setan itu bisa mendengar panggilanku maka kupanggil dia agar masuk ke tubuh Selfi.Kutunggu-kutunggu namun tak muncul-muncul dan kuyakin setan itu tahu rencanaku hari ini.Kuyakinkan kembali siswa termasuk Selfi agar tidak menakuti setan dan tidak mempercayai apapun ucapannya.Kuyakinkan Selfi bahwa yang mengganggunya adalah setan yang mencelakakan dirinya,”Kau harus melawan setan itu agar tidak mengganggu bahkan sampai membunuhmu”,kataku.Kusuruh Selfi memimpin zikir,membaca beberapa surat pendek dalam Al Quran.
“Terima kasih ya Allah,Engkau telah menolongku untuk membebaskan Siswaku dari gangguan setan”,ucapku setelah tanggal 19-3-2014 terlewati dan tidak terjadi lagi apa-apa terhadap Selfi.”Betul kan bahwa tanggal 19-2-2014 itu hanyalah ancaman setan itu untuk menakut-nakuti kita,ternyata setan itu pendusta yang hanya menipu daya kita,dan ternyata setan juga takut bila diancam akan dipatah kakinya atau dibunuh”,uangkapku pada siswa beberapa hari kemudian dan sejak tanggal 19-3-204 lewat tanpa kejadian apa-apa,akhirnya kepercayaan siswa akan roh gentayangan itu pudar,rasa takutnya pun hilang,dan siswa semakin percaya bahwa kata-kata setan itu dusta dan setan tidak berdaya menghadapi ayat-ayat Allah.

Cerpen KADO ULTAH GURUKU



                Guruku duduk sendirian di sudut sekolah terseyum-senyum ketika  melihat layar HPnya,rekan di kota mengabarkan bahwa calon Bupati yang didukungnya menang.”Alhamdulillah semoga ini pilihan Allah untuk memajukan daerah ini”,batin Pak Rahmat lalu mengenang jalan hidupnya yang terlempar ke gunung  gara-gara salah dukung pada pilkada 5 tahun yang lalu.
                Pak Rahmat adalah mantan kepala sekolah yang sekarang menjadi menjadi guru biasa yang mengajariku PKN, orangnya sederhana dan selalu mengajarkan nilai-nilai agama dan budi pekerti. Guru PKNku ini tidak kaku pada tuntutan kurikulum,aktif melatih kami Pramuka dan PMR di sekolah.Dalam mengajar guruku lebih banyak menanamkan nilai agama dan budi pekerti dari pada materi-materi yang ada di buku paket.”Untuk apa kita belajar demokrasi yang baik, kalau bapak-bapak atas yang seharusnya kita contoh  mempraktekkan demokrasi yang buruk”,”Untuk apa kita mendalami materi korupsi kalau para pejabat yang seharusnya kita contoh mempratekkan korupsi itu”,ujar Pak Rahmat di hadapan para siswa.
                Yang ditanamkan adalah bahwa Allah bersama kita,melihat dan mengawasi apa yang kita lakukan,mencatat dan akan membalas perbuatan kita, Sekecil apapun perbuatan dosa yang kita lakukan Allah akan membalasnya dengan neraka,siksa neraka yang teringan adalah iabarat kita disuruh memakai sepatu besi yang sudah dipanasi sampai merah yang membuat otak meleleh. Sebelum memulai pelajaran guru PKN ini selamanya memimpin siswa untuk berzikir,beristigfar lalu berdoa di dalam hati karena Allah Maha Mengetahui isi hati kita.
                Pak Rahmat adalah sosok guru yang profesional.Mutasinya ke gunung tidak dipandangnya sebagai hukuman karena tidak mendukung calon bupati yang menang,melainkan dianggap sebagai penambah pengalaman.Lagian Pak Rahmat sejak dari awal bersedia di temapatkan di manapun dalam wilayah negara ini.Sehingga di gunung pun Pak Rahmat tetap bersemangat menjalankan tugasnya.Pak Rahmat menyadari bahwa dirinya diangkat dan digaji oleh negara maka tidak pantas bermalas-malasan kalau cuma dimutasi ke tempat yang jauh.Kepada negaralah Pak Rahmat mempertanggungjawabkan tugasnya,bukan kepada pejabat bupati yang menyingkirannya.
                Sejak bertugas di salah satu SMP di daerah gunung, Pak Rahmat amat disukai oleh masyarakat lingkungannya.Kompetensi sosialnya bagus.Dia dekat dengan masyarakat, apalagi dia suka berdakwah, dia selalu diundang untuk ceramah Ramadhan, Khukbat Jumat/dan Khutbah lebaran dan kadang pula diundang membawakan Taziah,ataupun acara barzanji.Diapun aktif membina remaja masjid dan membina masyarakat mengenal teknologi pertanian.
                Mengetahui bahwa Pak Rahmat mempunyai pengaruh di daerah pengunungan yang terdiri dari beberapa desa, maka oleh Bupati, dengan kepentingan politiknya,memanggilnya ke rumah jabatan dengan maksud untuk diangkat menjadi kepala SMP di tempatnya mengajar.”Terima kasih atas kepercayaan Bapak” namun Pak Rakmat  menolaknya dengan halus,Pak Rahmat tidak mau lagi menerima jabatan atas dasar balas jasa bukan karena kompetensi,karena balas jasa itu kelak bisa berubah menjadi balas dendam seperti yang telah dialaminya selama lima tahun ini.Menolak tawaran pimpinan maka selanjutnya Pak Rahmat menuai tekanan dan intimidasi.
                Masyarakat pegunungan tahu bahwa Pak Rahmat mendapat ancaman dari salah satu calon bupati, maka masyarakat satu kecamatan mengancam bupati tak akan mendapat suara untuk calon yang didukungnya bila Pak Rahmat diganggu.”Kami tidak setuju kalau pilkada ini diwarnai dengan tekanan dan intimidasi”,demikian salah satu bunyi surat protes masyarakat pegunungan kepada bupati.
                Pak Rahmat adalah guru idolaku di sekolah dan tokoh masyarakat yang disegani di kampung.Pak Rahmat selalu mendakwakan pemilihan yang bersih, menanamkan pada masyaraat bahwa penyogok,disogok dan perantaranya akan masuk neraka, kalau calon menyogok agar menang,maka setelah memangku jabatan dia akan mencari uangnya maka dilakukanlah korupsi,membuka penerimaan pegawai dengan sogokan dan cara lain untuk meraup keuntungan diri dan keluarganya.”Pilihlah sesuai hati nurani,karena Allah akan memimpin kita melalui hati nurani untuk memilih calon pemimpin yang dikehendaki-Nya.Memilih karena nafsu uang hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penyesalan”,kata Pak Rahmat di depan jemaah.Oleh karena itu,rakyat dipengunungan tak ada yang mau disogok atau menjadi perantara para penyogok. Mereka memilih pemimpin yang bermain bersih sesuai pilihan hati nuraninya.
                Tanggal 25 Nopember adalah hari ulang tahun guruku yang tercinta.Kami seluruh siswa bermaksud melakukan perayaan hari Ulang Tahun Pak Rahmat. Rencana ini saya sampaikan kepada Kepala Sekolah dan juga kepada ayahku yang kebetulan adalah pejabat Kepala Desa di desaku.Kepala sekolah dan Kepala desa sangat mendukung rencana kami sehingga kami selaku pengurus OSIS mempersiapkan segala sesuatunya.
                Pesta ulang tahun Pak Rahmat berlangsung dengan meriah.Pesta ini dimerahkan dengan berbagai lomba olah raga dan seni selama seminggu dan puncak perayaan dihadiri oleh calon bupati pemenang pilkada yang lalu.”Siapa yang mengundang Pak Ilham di pesta ini”,tanya beberapa teman panitia.”Ayahku yang mengundangnya,ayahku adalah team suksesnya di desa ini”,jawabku.Acara puncak diisi dengan penampilan kreasi seni sekolah kami,antara lain tari,menyanyi,dancing dan puisi.Semua yang ditampilkan adalah kreasi asli buatan siswa sekolah kami.Semuanya dibuat khusus untuk ulang tahun Pak Rahmat.
                Usai aku menyampaikan laporan ketua panitia,giliran Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan dilanjutkan dengan sambutan ayahku selaku kepala desa.Baik kepala sekolah maupun kepala desa menyampaikan apresiasi atas kinerja Pak rahmat di sekolah maupun dalam masyarakat.”Selama Pak Rahmat berada di sekolah ini,prestasi-prestasi sekolah semakin meningkat”,ungkap Pak Karim,kepala sekolah kami.”Saya memandang bahwa Pak Rahmat adalah sosok guru yang ideal,selain menjadi panutan siswa di sekolah,beliau juga adalah panutan masyarakat.Selama berada di desa ini,masyarakat semakin memiliki kesadaran hidup bermasyarakat.Para pemuda yang sebelumnya nganggur,kini telah giat berusaha”,ungkap ayahku.
                Pembicara terakhir adalah calon bupati terpilih.Walau tidak teragenda dalam acara ultah ini,namun Kepala Sekolah menambah acara dengan mempersilahkan beliau untuk melengkapi acara.”Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat desa ini kepada saya untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan.Saya sangat terharu pada masyarakat desa ini karena 90 % memilih saya”ungkap Pak Ilham disambut tepukan oleh hadirin.”Saya menyampaikan rasa bangga saya atas prestasi yang telah diukir oleh Pak Rahmat selama bertugas di daerah gurung ini.Sosok seperti inilah yang sangat kita harapkan dimiliki oleh seluruh aparat negara dan abdi masyarakat.Tidak seperti pegawai lainnya yang telah kelihangan jabatan,mereka kecewa dan melakukan aksi malas kerja,padahal siapa yang rugi tentunya negara yang memberi gaji,masyarakat yang menbayar pajak dan dirinya sendiri karena kelak di negeri akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kebolosannya selama kehilangan jabatan.Padahal seharusnya kita tidak demikian.”tambah Pak Ilham disambut tepukan hadirin,”Hidup Pak Ilham !!!: teriak beberapa hadirin.
                “Banyak pegawai atau guru yang khawatir atas kemenangan saya.Mereka khawatir atas budaya cuci gudang,balas jasa dan balas dendam politik.Pada kesempatan ini saya kembali menegaskan bahwa dalam kepemimpinan saya tidak ada istilah cuci gudang,balas jasa maupun balas dendam.Saya akan memilih pembantu-pembantu saya orang-orang yang berkompetensi,kalaupun ada dari keluarga atau pun team sukses saya yang mendapat jabatan,itu karena pertimbangan kompetensi atau prestasinya”,lanjut Pak Ihlam disambut tepukan hadirin”Seperti halnya Pak Baso,kepala desa Moncong ini karena bukan PNS jadi tidak mungkin saya akan beri jabatan sebagai kepala dinas walau beliau adalah team sukses saya.Tetapi Pak Rahmat,mungkin sangat cocok kalau saya percayakan sebagai kepala sekolah atau kepalanya kepala sekolah,setujuuu ?”.”setujuuuuu !!!” serentak hadirin menjawab.”Pak Rahmat sangat cocok menduduki jabatan di pendidikan karena beliau sarjana pendidikan dan guru yang berprestasi, yang sarjana ekonomi kita tempatkan di bagian ekonomi,yang sarjana pemerintahan kita tempatkan di pemerintahan,karena menempatan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah suatu kebodohan dan pemborosan”.”Betuuulll !!!”,sambut hadirin.
                Usai sambutan dilanjutkan dengan tiup lilin oleh Pak Rahmat dan pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan oleh Kepala Sekolah lalu diserahkan kepada Pak Ilham,kemudian aku selaku ketua OSIS mewakili teman-teman menyampaikan sebuah bingkisan kepada Pak Rahmat,isinya tentu yang berhubungan dengan kebutuhan Pak Rahmat sebagai guru.Terakhir Pak llham menyerahkan bingkisan pula kepada Pak Rahmat dan sebuah amplop.Amplop inilah yang menjadi tanda tanya hadirin,apakah berisi uang atau apa ya ?.
                Usai membuka amplop Pak Rahmat melangkah ke depan lalu berkata: “Kalau jabatan ini diberikan padaku sebagai balas jasa maka berikan saja kepada yang lain yang lebih berjasa,karena saya tidak merasa membantu Bapak dalam pilkada, karena esok lusa Bapak akan mencopotnya lagi bila saya tidak lagi mendukung Bapak  bila  keluar dari kebenaran, tapi  bila  jabatan ini karena suatu amanah maka saya akan menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan saya sampaikan kepada bapak bahwa Saya tidak mau jabatan ini kelak  membuat kemerdekaan saya dirampas lalu dipermainkan dan dijadikan alat politik, saya mau menikmati kemerdekaan diriku bebas mengurusi anak didikku, saya tidak mau lagi merasa  terjajah oleh kepentingan politik,kujalankan tugas negara sesuai aturan yang berlaku. Saya tidak mau pada jam kerja berada di lapangan mengikuti kampanye atau  mengikuti pertemuan politik lalu pekerjaan di sekolah yang menjadi tanggungjawab saya terlantar.Saya tidak mau melalaikan tugasku yang nantinya Allah menghukumku demi ambisi politik orang lain. Saya tidak mau ditekan apalagi diancam-ancam. Saya ini pendidik.Pekerja professional,yang kerjanya disekolah,bukan berkeliling di masyarakat untuk mencari suara.Saya tidak mau dijajah oleh siapapun”,ungkap Pak Rahmat,”Betuuull” seru hadirin.Nampak Pak Ilham bertepuk tangan diikuti hadirin lainnya.”Oke,Pak Rahmat !!,makanya guru jangan terlalu menonjolkan diri dalam permainan politik,Jawab Pak Ilham singkat.(Palajau,Nopember 2014

Cerpen BANJIR MENYAPAKU



           
Hari yang indah,mentari bangun dan langsung menyapaku dengan harapan-harapan indahnya.Akupun menyambut datangnya pagi dengan puji syukur dan doa kepada Sang Maha Kuasa yang masih memberiku hari sebagai kesempatan untuk mencari bekal  hidup di alam sana yang kini telah terbayang di depan mata.Hari ini adalah hari Minggu,hari istrahat atau refresing bagi para pegawai.Mereka memanfaat hari libur ini dengan mengunjungi tempat hiburan yang sesuai dengan rekomendasi dompek.Aku sekeluargapun tidak melewatkan pesona hari Minggu yang hanya sekali terjadi dalam seminggu,kuajak keluargaku pergi melancong.
                Kapal pesiar yang akan menemaniku melancong bersama keluarga telah bersandar di pelabuhan sejak tadi malam.Kapal mewah milik seorang pengusaha kaya di kampungku akan membawaku ke negeri impian.FasIlitasnya lengkap dan siap memanjakan istri dan anak-anakku yang sejak kecil telah bercita-cita melanglang buana dengan kapal pesiar.Walau tidak semewah dengan kapal Van Der Wijck,namun kapal pesiar buatan bangsaku ini telah mampu memenuhi impian masyarakat selevelku.
                Sejalan dengan perjalanan waktu menuju ke angka 10 pada jam tanganku,kapal pesiarpun meninggalkan Pelabuhan Bungeng kebanggaan daerahku,satu persatu perahu nelayan kulewati.Nakhoda terus mengarahkan kapal ke tempat yang disebutnya sebagai negeri impian dan kapalpun terus melaju ke arah yang telah diagendakan.Semakin jauh semakin indah suasana.Anak-anakku nampak bahagia menikmati liburannya di atas kapal pesiar.Istrikupun tidak sanggup menyembunyikan kebahagiaannya,”Pak,selama hidupku baru kali ini aku merasakan betapa indahnya hidup di atas kapal pesiar,kalau bisa acara seperti ini kita lakukan sekali setahun”,ungkapnya.”Apapun bisa demi kebahagiaan keluargaku yang tercinta,asalkan uang belanjamu setiap bulan kau tabung untuk membeli tiket”,balasku.”Kalau dapatki raccik-raccik di sekolahta itu saja yang kita tabung”,usulnya.”Ya berdoa saja agar bukan saja uang raccik-raccik yang kita dapat tetapi uang yang mengalir”,jawabku sedikit bercanda”dimana ada uang raccik-raccik kalau bukan uang akal-akalan”,batinku.
                Aku bersama istriku menikmati pemandangan laut yang begitu mempesona,nampak ikan-ikan dari berbagai jenis dan ukuran datang  menyapaku dan menggodaku untuk turun mengejarnya.Sepertinya mereka tahu bahwa aku paling doyang makan kepala ikan.Tergiur dengan ikan-ikan yang berkejaran dan kuingin menyantapnya,maka kuajak istri menuju ke restoran yang tersedia di kapal pesiar.Segala macam ikan ada di restoran ini dan kita tinggal memilih dimasakkan atau kita sendiri yang masak,tapi sesuai hobbi maka kami memilih memasak sendiri.
                Apa yang terjadi beberapa menit kemudian,saat kami memasak ikan tiba-tiba kapal menjadi goyang,dan terdengar perintah agar seluruh penumpang tenang dan waspada karena kapal mengalami kebocoran sehingga kemasukan air.”Mengapa bisa terjadi”,tanyaku pada kru kapal.”Biasa Pak,kesalahan teknik dalam perawatan kapal”,jawabnya.”Sabarlah Bu,Sabarlah Nak,insya Allah kita pasti selamat”,ujarku pada keluargaku yang nampak panik.Kusaksikan perlahan-lahan air terus naik memenuhi kapal,kamipun berusaha menghindahi air dengan beranjak ke tempat tidur,namun air terus memburu kami dan kapalpun semakin goyang,kulihat penumpang lainnya telah tiada,kemana semua ?.”Toloooong.... tooloooong !!!” dengan sekuat tenaga kami meminta pertolongan.”Toloooonng... Tolooonnng”.Tiba-tiba kudengar suara istriku membangunkaku,”Bangun Pak,air telah naik,kasur kita telah basah”,ujarnya.Barulah aku tersadar bahwa kisah di atas kapal pesiar itu hanyalah di dalam mimpi yang mengangtarku ke dunia nyata bahwa benar-benar kami harus berjuang melawan air.Sungai yang ada di belakang rumahku kembali meluap setelah kampungku diguyur hujan selama seminggu.Setiap tahun dua kali banjir datang menyapa masyarakat kampungku termasuk kami yang ikut kerepotan,yaitu pada Bulan Januari dan pada Bulan Juni.Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah datangnya banjir namun banjir tetap saja datang bahkan debit air dan sampahnya lebih merepotkan dari tahun-tahun sebelumnya.
                “Ayo selamatkan cepat barang-barang”,printahku.Warga sibuk menyelamatakan hartanya dari amukan banjir sehingga tidak ada yang bisa menolong satu sama lainnya.Cukup repot bagi keluargaku yang berumah semi permanen.Istri yang baru melahirkan dan mertua yang sudah tua sedangkan kekuatan fisikku terbatas.Tumpukan gabah digudang sudah pasti telah tergenang air,ayam dan itik di kandang sudah pasti telah tergenang pula,pakaian dalam lemari sudah pasti basah.Istri dan mertua yang sudah tua harus mengungsi ke rumah panggung tetangga ,sedangkan aku harus menyelamatkan barang yang bisa kuselamatku.Hanya satu yang harus kuselamatkan yaitu tas yang berisi surat-surat berharga,ijazah dan Sk-Skku.”Kalau gabah,pakaian atau ternak itu semua gampang diganti,tetapi yang ada di dalam tas ini yang susah diganti”,batinku.Banjir kali ini sangat merepotkanku karena datangnya saat warga sedang tidur.Banjir terjadi saat air kiriman dari utara datang ketika air laut sedang pasang,sehingga tidak ada tempat pelarian air kecuali  berkeliling mengganggu warga.
                Banjir bukan hanya saat kedatangannya membuatku susah,tetapi yang cukup merepotkan adalah ketika banjir itu telah pergi meninggalkanku dan menyimpan lumpur untukku sebagai pekerjaan rumah.Senin pagi banjir telah telah pergi tanpa pamit sebagaimana datangnya tanpa pamit.Sebuah problem bagiku karena aku telah berjanji pada siswaku untuk memberi ulangan harian sedangkan yang tak kala penting hari ini adalah membersihkan lantai dan dinding dari lapisan lumpur.Bagaimana bisa meminta bantuan tetangga untuk membersihkan rumahku,sedangkan mereka sejak pagi telah meninggalkan rumahnya pergi menyaksikan sawahnya yang telah tergenang air.Kasihan para petani padinya yang hampir panen kini telah tergenang.Pasti gagal panen lagi.
                Cuaca yang masih ekstrem membuatku ragu pergi ke sekolah,karena jalanan yang harus kulewati masih tergenang air,apalagi jalanan itu penuh dengan kubangan,salah sedikit kita tergelincir dan harus puas mencium lumpur.”Pak Jasman,tolong masuk dulu di kelas VIII.a,beri mereka tugas dan tolong panggilkan siswa laki-laki ke rumah untuk membersihkan lumpur yang di bawah banjir”,pintaku Pada Pak Jasman,staf TU melalui seluler.”Banjirki lagi rumahta,Pak?”,tanyanya.”Iya tadi malam”,jawabku.”Iya Pak nanti saya kirim anak-anak ke rumahta”,balas Pak Jasman.Tidak lama kemudian,beberapa siswaku datang berboncengan.Mereka tanpa kenal lelah membantuku membersihkan rumahku.”Barusan banjir ini,Pak ?’,tanya Bagas,”Tidak,setiap tahun kampung ini selalu kebanjiran”,jawabku.”Bagusnya kalau pondasi rumah ditinggikan agar banjir tidak masuk lagi”,kata Emil.Betul juga kata Emil seharusnya aku belajar dari banjir tahun lalu dengan menaikkan pondasi rumah.
                “Pak,banjir kita ini masih kecil dibanding dengan banjir yang menerjang Jakarta yang tingginya sampai tiga meter”,kata Bagas,”Darimana kau tau,memangnya tadi malam kau ke Jakarta ?”,tanya Emil agak mengejek.”Tidak ke Jakarta tetapi menonton berita di TV,makanya jangan ketinggalan berita”,balas Bagas.”Berbagai upaya yang telah dilakukan di Jakarta untuk mencegah banjir,ada lagi yang disebut modifikasi cuaca,namun banjir masih tetap datang menyapa dan  malah semakin besar padahal biaya modifikasi cuaca itu sangat besar”,cerita Bagas.”Apa dibilang modifikasi cuaca,Bagas ?, tanya Akbar.”Anu bede’ mencegah turunnya hujan di Jakarta,caranya awan ditaburi garam sehingga hujan jatuh di tempat lain”,jawab Bagas.”Kalo begitu bagus dong kalau Jakarta selalu banjir,tentu dibutuhkan banyak garam mencegahnya,bisa-bisa garam-garam di Jeneponto laris di kirim ke Jakarta”,sambung Akbar.
                Sambil membersihkan lumpur kiriman banjir,kami mengikuti obrolan di TV Two tentang upaya mengatasi banjir menurut beberapa pakar,antara lain yang menarik perhatian kami adalah mengatasi banjir dengan pendekatan agama,sebagamana yang dikemukakan oleh Pak kyai,”Banjir itu adalah musibah,dan musibah yang terjadi di atas bumi ini sebagaimana yang dikatakan Allah dalam al Quran ada hubungannya dengan kemaksiatan yang dilakukan manusia,segala kerusakan yang terjadi itu adalah akibat tangan manusia.Manusia yang menjahili alam dengan menebang pohon seenaknya,manusialah yang manjadikan alam  ini sebagai tempat berbuat maksiat sampai alam menjadi kotor,akibatnya alam menjadi marah dan tidak mau lagi bersahabat dengan manusia”,kata Pak Kyai Rahmat.
                ”Kemaksiatan telah menyebar di atas bumi,di kota sampai ke desa,oleh rakyat maupun para pejabat pemerintahan,bahkan sebahagian umat yang mengaku ulamapun tidak mau ketinggalan untuk berbuat maksiat”,tambahnya.”Jadi,bagaimana solusinya untuk mengatasi banjir”,tanya Bang Two.”Solusinya adalah diadakan taubat bersama mulai dari tingkat nasional sampai ke tingkat rumah tangga,pemerintah hendaknya meninjau ulang kebijakan menghalalkan perbuatan yang diharamkan Allah,antara lain lokalisasi prostitusi atau lokalisasi perjudian dan termasuk yang terselubung.Pemerintah hendaknya membantu para ulama dalam mengatasi semakin maraknya kemaksiatan di negeri ini,bukan malah membatasi ruang gerak mereka”,jawab kyai Rahmat.”Pemerintah tentu berfikir untuk mengambil tindakan kepada usaha-usaha yang mengembangkan kemaksiatan karena mereka taat membayar pajak”,sambung Pak Kirno seorang pengamat prostitusi.”Di sinilah letak kendalanya untuk membersihkan negeri ini dari sampah-sampah manusia,karena tidak ada komitmen bersama,pihak satu giat memberantas sedangkan pihak lainnya giat mempertahankannya”,Sambung Kyai Rahmat.
                ”Jadi bagaiman solusi yang tepat dalam mengatasi banjir di negeri ini ?”,Bang Two lagi bertanya.”Tidak ada solusi yang tepat selain dari bertaubat dan kita kembali menjalin persahabatan dengan alam,karena begitulah hukumnya bahwa semakin tinggi tingkat kemaksiatan suatu negeri maka semakin besar pula musibahnya,bukankah terjadinya banjir besar pada zaman Nabi Nuh as disebabkan karena kemaksiatan dalam kesyirikan manusia ?”,jawab Kyai Rahmat.”Kalau menurut saya,karena di negara kita ini banyak dukun atau paranormal,maka apa salahnya kalau kita mencoba memanfaatkan kemampuan atau kekuatan mereka untuk mengatasi banjir”,ungkap Pak Kirno.”Meminta bantuan dukun atau paranormal berarti menghadapi kemaksiatan dengan kemaksiatan,artinya perbuatan maksiat yang ingin kita bersihkan dengan memakai dukun atau paranormal sama halnya menjerumuskan bangsa ini kepada kesyirikan,padahal syirik itu adalah dosa besar”,sanggah Kyai Rahmat,”Kalau begitu,tidak ada dong solusinya”,sambung Bang Two.”ya sepertinya begitulah masalah banjir adalah masalah yang tidak akan berarkhir kecuali kembali kepada hati masing-masing,jadi kepada saudara pemirsa,banjir yang melanda negeri ini adalah peringatan dari Allah kepada kita semua sebelum mendatangkan azabnya yang amat dahsyat,Oleh karena itu, sebelum azabbesar  itu datang marilah kita menyikapi peringatan Allah ini dengan introspeksi dan memperbaiki diri”,tutup Pak Rahmat.
                “Terima kasih,ya Nak atas bantuan kalian membersihkan rumah ini,mudah-mudahan ini yang terakhir kalinya kami membersihkan rumah dari lumpur banjir”,ungkapku pada siswa-siswaku seusai membersihkan.Dan setahun kemudian banjir menerjang lagi kampungku,namun tidak berani lagi mengganggu rumahku.Apa solusinya ?.Kubangun lagi rumah di tempat yang bebas banjir.(Palajau,Januari 2014).