Minggu pagi saat pancaran
mentari membentuk sudut 40 derajat,sebuah mobil pengangkut batu berhenti di
depan rumah Rani.Beberapa lelaki usia remaja turun menuju ke tumpukan batu yang
ada di samping rumah Rani.Tumpukan batu itu adalah bekas Benteng Dampang Tolo
yang menjadi bukti sejarah keberadaan Kerajaan Tolo di masa lalu.Tumpukan batu
itu berada di pintu gerang benteng yang masyarakat menyebutnya Timungan
Barania.Mereka ke Tolotoa atas permintaanku untuk mengangkat batu ke
mobil.Batu-batu yang akan kujadikan bahan bangunan rumah.Daripada membeli batu
di toko bangunan,lebih baik mengambil batu bekas benteng itu dengan gratis
tinggal menyewa mobil pengangkut batu.
“Oeee,apa semua yang kalian cari
di sini ?”,tanya Mangki dari atas rumahnya.”Mau ambil batu,Kareng”,jawab Basri
salah seorang di antara
mereka.”Hey,berani-beraninya kalian mengambil batu-batu ini,ini batunya
Dampang Tolo patanna kampong”,ujar Mangki.”Kami Cuma disuruh Kareng”,balas
Basri.”Kalian tidak tahu siapa itu Dampang Tolo ?, kalau dia marah kalian semua
bisa mati.Di kampung ini tidak ada yang berani mengganggu batu –batu Dampang
Tolo ini,cobami kalau berani”,ujar Mangki mengancam.Orang-orang yang aku
datangkan ke Tolotoa untuk mengangkat batu semuanya diam,terpengaruh pada
ancaman Mangki dan akupun turun mendekatinya.”Mengapa diam semua tidak mengangkat batu ?”,tanyaku.”Takut Kareng pada
patanna batu”,jawab mereka.”Ndak usah takut saya sudah minta pada patanna
batu,batu-batu ini milik Allah.Allah tidak akan marah bila kita gunakan untuk
membangun rumah”,kataku.”Orang tua itu marah Kareng katanya marah patanna kampong
bila batu ini diambil”kata Cuddin sambil mengarahkan pandangannya kepada
Mangki.”Jangan kalian takut karena kalian cuma disuruh,sayalah yang bertanggung
jawab.Bila patanna kampong marah tentu sayalah sasarannya.Selama saya ada di
sini jangan ada yang takut,ayo angkat batu ke mobil”,balasku memberi semangat
dan merekapun berajak dari tempatnya menuju tumpukan batu.
Dampang Tolo sangat dipercaya
oleh sebagian masyarakat sebagai tempat yang keramat,terutama pada dua tempat
yaitu bekas pintu gerbang benteng dan pada kuburan Panglima Kerajaan Tolo yang
masyarakat menyebutnya kuburan Dampang Tolo.Sampai sekarang bekas pintu gerbang
tidak ada yang berani menutupnya karena siapapun yang menutupnya akan terkena
murka patanna kampong,yang tentunya adalah sakit yang bagaikan terjerat
lehernya.Inilah yang biasa dialami oleh Mangki.Mangki selalu didatangi oleh
sosok lelaki hitam besar yang mengaku penjaga timungan barania.Di tempat ini
masyarakat selalu melepas ayam persembahan agar tidak diganggu oleh patanna
kampong.
Di kuburan Dampang Tolo banyak
pula orang yang berziarah mencari berkah,ada yang mencari kesembuhan,kekayaan
ataupun jodoh.Beberapa pemburu jabatanpun mendatangi kuburan ini untuk meminta
restu dan bantuan agar berhasil memperoleh jabatan yang
diimpikannya.Kesebelasan Sepak Bola Dampang Tolo kalau akan mengikuti kompetisi
harus berkunjung dulu ke kuburan Dampang Tolo untuk meminta restu dan bantuan
agar menang.”Penonton heran melihat penampilan kesebelasan Dampang Tolo yang
tidak pernah kalah,lawanpun heran karena tendangannya selalu meleset keluar
lapangan karena melihat gawang sasaran terangkat ke atas”,kata Tompo manager PS
Dampang Tolo.”Tapi mengapa pada kompetisi yang baru lalu Kesebelasan Dampang
Tolo hanya meraih Juara 3 ?”,tanyaku pada Tompo.”Itu gara-gara seorang pemain
yang tidak mau berziarah ke Dampang Tolo sebelum bertanding”,jawab
Tompo.”Mengapa pemain itu tidak diganti saja ?”tanyaku.”Tidak bisa juga karena
dia pemain terbaik dan mahal bayarannya”,jawab Tompo.
PS Dampang Tolo diperkuat oleh
tiga paranormal,yaitu Duddin,Campa dan Bidin.Duddin adalah dukun yang bisa
menghubungkan pemaian dengan penghuni kuburan Dampang Tolo.Campa adalah
pengatur waktu bermain,dia tahu waktu bermain yang bisa membawa
kemenangan,sedangkan Bidin adalah dukun urusan pacca’,dia yang melindungi
pemain dari serangan pacca’ dan menyerang lawan dengan pacca sehingga lawan
bisa tiba-tiba nyeri kakinya.Namun Agus salah seorang pemain bayaran yang susah
diatur oleh ketiga paranormal itu.”Maaf,saya tidak bisa ke kuburan untuk
meminta restu apalagi meminta bantuannya
untuk mengalahkan lawan”,kata Agus pada Tompo.”Mengapa tidak bisa ?”,tanya
Tompo.”Ini masalah keyakinan beragama,saya tidak mau melakukan petunjuk dukun
untuk mendatangi kuburan keramat karena itu termasuk perbuatan mempersekutukan
Allah,lebih baik saya mundur dari kesebelasan ini daripada harus meminta
bantuan pada penghuni kuburan keramat.
Nampaknya Agus sekeyakinan
denganku dan dengan Bundu.Kami tidak ikut pada kepercayaan masyarakat tentang patanna
kampong atau kuburan Dampang Tolo.Bagi kami,Dampang Tolo itu hanyalah sebuah
benteng di masa lalu pada masa pemerintahan Kerajaan Tolo yang masih disebut
Kare Tolo.Dampang Tolo adalah pusat kerajaan Kekarean Tolo,yang dihancurkan
oleh Pasukan Belanda menjelang tahun 1900.Setelah itu Belanda membangun kembali
Kerajaan Tolo pada tahun 1900,namun pusat pemerintahannya dipindahkan ke Tolo
yang sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Kelara.”Tidak ada yang istimewa dari
benteng maupun kuburan Dampang Tolo”,ungkapku pada para pengangkat batu saat
istirahat makan siang.”Katanya keramat Kareng ?”,tanya Cuddin.”Tidak keramat
tetapi dikeramatkan,Panglima Dampang Tolo itu bukanlah orang saleh yang
memiliki keramah.Andaikan dia orang saleh dia tidak akan minta pada prajuritnya
untuk dikuburkan hidup-hidup,karena orang saleh pasti tahu bahwa dikuburkan hidup-hidup
itu adalah bunuh diri.Bunuh diri itu dibenci oleh Allah dan pelakunya dijamin
masuk neraka,jadi apanya yang istimewa ?”jawabku.”Itu bisa dianggap keramat
karena dimanfaatkan oleh setan dari bangsa jin.Setanlah yang tinggal di
Timungan Barania itu,setanlah yang tinggal di kuburan Dampang Tolo. Setan-setan
itu yang melayani permintaan pengunjungnya atau yang menyakiti orang-orang yang
menghina kuburan itu.setan suka pada manusia yang memuja-muja kuburan karena
itu termasuk perbuatan sesat”,tambahku.”Saya tidak takut pada setan-setan
penjaga Timungan barania atau kuburan Dampang Tolo karena saya tidak
mempercayainya dan sudah meminta perlindungan Allah,Allah adalah sebaik-baik
pelindung orang-orang yang beriman kepada-Nya”,tambahku.
“Jadi yang diberi makanan di
kuburan Dampang Tolo itu bukan arwah Panglima Dampang Tolo Kareng ?”,tanya
Cuddin padaku.”Tentu saja tidak,arwah panglima Dampang Tolo itu telah berada di
alam kubur.Antara alam kubur dan alam dunia dibatasi oleh dinding sampai hari
kiamat yang tidak seorangpun manusia bisa melewatinya,jadi mustahil arwahnya
akan datang melayani para pengunjungnya melainkan itu hanya tipu daya setan
untuk menyesatkan manusia,begitupun halnya orang yang kesurupan yang
mengaku-ngaku penghuni kuburan Dampang Tolo,itu hanya setan yang mengaku-ngaku
agar manusia percaya dan takut kepadanya sehingga melakukan perbuatan
sesat.Setan akan gembira bila manusia berbondong-bondong ke kuburan keramat
membawakan makanan,apalagi bila menyembeli hewan di kuburan itu,sebagai persembahan
rasa terima kasih atau agar aman dari gangguannya.
Mangki adalah satu dari sebagian
besar masyarakat Tolotoa yang takut pada penjaga Timungan Barania dan Dampang
Tolo.Ketika kami ramai-ramai mengangkat batu bekas benteng ke atas mobil,Mangki
langsung pergi ke rumah dukun melaporkan apa yang kami lakukan terhadap batu
bekas benteng.”Buddin tidak akan bisa menempati rumah yang dibangunnya,dia akan
mati sebelum pindah rumah.Bersyukur kalau dia bisa selamat pulang ke rumahnya
hari ini”,kata dukun itu pada Mangki.Mangkipun tenang hatinya setelah diberi
mantra perlindungan dari dukun.Tiga hari kemudian kudengar kabar dari
keluargaku di Tolotoa bahwa Mangki sudah dua hari tidak bangun dari
tidurnya.Sepulang kami mengambil batu bekas benteng,malamnya Mangki didatangi
sosok hitam dan tinggi itu.Mangki dipukul lalu dijerat lehernya.”Setan kurang
ajar mengapa Mangki yang menjadi sasaran amarahnya,mengapa bukan aku yang
mengambil batu bekas benteng, bukankah aku sudah lama sakit ? mengapa bukan aku
saja yang dihabisi.Apa salahnya lelaki tua itu ?,mukankah dia telah berusaha
mempertahankan batu itu agar tidak kuangkat ke Palajau ?,dasar setan”.Ujarku
pada pembawa berita.”Makanya ndak usah takut pada kuburan dampang Tolo atau
penjaga Timungan Barania,luruskan saja akidah kepada Allah,janganlah takut
kepada selain Allah maka Allah akan melindungimu dari gangguan-ganguan
setan,jangan lagi seperti orang-orang
yang sesat yang memuja-memuja tempat atau kuburan keramat dengan memberinya
makanan,berikan saja makananmu kepada tetangga atau orang-orang hidup yang
membutuhkannya,jangan memanjakan setan yang tidak ada manfaatnya pada diri kita
kecuali akan menjerumuskan kita ke dalam neraka”,pesanku pada keluarga.
Banyak orang takut pada amarah
Dampang Tolo karena banyak kejadian yang menimpa warga yang dikait-kaitkan
dengan Dampang Tolo,padahal apapun musibah yang menimpa bumi atau pada diri
kita itu adalah takdir yang telah ditetapkan Allah jauh sebelum terciptanya
langit dan bumi”Sattu itu mati karena sudah sampai ajal kematiannya bukan
karena dicabut nyawanya oleh Dampang Tolo”,ungkapku pada keluargaku.”Tapi Sattu
itu sakit setelah membongkar batu-batu bekas benteng Dampang Tolo”,balas
Rani.”Iya benar,karena kecapean membongkar dan mengangkat batu sehingga jatuh
sakit,dan karena kebetulan telah sampai ajalnya sehingga nyawanya tidak bisa
ditolong lagi”,balasku.”Biar seribu dokter atau dukun yang datang menolongnya kalau
umurnya telah habis maka pasti mati juga dan biar pula seribu setan penghuni
kuburan keramat yang mau mengambil nyawa kita tidak akan sanggup kalau ajal
kita belum sampai”,tambahku.”Makanya saya tidak takut pada penghuni kuburan
atau tempat apapun,yang berhak kita takuti hanyalah Allah.Tanpa Dampang Tolopun
saya bisa mati kalau telah sampai ajalku,buktinya saya sudah lama sakit yang
kata dukun terkena sihir atau amarah roh halus namun belum juga mati karena
belum sampai pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah bagiku untuk kembali
kepada-Nya”,tambahku terus meyakinkan keluarga agar tidak mengkhawatirkanku karena
telah mengambil batu bekas benteng Dampang Tolo untuk membangun rumah buat
anggota rumah tanggaku.
“Kalau mau selamat dari amarah
Dampang Tolo karena telah mengambil batu bekas bentengnya maka Buddin harus
memotong kambing di kuburan Dampang Tolo”,kata dukun yang didatangi keluarga
yang mengkhawatirkan keselamatanku.”Mengapa harus mempersembahkan kambing kepada tumpukan tanah ?,wah itu tidak
mungkin kulakukan,karena aku sendiri butuh kambing untuk memberi makan warga
yang akan membantuku memasang rangka atap rumahku”,jawabku pada keluargaku yang menyampaikan perkataan
dukun.Lagi pula,aku tidak mungkin akan minta izin atau minta maaf pada orang
yang telah mati untuk mengambil batu yang berada di atas tanah milik
ayahku.Kalaupun harus minta izin,tentu aku minta izin pada ayahku dan itu telah
kulakukan.Ayahku tidak keberatan bila aku mengambil batu itu sebagai bahan
bangunan rumah.Aku tahu ayahku juga percaya pada kekeramatan Dampang Tolo,akan
tetapi ayahku tidak mau mengecewakanku yang sudah terlanjur mendatangkan mobil
dan tenaga untuk mengangkut batu-batu itu.Makanya ayahku mengizinkanku tetapi
tidak ikut membantuku.Alhamdulillah sudah enam tahun kutempati rumah yang kubangun dari batu bekas
kuburan Dampang Tolo.Kami sekeluarga masih utuh,walau awalnya kadang ada
suara-suara yang mengganggu di malam hari,seperti terdengar suara tendangan
keras di pintu rumah namun kami cuekin
akhirnya suara-suara itu hilang sendiri karena kam sekeluarga yakin bahwa itu
hanyalah suara setan Dampang Tolo.(Tolotoa,Desember 2013).

permisi nupang komentar kalau saya dengar tentang yang mengambil batu dampang tolo' untuk membangun rumah katanya menderita sakit pada kakinya
BalasHapus