Sepuluh tahun kutinggalkan
negeriku Bumi Turatea mengadu nasib di negeri orang pada sebuah sekolah di
perbatasan negara.Kutinggalkan tanah kelahiranku bersama istri dan anakku demi
menemukan sebuah kemerdekaan dan keadilan.Kutinggalkan tanah yang telah membesarkanku,yang
di atasnya aku hidup dalam penjajahan dan ketidakadilan.Kurasa tak ada lagi
harapan mengejar cita-cita di bumi kelahiranku.Delapan tahun aku mengabdi
sebagai guru honorer namun tetap saja selalu menjadi guru hononer dengan gaji
yang hanya cukup untuk asap motor.Aku kalah uang dalam kompetisi CPNS dan kalah
pendekatan dalam kompetisi data base.Aku dikalahkan oleh tetanggaku yang tidak
pernah honor tapi masuk data base dengan masa kerja 6 tahun.”Kapan dan di mana
kerjanya itu Baso ?”,protes ayahku saat mendengar Baso telah diangkat menjadi
CPNS.Lebih mengherankan ayahku karena Baso yang tidak pernah didengarnya kuliah
atau KKN kini telah memakai gelar sarjana.”Kita hanya bisa bersabar ayah,di era
golobalisasi dan otonomi ini apa saja bisa terjadi”,jawabku berusaha
menenangkan ayahku yang merasa sia-sia menyekolahkanku sampai ke bangku
kuliah.”Ini sangat tidak adil”,ujar ayahku.”Tidak adil bagi kita,tapi adil bagi
orang lain, Ayah”,tambahku.
Ayah dan Ibu menyetujui bila aku
membawa istriku ke Kalimantan.Kuberharap di sanalah aku bisa merdeka dan
kurasakan hidup dalam keadilan.Di Bumi ini,aku merasa terjajah oleh sebuah
dinasti.Sebagai guru honorer hidupku tertekan terutama menjelang pemilukada.Aku
bersama honorer lainnya menjadi alat politik oleh calon Bupati tertentu.Kami
dimobilisasi dalam kepentingan politik.Kami diharuskan mengikuti gerak jalan
santai yang ujung-ujungnya adalah mengikuti deklarasi calon Bupati dan Wakil
Bupati.”Syukur deh dapat baju seragam gratis”,ungkapku pada teman sehonorer.”Siapa
bilang gratis,kita enakan pake bajunya tapi bendaharawan sekolah yang pusing
menyusun LPJ-nya,karena baju itu dibebankan kepada masing-masing
sekolah”,sanggah Ina,seorang bendaharawan Sekolah,yang ikut dalam
deklarasi.Semua tenaga honorer harus hadir dan mendukung calon yang telah
ditentukan,kalau tidak ?”jangan harap akan terangkat menjadi CPNS”,kata Pak
Dirga,Kepala Sekolahku.”Kalian juga harus berusaha membantu saya mendapatkan
suara karena kalau tidak saya juga terancam akan dicopot dari jabatan
saya,apakah kalian tidak mau melihat lagi saya di sekolah ini ?”,sambung Pak
Dirga.”Sudah ada kepala sekolah yang mutasi menjadi guru bantu karena ketahuan
mendukung calon lain”,tambahnya.”Kalau begitu kita dipaksa Pak untuk memilih
?”,ujarku.”Begitulah kalau mau selamat”,jawab Pak Dirga.”Wah,kita ini terjajah
di negeri sendiri,padahal demokrasi itu bebas Pak ?”,ungkapku.”Ya, teorinya
demikan,tapi prakteknya dikondisikan”,jawab Pak Dirga.
Setelah setahun menjdi guru
honorer di salah satu SMP di perbatasan,akupun ikut kompetisi
CPNS,alhamdulillah tanpa berusaha menyuap buaya saya bisa lulus.Kujalankan
tugas dengan penuh semangat dan rasa syukur kepada-Nya.Kugapai berbagai
prestasi sebagai guru dan kuangkat nama sekolahku melalui prestasi
siswaku,sampai akhirnya pihak pemerintah daerah memberi kepercayaan padaku menjadi
kepala sekolah di tempat aku mengabdi,menggantikan kepala sekolahku yang naik
jenjang menjadi pengawas pendidikan atas prestasinya sebagai kepala sekolah
terbaik.Pengawas pendidikan di perbatasan ini benar-benar berkompeten.Mereka
diangkat menjadi pengawas bukan karena masyarakat menolaknya sebagai kepala
sekolah atas kinerjanya yang buruk,melainkan karena prestasinya dan dianggap
bisa membina para pendidik di lapangan.
Sepuluh tahun aku mengabdi dan
membangun karier di negeri orang.Namun,tidaklah kuanggap sebuah prestasi bila
hanya itu terjadi di negeri orang.Yang kuanggap prestasi apabaila aku sanggup
berkarya di negeri sendiri,membesarkan tanah kelahiranku.Akhirnya setelah
kutahu negeriku Bumi Turatea telah melakukan perubahan dalam kepemimpinan
bupati yang baru maka akupun membawa keluargaku pulang ke tanah kelahiran.
Bumi Turatea benar-benar telah
berubah.Pasar yang semrawaut lagi kotor kini telah rapi dan bersih.Jalanan yang
yang dipenuhi kios lagi gelap di malam hari kini telah bersih dan
terang.Kuteringat sepuluh tahun yang lalu,jalanan kota di malam hari menjadi
gelap karena pemerintah daerah tidak sanggup menyalahkannya,akibat tidak
sanggup membayar tunggakan rekening listrik di PLN.”Pak, kalau kotanya mau menyalah maka beli saja kabel dan
kami bantu aliran listrik”,ucap seorang pejabat dari kabupaten sebelah dengan
nada mengejek.
Sepulang dari Kalimantan,aku ditempatkan
di sebuah sekolah dekat perbatasan Bantaeng.Alhamdulillah sepanjang sawah yang
kulewati sudah menghijau dan padinya telah menguning siap panen.Wajah para
petani nampak berseri-seri sedang menghalau burung-burung pipit yang berusaha
mengambil rezkinya di persawahan petani.Kuteringat sepuluh tahun yang
lalu,sawah-sawah di sepanjang jalan yang kulewati ini kering dan petani nampak
lesu dengan mata yang memandang kosong.”Alhamdulillah Nak sudah beberapa tahun
ini sawah-sawah di Capponga ini sudah dipanen dua kali,pertama dengan padi dan
kedua dengan jagung kuning”,ungkap Mappi seorang petani Capponga pada suatu
hari.”Air ini darimana Pak ?”,tanyaku.”Dari Bendungan Kareloe .Berarti
pemerintah pusat telah mempercayai pemerintah daerah kita untuk membangun
Bendungan Kareloe.Seandainya dulu mantan Pejabat Pemerintah daerah yang lalu
tidak menyelewengkan dana pembangunan Bendungan Kareloe mungkin daerah kita ini
telah lama maju.”Alhamdulillah bila Bupati Pak Siap bersama wakilnya Pak Bisa
mampu mengembalikan kepercayaan pusat untuk memberikan kembali dana pembangunan
Bendungan Kareloe yang sebelumnya hanya menjadi janji-janji politik.Namun
buktinya nol.
Kuperhatikan rumah-rumah
panggung penduduk,tidak kulihat lagi tangga khusus jalan motor naik ke
rumahnya.”Alhamdulillah Jeneponto yang dulu bukan lagi Jeneponto sekarang,kalau
dulu kita dijajah oleh koloni pencuri,sekarang kita aman.Dan yang lebih
menggembirakan lagi di daerah ini tidak didengar lagi kasus korupsi karena para
korupter telah terinspirasi oleh koloni pencuri,bahwa pencuri yang tidak
berpendidikan saja bisa sadar apalagi kita yang berpendidikan”,ungkap Rahmat
teman honorerku sepuluh tahun yang lalu yang kini telah menjadi PNS.
Aku kembali ke negeriku
semata-semata untuk menghabiskan waktuku mengabdikan diri di tanah
kelahiran,makanya aku tidak mempersoalkan bila di Bumi Turatea ini aku
kehilangan jabatan sebagai kepala sekolah.Kujalankan tugasku dengan penuh
semangat memajukan daerah ini.Sebulan aku mengabdi di bumi ini,aku telah
merasakan bahwa di dunia pendidikanpun telah banyak mengalami perubahan.Aku
tidak melihat lagi guru-guru yang bolos karena kepala sekolahnya benar-benar
disiplin dibanding sepuluh tahun yang lalu,justru kepala sekolahlah yang memberi
contoh pada guru-guru untuk bolos.Pengawas pendidikan sewaktu-waktu datang
memantau tugas guru,dibanding dulu yang cuma satu kali dalam satu semester dan
bahkan ada yang cuma satu kali dalam setahun,itupun hanya datang mencari-cari
kekurangan guru dan pergi tanpa solusi.Dan tidak kulihat lagi kepala sekolah
memberi uang transpor kepada pengawas,karena pengawas telah sadar bahwa
pemerintah menggajinya untuk tugas sebagai pengawas,jadi merasa kurang halal
kalau menunggu lagi uang transpor dari sekolah yang dikunjunginya.
Di kantor dinas pendidikanpun
alhamdulillah telah mengalami perubahan.Kepala Dinas Pendidikan adalah
benar-benar pejabat yang berkompeten,berpengalaman dan berlatarbelakang
pendidikan.Beliau adalah mantan kepala sekolah yang prestasi dan beberapa tahun
mengabdi di kantor Dinas Pendidikan yang melewati beberapa jenjang jabatan.Beda
dulu yang kepala dinasnya bukan dari orang pendidikan tapi orang yang sengaja
dipasang untuk kepentingan politik,makanya pendidikan di daerah ini tidak
mengalami kemajuan,melainkan menyuburkan kecurangan dalam pengelolaan dana
BOS.Urusan administrasi di kantor Dinas Pendidikan pelayanannya lancar,cepat
dan gratis.Tidak ada lagi pungutan-pungutan liar yang dikeluhkan oleh guru-guru
seperti sepuluh tahun yang lalu.Masih membekas di ingatanku saat aku sibuk
mengurus SK Honorer untuk kelengkapan mengurus data base.Aku hampir gagal
mendapatkan satu SK gara-gara uangku tidak cukup,untung aku berkenalan seorang
wartawan,padanyalah aku meminta bantuan untuk mendapatkan satu SK,tapi semua
itu sia-sia,aku gagal masuk data base,aku dikalahkan oleh honorer siluman.
Bumi Turatea telah berubah
seperti impianku.Beberapa mingggu yang lalu masyarakat daerah ini telah
melakukan pesta syukuran karena baru saja menerima piala Adipura,kita sudah
berhasil mengungguli Kabupaten Bantaeng yang sebelumnya sebagai penerima
adipura.Bupati baru saja menerima penghargaan dari Presiden RI sebagai Bupati
yang berhasil memajukan pendidikan,agama dan kesehatan di daerahnya.Pendidikan
berjalan sebagaimana mestinya,ijazah sarjana diperoleh melalui jalur kuliah bukan
dengan jalur uang seperti yang biasa dulu terjadi.Agama benar-benar telah
dipahami dan diamalkan oleh masyarakat sehingga daerah ini sudah bersih dari
warung-warung sex,bersih dari musik saweran.Para pejabat benar-benar beriman
dan bertakwa,sehingga sekarang kita tidak mendengar lagi berita tentang kepala
sekolah yang menyunat dana bantuan siswa,atau pejabat yang melakukan
korupsi.Masjid-masjid telah ramai dengan jamaah shalat,yang tidak seperti dulu jemaah
shalatnya hanya beberapa orang kakek.
Kurasakan keamanan dan
ketertiban di daerah inipun berubah.Masih kuingat sepuluh tahun yang lalu,para
penjahat terutama pencuri ternak dan kendaraan bermotor benar-benar menjajah
masyarakat.Demi keamanan sepeda motor beberapa masyarakat yang tidak mau
berurusan dengan pencuri terpaksa menyimpan motornya di atas rumah panggung.Pencurian
ternak dan kendaraan bermotor merajalela.Tapi sekarang memasuki priode kedua
kepemimpinan Pak Siap dan Pak Bisa masyarakat merdeka dari penjajahan para
pencuri.”Dulu Nak,saya tidur sama ranjang dengan Amma Idamu,Amma Idamu tidur bersama
anak sedangkan saya tidurka di bawah rumah menjaga kuda,tapi sekarang saya bisama
tidur lagi bersama Amma idamu”,ungkap mangnge tetangga belakang rumahku pada
suatu ketika.
Bumi Turatea telah berubah dalam
kepemimpinan Pak Siap dan Pak Bisa yang sudah hampir habis masa
jabatannya.Mudah-mudahan kemajuan yang dialami Bumi Turatea ini bisa
dipertahankan dan lebih ditingkatkan oleh pejabat Bupati penerusnya.”Kabarnya,anak
Pak Siap bakal maju menggantikan ayahnya ?”,ujar Akbar,guru olah raga di
sekolahku.”Siapa saja boleh kalau memang mampu,asal jangan dipaksakan seperti anak
bupati dulu yang dipaksakan,akibatnya orang lain yang dibuat susah dan menanggung
kerugian.Sebaiknya beri dulu kesempatan bagi anak untuk berkarya dan berprestasi,jangan
jadikan pemerintahan daerah ini sebagai dinasti keluarga”,jawabku.Lalu kuakhiri
pembicaraan karena bel tanda jam istrahat telah berakhir.Saatnya melanjutkan
tugas.(Palajau,Pebruari 2014).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar