Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen BENTENG DAMPANG TOLO



                Minggu pagi saat pancaran mentari membentuk sudut 40 derajat,sebuah mobil pengangkut batu berhenti di depan rumah Rani.Beberapa lelaki usia remaja turun menuju ke tumpukan batu yang ada di samping rumah Rani.Tumpukan batu itu adalah bekas Benteng Dampang Tolo yang menjadi bukti sejarah keberadaan Kerajaan Tolo di masa lalu.Tumpukan batu itu berada di pintu gerang benteng yang masyarakat menyebutnya Timungan Barania.Mereka ke Tolotoa atas permintaanku untuk mengangkat batu ke mobil.Batu-batu yang akan kujadikan bahan bangunan rumah.Daripada membeli batu di toko bangunan,lebih baik mengambil batu bekas benteng itu dengan gratis tinggal menyewa mobil pengangkut batu.
                “Oeee,apa semua yang kalian cari di sini ?”,tanya Mangki dari atas rumahnya.”Mau ambil batu,Kareng”,jawab Basri salah seorang di antara  mereka.”Hey,berani-beraninya kalian mengambil batu-batu ini,ini batunya Dampang Tolo patanna kampong”,ujar Mangki.”Kami Cuma disuruh Kareng”,balas Basri.”Kalian tidak tahu siapa itu Dampang Tolo ?, kalau dia marah kalian semua bisa mati.Di kampung ini tidak ada yang berani mengganggu batu –batu Dampang Tolo ini,cobami kalau berani”,ujar Mangki mengancam.Orang-orang yang aku datangkan ke Tolotoa untuk mengangkat batu semuanya diam,terpengaruh pada ancaman Mangki dan akupun turun mendekatinya.”Mengapa diam semua tidak   mengangkat batu ?”,tanyaku.”Takut Kareng pada patanna batu”,jawab mereka.”Ndak usah takut saya sudah minta pada patanna batu,batu-batu ini milik Allah.Allah tidak akan marah bila kita gunakan untuk membangun rumah”,kataku.”Orang tua itu marah Kareng katanya marah patanna kampong bila batu ini diambil”kata Cuddin sambil mengarahkan pandangannya kepada Mangki.”Jangan kalian takut karena kalian cuma disuruh,sayalah yang bertanggung jawab.Bila patanna kampong marah tentu sayalah sasarannya.Selama saya ada di sini jangan ada yang takut,ayo angkat batu ke mobil”,balasku memberi semangat dan merekapun berajak dari tempatnya menuju tumpukan batu.
                Dampang Tolo sangat dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai tempat yang keramat,terutama pada dua tempat yaitu bekas pintu gerbang benteng dan pada kuburan Panglima Kerajaan Tolo yang masyarakat menyebutnya kuburan Dampang Tolo.Sampai sekarang bekas pintu gerbang tidak ada yang berani menutupnya karena siapapun yang menutupnya akan terkena murka patanna kampong,yang tentunya adalah sakit yang bagaikan terjerat lehernya.Inilah yang biasa dialami oleh Mangki.Mangki selalu didatangi oleh sosok lelaki hitam besar yang mengaku penjaga timungan barania.Di tempat ini masyarakat selalu melepas ayam persembahan agar tidak diganggu oleh patanna kampong.
                Di kuburan Dampang Tolo banyak pula orang yang berziarah mencari berkah,ada yang mencari kesembuhan,kekayaan ataupun jodoh.Beberapa pemburu jabatanpun mendatangi kuburan ini untuk meminta restu dan bantuan agar berhasil memperoleh jabatan yang diimpikannya.Kesebelasan Sepak Bola Dampang Tolo kalau akan mengikuti kompetisi harus berkunjung dulu ke kuburan Dampang Tolo untuk meminta restu dan bantuan agar menang.”Penonton heran melihat penampilan kesebelasan Dampang Tolo yang tidak pernah kalah,lawanpun heran karena tendangannya selalu meleset keluar lapangan karena melihat gawang sasaran terangkat ke atas”,kata Tompo manager PS Dampang Tolo.”Tapi mengapa pada kompetisi yang baru lalu Kesebelasan Dampang Tolo hanya meraih Juara 3 ?”,tanyaku pada Tompo.”Itu gara-gara seorang pemain yang tidak mau berziarah ke Dampang Tolo sebelum bertanding”,jawab Tompo.”Mengapa pemain itu tidak diganti saja ?”tanyaku.”Tidak bisa juga karena dia pemain terbaik dan mahal bayarannya”,jawab Tompo.
                PS Dampang Tolo diperkuat oleh tiga paranormal,yaitu Duddin,Campa dan Bidin.Duddin adalah dukun yang bisa menghubungkan pemaian dengan penghuni kuburan Dampang Tolo.Campa adalah pengatur waktu bermain,dia tahu waktu bermain yang bisa membawa kemenangan,sedangkan Bidin adalah dukun urusan pacca’,dia yang melindungi pemain dari serangan pacca’ dan menyerang lawan dengan pacca sehingga lawan bisa tiba-tiba nyeri kakinya.Namun Agus salah seorang pemain bayaran yang susah diatur oleh ketiga paranormal itu.”Maaf,saya tidak bisa ke kuburan untuk meminta restu apalagi  meminta bantuannya untuk mengalahkan lawan”,kata Agus pada Tompo.”Mengapa tidak bisa ?”,tanya Tompo.”Ini masalah keyakinan beragama,saya tidak mau melakukan petunjuk dukun untuk mendatangi kuburan keramat karena itu termasuk perbuatan mempersekutukan Allah,lebih baik saya mundur dari kesebelasan ini daripada harus meminta bantuan pada penghuni kuburan keramat.
                Nampaknya Agus sekeyakinan denganku dan dengan Bundu.Kami tidak ikut pada kepercayaan masyarakat tentang patanna kampong atau kuburan Dampang Tolo.Bagi kami,Dampang Tolo itu hanyalah sebuah benteng di masa lalu pada masa pemerintahan Kerajaan Tolo yang masih disebut Kare Tolo.Dampang Tolo adalah pusat kerajaan Kekarean Tolo,yang dihancurkan oleh Pasukan Belanda menjelang tahun 1900.Setelah itu Belanda membangun kembali Kerajaan Tolo pada tahun 1900,namun pusat pemerintahannya dipindahkan ke Tolo yang sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Kelara.”Tidak ada yang istimewa dari benteng maupun kuburan Dampang Tolo”,ungkapku pada para pengangkat batu saat istirahat makan siang.”Katanya keramat Kareng ?”,tanya Cuddin.”Tidak keramat tetapi dikeramatkan,Panglima Dampang Tolo itu bukanlah orang saleh yang memiliki keramah.Andaikan dia orang saleh dia tidak akan minta pada prajuritnya untuk dikuburkan hidup-hidup,karena orang saleh pasti tahu bahwa dikuburkan hidup-hidup itu adalah bunuh diri.Bunuh diri itu dibenci oleh Allah dan pelakunya dijamin masuk neraka,jadi apanya yang istimewa ?”jawabku.”Itu bisa dianggap keramat karena dimanfaatkan oleh setan dari bangsa jin.Setanlah yang tinggal di Timungan Barania itu,setanlah yang tinggal di kuburan Dampang Tolo. Setan-setan itu yang melayani permintaan pengunjungnya atau yang menyakiti orang-orang yang menghina kuburan itu.setan suka pada manusia yang memuja-muja kuburan karena itu termasuk perbuatan sesat”,tambahku.”Saya tidak takut pada setan-setan penjaga Timungan barania atau kuburan Dampang Tolo karena saya tidak mempercayainya dan sudah meminta perlindungan Allah,Allah adalah sebaik-baik pelindung orang-orang yang beriman kepada-Nya”,tambahku.
                “Jadi yang diberi makanan di kuburan Dampang Tolo itu bukan arwah Panglima Dampang Tolo Kareng ?”,tanya Cuddin padaku.”Tentu saja tidak,arwah panglima Dampang Tolo itu telah berada di alam kubur.Antara alam kubur dan alam dunia dibatasi oleh dinding sampai hari kiamat yang tidak seorangpun manusia bisa melewatinya,jadi mustahil arwahnya akan datang melayani para pengunjungnya melainkan itu hanya tipu daya setan untuk menyesatkan manusia,begitupun halnya orang yang kesurupan yang mengaku-ngaku penghuni kuburan Dampang Tolo,itu hanya setan yang mengaku-ngaku agar manusia percaya dan takut kepadanya sehingga melakukan perbuatan sesat.Setan akan gembira bila manusia berbondong-bondong ke kuburan keramat membawakan makanan,apalagi bila menyembeli hewan di kuburan itu,sebagai persembahan rasa terima kasih atau agar aman dari gangguannya.
                Mangki adalah satu dari sebagian besar masyarakat Tolotoa yang takut pada penjaga Timungan Barania dan Dampang Tolo.Ketika kami ramai-ramai mengangkat batu bekas benteng ke atas mobil,Mangki langsung pergi ke rumah dukun melaporkan apa yang kami lakukan terhadap batu bekas benteng.”Buddin tidak akan bisa menempati rumah yang dibangunnya,dia akan mati sebelum pindah rumah.Bersyukur kalau dia bisa selamat pulang ke rumahnya hari ini”,kata dukun itu pada Mangki.Mangkipun tenang hatinya setelah diberi mantra perlindungan dari dukun.Tiga hari kemudian kudengar kabar dari keluargaku di Tolotoa bahwa Mangki sudah dua hari tidak bangun dari tidurnya.Sepulang kami mengambil batu bekas benteng,malamnya Mangki didatangi sosok hitam dan tinggi itu.Mangki dipukul lalu dijerat lehernya.”Setan kurang ajar mengapa Mangki yang menjadi sasaran amarahnya,mengapa bukan aku yang mengambil batu bekas benteng, bukankah aku sudah lama sakit ? mengapa bukan aku saja yang dihabisi.Apa salahnya lelaki tua itu ?,mukankah dia telah berusaha mempertahankan batu itu agar tidak kuangkat ke Palajau ?,dasar setan”.Ujarku pada pembawa berita.”Makanya ndak usah takut pada kuburan dampang Tolo atau penjaga Timungan Barania,luruskan saja akidah kepada Allah,janganlah takut kepada selain Allah maka Allah akan melindungimu dari gangguan-ganguan setan,jangan lagi  seperti orang-orang yang sesat yang memuja-memuja tempat atau kuburan keramat dengan memberinya makanan,berikan saja makananmu kepada tetangga atau orang-orang hidup yang membutuhkannya,jangan memanjakan setan yang tidak ada manfaatnya pada diri kita kecuali akan menjerumuskan kita ke dalam neraka”,pesanku pada keluarga.
                Banyak orang takut pada amarah Dampang Tolo karena banyak kejadian yang menimpa warga yang dikait-kaitkan dengan Dampang Tolo,padahal apapun musibah yang menimpa bumi atau pada diri kita itu adalah takdir yang telah ditetapkan Allah jauh sebelum terciptanya langit dan bumi”Sattu itu mati karena sudah sampai ajal kematiannya bukan karena dicabut nyawanya oleh Dampang Tolo”,ungkapku pada keluargaku.”Tapi Sattu itu sakit setelah membongkar batu-batu bekas benteng Dampang Tolo”,balas Rani.”Iya benar,karena kecapean membongkar dan mengangkat batu sehingga jatuh sakit,dan karena kebetulan telah sampai ajalnya sehingga nyawanya tidak bisa ditolong lagi”,balasku.”Biar seribu dokter atau dukun yang datang menolongnya kalau umurnya telah habis maka pasti mati juga dan biar pula seribu setan penghuni kuburan keramat yang mau mengambil nyawa kita tidak akan sanggup kalau ajal kita belum sampai”,tambahku.”Makanya saya tidak takut pada penghuni kuburan atau tempat apapun,yang berhak kita takuti hanyalah Allah.Tanpa Dampang Tolopun saya bisa mati kalau telah sampai ajalku,buktinya saya sudah lama sakit yang kata dukun terkena sihir atau amarah roh halus namun belum juga mati karena belum sampai pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah bagiku untuk kembali kepada-Nya”,tambahku terus meyakinkan keluarga agar tidak mengkhawatirkanku karena telah mengambil batu bekas benteng Dampang Tolo untuk membangun rumah buat anggota rumah tanggaku.
                “Kalau mau selamat dari amarah Dampang Tolo karena telah mengambil batu bekas bentengnya maka Buddin harus memotong kambing di kuburan Dampang Tolo”,kata dukun yang didatangi keluarga yang mengkhawatirkan keselamatanku.”Mengapa harus mempersembahkan  kambing kepada tumpukan tanah ?,wah itu tidak mungkin kulakukan,karena aku sendiri butuh kambing untuk memberi makan warga yang akan membantuku memasang rangka atap rumahku”,jawabku  pada keluargaku yang menyampaikan perkataan dukun.Lagi pula,aku tidak mungkin akan minta izin atau minta maaf pada orang yang telah mati untuk mengambil batu yang berada di atas tanah milik ayahku.Kalaupun harus minta izin,tentu aku minta izin pada ayahku dan itu telah kulakukan.Ayahku tidak keberatan bila aku mengambil batu itu sebagai bahan bangunan rumah.Aku tahu ayahku juga percaya pada kekeramatan Dampang Tolo,akan tetapi ayahku tidak mau mengecewakanku yang sudah terlanjur mendatangkan mobil dan tenaga untuk mengangkut batu-batu itu.Makanya ayahku mengizinkanku tetapi tidak ikut membantuku.Alhamdulillah sudah enam tahun  kutempati rumah yang kubangun dari batu bekas kuburan Dampang Tolo.Kami sekeluarga masih utuh,walau awalnya kadang ada suara-suara yang mengganggu di malam hari,seperti terdengar suara tendangan keras di pintu rumah  namun kami cuekin akhirnya suara-suara itu hilang sendiri karena kam sekeluarga yakin bahwa itu hanyalah suara setan Dampang Tolo.(Tolotoa,Desember 2013).

1 komentar:

  1. permisi nupang komentar kalau saya dengar tentang yang mengambil batu dampang tolo' untuk membangun rumah katanya menderita sakit pada kakinya

    BalasHapus