Oleh:Elsah, Petugas Perpustakaan SMPN 2 Tarowang
Semenjak kepergian Pak Umar ke
tanah suci,rumahnya menjadi sepi.Terasa ada sesuatu yang hilang yang kini dirindukan
oleh Bu Rina.Bu Rina tidak mendengar lagi ayat-ayat al Quran yang rutin dibaca
suaminya sepulang shalat Magrib dan Subuh.Bu Rina tak melihat lagi suaminya
bangun shalat tahajjud dilarut malam.Betapa Bu Rina merasakan arti seorang
suami.Bu Rina udah merindukan suaminya yang sudah seminggu meninggalkannya.
“Mengaji dulu Nak Akbar!”pinta
Bu Rina ama anak sulungnya seusai shalat Magrib,namun Akbar tak berguming di
tempatnya yang lagi asyik di depan play station.”Kau Nak Rika mengaji dulu ! “namun
Rika pun tak beranjak dari tempatnya.Dia lagi asyik dengan Facebooknya sampai
shalat Magribpun belum juga dilakukan.Bu Rina kecewa pada kedua anaknya yang
tak seorangpun mau memenuhi perintahnya padahal Bu Rina kini sedang merindukan
suara bacaan ayat-ayat al Quran.Rindulah yang mendorong Bu Rina melangkahkan
kakinya ke meja suaminya mengambil kitab al Quran.Terasa ada getaran di hatinya
ketika membaca ayat-ayat al Quran.Setelah itu, baris perbaris dibaca
terjemahannya sebagaimana yang dilakukan suaminya.Terasa ada yang mendorongnya
untuk terus membaca dan membaca.”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang sombong lagi membangga-banggakan diri”,demikian salah satu kalimat Allah
yang membuat Bu Rina berhenti sejenak dan mengulaginya sampai tiga kali.”Allah
membenci orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri,Allah benci padaku
?”,batin Bu Rina.Bu Rina merasa disinggung oleh Allah.Sebagai seorang guru
Agama SD Bu Rina tahu yang namanya sombong dan membanggakan diri. Bu Rina merasa
dirinya memiliki sifat itu,meninggi-ninggikan dirinya dan merendahkan orang
lain bahkan terhadap suaminya sendiri.Dan sepertinya sifat sombong itupun
diwariskan kepada anak-anaknya.
Siapa yang tidak kenal Bu Rina
di desaku,yang selalu bikin masalah kalau ada pesta di kampung.Dia selalu mau
diperlakukan istemewa oleh tuan rumah,sehingga kalau pelayanan tidak sesuai
harapannya maka terjadilah keributan.Sekampungpun tahu bahwa di rumah,Bu Rina
tidak lebih dari seorang ratu yang memimpin rumah tangga.Tak seorangpun yang
sanggup menurunkan derajat kesombongan Bu Rina.Tapi,tidak dengan kalimat Allah
ini.Kalimat Allah ini telah mengetuk hati Bu Rina.”Suamiku orang yang disegani
dan dihormati dikampung ini dan di sekolahnya,tapi mengapa di rumah ini tak
seorangpun menghormatinya,baik aku maupun anak-anakku”,batin Bu Rina.”Suamiku
orang yang taat beragama dan selalu mengajarkan agama kepada kami,tapi mengapa
kami tidak mempedulikannya ?” lanjut suara hatinya.
Selama selalu membaca al
Quran,hati Bu Rinapun mulai terbuka,kadang-kadang Bu Rina berdialog dengan
hatinya sendiri.Hatinyalah yang sanggup mengungkap semua keburukan dan
kesesatan Bu Rina sampai kepada hatinyapun berjanji untuk memperbaiki diri.Di
tengah malam Bu Rina bangun tahajjud.Dengan bercururan air mata,Bu Rina memohon
ampunan Allah dan berjanji akan memperbaiki diri dan mendoakan keselamatan
suaminya.
Musim haji telah usai,kloter
demi kloter jemaah haji telah pulang ke tanah air.Bu Rina telah mencari sopir
mobil untuk menjemput suaminya di bandara.Begitupun keluarga jemaah lainnya di
dusunku.Mereka telah mempersiapkan perbekalan dan persiapan penjemputan karena
sudah menjadi tradisi di dusunku kalau ada haji baru yang datang, rumahnya akan
diserbu warga untuk mencari berkah,berupa jabat tangannya, air
zam-zam,kurma,tasbih,jam tangan,sajadah,karpet dan lain-lain.Keberhasilan
perjalanan seseorang dinilai dari banyaknya ole-ole yang dibawa sampai mereka
di tanah suci tidak khusuk dalam ibadahnya karena hati atau pikirannya sibuk
memikirkan satu persatu pesanan keluarganya atau nama-nama penyumbang terutama
mereka yang banyak sumbangannya tentu tinggi pula nilai ole-olenya.
Seiring perjalanan
waktu,rombongan penjemputpun tiba di bandara.Satu persatu barang bawaanpun
dimasukkan ke bagasi mobil.Keluarga-keluarga jemaah bangga dengan banyaknya
barang bawaan jemaah yang dijemputnya.Kecuali Bu Rina sekeluarga.Mereka hanya
bisa terheran-heran melihat jemaah yang dijemputnya.Pak Umar pulang hanya membawa
sebuah tas yang kelihatan kempes.”Mungkin suamiku kecopetan di sana” batin Bu
Rina yang sudah tidak berani mengintrogasi suaminya.Hanya kata Alhamdulillah
yang diucapkannya atas kepulangan suaminya.Bu Rina bertemu kembali dengan
suaminya dengan Rina yang baru,Rina yang sudah terdidik oleh hati nuraninya
sendiri.Anak-anaknya pun ta ada yang bersuara,mungkin malu karena ayahnya
pulang tanpa ole-ole.
Seiring perputaran waktu,ban
mobilpun terus berputar.Dalam hitungan beberapa jam rombongan udah sampai di
rumah,nampak warga telah bergerombol di depan rumah masing-masing jemaah.Satu
persatu jemaah turun dan langsung menuju masjid untuk shalat dua rakaat.Lima
jemaah haji dari dusunku semuanya memakai pakaian kebesaran haji jubah tebal
dan penutup kepala ala Arab,kecuali Pak Umar hanya berjubah putih dan pakai
peci putih seperti yang biasa dipakai sebelum pergi haji.
Usai shalat masing-masing jemaah
ke rumahnya bersama dengan rombongannya.Di depan rumah Pak Umar udah menunggu
berapa laki-laki yang siap mengangkat barang yang berat.Mereka berpikir akan
mengangkat berepa jirgen air zam-zam,beberapa dos kurma,beberapa tas
pakaian,dan lain-lain.Tapi apa yang terjadi,mereka hanya saling memandang
keheranan.Mereka hanya mendapati satu buah tas jemaah yang kempes.”Pasti dia
kecopetan di atas”,bisik mereka.”Mungkin tidak cukup uangnya”,kata yang lain.Bebarapa
jamaah hanya bersalaman dengan Haji Umar setelah itu pergi ke jemaah lainnya.
“Maaf ya Ma,Maaf ya Nak saya
tidak membawakan apa-apa.Saya tak punya waktu untuk pergi belanja seperti yang
lainnya.seluruh waktu dan kesempatanku disana kupakai untuk beribadah.Pakaianku
saja hanya sepasang yang kubawa pulang,yang lainnya kusedekahkan pada para
pengemis atau orang miskin yang kulewati sedangkan uangku sudah habis
kusedekahkan.Bu Rina bangga,terharu dan langsung memeluk suaminya.”Ya
Allah,betapa mulianya hati hamba-Mu ini”,batin Bu Rina.”Pak,maafkan saya bila
selama ini selalu mengecewakanmu,saya tidak kecewa bila pulang tanpa membawa
apa- apa yang penting Kita pulang dengan membawa hati ini untukku”,ungkap Bu
Rina sambil bersandar di dada suaminya.Haji Umar agak heran melihat istrinya
bersikap manja seperti ini.Sudah lama Haji Umar tidak melihat pemandangan
seperti itu,kecuali cuek atau bentakan.
“Bu,ada uang yang saya simpan di
laci mejaku pergi belanja untuk acara syukuran besok malam,undang orang-orang miskin
dan anak panti asuhan,dan sebagian isi amplop lalu berikan pada mereka”,kata
Haji Umar.”Subhanallah...”batin Bu Rina”Untuk Akbar,bulan depan saya akan
belikan motor supaya tidak mengojek lagi ke sekolah”janji Haji Umar pada anak
sulungnya yang dari tadi marah-marah tidak dibawakan ole-ole.Akbarpun langsung
melompat girang dan mendekat memeluk ayahnya.”Kalau saya Pak ?”Tanya Rika yang
juga marah-marah.”Untuk Rika saya belikan note book”,jawabnya.”Horeee,Papa
orang baik...!!”,ujar Rika lalu memeluk ayahnya.
Pemandangan di rumah Haji Umar
jauh beda dengan pemandangan di haji baru lainnya.Di rumah Haji Kahar yang
pergi bersama istrinya jauh lebih meriah.Acara pertama bagi-bagi kurma dan air
zam-zam.Semua hadirin mendapat sedos kecil kurma dan segelas air zam-zam.Hadirinpun
menikmatinya sambil mendengarkan pengalaman Haji Kahar menunaikan ibadah
haji.Istrinya,Hajjah Ratnapun tersenyum-senyum bangga di sampingnya.Setelah itu
pembagian ole-ole yang disesuaikan dengan besarnya sumbangan ketika acara
menasik.Yang besar sumbangannya besar pula bingkisannya,yang kecil cuma dapat
satu buah tasbih,sedangkan yang tidak menyumbang apa-apa tidak dapat pula
apa-apa kecuali kurma dan air tadi.
Pergeseran waktu membawa
keluarga Haji Umar ke acara syukuran yang telah direncanakan.Berbagai komentar
dan pertanyaan yang muncul dari tetangga-tetangga yang hadir.Ada yang
mempertanyakan masalah kecopetan,masalah tasnya yang kempes dan ada pula yang
mempertanyakaan ibadahnya di tanah suci,ada pula suara yang menyebut ole-ole.Haji
Umar hanya menjawabnya dengan senyum lalu mempersilakan tamu-tamunya makan.
Usai acara Haji Umar masuk ke
kamarnya istrahat dan diikuti oleh istrinya.”Bu,haji itu adalah ibadah untuk
Allah,bukan untuk sesama manusia.Maka jangan terlalu berharap disebut atau
dipanggil dengan sebutan haji dan jangan lagi marah bila orang-orang tidak
menyebut kita haji,karena semua itu akan mengurangi pahala haji kita”pesan Haji
Umar pada istrinya sebelum tidur.”Haji itu adalah kesempurnaan keislaman seseorang.Oleh
karena itu seorang haji harus menampakkan sikap dan prilaku islami.Dalam
berpakaian harus menutup aurat,tidak seperti caramu yang memakai penutup kepala
tetapi kelihatan aurat di lehermu,itu dosa Bu,Allah memerintahkan kepada kaum
muslimah agar memakai jilbab yang menutupi dadanya,bukan penutup kepala saja
tapi kelihatan leher.Leher itu aurat,jadi kalau sempat dilihat oleh orang lain
maka terjadi lagi dosa,berapa anya dosa yang kamu lakukan dalam sehari,sebulan
atau setahun”,sambung Haji Umar.”Iya Pak,Insyah Allah saya akan mengkuti segala
perintah Allah dan perintah suamiku yang tercinta” Jawab Bu Rina sambil memeluk
suaminya.
Seperti biasa di saat warga larut dalam
mimpi-mimpinya Haji Umar bangun mendirikan tahajjud.Kepada Allah Haji Umar berdoa,”Ya
Allah,Aku telah menunaikan ibadah haji,bisakah predikat haji ini kujalankan
atau cuma sebuah gelar yang melengkapi namaku.Aku adalah seorang kepala sekolah
yang berkerja dalam lingkungan yang penuh dengan godaan,tolonglah aku untuk
bisa membuktikan kehajianku,atau kalau Engkau menganggapku tidak akan bisa maka
berhentikanlah aku dari jabatan ini,amiin”. Amiin !. (Palajau,September 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar